Di negara barat, menyewa rahim sudah menjadi hal lumrah dan sering didapatkan.
Yuliana adalah sosok ibu tunggal satu anak. Demi pengobatan sang anak, ia mendaftarkan diri sebagai ibu yang menyewa rahimnya, hingga ia dipilih oleh satu pasangan.
Dengan bantuan alat medis canggih, tanpa hubungan badan ia berhasil hamil.
Bagaimana, Yuliana menjalani kehamilan tersebut? Akankah pihak pasangan itu menyenangkan hatinya agar anak tumbuh baik, atau justru ia tertekan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kinamira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagaimana aku memilih?
Karena adanya William dan Jessy di dekat Yuliana membuat Clara tidak mampu menggapai untuk melampiaskan amarahnya.
"Sean jika kamu tidak bisa mengatur istrimu, biar Papa yang mengaturnya!" sahut William yang berdiri tegak menjadi benteng Yuliana dan istrinya.
Amarah Clara semakin meledak-ledak. "Kenapa kalian membelanya? Kenapa kalian membawanya masuk dalam rumah tanggaku dan tidur bersama suamiku!" teriak Clara.
"Kenapa perlu marah sih? Bukannya kamu juga sering tidur dengan pria lain dalam pernikahan kalian?" balas William dengan dingin dan tajam.
"Daddy!" tegur Sean tak suka. Pria itu mendekat dan kembali meraih istrinya.
"Clara ayo bicara bersama," ucap Sean membujuk.
"Aku tidak mau!" berontak Clara menepis tangan Sean.
Clara menatap tajam pada William. "Daddy apa punya bukti aku tidur bersama pria lain?" tanyanya menantang, membuat William diam.
Clara tertawa mengejek. "Jika tidak punya bukti jangan asal menuduh Daddy, itu sangat menyakitkan," tambah Clara sinis.
Pandangannya beralih menatap Yuliana yang diam dan tenang menatapnya.
"Dan kau wanita sialan, yang tidak tau malu, tidur bersama suamiku di rumah ini. Apa kau begitu rendahan?" ucapnya dengan dingin dan tajam menatap Yuliana.
"Jika kamu menganggapnya seperti itu ya sudah. Toh, bukan aku yang memulai," ucap Yuliana dengan tenang.
"Kau! Kalau kamu menolak, itu tidak akan terjadi kan?" ucap Clara menyentak suaranya.
Sean yang mendengar kalimat itu, meringis dalam benaknya. Mengingat bagaimana Yuliana selalu melawan, bahkan sampai menendang miliknya, namun selalu berakhir kalah di kukunganya.
Yuliana turut memikirkan hal yang sama, membuatnya tersenyum sinis.
"Dia yang masuk kamarku, kamu pikir aku bisa melawan tubuhnya yang besar itu?" ucapnya membuat Clara diam.
Bohong jika ia tak paham. Sekalipun Yuliana yang menggoda, jika suaminya tidak tergoda itu tidak akan terjadi. Ia sudah cukup sering melihat beberapa wanita menggoda langsung suaminya, namun mendapatkan sikap cuek. Jadi jelas ia tau bagaimana suaminya. Namun, baginya tetaplah Yuliana yang salah.
"Jalang memang jalang, ada saya caranya untuk berkelit," ucap Clara dengan sinis.
"Kamu mengatakan dirimu sendiri?" balas Jessy dengan suara ledekannya yang membuat Clara diam dan marah dalam satu waktu.
"Dasar wanita tua sialan! Dia selalu saja menghinaku!" batin Clara menatap Jessy dengan penuh kebencian.
"Daddy maaf," ucap Yuliana mendorong pelan tubuh William agar memberinya tempat menghadapi Clara.
Sean menatapnya dengan penuh peringatan, namun Yuliana mengabaikannya.
"Sejak kapan kamu tau hubungan yang terjadi padaku dan suamimu?" tanya Yuliana membuat Clara menatapnya dengan tajam dan tak suka.
"Apa urusannya denganmu!" dengkusnya ingin memberikan serangan, namun segera ditepis oleh Yuliana.
"Aku yakin itu bukan kemarin, tapi sejak awal. Bahkan mungkin satu dua hari setelah kamu pergi kamu sudah tau. Aku tau, siapa pelayan yang memata-mataiku, dan dia sering muncul di lantai tiga, dan merekamku, iyakan?"
Semua orang diam, tampak terkejut dengan pernyataan Yuliana, termaksud Sean.
"Hal wajar jika kamu meminta salah satu pelayanmu memata-mataiku. Tapi, aku harap, dia tidak membuat cerita palsu. Karena jelas di sini, aku hanyalah alat yang digunakan dia di ranjang," ucap Yuliana melirik ke arah Sean sebagai memperjelas kata dia dalam kalimatnya.
Mengingat kata Sean yang hanya menganggapnya partner ranjang, tentu membuat Yuliana merasa sakit hati. Hingga ia menggunakan cara itu untuk tetap aman saat ini.
"Tapi, kamu yang baru kembali setelah mengetahui sejak awal, adalah hal aneh. Apa liburanmu lebih penting dari suamimu yang ingin dilayani?" sahut Yuliana dengan senyum sinis. Merasa sedikit ucapannya itu akan membuat pasangan di depannya sedikit ribut.
Ya, anggap saja itu pelajaran atas apa yang Sean lakukan padanya.
"Kau! Dasar lancang!" sentak Clara tanpa aba-aba melayangkan tangannya, beruntung Yuliana sempat sedikit menghindar, hingga hanya ujung tangan yang menyentuh rambutnya.
"Sean, atur istrimu!" ucap William membawa Yuliana ke belakangnya, sebelum Clara semakin mengamuk padanya.
"Ayo Clara, kita bicara dulu," ucap Sean menarik Clara dengan sedikit memaksa.
"Tidak mau Sean, aku tidak mau sebelum memukulnya!" berontak Clara.
Sean bisa saja mengangkat Clara, namun ia takut bersikap kasar, membuatnya beralih menatap Yuliana dan memberinya kode untuk pergi.
Yuliana mendesis, memalingkan wajah. "Mommy, aku ...."
"Kita bareng, Mommy mau bicara," ucap Jessy yang membuat Yuliana hanya bisa mengangguk patuh.
Mereka bertiga kemudian pergi meninggalkan Sean yang tengah berusaha menahan Clara.
"Sayang, sayang, hey dengarkan aku. Kita bicara baik-baik dulu ya," bujuk Sean menangkup wajah Clara yang tampak begitu marah.
"Kau jahat Sean, kau jahat!" pekik Clara melayangkan pukulannya pada dada Sean.
"Kamu mengkhianatiku! Kau mencintai wanita yang mengandung anakmu itu kan!" teriak Clara.
Seluruh tubuhnya memerah karena amarahnya yang kian meledak. Tatapannya yang lebar dan tajam seolah ingin menghancurkan apapun.
Sean menghela nafas kasar, ia meraih tangan Clara dengan lembut. "Aku hanya mencintaimu Clara. Hanya kamu seorang. Sedangkan dia bukan siapa-siapa. Dan yang di kandung adalah anak kita, bukan anak aku saja. Jadi, aku mohon, jangan mengatakan itu hanya anakku. Yang membuat aku terlihat berselingkuh untuk mendapatkan anak," tutur Sean membujuk, namun tidak mempan bagi Clara.
"Sudah ku bilang, aku tidak butuh anak di rahim wanita itu. Aku ingin anak di rahimku sendiri!" ucap Clara dengan tegas yang membuat Sean hanya bisa mengangguk dan mengalah.
"Iya sayang. Kita berusaha ya, supaya rahim kamu kuat, dan kita bisa memiliki anak dari rahim kamu sendiri," ucapnya berharap kali ini Clara mau menurunkan amarahnya.
Clara menghela nafas kasar, lalu mendorong pelan tubuh Sean. "Sampai kapan pun, aku tidak mau anak itu! Anak itu tidak boleh lahir di dunia, dan menjadi keturunan keluarga Sawyer!" ucapnya dengan tegas. Kemudian meninggalkan Sean yang dilanda kebingungan.
Ucapan yang mengutarakan rasa benci yang besar di hati Clara, dan membuat tubuh Sean seketika meremang. Perasaan terluka hadir memenuhi hatinya.
Dadanya terasa nyeri dan sesak. Bola mata pria itu tanpa sadar berkaca-kaca. Sean ingin marah, mengutarakan perasaan tidak terimanya. Namun, jika mengatakan itu, ia sama saja membuat Clara kembali sedih.
Di satu sisi Ibu yang tidak akan dianggap Ibu kandung yang sedarah, namun mengandung selama 9 bulan begitu memberinya cinta sebelum dilahirkan. Di sisi lainnya, Ibu yang akan dianggap Ibu kandung secara hukum, justru begitu mengobarkan kebencian.
Sialnya, ia mulai menyayangi anak itu, atau mungkin ia memang sudah menyayangi sebelum anak itu ada. Mengingat ia sudah lama begitu mendambakan seorang anak.
"Apa aku harus menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan?" gumamnya pelan.
Haruskah ia menolak anak yang ia dambakan itu, meski harus melalui wanita lain? Haruskah ia mengikuti keinginan istrinya?
Tubuh Sean terjatuh lemas ke lantai. Bayangan bagaimana Yuliana menangis ketakutan karena rasa khawatirnya sendiri pada anaknya, membuatnya semakin dilema.
"Clara, Bukannya kamu suka anak kecil? Lalu kenapa kamu harus membencinya? Mungkin ini cara Tuhan mengirim anak dalam pernikahan kita," gumam Sean menumpu kepalanya yang terasa lelah menerima kejadian hari ini.
Bagaimana caranya ia bisa meyakinkan Clara. Jika Clara saja menantang begitu tegasnya.
Semangat kak bikin ceritanya! aku tunggu episode selanjutnya.🔥
𝚖𝚊𝚊𝚏 𝚓𝚗𝚐𝚗 𝚝𝚎𝚛𝚜𝚒𝚗𝚐𝚐𝚞𝚗𝚐 thur
Semangat bikin kelanjutan ceritanya kak🔥💪
lanjut
Semangat kak Bikin ceritanya! 💪🏻🔥
kapan ya part sean tau clara berkhianat sama anak yg di kandung clara bukan anak sean, biar menyesal seumur hidup sean,