Calia Averie Katarina, seorang model berbakat yang selalu disebut sebagai figuran.
Pengkhianatan yang ia terima dari sang kekasih membuat Calia terikat dalam sebuah pernikahan bersama pria yang baru saja ia kenal, Ronan Lysander. Pria sederhana berprofesi sebagai kurir yang mendapatkan pengkhinatan yang sama dari tunangannya.
Namun siapa sangka, pria yang selalu melakukan pekerjaan sebagai kurir itu menyimpan rahasia besar.
Ketika Calia menunjukkan kepada publik bahwa ia bisa menjadi model sesungguhnya, Ronan menunjukkan identitas aslinya dan membuat rahasia dibalik pernikahan mereka terungkap. Lalu, bagaimana dengan nasib pernikahan mereka?
Ikuti kisah mereka....!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Terjalin
Dering ponsel yang terus berbunyi mau tak mau membuat Ronan meraba nakas dengan gerakan hati-hati, mencari ponselnya tanpa membangunkan Calia yang masih terlelap di dalam dekapannya.
'Bas...'
Ronan menggerutu pelan setelah melihat nama yang tertera pada layar ponsel, bergerak dengan perlahan turun dar tempat tidur sembari menyambar apa saja yang bisa ia gunakan untuk menutupi tubuhnya sebelum melangkah menjauh dari tempat tidur.
"Ada apa?"
"...."
Panggilan berlangsung selama beberapa saat, memberikan perintah seenaknya untuk meluapkan rasa kesal yang ia rasakan akibat tidurnya yang terganggu tanpa menghiraukan keluhan asistennya dan memutus panggilan secara sepihak.
Beberapa saat kemudian, Ronan kembali menghubungi asistennya ketika ia mengingat sesuatu.
"Saya, Tuan," sambut Bas lesu.
"Apa kau sudah bosan bekerja, Bas?" tanya Ronan.
"Apa yang Anda ingin saya lakukan, Tuan?" sahut Bas kembali tegas.
"Itu jawaban yang ingin aku dengar," sambut Ronan.
"Hentikan suntikan dana kita pada Silvester Group, sudah saatnya bagi mereka untuk menerima akibat dari perbuatan mereka,"
"Lakukan secara berkala, buat mereka terlilit hutang dengan orang-orang kita, dan gunakan alasan itu untuk memberikan tuntutan,"
"Jika mereka masih keras kepala, tutup Silvester Group saat itu juga! Saring karyawan yang memiliki potensi untuk bekerja di kantor baru, dan bereskan mereka yang berbuat curang,"
"Baik, Tuan. Saya mengerti,"
"Ada yang lain, Tuan?"
"Awasi Max Morgen, termasuk ayahnya! Gali semua informasi tentang mereka berdua!"
"Segera saya lakukan,"
Ronan menurunkan ponselnya disertai hembusan napas pelan, lalu kembali ke tempat tidur dan melihat istrinya masih belum terjaga.
Dengan perlahan, Ronan mendekat, membuka selimut yang menutupi tubuh polos istrinya dengan hati-hati dan kembali membaringkan tubuhnya di samping sang istri.
Entah bagaimana, malam itu, ia tidak bisa menahan diri untuk tidak menyentuh istrinya saat ia mencium bibir sang istri. Cara Calia membalas ciumannya terasa kaku, tetapi justru membuat dirinya enggan untuk berhenti.
Hingga ia menuntun Calia untuk naik ke lantai teratas kantor di mana ada ruang pribadi yang sengaja Ronan siapkan.
Pandangan Ronan turun ke bibir Calia yang sedikit membengkak akibat ulahnya, menyapukan ibu jarinya di atas bibir Calia yang selembut sutra.
"Apakah aku menjadi ciuman pertamamu, Alia? Andai itu benar, kamu tidak tahu betapa bahagianya aku," ucap Ronan lirih.
"Uhmm,,, kamu yang pertama,"
Calia menjawab pelan, lalu membuka kedua matanya.
"Maaf, apakah aku membangunkanmu?" tanya Ronan segera menarik tangannya.
"Kamu menyentuh bibirku seperti itu, bagaimana aku tidak bangun?" ucap Calia dengan suara parau.
"Enghh,,, jam berapa sekarang?" lanjutnya kemudian sembari menggosok kedua matanya secara bergantian.
"Jam sepuluh," jawab Ronan tanpa beban.
"Apa???"
Calia tersentak, dan segera menegakkan tubuhnya, tatapi terhenti ketika merasakan rasa sakit disekujur tubuhnya.
"Ukh,,," Calia meringis.
"Jangan bangun secara tiba-tiba begitu," tegur Ronan. "Atau kamu memang sengaja ingin memancingku lagi?"
"Memancing apa? Kita belum membuka pintu kantornya, bagaimana jika mereka datang dan tidak bisa masuk?" sambut Calia belum sadar atas tindakannya.
Calia yang bangun secara tiba-tiba membuat selimut yang menutupi tubuhnya tersingkap, dan apa yang ada di baliknya kini terpampang jelas di depan Ronan.
Tubuh seputih susu itu berhasil membuat Ronan menelan kasar salivanya, merasakan gejolak yang ada di dalam dirinya kembali memberontak meminta ditenangkan. Terutama setelah melihat begitu banyak bekas merah di beberapa titik yang membuat dirinya candu.
"Aku sudah mengusir mereka," jawab Ronan.
"Kenapa diusir?" protes Calia.
"Masih ada hal yang harus kami bahas, beberapa hal juga perlu diselesaikan," imbuhnya.
"Kamu bisa meminta Bas untuk melakukannya," jawab Ronan.
"Dia memiliki pekerjaannya sendiri dibagian pemasaran," sahut Calia.
"Tapi, kamu juga memiliki pekerjaan di sini," ucap Ronan.
"Tentu saja aku memiliki pekerjaan, aku ingin projek Dream fashion sukses, dan mereka yang bekerja dari awal bisa menikmati hasilnya,"
Dahi Calia berkerut, menyadari suaminya tidak sedang menatapnya. Hingga, ketika Calia mengikuti arah pandang suaminya, saat itu jugalah ia menyadari apa yang suaminya lihat. Kedua tangannya bergerak cepat menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
"Dasar mesum!" pekik Calia mendorong suaminya menjauh.
Namun, pria itu hanya tertawa, menangkap kedua tangan istrinya dan mendekatkan wajah.
"Kamu benar, setidaknya si mesum yang ada di depanmu ini hanya menyentuh apa yang sudah ia klaim sebagai miliknya, tidak seperti seseorang yang suka menyentuh bahkan merebut yang bukan miliknya," jawab Ronan.
Pandangan keduanya terkunci, Calia gagal menjauh saat tangan Ronan sudah sudah mengunci tubuhnya lebih dulu, dilanjutkan dengan menyentuh tubuh Calia di bawah selimut.
Ronan tersenyum, merasakan tubuh istrinya bereaksi atas sentuhannya.
"Jangan salahkan aku jika kamu terlihat begitu menggoda, dan menahan diri darimu sama saja membunuhku,"
"Ro..."
Calia menggigit bibir bawahnya, memejamkan mata saat merasakan sentuan lembut Ronan kini berubah menjadi desakan. Menekan titik sensitive yang membuat Calia gagal menahan suaranya.
"Nghhh..."
"Aku menginginkanmu, Alia," Ronan berbisik lembut.
Ronan terus merayu dan mencumbu, sementara tangannya tak tinggal diam dengan terus menyentuh tubuh istrinya dan berakhir dengan menggeser wajahnya untuk menemukan bibir Calia. Merasakan kembali bibir manis istrinya hingga mereka kembali menyatu. Ronan bahkan kembali mengulanginya sampai Calia tertidur karena kelelahan.
...>>><<<...
.
"Ronan..."
Merasa namanya di panggil, Ronan yang sore itu tengah berada di toko bunga segera berbalik dan melihat Retha berjalan mendekat.
"Kamu,,, terlihat baik-baik saja," Retha berkata lirih, menyiratkan sebuah luka dalam suaranya.
"Aku tidak memiliki waktu untukmu," sahut Ronan.
"Bisakah kita,,, bicara sebentar? Tolong,,," ucap Retha.
"Tidak! Pergilah!" usir Ronan.
"Aku ingin meminta maaf," ucap Retha.
"Kau tidak perlu membuang waktumu untuk melakukan itu, pergilah," sahut Ronan.
"Silakan bunganya, Tuan,"
Suara penjaga dari toko bunga menyela, menarik perhatian Ronan untuk berpaling dari Retha dan menerima rangkaian bunga yang sebelumnya ia pesan.
"Terima kasih," ucap Ronan.
"Dengan senang hati, Tuan," sahut penjaga toko.
Ronan tersenyum saat menerima rangkaian bunga yang kini sudah berpindah ke tangannya, membayangkan bagaimana wajah istrinya ketika bunga itu ia berikan, lalu berbalik dan masih melihat Retha masih berdiri di tempatnya. Senyum di bibir pria itu seketika sirna, melangkah tanpa memiliki niat untuk menghiraukan Retha yang masih menunggu dan melewatinya begitu saja.
"Ronan..."
Retha kembali memanggil, tapi kali ini wanita itu meraih tangan Ronan untuk menghentikan langkah pria itu.
"Lepaskan tanganmu dariku!" tegas Ronan.
Retha tersenyum getir, melepaskan perlahan tangan Ronan dari tangannya dan melihat pria itu melanjutkan langkah menuju sepeda motornya. Ia juga melihat Ronan meletakkan bunga itu dengan sangat hati-hati ke dalam box kurir yang terpasang di jok belakang.
"Aku hanya ingin kamu berhati-hati terhadap Calia," ucap Retha melangkah mendekat.
Ronan tersenyum samar, merasa wanita yang sudah menjadi mantan kekasihnya hanya ingin mengatakan omong kosong, menghidupkan sepeda motornya dan bersiap untuk pergi sampai suara Retha kembali terdengar.
"Aku melihat Max mengunjungi Apartemen Calia. Dia mencampakkanku dan kembali pada Calia,"
Ronan mengabaikan apa yang diucapkan Retha, menjalankan sepeda motornya meninggalkan toko bunga dengan Retha yang masih berdiri mematung di sana.
Sampai ketika ia tiba di Apartemen, apa yang diucapkan Retha seakan menamparnya ketika ia melihat Max dengan buket besar bunga di tangan masuk ke dalam Apartemen istrinya beberapa saat setelah pintu dibuka.
. . .
. .. .
To be continued...
pen kasihan tapi ngakak liat Retha /Facepalm//Facepalm/
huft😮💨😮💨