kisah seorang anak laki laki yang memiliki keistimewaan dari lahir yaitu mata batin. bukan hanya bisa melihat mahkluk gaib namun bisa menyembuhkan dan mengatasi permasalahan yang berhubungan dengan hal gaib. perjalanannya bahkan sampai ke alam gaib untuk membantu jin yang sedang kesulitan. bukan hanya manusia saja yang bisa di obati bahkan mahkluk tak kasat mata juga di obati. ikuti terus kisahnya dan petualangannya, semoga kalian terhibur dengan karya kami ini.
terima kasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alfrelen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
Berikutnya mereka tiba di rumah. Azam dan Rahma memasuki rumah, di dalam sudah ada Ibu Wati yang sedang menyiapkan makanan.
" ohh kalian sudah pulang ternyata, ayok kita makan dulu " ucap Wati
Selanjutnya mereka makan siang bersama. selang beberapa lama mereka sudah selesai dengan makan siangnya.
di ruang keluarga. ibu wati, azam dan Rahma duduk bersama kemudian memulai obrolan
" jadi bagaimana tadi tentang teman kamu itu Rahma, apa sudah sembuh ? " ucap Wati
" Alhamdulillah mbak udah sembuh, sekarang lagi masa istirahat " kata Rahma
" jadi apa penyebabnya ? kok bisa teman kamu itu sakit sampai sebulan " ucap Wati
" kalau untuk cerita jelasnya mbak tanyakan aja sama azam " kata Rahma
" azam coba kamu ceritakan sama ibu "
" itu karena kesalah kak Santi sendiri bu makanya kak santi sakit. dia lagi kotor tapi nekat pergi ke gunung. penghuni gunung marah karena kak Santi membuang benda kotor itu di gunung " jelas Azam
sang ibu paham kenapa bisa temen sarah itu bisa sakit, karena dari ulahnya sendiri.
" mbak ini ada di kasih amplop sama ibunya Santi, kami udah nolak tapi tetap aja di paksa terima " sambil menyerahkan amplop
Ibu Wati menerima amplop tersebut dan melihat isinya, ternyata ada 900 ribu.
" kenapa banyak sekali di kasih uangnya sampe 900ribu, wah kalu begini bakalan marah ayah " ucap Wati
" sebenarnya satu juta mbak, tadi Azam minta uang seratus ribu, katanya untuk kakek kakek di pinggir jalan " kata Rahma
sang ibu jadi heran kenapa orang orang ini selalu memberi uang yang banyak. padahal anaknya ikhlas untuk membantu.
Azam juga menceritakan tentang dia yang memberi uang ke kakek tersebut. tapi Azam tidak menceritakan tentang pemberian kakek tersebut.
Lalu Azam masuk ke kamarnya dan melihat Kanendra juga si tuyul di dalam kamar.
" Om tadi Azam di kasih sesuatu sama kakek kakek yang azam kasih uang di jalan " ucap Azam
" iya Om tau zam, kamu di beri hadiah kalung kan sama kakek itu " ucap Kanendra sambil tersenyum
" loh kok Om udah tau, ahh gak seru padahal azam mau cerita ke om " kaget lalu manyun Azam
Kanendra hanya tersenyum aja melihat azam kecewa, padahal dia udah semangat untuk menceritakannya.
" zam kamu harus jaga kalung itu, jangan sampai ada orang yang mengambil atau merebutnya dari kamu " ucap Kanendra
" emang kalungnya mahal ya Om harganya sampai harus di jaga ? nanti Azam suruh ibu aja untuk menyimpannya " jawab azam polos
" maksud Om bukan itu zam, jadi kalung itu bukan kalung biasa. sebab kalung itu adalah kalung yang mempunyai kegunaan yang sangat banyak buat kamu zam " jelas Kanendra
Azam paham maksud perkataan Kanendra agar menjaga kalung itu. Kanendra juga menjelaskan dengan rinci agar Azam tidak sembarangan meninggalkan kalung itu.
" baik Om azam akan menjaga kalung ini " ucap Azam
" kalung itu emang sangat istimewa zam, dengan itu kamu akan terlindungi dari bentuk kejahatan apa pun " ucap Kanendra
kalung itu pun langsung di pakai oleh azam dan terlihat nampak keindahan dengan sinar berwarna biru.
\=\=\=
" berrr cepat buruan kita udah di tunggu ini sama mbah " ucap Tandil
" iya sebentar dulu ndill tanggung ini, sayang kalau di buang mubazir nanti " kata Juber
ternyata mereka lagi makan, di saat lagi makan Mbah Pono menelpon mereka untuk segera kembali.
" udah tinggalin aja napa berr, nanti kita balik lagi " desak Tandil
" iya iya ahh bawel amat jadi laki " kata Juber merengut
Juber meninggalkan makanannya yang belum selesai. setelah bayar, mereka bergegas pergi. mereka kini sudah di dalam kamar penginapan, ada Mbah Pono yang sudah menunggu dari tadi.
" dari mana aja kalian, lama banget sampenya " tanya Mbah Pono
" iya mbah maaf kami terlambat, kami tadi lagi makan " kata Tandil
" makan aja kok lama,,,tinggal kunyah kanan kiri langsung telan biar cepat " ucap Mbah Pono
Tandil yang mendengar Mbah Pono gak menerima alasan apa pun jadi geram sendiri.
" enak banget tuh mulut ! kalau ngomong gak di saring dulu apa " gumam juber yang kini tidak mau lagi ngomong sama mbah
" ya udah kalian duduk dulu, ada yang mau mbah sampaikan kepada kalian " ucap Mbah Pono
" mengenai apa mbah kira kira sampai mbah menyuruh kami untuk cepat datang kemari " kata Tandil
" ini mengenai tentang bantuan yang kamu sarankan tadi, mbah udah dapat orang yang mau membantu kita " ucap Mbah Pono
" oww gitu mbah, baik lah mbah, semoga aja lancar mbah untuk rencana kita " kata Tandil
" kemungkinan dua hari lagi orang yang membantu kita sampai, jadi untuk itu kita masih tetap di sini " ucap Mbah Pono
Juber dan Tandil menganggukan kepalanya karena sudah mengerti dengan rencana mbah.
" berr kok tumben kamu diam aja dari tadi " heran Mbah Pono
Juber hanya menganggukan kepalanya saja sambil tersenyum
" kalau di tanya itu jawab ber, bukan angguk angguk aja, kek ayam matok beras " ucap Mbah Pono
juber tidak menjawab hanya diam sambil seperti yang di lakukan tadi. Mbah Pono malah makin geram dengan tingkah Juber.
Tandil yang melihat Juber seperti itu menepuk jidatnya. Ini anak maunya apa sih dari tadi gak pernah beres.
" mbah itu si Juber lagi sariawan mbah mulutnya, jadi agak susah ngomong " sahut Tandil memberi alasan
" kirain kenapa nih anak, lagi sariawan rupanya " ucap Mbah Pono
Tandil menghela napas lega, untung aja mbah gak ngamuk lagi. beda dengan Juber yang kaget dengar tandil yang ngomong barusan.
" siapa yang sariawan ngarang aja si tandil ini " gumam Juber.
di malam hari di rumah, pak fathir seperti biasa kumpul di ruang keluarga. Sang ibu menceritakan kembali tentang Azam yang membatu teman Rahma.
sang ayah tidak bisa marah karena menerima amplop itu. tapi yang memberi juga memaksa, jadi ya tetap harus di terima.
Berikitnya Azam tidur dengan pulasnya namun Azam bermimipi bertemu dengan kakek kakek yang di bantu Azam sebelumnya.
" Assalamualaikum kek "
" walaikumsalam cu "
" ketemu lagi kita kek, kenapa kakek ada di sini ? " ucap Azam
" kakek mau berbicara sama kamu cu, untuk mejelaskan kalung yang kakek berikan " kata Kakek
di dalam mimpi itu Azam sedang duduk di pinggir sungai bersama dengan kakek itu. " tolong di jaga ya kalung pemberian kakek, karena itu kalung untuk membantu kamu dalam menjalankan tugas kamu untuk membantu orang orang dalam kesulitan "
" iya kek, tadi Om Kanendra juga udah bilang seperti yang kakek bilang " kata Azam
" itu adalah kalung sorana yang mempunyai kekuatan untuk membantu sekaligus memberikan perlindungan dari orang orang jahat yang ingin mencelakai dirimu cu " jelas Kakek
" baik kek, Azam akan mengingat perkataan kakek dan juga menjaga amanah kakek " kata Azam
kakek itu kemudian menghilang dari pandangan Azam, sesaat kemudian azam terbangun. Lau azam terkaget ternyata tadi adalah mimpi.