Seminggu menjelang hari bahagianya, dunia Jamila runtuh seketika. Di sebuah gubuk tua di tepi sawah, ia menyaksikan pengkhianatan paling menyakitkan: Arjuna tunangannya, justru bermesraan dengan Salina, sepupu Laila sendiri. Sebagai gadis yatim piatu yang terbiasa hidup prihatin bersama kakaknya, Jamal, serta sang kakek-nenek, Engkong Abdul Malik dan Nyai Umi Yati, Mila memilih tidak tenggelam dalam tangis.
Jamila mengalihkan rasa sakitnya dengan bekerja lebih keras. Dengan kulit hitam manisnya yang eksotis dan kepribadian yang pantang menyerah, ia mencari nafkah melalui cara yang tak lazim: live streaming di TikTok. Bukan sekadar menyapa penonton, Jamila melakukan aksi nekat memanjat berbagai pohon mulai dari jambu hingga durian sambil bercengkerama dengan para followers nya
Awalnya hanya kagum pada keberanian Laila, Daren, pemuda tampan dari Eropa perlahan jatuh cinta pada ketulusan Jamila, dan berniat melamarnya, apakah Jamila menerima atau tidak ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indira MR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23. 1 Milyar Atau Daren
Matahari mulai meninggi, memantulkan panas di atas aspal yang padat. Di sebuah ruko kecil berlantai dua di pinggiran Jakarta Selatan, Daren dan Jerry sibuk memindahkan tumpukan kardus berisi dokumen dan perangkat komputer. Tak ada lagi pendingin ruangan sentral yang sejuk, tak ada lagi asisten yang membawakan kopi pesanan.
"Gila, Ren. Ternyata angkat kardus lebih berat daripada angkat beban di gym mewah lo dulu ya," keluh Jerry sambil menyeka peluh dengan kaos oblongnya yang sudah basah kuyup.
Daren terkekeh. Ia baru saja meletakkan satu set komputer bekas yang mereka beli dari pasar loak untuk memulai agensi konsultan bisnis kecil-kecilan mereka.
"Ini namanya olah raga, Jer. Nikmatin aja."
"Gue masih nggak nyangka lo beneran ninggalin Seventeen Group. Lo tau kan, Mario sekarang pasti lagi pesta pora di kantor CEO?"
Daren terdiam sejenak.
"Biarkan saja. I have lost my fortune, but I found my peace. ( saya hilang keberuntungan saya tapi saya mendapatkan kedamaian) /lagipula, gue punya lo, sahabat paling loyal yang rela hidup susah."
"Ya iyalah, gue kan investasi jangka panjang. Nanti kalau lo sukses lagi, gue minta jabatan COO, ya!" canda Jerry yang disambut gelak tawa Daren.
Namun, di tengah tawa itu, ponsel Jerry bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Jerry membacanya, lalu wajahnya berubah serius.
"Ren, ada kabar. Sakura nge-post foto lagi makan siang sama Megan dan Daddy lo. Tapi ada satu hal lagi... Megan barusan kirim pesan ke gue, nanya jadwal Jamila live."
Daren menghentikan aktivitasnya. Jantungnya berdegup kencang.
"Kenapa dia tanya soal Jamila?"
"Gue rasa Ibu Tiri lo itu nggak akan tinggal diam, Ren. Dia tipe orang yang akan mengintimidasi Jamila" gumam Jerry khawatir.
Restoran La Marée, Sebuah Pertemuan Dingin
Di sebuah restoran mewah di salah satu mall ternama Jakarta, Megan duduk dengan anggun. Pakaiannya adalah perpaduan sutra dari butik ternama di Paris dan tas tangan yang harganya setara dengan biaya operasional ruko baru Daren selama setahun.
Tak lama kemudian, Jamila datang. Ia tidak sendiri. Sesuai prinsipnya, ia membawa dua temannya Kayla dan Cintya sebagai pendamping. Jamila mengenakan gamis berwarna cokelat muda dengan jilbab lebar yang senada. Wajahnya polos tanpa riasan, namun memancarkan aura ketenangan yang membuat Megan sedikit tersaingi.
"Jamila?" tanya Megan dengan nada meremehkan saat Jamila mendekat.
"Iya, madam. Saya Jamila," jawab Mila lembut namun tegas.
"I am Megan, Daren’s mother. Well, his mommy," ujar Megan dengan aksen yang sengaja dibuat-buat. Ia melirik dua teman Jamila dengan sinis.
"I think we need to talk in private. Bisakah teman-temanmu menunggu di meja lain? This is a family matter."
Jamila menoleh ke arah teman-temannya, lalu mengangguk kecil sebagai isyarat bahwa ia akan baik-baik saja. Setelah teman-temannya menjauh, Megan melipat tangannya di atas meja.
"So, you are the girl who turned my son’s world upside down (Jadi, kamu perempuan yang sudah membuat dunia anakku jungkir balik)" ujar Megan.
"Daren has sacrificed everything. His position, his inheritance, his family name... and for what? (Daren sudah mengorbankan segalanya. Jabatannya, warisannya, nama besar keluarganya... dan untuk apa?) hanya untuk seorang gadis yang bahkan tidak bisa masuk ke lingkungan sosial kami?"
Jamila menatap mata Megan tanpa rasa takut.
"Madam Megan, saya tidak pernah meminta Daren untuk meninggalkan hartanya. Keputusan Daren untuk memeluk Islam adalah pilihannya sendiri, hasil pencarian jiwanya."
Megan tertawa dingin.
"Don't be naive, Jamila. Love is a chemical reaction, but money is a reality. (Jangan naif, Jamila. Cinta itu cuma reaksi kimia, tapi uang adalah kenyataan).
Daddy Farel tidak akan pernah memberikan restunya. Never. Kamu hanya akan menjadi penghalang bagi masa depan Daren."
Megan membuka tasnya, mengeluarkan sebuah buku cek. Dengan gerakan dramatis, ia menuliskan angka di sana dan menyodorkannya ke hadapan Jamila.
"Satu miliar rupiah. One billion rupiah. Take it. Kamu bisa bangun restoran, beli rumah mewah, atau apa pun yang kamu mau. Syaratnya cuma dua, tinggalkan Daren, dan bujuk dia untuk kembali ke keyakinannya yang lama agar dia bisa kembali menjadi CEO Seventeen Group."
Jamila menatap lembaran cek itu. Nilainya sangat fantastis bagi seseorang yang sehari-hari hanya menjahit dan menjual kue cucur. Namun, ia justru tersenyum tipis senyum yang membuat Megan merasa diabaikan ucapannya.
"Maaf, madam Megan. My faith is not for sale, and neither is Daren’s soul, (Imanku tidak untuk diperjualbelikan, begitu juga dengan jiwa Daren.)" ujar Jamila tenang.
"Saya tidak bisa membujuk Daren kembali ke agama lamanya karena itu adalah hak prerogatif Allah dalam memberi hidayah. Saya bukan siapa-siapa yang bisa membolak-balikkan hati manusia."
Megan menggebrak meja pelan, wajahnya mulai memerah.
"Listen to me, you gold digger! ( Dengarkan aku wanna matter) , Jangan pura-pura suci. Kamu menolak ini karena merasa bisa mendapatkan lebih banyak jika terus menempel pada Daren, kan? Kamu pikir Daren masih punya uang? Dia sekarang miskin! He is nothing!"
"Harta bisa dicari, madam Tapi ketenangan hati tidak ada harganya," balas Jamila.
Ia menarik napas panjang.
"Namun, jika madam menganggap kehadiran saya adalah beban bagi hubungan Daren dan ayahnya... saya akan menjauhi Daren. Bukan karena uang Ibu, tapi karena saya tidak ingin Daren menjadi anak yang durhaka. Saya akan menjaga jarak."
"Good. Smart choice," sahut Megan sinis. "Tapi ingat, jangan coba-coba menghubunginya lagi. You're just a little girl who thinks she's in a fairy tale. Real life is much crueler.(Kamu hanyalah gadis kecil yang merasa sedang berada dalam dongeng. Dunia nyata jauh lebih kejam)"
Jamila berdiri.
"Saya permisi madam Megan. Semoga Allah melembutkan hati madam."
Beberapa hari kemudian, Daren merasa ada yang aneh. Jamila tidak lagi terlihat di area madrasah saat ia pulang dari masjid. Pesan-pesannya hanya dibaca tanpa dibalas. Teleponnya pun tidak pernah diangkat.
Daren duduk di depan rukonya, menatap buku Iqra-nya dengan nanar. Ia baru saja belajar huruf Ra, Za, Sin, tapi pikirannya melayang jauh.
"Gue merasa Jamila menjauhi gueJer," ucap Daren lirih saat Jerry membawakannya teh hangat.
"Mungkin dia butuh waktu, Ren. Lo tau kan tekanan dari bokap lo nggak main-main. Apalagi setelah Megan nemuin dia," jawab Jerry.
"Megan nemuin Jamila?!" Daren berdiri spontan.
"Kenapa lo baru bilang?!"
"Gue baru dapet konfirmasi dari Kayla, temen Jamila tadi sore. Katanya Jamila nangis setelah pertemuan itu, tapi dia minta temen-temennya jangan bilang ke lo."
Daren merasa jantungnya diremas. Ia mengambil kunci motor (satu-satunya kendaraan yang tersisa setelah mobil mewahnya disita). Ia melaju membelah kemacetan Jakarta menuju rumah Jamila.
Sesampainya di sana, ia hanya berdiri di depan pagar tanaman yang asri. Jamila sedang menyiram bunga. Saat melihat Daren, ia tertegun, lalu menundukkan pandangannya.
"Mila... kenapa?" tanya Daren dari balik pagar.
"Daren, pulanglah. Fokuslah pada belajarmu, pada usahamu yang baru," jawab Jamila tanpa menoleh.
"Ini karena Megan? Apa yang dia katakan padamu? Dia menawarkan uang?" cecar Daren.
Jamila berhenti menyiram. Ia menoleh perlahan.
"Uang bukan itu masalahnya, Daren. Tapi restu. Aku tidak ingin menjadi alasan kamu terputus dari keluargamu. Aku tidak ingin menjadi ujian yang membuatmu goyah dalam keyakinan barumu."
"Mila, dengar," Daren mendekat ke pagar.
"Aku masuk Islam bukan karena kamu adalah hadiah yang ingin kubeli dengan syahadat. Aku masuk Islam karena aku butuh Tuhan. Dan soal keluargaku... mereka sudah membuangku sejak lama, jauh sebelum aku mengenalmu. Kamu bukan penyebabnya aku menjauh Dari keluargaku, kamu adalah kekuatanku Mila."
Jamila terdiam, matanya berkaca-kaca.
"Aku akan membuktikan pada mereka," lanjut Daren dengan suara parau.
"Aku akan membangun bisnis ini dari nol. Tanpa uang Daddy, tanpa koneksi Seventeen Group. Dan aku akan terus belajar mengaji. Sampai aku pantas menjadi imammu, bukan karena aku CEO, tapi karena aku hamba Allah yang benar."
Daren mengeluarkan buku Iqra dari tasnya.
"Hari ini aku sudah hafal huruf Syin. Sedikit lagi, Mila. Sedikit lagi aku akan bisa membaca Al-Fatihah dengan benar di depanmu."
Jamila menyeka air matanya. Ketulusan di mata Daren terlalu nyata untuk diabaikan. Ia tahu perjuangan pria ini tidak mudah. Dari seorang pria yang terbiasa memerintah ribuan orang, kini harus duduk bersila mengeja huruf hijaiyah dengan susah payah.
"Teruslah belajar, Daren," ucap Jamila akhirnya.
"Aku tidak menjanjikan apa-apa soal kita. Tapi aku berjanji akan selalu menyebut namamu dalam doa-doaku di sepertiga malam."
Kembali ke ruko, Daren menemukan Jerry sedang sibuk di depan laptop.
"Ren! Lo harus liat ini!" seru Jerry antusias.
"Proposal konsultan manajemen yang kita kirim ke UMKM kemarin diterima! Mereka mau kita bantu digitalisasi sistem mereka. Bayarannya nggak seberapa dibanding gaji lo dulu, tapi ini real money, hasil keringat kita sendiri!"
Daren tersenyum lebar. Ia menepuk bahu Jerry.
"Ini awal yang baik. Kita bangun pelan-pelan. From zero to hero, tapi kali ini dengan cara yang halal."
Malam itu, Daren kembali ke Masjid Al-Ikhlas. Ustadz Maulana menyambutnya dengan hangat.
"Bagaimana, Daren? Sudah siap lanjut ke halaman berikutnya?"
"Siap, Ustadz," jawab Daren mantap.
Di bawah lampu masjid yang temaram, suara kaku Daren kembali terdengar.
"Sa... Sha... Dha..."
Ia tahu perjalanannya masih panjang. Megan mungkin masih merencanakan sesuatu dengan Sakura dan Mario, dan ayahnya mungkin benar-benar telah menghapus namanya dari daftar warisan. Namun, saat ia sujud di atas sajadah tipis itu, Daren merasakan kekayaan yang tidak pernah ia rasakan saat saldonya masih puluhan miliar.
Ia merasa cukup.
Bersambung