NovelToon NovelToon
Whispers Of Ghost : The Shaman'S Secret

Whispers Of Ghost : The Shaman'S Secret

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Romansa Fantasi / Cinta Beda Dunia / Fantasi Wanita / Fantasi Isekai / Peramal / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: Seojinni_

Xin Lian, seorang dukun terkenal yang sebenarnya hanya bisa melihat hantu, hidup mewah dengan kebohongannya. Namun, hidupnya berubah saat seorang hantu jatuh cinta padanya dan mengikutinya. Setelah mati konyol, Xin Lian terbangun di dunia kuno, terpaksa berpura-pura menjadi dukun untuk bertahan hidup.

Kebohongannya terbongkar saat Pangeran Ketiga, seorang jenderal dingin, menangkapnya atas tuduhan penipuan. Namun, Pangeran Ketiga dikelilingi hantu-hantu gelap dan hanya bisa tidur nyenyak jika dekat dengan Xin Lian.

Terjebak dalam intrik istana, rahasia masa lalu, dan perasaan yang mulai tumbuh di antara mereka, Xin Lian harus mencari cara untuk bertahan hidup, menjaga rahasianya, dan menghadapi dunia yang jauh lebih berbahaya daripada yang pernah dia bayangkan.

"Bukan hanya kebohongan yang bisa membunuh—tapi juga kebenaran yang kau ungkap."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seojinni_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 : "Rahasia yang Terkunci dalam Halaman"

Langit di atas mereka masih kelabu, matahari enggan menampakkan sinarnya. Udara pagi membawa hawa dingin yang menusuk, merayap di antara dedaunan yang basah oleh embun.

Di tengah hutan yang sunyi, tiga sosok duduk mengelilingi api unggun yang hampir padam. Roti kering dan daging asap tersaji seadanya, menjadi satu-satunya santapan mereka pagi ini.

Namun, suasana makan yang seharusnya tenang itu segera terusik oleh suara Xin Lian yang penuh ketidaksabaran.

"Xiao Chuan, kau benar-benar bodoh."

Xiao Chuan, yang baru saja menggigit rotinya, nyaris tersedak. Dengan mata melotot, ia menoleh ke arah Xin Lian yang duduk santai dengan satu kaki bertumpu di atas lututnya.

"Apa katamu?! Kau pikir aku bodoh?!" serunya, merasa harga dirinya diinjak-injak.

Xin Lian mendengus, matanya menyipit penuh penghinaan. "Kalau kau tidak bodoh, lalu bagaimana kita bisa tersesat di tempat seperti ini?"

Xiao Chuan membeku. Mulutnya sedikit terbuka, seolah ingin membantah, tetapi tidak ada satu pun alasan yang bisa ia keluarkan. Ia hanya bisa melirik peta lusuh di tangannya, seakan berharap benda itu bisa membelanya.

Setelah beberapa saat, ia akhirnya mendengus kecil dan mengusap hidungnya dengan sombong. "Yah, kau tahu? Peta ini sudah berumur puluhan tahun. Mungkin saja perubahan iklim membuat jalan jadi berbeda, kan?"

Xin Lian memandangnya tanpa ekspresi. Seolah kata-kata Xiao Chuan hanyalah angin lalu yang bahkan tak layak dipikirkan.

Ia kemudian menoleh ke arah Tianlan, yang sejak tadi hanya diam dan makan dengan tenang.

"Tianlan, berapa banyak uang yang kau bawa?" tanyanya tiba-tiba.

Tianlan berhenti mengunyah. Alisnya sedikit berkerut saat menatap Xin Lian. "Mengapa kau tiba-tiba bertanya soal uang?"

Senyum kecil muncul di sudut bibir Xin Lian. "Hehehe, tidak ada. Hanya saja jika kita keluar dari hutan dan bertemu desa terdekat, bisakah kau membelikan sesuatu untukku?"

Tianlan menatapnya tajam. "Apa?"

Xin Lian terkekeh kecil. "Akan aku beritahu nanti."

Tianlan hanya mendesah, tahu bahwa tidak ada gunanya memaksa Xin Lian berbicara jika ia tidak menginginkannya.

Setelah menyelesaikan sarapan mereka, api unggun dipadamkan, dan perjalanan kembali dilanjutkan.

Namun, mereka tidak tahu bahwa sesuatu yang lebih besar telah menanti di depan.

Langkah mereka menyusuri jalan setapak yang penuh akar tua, suara ranting patah terdengar di setiap pijakan. Namun, semakin jauh mereka melangkah, udara di sekitar mulai berubah.

Xin Lian tiba-tiba berhenti.

Matanya menyipit, merasakan tarikan aneh yang semakin kuat. Bukan dari depan, bukan dari jalur yang mereka tuju—melainkan dari arah reruntuhan tua yang tersembunyi di balik pepohonan besar.

Tianlan melihatnya. "Apa yang kau rasakan?"

Xin Lian tidak langsung menjawab. Ia hanya berbalik dan melangkah menuju sumber perasaan itu, seolah ada benang tak terlihat yang menariknya.

Tianlan, yang sudah terbiasa dengan firasatnya, hanya menghela napas dan mengikutinya.

Xiao Chuan menggaruk kepalanya. "Hei, hei! Kalian mau ke mana?"

Tak ada jawaban.

Mereka terus berjalan, menembus semak-semak, melewati akar-akar yang menjulur seperti tangan kurus yang mencoba meraih mereka.

Dan akhirnya, mereka tiba di sana.

Di hadapan mereka, sebuah reruntuhan tua menjulang sunyi di tengah hutan. Dinding-dinding batu yang telah lama runtuh tertutup lumut hijau, akar-akar pohon besar melilitnya erat, seolah mencoba menguburnya dalam keheningan abadi.

Angin bertiup perlahan, membawa aroma tanah basah dan sesuatu yang lebih samar—bau tua, seperti kertas yang membusuk dalam kegelapan.

Xin Lian melangkah maju, menyisir reruntuhan dengan tatapan tajam. Ada sesuatu di sini.

Tangannya bergerak lincah, mengacak-acak puing-puing di tanah. Batu-batu kecil bergeser, debu beterbangan.

Dan akhirnya, jari-jarinya menyentuh sesuatu.

Sebuah buku.

Buku itu lusuh dan tua, sampulnya hampir hancur, kainnya robek di beberapa bagian. Namun, begitu Xin Lian menyentuhnya, udara di sekitar mereka berubah.

Langit yang sebelumnya hanya mendung kini tampak lebih gelap.

Angin yang tadinya lembut kini berembus lebih kencang, membawa bisikan-bisikan samar yang terdengar seperti suara dari masa lalu.

Tianlan merasakan perubahan itu, tangannya secara refleks bergerak ke gagang pedangnya. Xiao Chuan menelan ludah, tubuhnya menegang.

Namun, Xin Lian hanya tersenyum tipis.

Ia membuka halaman pertama.

Begitu halaman itu terbuka, sesuatu yang tak kasatmata meledak keluar.

Pemandangan di sekitarnya bergetar, kabur, lalu berubah. Seketika, ia bukan lagi berada di reruntuhan.

Di hadapannya, seorang pria tua berjubah hitam berdiri di atas altar batu yang dipenuhi ukiran kuno. Cahaya merah berdenyut di sekelilingnya, seperti api yang melahap udara.

Wajah pria itu tertutup bayangan, tetapi suaranya bergema di telinga Xin Lian.

"Aku adalah Duan Qing, sang Dukun Agung… Penguasa kutukan, pencipta kehancuran, peramal yang melihat kematian sebelum datang…"

Bayangan itu bergerak cepat.

Seketika, Xin Lian melihat ratusan tubuh berserakan di tanah—beberapa terbakar, beberapa membusuk dengan wajah penuh ketakutan.

Duan Qing berdiri di tengahnya, tertawa rendah.

"Kutukan adalah seni… Dan hanya mereka yang cukup kuat yang dapat menguasainya."

Xin Lian tersentak.

Penglihatan itu menghilang secepat datangnya, tetapi sesuatu yang lebih mengerikan tertinggal di udara.

***

Ketika ia kembali ke kesadarannya, buku itu masih ada di tangannya. Namun, sesuatu telah berubah.

Udara di sekitarnya terasa lebih berat, seolah ada sesuatu yang tak terlihat mengawasi mereka.

Dari kejauhan, terdengar suara lirih—seperti seseorang berbisik langsung ke telinganya.

"Kau telah membangunkanku…"

Xin Lian menoleh tajam.

Namun, tak ada siapa pun di sana.

Tianlan akhirnya berbicara, suaranya lebih rendah dari biasanya. "Xin Lian, buku itu… Apa yang kau lihat?"

Xin Lian tidak langsung menjawab.

Senyum kecil tersungging di sudut bibirnya. Matanya bersinar tajam, penuh ketertarikan.

"Menarik…" katanya pelan, suaranya terdengar hampir seperti bisikan. "Sangat menarik."

Namun, sebelum Tianlan sempat berkata lebih jauh—

SESUATU BERGERAK.

Dari bayangan reruntuhan, sesosok makhluk muncul. Matanya kosong, tubuhnya berlumuran darah kering.

Sebuah suara lirih bergema di udara—

"Buku itu… tidak seharusnya dibuka."

—Tiba-tiba, semua cahaya padam.

***

Di Istana Putra Mahkota

Di kejauhan, jauh dari reruntuhan yang kini dipenuhi aura kematian, di sebuah istana megah yang menjulang di tengah ibukota, seorang pria duduk di singgasananya.

Jubah hitam keunguan yang dikenakannya melambangkan kekuasaan, sementara mahkota perak di kepalanya berkilauan di bawah cahaya lampu minyak. Wajahnya tampan, tetapi senyum yang menghiasi bibirnya mengandung kebengisan yang sulit disembunyikan.

Seorang pelayan bersimpuh di hadapannya, tubuhnya sedikit gemetar saat menyampaikan laporan.

"Yang Mulia Putra Mahkota… berita dari mata-mata menyebutkan. Jenderal Tianlan dan perempuan itu… mereka telah menghilang dari perbatasan. Tujuan mereka… adalah Negara Kutukan."

Ruangan menjadi sunyi.

Beberapa saat berlalu sebelum suara tawa rendah terdengar, bergema di aula yang luas.

Putra Mahkota mengangkat cawan anggurnya, memutar cairan merah pekat di dalamnya seolah sedang menikmati permainan yang telah lama ia tunggu.

"Negara Kutukan…" gumamnya pelan, seolah mencicipi kata-kata itu di lidahnya. "Tempat yang bahkan iblis pun enggan menginjakkan kaki. Dan mereka memilih untuk pergi ke sana?"

Ia meneguk anggurnya perlahan, lalu meletakkan cawan itu dengan bunyi dentingan halus.

Mata tajamnya menyipit, senyumannya semakin dalam.

"Kalau begitu… kita tidak bisa membiarkan mereka memasuki tempat itu tanpa sambutan yang layak, bukan?"

Ia menoleh ke bawahannya, tatapannya dingin dan penuh intrik.

"Kumpulkan orang-orang kita di perbatasan. Pastikan mereka menerima ‘kehangatan’ dari kita sebelum melangkah lebih jauh."

Pelayan itu menundukkan kepala dalam-dalam. "Hamba mengerti, Yang Mulia."

Sang Putra Mahkota kembali bersandar di singgasananya, jemarinya mengetuk-ngetuk sandaran tangan dengan ritme perlahan.

Di luar istana, angin malam bertiup kencang, membawa bisikan yang nyaris terdengar seperti tawa samar.

Di kejauhan, di perbatasan menuju Negeri Kutukan, sesuatu telah mulai bergerak.

Dan ketika Tianlan serta Xin Lian tiba di sana—mereka tidak akan disambut dengan keheningan.

Mereka akan disambut dengan darah.

Senyumnya semakin dalam, matanya berkilat penuh intrik. Dengan suara rendah namun penuh kepastian, ia berbisik,

"Biarkan mereka melangkah lebih jauh... sebelum mereka sadar bahwa setiap jejak yang mereka tinggalkan telah tertulis dalam rencana yang bahkan mereka sendiri tak mampu hindari."

1
Mila Sari
Oh omg lg seru2 knp harus bersambung lg, semangat Thor aku tunggu episode selanjutnya
Mila Sari
lanjut Thor, ceritanya membuatku penasaran,
Mila Sari
terimakasih Thor, penasaran dengan kelanjutan ceritanya,
Mila Sari
terimakasih Thor, seru nih ceritanya
Mila Sari
suka dengan ceritanya, seru aku smpe ikut tegang, Thor d tunggu episodenya yg smkin seru
Seojinni_
Siappp.. tunggu ya, author akan coba update secepatnya.. Krn draft nya kmren keapus semua jd harus nulis ulang 😭
Mila Sari
lanjut Thor, penasaran ceritanya
Mila Sari
semoga berhasil jendral memecahkan misteri kutukan,
Mila Sari
kenapa semakin merinding, d bab ini banyak bayangan yg mengincar mereka
Mila Sari
menegangkan perjalanan pangeran
Mila Sari
seru ceritanya, semakin penasaran
Mila Sari
aku suka banget ceritanya, apa yg akan d temukan di negri kutukan
Intan Hazana
Luar biasa
Seojinni_
good
Ao_Ao_
semakin menarik kak, lanjut
Ao_Ao_
Tianlan yg terfitnah /Facepalm/
Ao_Ao_
mulai deh mulai /Facepalm/
Ao_Ao_
betullllll, aku suka MC yg realistis gini gak terlalu masalalu /Kiss//Kiss//Kiss/
Ao_Ao_
lawak banget dia nih, aku bahkan gak tau siapa aku? /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Ao_Ao_
lanjuttttt kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!