Antara bertahan dengan perasaan atau melepaskan, ia gamang.
Perasaan terkadang hanya perlu diyakini, biar semesta yang mempertemukannya kembali.
Meski hidup bukan hanya perihal cinta, tapi menetapkan hati membutuhkan rasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon oh_pid21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps.27
***
Alisa pandangi ponsel yang berada didepannya, ia biarkan ponselnya berdering beberapa kali. Ia memutuskan untuk keluar menuju kamar Risa yang sedari tadi memang terbuka, dan tentu saja dengan meninggalkan ponselnya dalam keadaan terus berdering.
Risa yang melihat Alisa berjalan menuju kamarnya, ia sambut gadis berparas manis itu. Risa berdiri dan bersender didaun pintu kamarnya,
“kenapa Alisa?” tanyanya santai.
“Tidak Ris, kamu sedang sibuk?” jawabnya yang sudah didepan pintu kamar Risa.
Risa menggeleng,
“boleh aku masuk?” pinta Alisa.
“masuklah” jawabnya sembari menarik tangan Aisa.
“Kamu sedang ada masalah ya?” Risa yang membereskan meja belajarnya.
Tiada jawaban dari gadis yang sedang dekat dengan sepupunya itu.
“Alisaa?!” panggilan Risa mengagetkannya.
“I-iya Ris, ada apa?” jawabnya kaget.
Risa menggelengkan kepalanya beberapa kali. Ia berjalan mendekati temannya dan menatap baik-baik wajahnya.
“Cerita saja lis padaku, jangan dipendaam sendiri.” Ucapnya tenang.
“Kenapa kamu sekarang jadi sok dewasa Ris, hahaha” tawanya memecah keheningan.
“Alisaa, aku serius jangan bercanda deh” Risa mulai dengan dirinya yang ceria.
Alisa masih terkekeh dengan perkataan Risa yang begitu dewasa nada bicaranya. Risa kembali kemeja belajar, ia otak-atik laptopnya yang masih menyala.
“Ibuku baru saja meneleponku Ris” ucapnya pada Risa yang membelakangi.
“Hla terus kenapa, senang dong habis curhat sama ibu?” seru Risa yang masih menatap layar laptop.
“Belum sempat aku cerita, justru ibuku mengatakan bahwa ada teman ibu kerumah dan membawa anak lelakinya, ibuku memperkenalkan aku pada lelaki itu dan menunjukkan fotoku padanya” ucap Alisa muram.
‘Haa? Jadi kamu dijodohkan dengan anak teman ibumu?” kali ini Risa merubah posisi duduknya menghadap Alisa.
Alisa mengangguk pasrah.
“Kamu menyetujui?” tanya Risa menatap wajah Alisa.
Alisa menggelengkan kepalanya dengan mimic wajah datar,
“ wah masalah baru,” gumam Risa beranjak dari kursi dan mengambil segelas air putih.
“Ah tapi tidak perlu dipikirkan Alisa, kan lelaki itu jauh disana kamu ada disini. Kalau misalkan dia menghubungimu abaikan saja panggilannya, iya kan?” ucap Risa sembari minum dengan ekspresi wajah berpikir.
“Begitu?” seru Alisa merebahkan tubuhnya ditempat tidur.
“Iyaa, sudah jangan terlalu dipikirkan lisa. Kalau toh pun ibumu memaksa katakan saja pada ibumu kalau kamu sudah memiliki kekasih” ucap Risa yang juga merebahkan tubuhnya disebelah Alisa.
Kini, kedua gadis itu menatap langit-langit,
“Alisa, kakak sepupuku itu sepertinya benar-benar serius denganmu. Pakde dan bukdeku juga menyukaimu. Bahkan bapak dan ibuku juga menyukaimu hanya sayang saja mas-ku sudah menikah hihihi” ucapnya yang memiringkan tubuhnya dan menatap Alisa.
“Tceh! Syukurlah mas-mu sudah menikah, kalau belum dan kalau sampai aku jadi kakak iparmu, oh nooo!” ledek Alisa.
“Tpakk!” suara tangan Risa menepuk kening Alisa.
‘Aw sakit Riss” Alisa merasakan panas dikeningnya,
“ihihihii, kalau kamu menikah dengan mas Je tetap saja kamu jadi kakakku” Risa tertawa kabur kekamar mandi.
“Iisssttt gadis ini!” ucap Alisa geram.
“Sekarang mas Je sudah mendapat pekerjaan lis di Solo” ucap Risa keluar dari kamar mandi.
“Oh yaa, syukurlah” Wajah Alisa senang.
Dalam hatinya, kenapa Jefan tidak memberi tahunya jika dia sudah mendapat pekerjaan? Atau dia sangat sibuk?.
Dua puluh menit kemudian Alisa kembali kekamarnya, ia lihat layar ponsel. Tujuh panggilan tidak terjawab, Alisa tersenyum sinis pada ponsel yang ada digenggamannya.
***
Sudah menjadi kebiasaan, Alisa lebih awal tiba ditempat ia bekerja. Ia letakkan tas cokelat diatas meja, dan menyalakan computer yang terpajang dimeja kerjanya.
“Assalamualaikum?” salam seseorang melalui pesan whatsapp.
Ia cermati foto profil pada kontak tersebut, tetapi ia merasa tidak mengenali lelaki itu.Ia tidak ingin dikatakan sebagai gadis sombong, Alisa membalas salam tersebut.
“Walaikumsalam,” tulisnya singkat.
“Hai Alisa, aku Wahyu anak dari teman ibumu” tulisnya ramah.
“Balas tidak ya? aaahk ibu ini” gerutunya bimbang.
“Iya, ada apa ya?” balasnya dingin.
“Tidak ada apa-apa, hanya ingin berkenalan denganmu hehehe” tulisnya yang membuat Alisa geli membaca pesan lelaki itu.
“Ahk ibu, aku tidak menyukai lelaki ini” gumam Alisa merebahkan wajahnya diatas meja.
“Selamat pagiii…” suara Rio masuk keruangan.
“pagiii…” suara Alisa lemah.
“Kenapa kamu lis? Belum sarapan atau belum mandi? ” tanya Rio penasaran.
Alisa melirik sinis Rio yang berdiri didepan mejanya.
“Apa?!!” seru Rio.
lagi lagi Rio marah dengan lirikan Alisa. Alisa segera merubah ekspresi wajahnya menjadi ramah dan tersenyum.
“Aku tidak kenapa-napa Ri” jawabnya ramah terpaksa.
“Sasi mana?” Alisa menoleh kearah pintu mencari keberadaan teman kerjanya.
“ Terlambat mungkin,” jawab Rio dingin.
“Hai-haiii selamat pagi guys…?!” suara ceria kedua terdengar dari Sasi.
“Hai Sas…” jawab Alisa tersenyum.
“Aku pikir kamu terlambat Sas,” Rio berjalan mendekati meja Sasi.
“Hey, hari ini kan sabtu kita jalan dulu yuk, kita malam mingguan kemana kek? Aku boring.” Ucap Rio yang mengenakan kemeja polos berwarna biru langit dengan lengan yang dilipat tujuh perlapan.
Alisa menyanggah dagunya, ia menatap Rio yang duduk dimeja Sasi.
“Sorry Ri, aku sudah ada janji dengan seseorang” jawab Sasi.
“Kalau kamu lis?” tanya Rio dengan wajah masih terlihat dingin.
“Yaa Ri, masa kita cuma berdua, kan tidak asik. Kapan-kapan lagi saja biar kita bisa jalan bertiga” jawab Alisa santai.
“Ahk ga asik ni kalian,” Rio kembali ke meja kerjanya dengan kekecewaan.
Pukul dua lebih empat puluh menit, Rio dan teman-teman kerjanya keluar kantor. Rio dan Sasi lebih dulu keluar dengan sepeda motornya, ia melihat sosok lelaki yang tempo hari menjemput Alisa.
“Kamu kekasihnya Alisa kan?” tanya Rio tanpa ragu,
lelaki itu menoleh dan hanya tersenyum mendapat pertanyaan dari Rio. Rio yang penasaran menatap Jefan dari ujung kaki ke ujung kepala, Jefan tampak risih dengan tatapan teman kerja Alisa tersebut.
“Wih romantis ya kamu, bawa bunga segala. Wah Alisa beruntung menemukan lelaki sepertimu” Rio menepuk bahu Jefan sembari tersenyum.
“Sudah ayo jalan Ri” Sasi menepuk bahu Rio yang sedari tadi hanya diam dibelakang kemudi.
Lima menit setelah kepergian Rio dan Sasi menggunakan sepeda motornya, Alisa keluar yang sedang focus menatap ponselnya. Ia masih belum menyadari keberadaan Jefan disampingnya, yang berjarak lima meter dari tempat ia berdiri.
Perlahan Jefan berjalan mendekati Alisa,
“jangan hanya melihat kekanan, hingga kiri kamu abaikan” ucap Jefan yang menutup wajahnya dengan seikat bunga.
Alisa mengernyitkan dahi, ia merasa paham suara tersebut, ia geser bunga yang menutupi wajah Jefan.
“Bbaa!!” seru Jefan mengagetkan Alisa.
“Mas…” Alisa tersenyum melihat lelaki dihadapannya.
“ Sejak kapan ada disini?” lanjutnya.
“ Sudah lama sekali Alisa, dari pertama kali kita bertemu sudah ada disini untuk menantimu” jawab Jefan meledek.
“ahih, serius mas” sahut Alisa pasang wajah sinis.
“Hahaha iya-iya, sudah setengah jam yang lalu aku menunggumu diluar dan kamu lama sekali tidak keluar. Mas ini capek Alisa, sekarang ganti rugi” rengek Jefan manja.
“Hahaha, lagi pula kenapa mas Jefan tidak bilang lebih dulu kalau mau datang kesini, bukan Alisa yang salah dongs yaa” Alisa terkekeh tidak mau mengalah.
“Iya iya mas Je yang salah. Yasudah, ayo pulang” ajak Jefan meraih tangan Alisa.
Bersambung….
👍👍👍👍👍
lanjut
salam dari MAHABBAH RINDU