Caroline Watson mengorbankan seluruh masa mudanya demi pria yang ia cintai. Ia setia berdiri di sisi suaminya, menyingkirkan impian pribadinya sendiri. Namun pada akhirnya, pria itu justru menceraikannya dengan alasan yang kejam—Caroline tidak mampu memberinya seorang pewaris. Keputusan itu meninggalkan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Dengan hati hancur, Caroline memilih menghilang dari hidupnya.
Lima tahun kemudian, ia kembali menginjakkan kaki di negeri itu, ditemani seorang bocah laki-laki kecil dengan wajah polos yang menawan.
Kehidupan barunya yang selama ini tenang mulai terguncang ketika mantan suaminya mengetahui kebenaran—bahwa Caroline telah melahirkan seorang putra. Seorang anak yang memiliki darahnya.
Namun kali ini, Caroline bukan lagi perempuan lemah yang dulu pernah ia tinggalkan. Ia telah berubah menjadi sosok yang jauh lebih kuat dan tak mudah disentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dewisusanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia
Saat William tiba di bandara, ia bergegas menuju terminal internasional. Namun, tepat ketika ia hendak masuk, ia melihat sosok yang dikenalnya berjalan ke arahnya.
"Marcus..." William tersenyum padanya. "Kau pergi ke luar negeri?" tanyanya setelah menerima jabat tangan hangat dari Marcus.
"Sudah lama tak bertemu, bro..." Marcus tidak menjawab pertanyaannya. Ia justru menyapa William dengan sopan.
Marcus terkejut bertemu pria ini di sini. Ia tahu William tidak pernah menggunakan penerbangan komersial. Pria itu mungkin datang untuk menemui rekan bisnisnya.
"Ya. Sudah lama, Marcus. Senang bertemu denganmu." William membalas senyumnya. "Kau pergi ke luar negeri?" tanyanya lagi.
"Tidak. Aku baru saja mengantar temanku. Kalau kau?"
"Kebetulan sekali, Marcus. Aku juga hendak menemui seseorang..." jawab William sambil melirik jam tangannya. "Kawan, maaf aku tidak bisa berbincang lama. Aku harus pergi sekarang. Nanti aku hubungi kau lagi..."
"Pergilah! Jangan biarkan temanmu menunggu, bro..."
"Sampaikan salamku pada ayahmu, Marcus."
"Tentu, akan kusampaikan!" kata Marcus sambil melambaikan tangan, menatap William yang berjalan tergesa-gesa masuk ke dalam. Pada saat yang sama, ponselnya berdering. Ia segera mengeceknya dan tersenyum saat melihat pesan masuk.
[Caroline:] Aku sudah naik pesawat. Terima kasih sudah menghapus jejakku, Marcus.
[Marcus:] 🙂 semoga penerbanganmu aman, Carol.
[Marcus:] kirimi aku pesan saat kau tiba di tujuan.
[Caroline:] ok!
Setelah memasukkan ponselnya ke saku, ia berjalan cepat menuju area penjemputan. Ia melihat sebuah van hitam berhenti di depannya.
"Kapten, kita sebaiknya segera berangkat atau kita akan terlambat," kata seorang pria berpakaian hitam dengan postur tubuh mirip Marcus. Ia membuka pintu baris belakang untuk Marcus dan memberi isyarat agar ia masuk.
"Terima kasih," Marcus tersenyum sambil masuk ke dalam mobil.
Rahang bawah bawahannya hampir jatuh melihat senyum sang kapten yang dingin itu, seolah musim semi datang setelah musim dingin.
’Wow, sepertinya hati kapten kami yang dingin akhirnya mencair...’ ia memuji kaptennya dalam hati. ’Siapa gadis beruntung yang bisa menjinakkannya!?’
"Apa yang kau tunggu!? Kenapa kau berdiri kaku di sana?" suara dingin Marcus menghantam bawahannya, menariknya dari lamunannya.
"Y-Ya, Kapten!!" pria itu berteriak. Ia bergegas masuk ke mobil, tak ingin membuat kaptennya semakin kesal.
Sementara itu, di terminal penerbangan internasional, Lukas merasa lelah dan berkeringat setelah berlari dari satu gerbang ke gerbang lain, tetapi tetap tidak menemukan Caroline dan pelayannya.
Lukas sudah tidak punya tenaga lagi untuk terus mencari. Ia pun memutuskan menelepon William.
"Kau menemukannya?" suara William terdengar tidak sabar di seberang, membuat Lukas terkejut. Ia tidak menyangka bosnya akan mengangkat telepon pada dering pertama.
"B-Bos, maaf, tapi aku tidak menemukan Nyonya Caroline... Sepertinya ia sudah naik pesawat," kata Lukas dengan nada menyesal.
Meski William kecewa karena tidak bisa menemukan Caroline, ia tidak lagi memaksa Lukas untuk mencarinya. Sebaliknya, ia menyuruh Lukas kembali ke kampung halamannya menggunakan jet pribadinya, seperti yang telah dijanjikan.
Setelah William mengakhiri panggilan, ia tidak beranjak dari tempatnya. Pandangannya tajam menatap papan informasi penerbangan di depannya. Sementara itu, pikirannya sibuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang kini memenuhi benaknya.
William tidak mengerti kenapa ia begitu penasaran tentang Caroline. Semakin ia memikirkannya, semakin ia ingin tahu apa yang dipikirkan Caroline dan alasan ia tiba-tiba meninggalkan negara ini.
Beberapa menit kemudian, William berjalan keluar dari bandara sambil melakukan panggilan telepon.
"Neo, aku ingin kau mencari seseorang. Namanya Caroline Watson, dia meninggalkan negara ini—" William melanjutkan dengan menjelaskan apa yang ia ketahui tentang Caroline kepada hackernya.
"Tenang saja, Bos. Aku akan menemukannya. Ini tugas yang mudah!" jawab Neo dengan penuh percaya diri.
William akhirnya tersenyum setelah mendengar jawaban Neo. "Aku akan menunggu kabar baik darimu, Neo!"
...
Saat mengemudikan mobilnya, William justru semakin bingung dengan dirinya sendiri. Ia tidak pernah merasakan hal seperti ini terhadap Caroline. Ia ingin bertemu dengannya.
Ini aneh. Karena selama pernikahan mereka, ia tidak pernah ingin berada di dekatnya. Ia hanya pulang ke rumah saat tiba waktunya menjalankan kewajibannya sebagai seorang pria, semata-mata untuk membuat Caroline hamil.
Bergegas ke bandara hanya untuk melihat sekilas dirinya terasa sangat tidak masuk akal bagi William, tetapi tetap saja ia melakukannya.
Yang membuat William semakin bingung adalah ia bahkan tidak tahu apa yang akan ia katakan jika mereka benar-benar bertemu. Sungguh aneh!
Tak lama kemudian.
Ponsel William berdering. Saat melihat nama Neo muncul di layar, ia segera memakai earbud dan mengangkatnya.
"Halo, Bos. Bisa bicara sekarang?"
"Ya. Silakan bicara," jawab William dengan senyum di wajahnya.
"Bos, aku sudah melacak informasi penerbangan Nyonya Caroline Watson. Tapi," suara Neo terdengar bingung dan khawatir. "Ada sesuatu yang mencurigakan tentang identitasnya..."
Senyum William perlahan menghilang saat mendengar kata-kata Neo. "Apa maksudmu, mencurigakan?"
Neo menarik napas dalam sebelum berkata, "Bos, aku mencoba melacak penerbangan Nyonya Caroline Watson, tetapi aku tidak menemukan datanya di penerbangan mana pun. Dan ketika aku mencoba melacak dokumen lainnya, mencari negara mana yang ia ajukan visa atau apa pun yang berkaitan dengan perjalanannya, identitasnya tidak bisa diakses..."
William terkejut. Ia segera memarkir mobilnya di area parkir terdekat dan melanjutkan percakapannya dengan Neo.
"Apa kau yakin dengan itu, Neo?"
"Ya, Bos. Apa pun yang berkaitan dengan Nyonya Caroline Watson tidak bisa diakses—"
"Apa maksudmu kau tidak bisa mengakses databasenya!? Kau hanya perlu memeriksa database imigrasi, bukan!?" William kebingungan. Ini pertama kalinya Neo gagal melakukan sesuatu yang ia minta.
"Bos, status identitas Nyonya Caroline bersifat sangat rahasia. Hanya segelintir orang di negara ini yang memiliki status seperti itu, agen rahasia atau presiden negara ini." Neo menjelaskan lebih lanjut. "Jika aku memaksakannya, agen rahasia akan datang ke tempatku dalam hitungan menit dan menangkapku."
Sebagai seorang hacker, ada aturan yang tidak bisa ia langgar. Salah satunya adalah mengganggu keamanan siber militer negara ini. Meski ia yakin pada kemampuannya, ia tidak berani melakukannya.
"Bagaimana dengan pelayannya?"
"Sama. Identitas Nyonya Milla juga tidak bisa dilacak."
Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut William. Ia benar-benar terkejut dengan situasi ini. Ia segera mengakhiri panggilan dan melanjutkan mengemudi. Namun, rasa penasarannya terhadap Caroline Watson justru semakin besar.
tapi juga kasian Caroline dibohongin 😢
keluarga ini ribet banget
ditampar → bangkit → balas semuanya
ini baru definisi wanita kuat 😭
Benjamin kelihatan panik tapi masih sok kuasa
Caroline kuat banget, ditampar tapi masih bisa berdiri dan melawan
keluarga Watson ini toxic parah