NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Tanpa Nasab

Pengantin Pengganti Tanpa Nasab

Status: tamat
Genre:Anak Haram Sang Istri / Wali Nikah / Pengantin Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:939.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: mama reni

*Juara kreatif tema wali nikah YAAW 2025*

Kepergian Nayla menjelang pernikahannya, membuat semua orang bersedih, termasuk Laura sang kakak.

Ketika takdir membalikan kehidupan dan menulis cerita baru, Laura harus menerima kenyataan bahwa ia harus menjadi pengantin pengganti sang adik, Nayla. Untuk menikah dengan calon suaminya bernama Adam.

Namun, ketika akad nikah akan berlangsung, sang ayah justru menolak menjadi wali nikahnya Laura. Laura ternyata adalah anak haram antara ibunya dengan laki-laki lain.

Pernikahan yang hampir terjadi itu akhirnya dibatalkan. Fakta yang baru saja diterima lagi-lagi menghantam hati Laura yang masih di rundung kesedihan. Laura lalu meminta pada Adam untuk menunda pernikahan hingga dia bertemu dengan ayah kandungnya.

Bagaimana perjalanan Laura mencari ayah kandungnya? Apakah dia akan bertemu dengan ayah biologisnya itu? Dan bagaimana kisah cintanya dengan Adam? Baca kisah selanjutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Sepuluh

Ibu Sumarni menatap Laura dengan tatapan sendu. Sepertinya ada rasa iba dan penyesalan di hatinya, tapi itu hanya sesaat. Kemudian dia membuang tatapannya. Menarik napas dalam.

"Kehadiran kamu memang tak aku harapkan. Laki-laki itu hanya mau menabur benihnya tanpa mau bertanggung jawab. Seharusnya kau bersyukur karena ayah mau mengakui kamu sebagai anaknya," ucap Ibu Sumarni.

Dada Laura terasa sesak mendengar ucapan ibunya. Tak menyangka wanita itu akan berkata jujur begitu. Berarti kehadiran dirinya memang tak pernah diinginkan.

"Kenapa Ibu tak membuang'ku saja dari pada menyiksa aku begini?" tanya Laura dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.

Ibu Sumarni hanya diam tak mau menjawab. Duduknya gelisah, seperti kurang nyaman. Mungkin karena kamar yang Laura tempati begitu kecil dan sempit.

"Sekarang katakan siapa nama ayahku dan dimana ayahku tinggal?" tanya Laura.

"Percuma kamu mencarinya. Dia tak akan mau mengakui kamu. Masih dalam kandungan saja dia sudah menolak kehadiran kamu!" jawab Ibu Sumarni.

Tak ada sedikitpun dia memikirkan perasaan Laura saat mengatakan itu. Tanpa ada rasa iba melihat sang putri yang telah menangis.

"Kenapa Ibu tidak bunuh aku atau menggugurkan kandungan saja, kalau memang kehadiran aku tak diinginkan?" Kembali Laura bertanya hal yang sama. Rasanya tak ada pertanyaan yang pantas dia tanyakan selain itu.

Rasa sakit dan sedih begitu dia rasakan. Jika dulu dia masih bisa bertahan karena berharap suatu saat nanti ayah dan ibunya akan berubah, menyayangi dirinya. Namun, mendengar jawaban dari sang ibu, dia mengerti jika keinginan itu tak mungkin bisa terkabul.

"Sudahlah, Laura. Sebenarnya apa yang ingin kau tanyakan? Jika kau hanya ingin bertanya kenapa aku tak membunuhmu, lebih baik aku pergi. Aku tak mau menyakiti kamu lebih dalam lagi," ucap Bu Sumarni.

"Katakan siapa nama ayahku dan dimana dia tinggal?" tanya Laura.

"Jika kau masih tetap penasaran dengannya, baiklah akan aku katakan siapa ayahmu dan dimana dia tinggal, tapi kau jangan kecewa jika nanti dia juga tak menganggap'mu bahkan mungkin tak mengakui kamu sebagai darah dagingnya!" seru Bu Sumarni.

"Jika memang dia tak menganggap'ku sebagai darah dagingnya, aku akan menghilang dari kehidupannya selamanya. Aku tak akan menggangunya lagi. Cukup sudahi pencarian ku. Aku akan sadar diri," balas Laura.

Laura memang telah bertekad kuat untuk mencari keberadaan sang ayah kandung. Jika benar apa yang ibunya katakan, dia adalah anak yang tak diinginkan, dia akan pergi jauh dari ayah dan ibunya. Mungkin memang takdirnya begitu.

Bu Sumarni lalu menyebutkan nama ayah kandungnya Laura dan alamat dia tinggal. Setelah itu dia langsung berdiri dan berjalan menuju pintu keluar dengan tergesa.

"Aku harap kamu tak akan kecewa setelah menemukan ayahmu dan ternyata dia lebih parah dari ayahmu di sini. Semoga pria itu telah berubah!" seru Bu Sumarni.

Sumarni berjalan cepat menuju kamarnya. Dia memilih duduk di tepi ranjang. Masih terdengar suara-suara para tamu undangan di luar sana. Tak pernah dia berpikir jika akan terjadi hal seperti ini.

Di sudut kamar, perempuan itu terdiam, tubuhnya kaku di tepi ranjang. Matanya nanar, melintasi dinding-dinding yang seakan menertawakan keadaannya. Di belakangnya, cermin besar memantulkan sosok yang dahulu penuh semangat, kini berubah menjadi gambaran menyedihkan. Rambutnya sudah acak-acakan, wajahnya pucat, dan air mata mengalir tanpa permisi.

“Kenapa, Marni?” gumamnya pelan, seakan bertanya pada sosok dirinya yang lain. “Kenapa aku harus merasa sepi seperti ini?”

Segera, ingatan tentang Ariel, kekasih yang pernah menghangatkan hatinya, melintas. Senyumnya yang menawan, tawanya yang menggelitik, dan semua janji yang terucap saat mereka masih berada di puncak cinta. Tapi keindahan itu sirna setelah dirinya mengetahui kabar yang mengguncangkan hidupnya—kehamilan yang tak pernah direncanakan.

“Tidak ada kata terlambat untuk kita, Marni. Kita akan baik-baik saja,” suara Ariel terngiang dalam benaknya, tetapi nada itu cepat berubah menjadi dingin. “Tapi aku tidak bisa bertanggung jawab. Ini bukan waktu yang tepat. Aku belum siap, Marni. Lebih baik kamu gugurkan saja anak itu!"

Air mata Sumarni semakin deras. Betapa menyakitkan saat orang yang dicintai justru menghindar. Berharap Ariel akan mengulurkan tangan untuk menawannya dari keterpurukan, dia malah ditinggalkan. Mundur, pergi tanpa minta maaf, tanpa mengucapkan selamat tinggal.

Tanpa sadar, Sumarni meraih ponselnya, tangan bergetar. Dia ingin menghubungi Ariel, memastikan jika nomor itu masih aktif untuk mengabari tentang Laura anaknya yang ingin bertemu. Tapi disaat jari-jarinya hampir menyentuh layar, pikirannya kembali tajam menyadari—awalnya memang indah, tapi kini semua terasa salah. Bahkan tanyanya hanya akan berujung pada sakit yang sama.

"Aku takut dia masih tak bisa menerima kehadiran Laura," gumam Bu Sumarni pada dirinya sendiri. Kembali dia menarik napas dalam, mengingat semua penolakan pria itu saat dia tahu kalau benihnya ada di rahimnya.

"Kita melakukan semua atas suka sama suka, Marni. Kenapa aku yang harus bertanggung jawab? Seharusnya kamu tau konsekuensi dari apa yang kamu lakukan? Kenapa tidak menggunakan pengaman?" Bu Sumarni masih ingat ucapan Ariel saat dia mengatakan kehamilannya.

“Ya Tuhan, beri aku kekuatan,” desahnya lirih, wajahnya tertutup dengan telapak tangan. Hatinya penuh dengan kesedihan, dan keputusasaan menyergapnya silih berganti.

"Maafkan Ibu, Laura. Setiap melihat wajahmu selalu terbayang ayahmu. Wajahmu begitu mirip dengannya. Jika saja Darimi tak mencegahku, mungkin kita telah berada di alam sana," ucap Bu Sumarni pada dirinya sendiri.

Bu Sumarni teringat saat-saat kelam di masa lalunya. Dia masih ingat betapa sakit dan putus asanya ketika keluarganya mengusirnya karena dia hamil di luar nikah. Dia merasa seperti tidak memiliki harapan lagi, dan pikiran untuk bunuh diri mulai menghantui dirinya.

Tapi, saat itu, Darimi datang menolongnya. Dia menemukan Bu Sumarni yang sedang berada di tepi jurang, siap untuk melompat dan mengakhiri hidupnya. Darimi langsung menarik Bu Sumarni dan membawanya ke tempat yang aman.

Setelah itu, Darimi mengatakan kepada Bu Sumarni bahwa dia akan bertanggung jawab atas kehamilan Bu Sumarni, walau bukan dia ayah kandung dari anak Bu Sumarni itu. Dia meminta agar Bu Sumarni tidak berniat bunuh diri lagi, dan dia akan melakukan apa saja untuk membantu Bu Sumarni melalui masa-masa sulit itu.

Bu Sumarni masih ingat betapa beratnya hatinya saat itu, tapi dia juga ingat betapa baiknya Darimi yang telah menolongnya. Dia merasa seperti telah diberi kesempatan kedua untuk hidup, dan dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu.

Itulah kenapa Bu Sumarni begitu menurut dengan apa yang Darimi katakan. Saat pria itu tak menyukai kehadiran Laura, dia juga melakukan hal yang sama.

"Kenapa kamu menangis?" tanya Pak Darimi.

Lamunan Bu Sumarni tentang masa lalunya buyar saat mendengar suara suaminya. Dia menghapus air mata dan berusaha tersenyum.

"Kenapa kamu menangis? Apa kamu tak terima ucapanku tadi?" tanya Pak Darimi lagi.

1
ervina nadera
look loo
Sri Afrilinda
mksih thour, ceritanya keren😍🤗
Dessy Christianti
keren
Nilovar Beik
masih berharap Laura jodohnya Adam
Dewi Dama
malas baca novel yg alurnya maju mudur
tuti raniati
Bagus Thor 👍🏻
Cah Dangsambuh
di sini adam kekasih adik laura di kwtika istriku lelah adam suami laura bahkan saling mencintai maka si danil mundur
Nii
👍
Berkah Kafa Jaya
dapat dari mana Author Visulnya gak Pasaran👍🏽
Syilvi Hesty
aku sebenar nya lebih suka Laura SM Daniel dr PD sama Adam yg aku ras aakn slalu di bawah bayang2 Nayla Karn acinta Adam SM nyala terlalu besar
Syilvi Hesty
emang lura itu tong sampah, lah habis makanan kau baru kau ingat sampah yg kau buang kau mau pungut lagi dasar iblis GK pantas kau disebut ibu
Syilvi Hesty
pantas tuhan GK ngasih kamu anak karna kamu telah menyia2kan anak kandungmu sendiri....dan suamrni jug anak nya mati itu adalah hukuman dr tuhan karna udh zolim SM anak nya sendiri JD mereka sm2 dapat karma dr kesalahannya telah zolim SM luara dr mulai dia JD benih sampi lahir dan dewasa
Syilvi Hesty
emng kau Nerima Laura SM suami kau perasaan GK deh malah kau i Lis yg nyiksa anak mu dr kecil disuruh Ariel gugurkan kau GK mau tapi pas lahir kau siksa batin dan fisiknya SM suami kau, JD lebih baik Ariel dr pada kau Marni...
Nur Aulia
sama Daniel ajj Laura
Nur Aulia
sama Daniel ajj laura
Yuliati Soemarlina
jd males bc kelanjutannya...laura sok tegas tapi kenyataannya begini...
Yuliati Soemarlina
ternyata disini laura yg salah..mencintai 2 pria..tdk bisa menentukan..kasihan daniel...laura..laura..jadi tdk respek ke kamu..
Yuliati Soemarlina
cerita ini di sini" aja...
Yuliati Soemarlina
jika dg adam kel sdh tau kondisi laura..tdk akan merendahkannya..dg daniel ayahnya menghinanya..blm ibunya daniel blm tau latar belakang laura
Yuliati Soemarlina
laura kasihan jd serba salah...adam n daniel..mslh kel yg jadi penghalang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!