Cerita ini adalah lanjutan dari novel ~MIRA~
_____
Enam tahun telah berlalu di mana kejadian aksi bunuh diri Mira belum bisa dilupakan oleh Raka Alendra. Pria muda tampan yang memiliki kelebihan dapat mendengar isi pikiran orang lain.
Dengan kemampuannya itu ia dapat membangun perusahaan terbesar serta perusahaan lainnya. Seorang Presdir termuda di Perusahaan Welfin di kota Byusan. Tanpa sengaja, ia bertemu dengan Sovia indriani, wanita yang baru tiba dari luar negri sekaligus seorang single mom yang memiliki rupa yang sama dengan Mira dan memiliki seoarang Putra yang bernama Deva. Sovia bekerja sebagai karyawan biasa di perusahaan Welfin.
Tiba-tiba saja seorang wanita lain hadir dan memiliki wajah yang juga mirip dengan Mira. Wanita itu mencoba untuk mengambil perhatiaan Raka. Namun karena gadis kecil yang bernama Dean, Putri kecil dari Raka mencoba untuk menyingkirkan wanita tersebut, karena tak ingin Ayahnya terjebak akan rencana jahatnya.
Begitupun dengan bocah yang bernama Deva, ia mencoba membantu Dean untuk mempersatukan Ibunya dengan Ayah Dean. Dan ternyata kedua bocah itu adalah saudara kembar yang artinya Sovia dan Raka adalah orangtua kandung mereka.
Lalu bagaimana semua itu terungkap?
Yuk kita baca sampai selesai:)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asti Amanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Mengamuk
...(Beri like dan komen)...
Sedangkan di rumah mewah Tuan Hendra Welfin, keributan kembali terdengar akibat amukan dari cucunya sendiri dan itu pasti ulah Dean. Nyona Dina berusaha menenangkannya namun tetap saja tak ada yang bisa membuatnya tenang. Memang Dean sangat susah untuk ditenangi selain Ayahnya sendiri.
Krekk!
Suara pintu terdengar, Raka segera berlari menuju ke kamar Putrinya. Pandangan semua orang di rumah tertuju langsung padanya.
"Apa yang terjadi, Mah?" Raka bertanya pada Ibunya yang terlihat kelelahan. Ibunya tak menjawabnya melainkan Tuan Hendra segera menyuruhnya masuk ke dalam.
Raka segera membuka pintu kamar Putrinya. Terdengar suara amukan dari dalam, entah apa yang Dean lakukan.
"Huaaaa .... huaa ... semua jahat sama Dean, padahal cuma mau ikut pesta perayaan besok, kenapa harus dilarang!"
Dean mengamuk merobek bantal di atas ranjang besar miliknya. Ia melempar bantal dan melompat-lompat merasa kesal bercampur amarah. Raka memasuki kamarnya terlihat ia menyentuh kepalanya melihat sendiri tingkah Putrinya. Dean yang tak peduli dengan kehadiran ayahnya kini semakin mengamuk menjadi-jadi.
Pasalnya acara perayaan dilaksanakan di perusahaan dan Dean tak diisingkan ikut oleh Nenek dan Kakeknya. Raka segera menghentikan aksi ngamuk Putrinya yang sedari tadi melompat di atas ranjang dengan teriakan manjanya.
"Dean turun!!" Raka dengan nada besar menyuruhnya turun dan menghentikan tingkah bodohnya itu. Bantal yang Dean robek terlihat berserakan di mana-mana.
"Tidak mau." tolak Dean memalingkan wajahnya.
"Turun sekarang!!"
"Tidak mau!" Dean menolak keras.
"Dean!!" Raka membentak.
"Hiksss ... tidak mau!!" Dean monolak lagi.
"Turun!!" Raka dengan Putrinya kini beradu mulut saling memerintah dan menolak.
"Tidak!!" Dean dengan wajah ngambek menolak lagi.
"Baiklah, jangan harap bulan ini Dean dapat snace banyak!" ancam Raka.
"Huaaa ... Papi jahat! Dikit-dikit larang Dean, huaaa ... hiks." Tangisannya terdengar menggema di telinga ayahnya.
Dean melempar semua bantal ke arah Raka namun tak ada sutupun mengenai Ayahnya itu.
Tuan dan Nyonya Welfin beserta para pelayan di luar sesekali terkejut mendengar pertengkaran di dalam. Willy yang baru datang langsung menerobos masuk, ia penasaran apa yang terjadi di dalam kamar Nona kecil. Ia bermaksud ingin masuk untuk memberi tahu soal Sovia pada atasannya.
Willy membuka pintu kamar dan sontak wajahnya langsung terkena bantal sobek yang dilempar oleh Nona Kecil Dean. Dean yang melihat asisten ayahnya masuk, ia segera melompat turun lalu memeluknya.
"Paman ... hiks." Dean merengek terisak-isak didekat Willy.
"No-nona ... kecil." Willy terbata bata, bagaimana mungkin Raka yang berusaha menyuruhnya turun malah diabaikan sendiri oleh Putrinya. Kini di wajah Raka, ia mulai gemas dengan tingkah Putrinya.
"Kemari!" Raka menyuruh Dean.
"Tidak mau! Paman Willy ... bisa jadi pasanganku di acara besok, Papi izinin Dean ikut saja."
"Tidak bisa, terlalu bahaya jika kamu datang, yang ada malah diculik oleh orang lain dan itu bisa menguntungkan bagi mereka." jelas Raka dengan emosinya.
"Yang dikatakan Ayah Nona kecil ada benarnya, Nona kecil lebih baik nurut saja." Willy menenangkannya namun malah bertambah membuat Dean mengamuk.
"Huaaaa ... kalian jahat sama Dean, anak kecil yang imut menggemaskan sepertiku kenapa kalian membuatnya menderita, hikss ... Mama." Dean menjatuhkan tubuhnya ke lantai mengamuk tak habis pikir dengan Willy yang malah mendukung Ayahnya.
Raka dan Willy sontak kaget mendengar ucapan terakhir yang di lontarkan gadis kecil itu. Ini pertama kalinya Dean memanggil sebutan Mama di hidupnya.
Raka mulai tak tega melihat kondisi Putrinya, dan ia segera meminta Willy untuk mengubah jadwal sekaligus lokasi acara perayaan.
"Willy lakukan perubahan pada acara perayaan, beri tahu sekarang kepada para pendiri lain jika acara akan di selenggarakan di Rumah ini. Lakukan dengan baik dan jangan membuat kesalahan." pinta Raka.
Dean segera mendongak mendengar ucapan Ayahnya, terlihat sedikit senyuman kecil di wajahnya. Tak sia-sia pemberontakannya hari ini.
Raka berjalan menuju Putrinya yang lagi tengkurap sambil mendongak menatap dirinya.
"Sudah puas?" Raka bertanya memastikan.
"Hehe, Papi yang terbaik." Dean segera berdiri memeluk ayahnya kegirangan, ia yang tadinya memberontak dengan cepat menjadi gadis kecil yang terlihat bahagia. Willy hanya tertawa geli melihat keduanya akur seketika.
"Presdir Raka, ada yang ingin saya sampaikan mengenai wanita ini, saya harap Presdir memiliki waktu untuk membicarakannya."
"Kita bicarakan sekarang, tunggu aku di ruanganku, kamu boleh keluar." Willy menunduk mengerti ia berjalan keluar dari kamar. Sementara mereka yang di luar yang sudah menunggu jawaban bagaimana kondisi di dalam, kini mereka merasa tenang dengan perkataan dari Asisten Willy.
"Tuan dan Nyona tak perlu kuatir, Nona kecil sudah mulai tenang di dalam."
"Syukurlah." Nyona Dina mulai ikut tenang mendengarnya langsung. Namun tatapannya tertuju pada suaminnya itu.
"Pah! Ini gara-gara Papah yang selalu keras sama anak dan cucu kita. hmp!" cetus Nyonya Dina.
Tuan Hendra tak habis pikir istrinya selalu saja menyalahkannya.
"Di mata perempuan, Pria selalu saja disalahkan." Itulah yang ada di lubuk hati Tuan Hendra melihat tingkah istrinya. Nyona Dina dan lainnya pergi meninggalkan Tuan Hendra begitu saja.
"Baiklah Papi tinggal dulu, ya sayang." ucap Raka lalu mengecup kening Putrinya, Dean mengangguk paham. Ketika keluar, Raka menyuruh beberapa pelayan wanita untuk merapikan kembali kamar Dean lalu berjalan menuju ruang kerjanya dimana Willy sudah menunggunya tadi.
Dean yang melihat Ayahnya sudah jauh, kini ia merasa senang karena akal liciknya itu ternyata berhasil juga.
"Hehehe, tak sia sia aku nonton drama, ternyata berakting itu bagus juga bisa membuat Papi tunduk padaku, Hihi ..."
Dean cekikikan sambil tersenyum licik terlihat mengerikan, ternyata dibalik keimutannya tersimpan sisi lainnya. Para pelayan yang melihatnya terdiam membisu dan segera merapikan kamar yang bagaikan bak kapal pecah.
"Jika besar nanti mungkin bisa jadi Aktris, hehe." tawa Dean berjalan keluar dari kamar mencari Pak Sam.
"Nona kecil bagaikan iblis, senyuman dan tawanya kelihatan palsu, membuatku merinding." Pelayan wanita yang memegang sapu merasa was was dengan kehadiran Nona kecil di rumah ini.
"Haha ... aku malah seneng lihatnya, sudah kecil seperti ini bisa memikat hati Tuan Muda." jelas Pelayan lainnya.
"Tuan Raka bagaikan pangeran di dalam es yang membeku, bagaimana Tuan bisa memiliki anak sepertinya." Pelayan yang memperbaiki ranjang memang menyukai Raka sekaligus jengkel dengan Dean.
Mereka bertiga segera mempercepat pekerjaannya karena takut akan di marahi oleh Nona kecil.
...****...
...Dean nakal juga ya hihihi~...
...Halo Readers...
...Jangan lupa...
...Like...
...Komen...
...Dan...
...Vote...
...Terima kasih...
Maaf aku blm bca season 1 soalnya . Mau bca tp males ah..kpngen lgsug bca yg ini aja🤭