Diawali dengan kisah percintaan Anggita Nindya sejak duduk di bangku SMA, yang sangat amat menyukai kakak kelasnya yang bernama Rama. Cintanya tak terbalaskan dan terlupakan ketika Rama lulus sekolah. Rama adalah cinta pertama Gita.
Mereka di pertemukan lagi di perusahaan tempat Gita bekerja. Perusahaan itu adalah milik keluarga Rama. Hingga akhirnya, mereka pun bertemu lagi. Bagaimanakah kisah cinta mereka selanjutnya? Akankah cinta mereka bisa bersatu? Sedangkan, Rama telah memiliki tunangan. Namun, perasaan Gita pada Rama tak berubah sedikitpun.
Akankah cinta pertama itu bisa terwujud? Atau malah sebaliknya?
Staytune terus ya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irna Mahda Rianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gita, dimana kau?
Gita pergi dari rumah besar itu dengan tatapan sendu. Hatinya sakit, jiwanya rapuh. Sebenarnya bukan ini yang ia inginkan, tapi ia tak mau menjadi perusak. Ia lebih baik mengalah meskipun itu amat menyakiti hatinya.
Gita pulang dengan cepat, ia tak mau Rama mengetahui kepergiannya. Ia segera membawa baju dan barang-barangnya. Rumahnya segera dikunci dan dititipkan kepada penjaganya. Sementara pasport belum selesai, ia menginap dulu dirumah Vina.
Maafkan aku yang lari dari kenyataan ini, kak. Maafkan aku tak bisa memegang janjiku untuk bisa bersamamu. Hatiku dan cintaku memang hanya untukmu. Tapi, ragaku tak bisa bersamamu. Aku tak mau menjadi penghancur hubunganmu dan Siska. Setelah aku datang, hidupmu berantakan. Kalau saja aku tak ada di hadapanmu, mungkin hubunganmu dan Siska akan baik-baik saja. Cobalah untuk memaafkan kesalahan Siska, jangan kau hiraukan aku. Aku sungguh tak apa. Aku akan pergi meninggalkan kalian, semoga kalian bisa bahagia.
Gita sampai dirumah Vina, tetapi Vina sedang bekerja. Ibunya menyuruh Gita untuk istirahat dikamar Vina, karena kedekatan mereka sudah terjalin lama, Gita tak sungkan untuk masuk ke kamar Vina.
Gita istirahat merebahkan tubuhnya. Bukan tubuhnya saja yang lelah, hatinya pun amat sangat lelah. Ia lelah melawan dan membalas ucapan kakeknya Rama. Ucapannya benar-benar membuat orang bisa mati kutu. Untung saja Gita masih bisa membalas ucapan kakek Prima tadi dengan setegas mungkin, padahal dalam hatinya ia sangat takut sekali.
***
-Dirumah besar Rama-
Brakkkkkkkk
Pintu didobrak dan dibuka paksa oleh Rama. Ia marah, menahan emosi yang sejak tadi tertahankan.
"Kemana perginya Gita?" Tanya Rama emosi
"Duduklah dulu. Kau pasti lelah." Maya menenangkan Rama.
"Kenapa kalian biarkan Gita pergi HAH?" Rama marah
"Kenapa kau tak mencegahnya?" Tanya kakek.
"Mana kutahu dia akan pergi seperti ini. Memangnya dia tidak hamil anakku?" Rama sangat berharap Gita hamil.
Kakek Prima menyerahkan hasil testpack Gita.
"Ini penyebab dia pergi. Kalau dia hamil mana berani dia berbuat seperti ini. Dia pasti meminta tanggung jawabmu." Kakek menjelaskan
"Tapi aku yakin dia hamil anakku." Sanggah Rama
"Mengapa kau bisa se-yakin itu?" Tanya kakek
"Aku selalu bertanya pada teman kerja Gita, apa yang dia lakukan dan apa yang dia kerjakan. Kemarin dia menginginkan hal yang aneh." Jelas Rama
"Seperti apa?" Tanya kakek, Ibunya hanya mendengarkan saja.
"Dia ingin makan seafood, ingin kerang rebus. Tetapi, saat kerang rebus itu sudah ada, dia malah tak mau memakannya, dia bilang tidak enak. Lalu dia melihat kepiting bakar milik temannya, dia malah ingin kepiting itu, temannya menyuruh Gita memesan lagi, tetapi Gita tak mau. Ia kekeh ingin kepiting milik temannya."
Benarkah?" Ibu heran.
"Memang hamil seperti itukah Maya?" Tanya kakek
"Sepertinya memang begitu, Ayah. Terkadang kita ingin sekali makan sesuatu, tapi terkadang kita pun tak mau, malah permintaannya lebih aneh lagi." Jelas Maya
"Ini testpack pasti bukan miliknya. Aku yakin, dia hamil anakku Kek! Aku sangat yakin itu. Kumohon kau bantu aku." Rama memohon
"Itu sudah permintaan mutlaknya. Kau bisa apa? Lagi pula permintaan aneh itu bukan berarti dia sedang hamil, kan?" Kakek meyakinkan.
"Tapi Kek, aku sangat yakin dengan hatiku. Tak mungkin dia seperti itu. Aku yakin dia tak siap menghadapi keadaan ini. Jadi dia memilih pergi, lari dari kenyataan ini. Kumohon kau percayalah padaku. Hatiku sangat sakit mengetahui dia pergi begitu saja tanpa sepengetahuanku. Aaaarrrrrgghhhhhh" Rama menahan tangis dan amarah sekaligus
Ibu Rama tak kuasa melihat anaknya rapuh seperti itu. Ia sungguh tak tega keadaan seperti ini harus menimpa anaknya. Ini semua karena ulahnya dan suaminya dahulu.
"Rama, anakku. Tabah kan hatimu. Aku yakin Gita akan kembali pada kita. Kita selesaikan satu-satu permasalahan ini. Disini masih ada Siska, kita harus sesegera mungkin selesaikan dia. Bagaimana Gita bisa kembali ke pelukanmu kalau Siska masih disini?" Maya mengingatkan.
"Kau harus menjadi lelaki. Jangan lemah. Selesaikan Siska, baru kau kejar wanita itu." Saran Kakek.
"Aku tidak peduli dengan wanita gila itu. Aku hanya peduli wanitaku. Aku pergi." Rama berlari meninggalkan rumah.
Siska melihat pemandangan itu. Hatinya sangat marah. Kenapa selalu saja Rama mementingkan Gita? Padahal dirinya kurang apa, ia cantik, model yang seksi, selalu jadi pujaan lelaki. Kenapa dia tak bisa melirik Siska sedikit saja?. Siska memang dilarang keluar dari kamar sekalipun, jadi ia hanya bisa menguping saja.
"Ayah, bagaimana ini? Aku tak tega melihat anakku seperti itu." Maya khawatir
"Kita lihat saja nanti. Aku sudah bilang, cinta akan menepi pada tempatnya. Biarkanlah dia. Kau hanya perlu tenangkan dia." Ujar kakek Prima santai.
*Rama, anakku.. Maafkan aku, maafkan ayah dan kakek mu. Kita memang salah, aku mengaku aku memaksakan dirimu untuk dekat dengan Siska. Kukira Siska wanita baik-baik, tapi ternyata aku salah menilainya. Kini, ketika kau telah menemukan wanita mu yang sesungguhnya, keadaan sungguh tak adil untukmu. Wanita itu tak siap menghadapi keadaan ini bahkan dia pergi begitu saja. -Maya dalam hati-
Rama melajukan mobilnya dengan cepat. Tak peduli walaupun nyawa taruhannya. Ia akan pergi ke rumah Gita. Rama yakin, Gita masih ada didalam rumahnya. Hati Rama hancur lebur, hatinya berceceran mengetahui Gita akan pergi meninggalkannya.
Mengapa cinta sekejam ini? Mengapa cinta sangat sulit untuk berpijak diantara kita? Aku menantikan masa itu, tapi cintaku malah melayang entah kemana. Cinta yang seharusnya aku jaga malah menghilang dari pandanganku.
Rama sampai di depan Rumah Gita. Pagarnya digembok dan rumahnya dikunci. Rama mulai panik, ia menanyakannya pada tetangga disekitar, tetapi mereka semua bilang Gita pergi sekitar pukul dua siang, tetapi tak ada yang tahu Gita pergi kemana.
Rama sangat panik, serasa kehilangan arah dan tujuan hidupnya. Dengan masih berlari mencari Gita, melihat disekelilingnya, Rama menelepon Dimas.
"Dimana? Gue butuh bantuan lo." Tanya Rama cepat.
"Rumah Intan, pasti soal Gita ya?" Dimas sudah tahu.
"Ya, aku pergi kesana sekarang. Kirim segera alamat rumahnya padaku."
"Baik"
Tut..tut..tut. Panggilan pun terputus.
Tanpa basa-basi, Rama melajukan kembali mobilnya dengan cepat. Ia sangat penasaran dan tak mengerti kenapa Gita harus senekat ini sih? Rama pusing memikirkan keadaan Gita.
Hati kecil Rama tetap yakin kalau Gita hamil. Ia tak mungkin meminta permintaan aneh kalau tidak ada sebabnya. Kenapa aku tak diizinkan bertemu dengannya? Kenapa dia menutup aksesnya untuk bertemu denganku? Gita ku, sungguh aku gila dibuat mu. Mengapa kau harus menghindar seperti ini? Salahku apa padamu Git?
Rama segera masuk ke rumah Intan, melihat Dimas dan Intan berada diruang tamu.
"Kalian gak nemuin info keberadaan Gita?" Tanya Rama cemas
"Nggak Pak, tapi tau gak lo? hari ini dia buat surat pengunduran diri. tadi ada yang kirim surat ini keruangan. Gue bawa aja, gue yakin ini pasti ada hubungannya sama pak Rama. Sebenarnya ada apa sih dengan semua ini?" Intan heran
"Bahkan dia juga keluar dari perusahaan? Gita, sungguh kau buat aku gila. Wanita itu memang benar-benar pergi. Gita, Aaarrrggghhhh" Rama jongkok sambil mengacak-acak rambutnya.
"Ram, sebenarnya ada apa diantara kalian sih? Gue bingung sumpah." Tanya Dimas
"Ceritanya panjang. Gue gak bisa jelasin secara detail. Intinya dia pergi karena tak siap menerima kenyataan. Gue pernah tanya kan ke elu soal Gita? Dia ngapain aja dan kemana aja? Ada satu hal yang buat lu merasa aneh kan? Apa itu?" Tanya Rama dengan hati emosi.
"Iya, Pak. Waktu itu dia minta aneh-aneh, pengen kerang, udah gitu ga di makan malah ngembat makanan gue. Kayak orang ngidam aja. Itu terakhir gue makan-makan bareng sama dia." Intan sedih
"Dia memang ngidam, dan gue rasa dia memang benar-benar hamil. Tak mungkin dia seperti itu kalau dirinya tak hamil." Rama sangat khawatir
"Hamil gimana sih maksud lo? Emang lo pernah berhubungan sama dia? Gila lo ya?" Dimas terkejut
"Panjang ceritanya. Itu hanya kesalahan. Tapi, gue sangat bahagia kalau dia hamil. Dan kenapa sekarang dia malah pergi ninggalin gue HAH?" Rama sangat frustasi
"Sekarang kita cari Gita. Lo hubungin temen-temen yang lain. Kita hubungi teman terdekat Gita, dan Intan, kau cari di media sosial, Oke? Gimana?" Saran Dimas.
"Baik, segera kita cari dia." Intan siap
*Aku tak habis pikir kalau kau akan seperti ini, meninggalkanku dan kenangan kita. Mungkinkah kau hamil? Tapi mereka bilang itu hanya khayalanku saja. Tapi, aku ayah dari janin itu. Aku tahu, aku yakin kau memang hamil. Mengapa kau harus pergi? Apa semua ini karena Siska? Mengapa pikiranmu pendek sekali? Harusnya kau tak perlu takut dengan Siska, aku bisa melawannya.
Semudah itukah kau pergi meninggalkanku? Apakah aku tak ada artinya didalam hidupmu sampai kau tega pergi tanpa pamit? Kurang apa aku padamu, mengapa rasanya hatiku seperti dicabik-cabik pisau yang tajam. Kumohon, kembalilah padaku. Aku akan membuatmu nyaman. Aku akan menyingkirkan Siska dan aku akan menjagamu dari segala ancaman.
Kau kira, hidup tanpamu aku akan baik-baik saja? Tidak, hatiku hancur. Semangat hidupku tak ada sama sekali. Ingin rasanya aku mati saja membawa cinta kita. Agar aku tak merasakan sakit ketika cintaku hilang.
*Bersambung**
liburan apa cari Gita .. heran aku .. mau diam kok lama lama ga tahan juga ya