Perasaan mereka seolah terlarang, padahal untuk apa mereka bersama jika tidak bersatu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Flaseona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Can We? Episode 12.
...« Adek hilang »...
Tok! Tok! Tok!
“Mas! Mas! Adek hilang!” Devan berteriak memanggil. Lalu terburu-buru membuka kamar milik sang kakak.
Cklek!
“LAH?! MAMI!” Devan kembali berteriak, bergantian memanggil sang Mami setelah melihat pemandangan baru di kamar Gavan. Suara hentakan kaki pada lantai menyusul mendekat setelahnya.
“Ya ampun, Mas! Bikin Mami jantungan aja pagi-pagi! Adek juga! Bangun! Udah siang!” Mami berteriak membangunkan sembari menarik selimut yang menutupi keduanya.
“Tau gitu ngapain tadi aku cari Adek sampe ke gudang!” gerutu Devan kesal.
Bagaimana tidak? Devan bangun pagi seperti biasa. Turun bersama sang istri menuju ke dapur. Mendapati hanya ada Mami, Devan bertanya apakah Arasya belum berkunjung.
Dan berakhir Devan di suruh sang Mami untuk membangunkan Arasya. Sesampainya di kamar si kecil, Devan tidak mendapati siapapun di sana. Kasur masih tertata rapi, seperti tidak tersentuh sama sekali.
Masih berusaha untuk berpikir positif, Devan berteriak memanggil Arasya. Mengetuk pintu kamar mandi, tetapi masih tidak ada jawaban. Sehingga Devan memutuskan untuk membukanya.
Hasilnya pun nihil. Lantai kamar mandi Arasya kering. Tidak ada air setetes pun.
Dan kepanikan akhirnya memimpin kendali Devan. Ia segera berlarian menuju kamar kedua orang tua Arasya. Membukanya dan lagi-lagi tidak mendapati Arasya di sana.
Devan sudah tidak bisa berpikir dengan jernih. Ia turun ke bawah, membawa kakinya mendekati gudang. Tempat Arasya biasanya mendekam. Tetapi tidak ada, lagi.
Berakhirlah ia memberitahu Mami dan sang istri. Lalu tanpa berpikir panjang, Devan berlari menuju kamar sang kakak. Pikirnya, jika Gavan sudah turun tangan, Arasya segera ditemukan.
Tetapi ternyata.
Ternyata.
Arasya.
Tidur.
Di.
Kamar.
Bersama.
Gavan.
Rasa kesal tentu ada. Hanya saja, rasa lega lebih mendominasi.
Kembali lagi dalam realita. Arasya hanya bergumam saat ada kebisingan di sekitarnya. Perempuan tersebut justru semakin mengeratkan pelukannya pada seonggok daging besar di sampingnya.
Gavan. Pria tersebut perlahan membuka matanya.
“Ngapain, Mi? Berisik banget lho. Kasihan Adek masih tidur.” Ucap Gavan yang mengundang lebih kekesalan Devan.
“Kasihan? Kasihan Adek? Kasihan aku lah, Mas! Pagi-pagi kecarian Adek tahu-tahunya ada di sini! Wah parah sih kalau aku tadi lebih dulu panggil polisi! Bisa-bisa Mas jadi tersangka penculikan!” cerocos Devan panjang lebar.
Mami mengangguk setuju. “Ayo bangun cepet! Mas! Adek! Mami tunggu di bawah!”
“Hu-hu, tak tahu, tak tahu.” Ejek Devan pada si sulung.
Mami dan Devan sudah pergi dari kamar Gavan. Si empunya mendengus kemudian menaruh lengan kanannya untuk menutupi mata. Berusaha meraih pundi-pundi kesadaran.
“Dek, bangun.” Gumam Gavan. Tangan kirinya tertimpa kepala si kecil. Apalagi tubuhnya. Sudah seperti sebuah guling saja.
“Mmmm...” Arasya menolak. Ia masih mengantuk. Ditambah wangi yang menyapa indera penciumannya membuat nyaman. Bau yang semasa kecilnya selalu ia cari mengalahkan bau orang tuanya.
Yang katanya sering membuat iri Ayah dan Bunda karena Arasya lebih memilih pemilik bau ini dari pada orang tua kandungnya.
Sudah lama Arasya tidak mencium wangi khas itu. Maka sekarang, mendapatkan baunya saat bangun tidur, Arasya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.
“Lepas dulu kalau gitu. Mas mau mandi.” Ujar Gavan sembari berusaha untuk menyingkirkan tubuh Arasya agar sedikit berjarak.
“Gak mau.”
“Adek gak mau mandi? Ya udah gapapa. Mas aja yang mandi. Minggir dulu sedikit. Mas gak bisa gerak ini lho, Dek.”
Gavan berhasil bergerak, tetapi Arasya langsung mendekapnya kembali.
“Adek....” Peringat Gavan yang berusaha sepelan mungkin.
“Gendong.”
“Hm?” Gavan kebingungan. “Gendong ke mana?”
“Ikut.”
Gavan semakin bertanya-tanya. “Ikut mandi?”
Arasya mengangguk.
“Ngawur banget to, Dek.” Telapak tangan Gavan yang besar meraup wajah Arasya. “Bangun dulu, bangun. Kamu ini lagi mimpi apa gimana?”
Aksen Gavan seketika berubah. Seperti bapak-bapak minggu lalu yang Arasya temui di dalam bus.
Gavan bangkit dari tidurnya, begitu pun Arasya yang notabenenya masih setia memeluknya.
“Dek, nanti dimarahin Mami kalau gak keburu turun. Katanya kemarin mau minta izin?” ucap Gavan mengingatkan.
Arasya akhirnya membuka matanya. Bibirnya mengerucut lucu. Ingin melayangkan protes tetapi di-ingatkan oleh Gavan tentang rencananya kemarin.
“Tunggu di sini. Selesai mandi Mas gendong ke bawahnya. Tidur balik aja kalau masih ngantuk.”
Gavan berbicara sambil merapikan rambut Arasya. Dan untungnya si kecil mau mendengarkan. Menunggu Gavan sampai selesai.
Kedua tangan si kecil otomatis direntangkan saat Gavan mendekati ranjang setelah berganti. Lalu, si sulung segera menggapai tubuh Arasya dan mengangkatnya ke dalam gendongan.
“Pokoknya nanti Mas yang ngomong, ya. Aku pura-pura masih ngantuk. Biar dikasih izin Maminya cepet. Ya, Mas, ya?”
Gavan mengangguk patuh. Ia berjalan sambil menggendong koala Arasya sampai di meja makan. Di mana Gavan disambut tatapan tidak bersahabat dari Mami dan Devan.
“Adek kok masih tidur? ‘Kan Mami suruh bangun tadi.”
Gavan berdeham. “Kasihan kemarin gak bisa tidur.”
Devan memicingkan matanya menatap Gavan. “Kemarin Adek habis dari kamarku. Terus ke kamar Mas atau Mas ketemu Adek di bawah? Kata Mami Mas masih di bawah waktu Mami masuk ke kamar istirahat.”
Arasya yang menguping pembicaraan itu mengernyit kebingungan. Kenapa seakan Gavan sedang di interogasi? Kenapa nama panggilannya juga dibawa-bawa?
“Adek ke kamar Mas. Katanya gak bisa tidur, jadinya ya nginep.”
“Lain kali harus kasih tau Mami. Mau Adek tidur di kamar Devan atau Mas. Biar gak kecarian kayak tadi. Ngerti gak?” Mami memberi wejangan.
Gavan mengangguk mengiyakan.
“Nanti kalau Adek udah bangun dikasih tau juga. Yang pelan-pelan. Gak boleh bentak-bentak.”
“Biar Kakak aja yang kasih tahu, Mi.” Senaza yang sejak tadi diam memperhatikan, memilih angkat bicara dengan menawarkan diri.
“Iya, Kak, minta tolong ya. Dua anak Mami gak becus semua masalah pelan-pelan tuh.”
Gavan mendengus mendengar sindiran dari sang Mami. “Mas mau minta izin. Minggu depan mau nginep seminggu.”
“Kok mendadak? Mau ke mana?” tanya Mami terkejut.
“Sama Adek. Di ajak temen-temennya.”
Devan melebarkan matanya, tahu pasti apa yang dimaksud Gavan. Sebab rencana ini sebelumnya adalah rencana Devan.
“Wih, sekalian kencan sama kakak temennya Adek, ya?”
Gavan mengangkat kedua alisnya. “Eng---”
Uhuk! Uhuk! Uhuk!
Arasya tiba-tiba terbatuk, Gavan yang hampir menyanggah godaan dari Devan langsung teralihkan pada Arasya. Pria tersebut dengan cekatan mengambil segelas air putih untuk disodorkannya ke mulut Arasya.
“Bangun, Dek, bangun. Dah siang!” ujar Devan dengan lantang.
Arasya mengajak Gavan bukan karena ada kakak dari temannya. Tetapi murni karena Arasya ingin ikut dan bisa tidur saat menginap.
Kalimat Mami yang mengatakan Arasya akan bisa tidur di tempat asing jika dengan Gavan adalah nyata.
Sebuah kenyataan yang akan Arasya gunakan minggu depan saat jalan-jalan serta menginap bersama temannya ke sebuah villa di puncak.
...« Terima kasih sudah membaca »...