NovelToon NovelToon
Gadis Mungil Milik Mafia Kejam

Gadis Mungil Milik Mafia Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Romantis / Cintamanis / Mafia
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nur Sabrina Rasmah

Rea Adelia, gadis sebatang kara yang lugu dan ceroboh, merantau ke kota besar demi mencari kerja. Namun, malam pertamanya di kota itu berubah menjadi mimpi buruk sekaligus awal takdir baru. Di sebuah gang sempit menuju kosannya, ia menemukan Galen Alonso—seorang pemimpin mafia kejam yang terluka parah akibat pengkhianatan.
Niat baik Rea membawanya menolong Galen ke dalam kamar kosnya yang sempit. Tanpa Rea sadari, menolong Galen berarti menyeret nyawa polosnya ke dalam dunia gelap yang penuh darah. Di antara sekat dinding kos yang rapuh, si gadis manis yang ceroboh harus hidup bersama sang mafia tampan yang berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Luka di balik jas hitam

Malam kedua sejak keberangkatan Galen, badai mengguyur mansion dengan sangat deras. Rea tidak bisa tidur. Ia terus memikirkan paspor nama "Alonso" yang ia temukan di ruang kerja. Hatinya menolak percaya, namun logikanya mulai bertanya-tanya.

Tiba-tiba, suara deru mobil terdengar di halaman. Rea langsung berlari menuju pintu utama. Begitu pintu terbuka, ia melihat Galen masuk dengan langkah yang sedikit terseret. Jas hitamnya basah kuyup, dan wajahnya tampak pucat pasi.

"Mas Galen!" pekik Rea senang sekaligus khawatir. Ia hendak memeluk suaminya, namun Galen justru mundur selangkah.

"Jangan mendekat dulu, Bunny. Mas basah kuyup," ucap Galen dengan suara serak. Tangannya terus menekan bagian perut sampingnya.

Rea tidak peduli. Ia mendekat dan tanpa sengaja menyentuh tangan Galen yang menekan perut itu. Seketika, Rea merasakan cairan kental dan hangat menempel di jarinya. Di bawah lampu kristal mansion yang terang, Rea terbelalak melihat tangannya berwarna merah pekat.

"Mas... ini darah? Mas terluka?" suara Rea bergetar hebat.

Galen menghela napas, ia tidak bisa lagi berbohong. Tenaganya mulai habis. Leon segera menghampiri dan memapah Galen menuju sofa. "Nyonya, Tuan terkena... 'serpihan alat kebun' yang tajam," ucap Leon mencoba beralasan, namun kali ini alasannya terdengar sangat konyol.

Rea dengan tangan gemetar membuka kancing kemeja Galen. Matanya membelalak melihat luka robek akibat peluru yang menyerempet perut suaminya. Tidak ada duri mawar yang bisa membuat luka seperti itu.

"Ini luka tembak, kan Mas?" tanya Rea dengan air mata yang mulai jatuh. "Mas... sebenarnya pekerjaan Mas apa? Kenapa ada paspor nama Alonso di meja Mas?"

Galen menatap Rea dengan pandangan yang sangat dalam dan gelap. Meskipun sedang menahan sakit yang luar biasa, ia meraih tengkuk Rea dan menariknya mendekat hingga dahi mereka bersentuhan.

"Rea... saya sudah bilang," desis Galen dengan suara yang sangat rendah dan mengintimidasi. "Jangan pernah mencari tahu apa yang ada di balik pintu yang saya tutup. Cukup tahu bahwa saya adalah suamimu yang akan selalu pulang padamu."

"Tapi Mas—"

"Diam dan obati saya, Rea," perintah Galen dengan nada absolut seorang penguasa. "Jadilah istri yang baik dan jangan bertanya lebih jauh jika kau ingin tetap hidup dalam ketenangan ini."

Rea membeku. Untuk pertama kalinya, ia melihat kilatan "iblis" di mata pria yang selama ini memanjakannya. Rea pun terdiam, dengan air mata yang terus mengalir, ia mulai membersihkan darah di tubuh suaminya. Ia mulai sadar, bahwa pria yang ia cintai bukanlah sekadar tukang kebun, melainkan monster yang memiliki seluruh kota ini di bawah kakinya.

Galen yang sedang duduk di sofa dengan kemeja terbuka, menatap lekat-lekat wajah Rea yang tampak sangat cemas saat membersihkan sisa darah di perutnya. Jemari Rea yang mungil bergetar, dan sesekali air matanya jatuh mengenai kulit Galen.

Galen mengulurkan tangannya yang besar dan meraih tengkuk Rea dengan lembut, menarik wajah istrinya hingga jarak mereka menghilang. Dia menatap mata Rea yang berkaca-kaca dengan tatapan intens.

"Bunny... kamu takut ya?" bisik Galen dengan suara serak yang berat.

Rea gemetar, ia menunduk menatap tangannya yang masih memegang kapas berdarah. "Mas... kenapa luka ini seperti... seperti..." Rea tidak berani melanjutkan kata 'peluru'.

Galen menghela napas, ekspresinya sulit dibaca. Dia menarik Rea lebih dekat hingga duduk di pangkuannya, meskipun lukanya belum sepenuhnya diobati.

"Jangan dipikirkan," kata Galen lagi, jarinya mengusap lembut pipi Rea. "Cukup katakan, apakah kau takut padaku?"

Rea hanya bisa menggeleng pelan meski hatinya bergejolak hebat. "Rea... Rea tidak takut pada Mas, tapi Rea takut kehilangan Mas."

Mendengar itu, Galen memeluk Rea dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya di leher Rea. Dia memejamkan mata, merasakan kehangatan dan ketenangan dari istrinya di tengah rasa sakitnya.

"Mas tidak akan pergi, Rea," gumam Galen. "Mas akan selalu di sini."

"Bunny, apakah kamu mau kuliah?" tanya Galen tiba-tiba di sela keheningan malam itu.

Rea tersentak, ia menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengobati luka Galen. "Kuliah, Mas?" Rea mengerjapkan matanya, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

"Iya, kuliah. Dulu kamu terpaksa berhenti karena keadaan, kan?" Galen menatap Rea dengan serius namun penuh kasih. "Sekarang Mas ingin kamu meraih mimpi itu lagi. Kamu bisa pilih jurusan apa saja yang kamu suka. Mas yang akan urus semuanya."

Rea terdiam sejenak, pikirannya melayang pada masa lalunya yang sulit. "Tapi Mas... Rea kan sudah lama tidak belajar. Rea takut... nanti Rea memalukan Mas Galen di kampus kalau Rea tidak pintar," bisiknya canggung sambil menunduk.

Galen menarik dagu Rea agar kembali menatapnya. "Tidak ada yang memalukan, Rea. Kamu itu pintar dan rajin. Mas hanya ingin melihatmu mengejar apa yang kamu cintai."

Mata Rea mulai berkaca-kaca, haru dengan kebaikan suaminya. "Kalau Rea kuliah, nanti siapa yang urus Mas di rumah?"

Galen terkekeh rendah, ia menarik Rea ke dalam pelukannya meski luka di perutnya masih terasa nyeri. "Mas akan antar-jemput kamu setiap hari. Dan kalau ada yang berani macam-macam atau mem-bully istriku, Mas sendiri yang akan 'membereskan' mereka."

Rea tertawa kecil mendengar gaya protektif suaminya yang terkadang menyeramkan itu. "Mas Galen ini, kayak mau perang saja! Ya sudah, Rea mau Mas. Rea ingin belajar Tata Boga, supaya nanti bisa buatkan kue yang lebih enak untuk Mas!"

Galen tersenyum puas, mengecup kening Rea lama. Di dalam hatinya, Galen berjanji di tahun ini, ia akan membangun dunia yang bersih untuk Rea, sejauh mungkin dari kegelapan yang ia jalani.

Rea memeluk Galen, merasa aman dalam pelukannya. Galen membawanya ke ranjang.

"Tidur di sini saja, Bunny," bisik Galen.

Rea mengangguk, menyandarkan kepalanya di dada Galen, dan mereka berdua tertidur pulas.

Keesokan Paginya...

Cahaya matahari masuk melalui jendela. Galen sudah bangun, menatap Rea yang masih tertidur.

"Emhhh..." Rea menggeliat, lalu membuka mata. Ia melihat Galen tersenyum padanya.

"Pagi, Bunny," sapa Galen.

"Pagi, Mas Galen..." jawab Rea, merasa malu karena masih memeluk Galen.

"Sudah siap untuk hari pertamamu menjadi mahasiswi?" tanya Galen sambil mengusap pipi Rea.

Rea langsung panik. "Eh! Hari ini ya Mas? Aduh, Rea belum siapkan buku, belum siapkan alat tulis, gimana kalau Rea telat?" Ia mencoba bangkit, tapi Galen menariknya kembali ke kasur.

"Tenanglah, semuanya sudah disiapkan oleh Leon. Bajumu, tasmu, bahkan bekalmu sudah ada di bawah," ucap Galen sambil tertawa.

"Tapi Mas..."

"Tidak ada tapi-tapi. Sekarang mandi, Mas tunggu di bawah untuk sarapan. Ingat, hari ini Mas sendiri yang akan mengantarmu," tegas Galen.

Rea mengangguk dan bergegas ke kamar mandi. Sementara itu, Galen meraih ponselnya. Wajahnya berubah serius saat melihat pesan dari Leon: “Tuan, Kaela dan keluarganya sudah mulai mencari tahu tentang keberadaan Rea. Apa yang harus kami lakukan?”

Galen menyeringai. Ia membalas: “Biarkan mereka datang. Aku ingin Rea melihat sendiri bagaimana caranya menghancurkan hama yang mencoba mengusik kebahagiaannya.”

Galen bangkit dan bersiap untuk mengantar Rea kuliah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!