Kisah seorang gadis yang terpaksa menjadi pelayan pebisnis misterius dan kejam agar organ tubuhnya tidak dijual oleh pria itu akibat ulah ibunya sendiri.
Namun, ia tetap berusaha melarikan diri dari sangkar Tuannya.
Sebuah rahasia besar sang CEO terkuak saat pelayan itu hadir dalam kehidupannya yang membuat pria itu marah besar dan berencana membuat hancur kehidupan gadis itu.
Bagaimana kelanjutan cerita mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alensvy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 : Kelembutan Damian
...****************...
Mentari baru saja merangkak dari peraduannya. Damian membuka matanya perlahan dan mendapati dirinya masih berada di ranjang yang sama dengan Anna. Ia menoleh, menemukan wajah Anna yang tertidur begitu lelap. Napasnya teratur, bibir ranumnya yang sedikit terbuka dan helai rambutnya yang jatuh dipipi.
Damian terdiam mengamati setiap inci wajahnya tanpa ekspresi. Namun, ada sesuatu di dadanya yang terasa aneh, sesuatu yang membuatnya bertahan lebih lama menatap gadis itu.
Jari-jarinya bergerak sendiri, menyelipkan rambut yang mengganggu wajah Anna. Ia menelan ludah merasa sedikit ragu. Tapi sebelum pikirannya berbalik arah—
Cup!
Damian mencondongkan tubuhnya dan menempelkan bibirnya ke kening Anna, menutup matanya sejenak dan merasakan sensasi hangat itu. Sentuhan singkat tapi meninggalkan sesuatu yang begitu dalam.
Damian menarik diri perlahan menatap wajah Anna sekali lagi sebelum akhirnya bangkit dari ranjang. Dengan langkah hati-hati, ia keluar dari kamar tanpa membangunkannya.
Ia berjalan dengan pelan dan menuju dapur. Damian berdiri di depan kulkas menatap isinya dengan dahi yang mengerut. Ini adalah pertama kalinya ia benar-benar memperhatikan bahan makanan di rumahnya sendiri. Biasanya, ia hanya duduk di meja bar sambil menunggu Anna selesai masak.
"Sial.." gumamnya pelan.
Ia menarik napas panjang dan mulai membuka satu persatu kabinet dapur, mencoba mencari sesuatu yang bisa ia buat.
Dalam waktu beberapa menit, dapur yang biasanya rapi mulai berantakan. Mangkuk, piring dan sendok bertebaran. Damian mencoba menggoreng telur, tapi malah terlalu matang. Ia mencoba membuat kopi, tapi rasanya lebih pahit dari yang biasa dibuat Anna.
Namun, ia tetap melanjutkan pertempuran itu.
Setelah beberapa saat, Damian menatap hasil karyanya di meja.
Dua piring dengan telur orak-arik, roti panggang dan secangkir kopi untuk Anna. Ia menatapnya lama, seolah tidak percaya bahwa dirinya sendiri yang membuatnya.
"Gila.. Aku benar-benar melakukannya." bisik ya sambil tertawa kecil.
...****************...
Saat itu, suara langkah kaki terdengar dari arah koridor. Damian menoleh dan melihat Anna yang baru bangun masih mengenakan piyamanya. Rambutnya sedikit berantakan dan wajahnya masih mengantuk.
Setelah Anna sepenuhnya membuka matanya, ia terpaku. Di depannya, Damian sudah berdiri di dapur dengan sarapan yang sudah tersaji.
Damian menyilangkan tangan di dada dan menaikkan alisnya.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanyanya dengan nada datar, tapi ada sedikit senyum di sudut bibirnya.
Anna mengerjap mata memastikan bahwa ia tidak sedang bermimpi. "Apa ini?"
"Sarapan." jawabnya sambil mengangkat bahu.
Anna masih belum bisa berkata-kata. "Kau.. Membuat ini?"
Damian mendecak. "Memangnya ada orang lain disini?"
Anna menatap piring di depannya lalu kembali menatap Damian.
"Kau baik-baik saja?" tanyanya ragu.
Damian mendengus lalu menarik kursi dan duduk.
"Duduk dan makan. Jangan buat semua usahaku sia-sia."
Anna menggigit bibirnya lalu dengan hati-hati duduk di kursi seberangnya. Ia mengambil garpu dan menusuk telur orak-arik buatan Damian.
Perlahan, ia memasukkan ya ke dalam mulutnya.
Anna terdiam sejenak lalu menatap Damian dengan ekspresi aneh.
" Rasanya.."
Damian mengangkat alis menunggu reaksinya.
"Tidak buruk." ujarnya sambil menahan tawa.
Damian menyipitkan mata tahu betul bahwa itu bukan pujian sepenuhnya. Tapi melihat senyum kecil di wajah Anna, ia tidak bisa menahan tarikan halus di sudut bibirnya.
Anna menatap Damian sambil tersenyum yang sedang menikmati sarapannya. Namun senyumnya seketika menghilang saat matanya beralih ke belakang punggung pria itu.
Anna menghela napas panjang.
"Damian, apa yang kau lakukan di dapur sebenarnya?" tanyanya dengan nada datar.
Damian melirik sekilas kebelakang lalu kembali memakan roti pangan hanya dengan tenang.
"Tentu saja, Memasak." jawabnya santai.
Anna masih tidak bisa mempercayai apa yang ia lihat.
"Ini lebih terlihat seperti.. habis terjadi perang."
Damian hanya mengangkat bahunya. "Setidaknya kau masih hidup setelah memakan masakanku."
"Tapi dapurnya sekarat." jawabnya sambil menatap Damian tanpa eksepsi.
Damian terkekeh kecil, meletakkan cangkir kopinya di atas meja.
"Kau bisa membereskannya nanti."
Anna mengerjap matanya lalu menatap Damian dengan tatapan tajam. "Kau bercanda, kan?"
Damian menyeringai kecil. "Tidak."
Anna mengerang pelan dan menutup matanya sejenak mencoba mengumpulkan kesabaran.
"Ini alasan kenapa aku selalu memasak disini."
Damian hanya terkekeh pelan. Ia tidak menyangkalnya.
Meski dapur berantakan, pagi itu terasa lebih hangat dari biasanya. Yang membuat hati Damian menjadi sedikit bahagia.
.
.
Next👉🏻
(Makasih bestt udah baca. Jgn lupa like dan komen bro💕)
Kalo berkenan boleh singgah ke "Pesan Masa Lalu" dan berikan ulasan di sana🤩