Daniel Van Houten, mafia berdarah dingin itu tak pernah menyangka dirinya di vonis impoten oleh dokter. Meski demkian Daniel tidak berputus asa, setiap hari ia selalu menyuruh orang mencari gadis per@wan agar bisa memancing perkututnya yang telah mati. Hingga pada suatu malam, usahanya membuahkan hasil. Seorang gadis manis berlesung pipi berhasil membangunkan p3rkurutnya. Namun karna sikap tempramental dan arogannya membuat si gadis katakutan dan memutuskan melarikan diri. Setelah 4 tahun berlalu, Daniel kembali bertemu gadis itu. Tapi siapa sangka, gadis itu telah memiliki tiga anak yang lucu-lucu dan pemberani seperti dirinya.
____
"Unda angan atut, olang dahat na udah tami ucil, iya tan Ajam?" Azkia
"Iya, tadi Ajam udah anggil pak uci uat angkap olang dahat na." Azam
"Talau olang dahatnya atang agi. Tami atan ucil meleka." Azura.
_____
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Remaja01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
"Syafarudin! Bapak ndak mau mendengar penjelasanmu! Kamu harus bertanggung jawab dengan apa yang telah kamu perbuat!" ucap pak Mamad tegas, karna putramya terus saja menyangkal.
Ayang yang hendak menjelaskan pun menciut mendengar suara Pak Mamad yang mulai meninggi.
"Sekarang kalian tidurlah! Besok ikut Bapak ke KUA untuk mendaftarkan pernikahan kalian."
Ayang tersentak, begitupun dengan Udin. Mereka tak menerima keputusan pria paruh baya itu. "Tapi Pak....?" Udin masih ingin menyangkal tuduhan yang sama sekali tidak pernah di lakukannya. Namun pak Mamad lansung memotong ucapannya.
"Masuk ke kamarmu sekarang!" perintah Pak Mamad tegas.
Dangan wajah yang cemberut Udin berlari meninggalkan ruangan itu.
Begitupun dengan Ayang, tak ingin membuat suasana semakin panas, ia memilih meningggalkan pasangan paruh baya itu dan masuk kekamar.
.
.
.
Malam semakin larut. Di dalam kamar, Ayang belum lah bisa terpejam. Pikirannya melanglang buana entah kemana. Tiba-tiba Ayang menggeram, ketika pria yang telah menghancurkan hidupnya melintas di benak. Sungguh, ingin sekali ia menggugurkan janin yang ada di dalam rahimnya sekarang ini. Apalagi saat ingat cerita pak Bambang kalau pria itu juga yang telah membunuh ayahnya. Menjadikannya anak Yatim sejak masih kecil.
kreeek!
Kreeek!
Suara aneh dari jendela kamar membuat Ayang tersadar dari lamunan.
"Aya, Aya." Sayup-sayup suara itu masuk ke gendang telinga Ayang.
Perlahan Ayang turun dari ranjang dan membuka jendela kamar.
"Ssstt, ini aku, Dini."
Ayang menghembuskan nafas kasar sambil memegang dada. Ia benar-benar kaget melihat keberadaan pemuda gemulai itu.
"Ay, aku pengen ngomong. Kamu bisa gak keluar lewat jendela ini?" desis Udin di balik jendela.
Ayang menggeleng, sambil menunjuk pintu kamar. Ia ingin mengatakan ingin keluar dari pintu itu saja.
"Jangan, nanti Daddy bisa tau. Sekarang kamu panjat saja jendela ini biar aku bantuin."
Setelah berpikir sejenak, Ayang mencoba memanjat jendela kamar itu.
"Ternyata kamu berbakat juga jadi rampok," desis Udin sambil cekikikan.
Ayang mengerucutkan bibir.
"Hehehe....bercanda kok, sini ikut aku."
Udin menarik tangan Ayang menuju salonnya yang berada di samping rumah.
"Aya, aku gak mau nikah sama kamu," ucap Udin saat mereka sudah berada di dalam salon.
Ayang menggeleng. Ia juga tidak ingin menikah dengan pemuda itu, apalagi ia tahu Udin hanya di tuntut bertanggung jawab untuk menutupi aib yang tidak pernah sama sekali di lakukannya.
Udin cekikikan sambil menutup mulut dengan kedua tangan. "Tadinya aku kira kamu mau nikah sama aku."
Ayang semakin cemberut.
"Tapi Ay, bagimana kalau besok Daddy benar-benar menikahkan kita?"
Ayang mengedarkan pandangang, melihat ada kertas dan pena di meja salon, ia mengambil kertas dan pena itu, lalu menulis sesuatu di sana. Nanti aku jelasin ke Bapak.
"Aya, kamu gak tahu bagaimana sifat Daddy aku. Dia itu memang sudah lama menginginkan aku menikah. Nanti kalau dia benar-benar menikahkan kita gimana?" Udin bicara dengan gaya khasnya, mendayu-dayu bak wanita sungguhan.
Ayang tersenyum, lalu kembali menulis. Bagus dong kalau Kak Dini menikah.
"Iiih, Aya! Aku gak mau," sungut Udin.
Ayang tersenyum melihat ekspresi pemuda itu.
"Ay, aku sudah putuskan malam ini akan pergi," ucap Udin kemudian dengan wajah seriusnya.
Ayang kaget mendengar perkataan pria itu, lalu menulis sesuatu. Memang Kak Dini mau pergi kemana?
"Aku ingin sekali pergi ke kota, Ay. Aku ingin mewujudkan impian aku."
Ayang kembali menulis. Kenapa harus ke Kota, di sini Kak Dini juga bisa mewujudkan semuanya.
"Nggak Aya, di sini aku bagai katak dalam tempurung, terlalu banyak aturan yang tidak boleh aku lakukan di kampung ini. Aku ingin bebas Ay, aku ingin mewujud kan semua impian aku. Keputusanku sudah bulat, Ay, aku ingin pergi dari rumah ini."
Ayang kembali menulis Apa semua ini gara-gara kehamilan Ayang?
Udin menghembuskan nafas halus. "Ya enggak lah, Ay. Aku memang sudah lama ingin pergi. Hanya saja, belum Nemu waktu yang tepat."
Ayang menulis lagi. Ayang boleh ikut?
"Kamu serius, mau ikut aku?"
Ayang mengangguk. Kalau Ayang di sini, nanti hanya bikin malu Bapak sama Ibuk saja.
"Baiklah, kalau begitu, kamu tunggu di sini, aku mau ambil barang-barang aku dulu."
Udin mengendap-endap masuk kedalam rumah, mengambil barang-barang yang sudah di siapkannya, ia juga masuk ke kamar Ayang mengambil ponsel dan tas yang pernah di bawa Ayang dulu. Setelahnya Udin kembali menemui Ayang yang menunggu di dalam salon.
"Ay, ayo! Kita berangkat sekarang. Takutnya Mommy dan Daddy keburu bangun."
.
.
.
Keesokan paginya, Udin menghentikan motornya di depan sebuah warung untuk sarapan pagi sekalian beristrahat. Ini tempat kedua ia berhenti setelah subuh tadi Ayang meminta berhenti di sebuah mesjid.
Setelah sarapan dan beristirahat sejenak, Udin kembali melanjutkan perjalanannya menuju Ibu kota. Menjelang matahari naik motor yang di kendarainya telah memasuki perbatasan kota.
Sore harinya mereka telah masuk kejantung kota. Udin mencari rumah kontrakan untuk mereka tempati. Sebuah rumah petak yang terletak di sebuah gang sempit menjadi pilihannya. Selain harga yang murah, Udin juga merasa kawasan itu cocok untuknya membuka usaha salon.
"Gimana, kamu suka gak tempatnya, Ay? Rencananya nanti aku juga mau ngontrak bangunan di sebelah, buat buka salon."
Ayang mengangguk sambil melihat-lihat bangunan yang hanya memiliki satu kamar tidur.
"Kamu tidur di kamar saja. Biar aku yang tidur di luar."
Ayang menggeleng. Ia memberikan isyarat pada Udin agar pria itu saja yang tidur dikamar.
"Kamu gimana sih, Aya? Aku kan cowok." Udin seketika menutup mulutnya ketika menyebutkan dirinya 'cowok'
Ayang pun ikut tersenyum mendengarnya.
"Hihi, semoga saja nanti aku dapat hidayah, agar bisa jadi cowok benaran."
Ayang mengaminkan doa Udin.
"Aya, kamu tunggu di sini ya? Aku mau keluar dulu membeli perabotan rumah beserta kasur."
Ayang mengangguk.
Setelah Udin pergi, Ayang mengetik pesan untuk Parida, ia meminta maaf karna telah meninggalkan rumah tanpa izin. Dalam pesan itu ia juga mengatakan bahwa bukan Udin lah Ayah dari janin yang di kandungnya.
.
.
.
Di rumah almarhum orang tua Ayang, di sanalah Daniel sekarang berada. Rumah itu sudah di belinya pada Dani dengan harga yang sangat tinggi. Meski demikan sedikitpun ia tak merubah letak perabotan di dalam rumah itu. Daniel hanya menyuruh pelayan untuk membersihkan saja, tanpa memindahkan posisi perabotan di dalamnya.
Daniel berbaring diatas ranjang tempat Ayang tidur dulu. Bantal guling yang ada disana di peluk penuh hasrat. Ia membayangkan jika yang di peluknya adalah Ayang, mencumbu guling itu dengan sangat bergairah. Akhir-akhir ini tingkahnya memang sangat aneh, sering ia berfantasi membayangkan mencumbu Ayang diatas tempat tidur itu.
"Tuan."
Daniel segera bangkit, menatap tajam Regan yang berdiri diambang pintu. "Ada apa?"
"Ma-maafkan saya Tuan," ucap Regan yang begitu ketakutan melihat tatapan Daniel.
"Ada apa? Katakan cepat!"
"Tuan saya ingin menyampaikan, semua senjata yang akan kita kirim malam ini di sita oleh polisi."
"Bangsat! Kenapa semua itu bisa terjadi?"
"Sepertinya ada yang memata-matai kita dan membocorkan informasi pada pihak kepolisian."
"Siapa?"
"Saya juga tidak bisa memastikan, Tuan. Tapi kalau menurut saya, mungkin ini perbuatan Mr. Kim. Mungkin dia tak terima Tuan memutuskan hubungan kerja begitu saja."
Daniel menyeringai tipis. "Kau tahu apa yang harus kau lakukan?"
"Tahu Tuan."
"Bagus, sekarang lakukanlah."
"Baik Tuan."
di tunggu triple cadel nya
di tunggu selalu aksi trio cadel😊
yg ada ayang tambah stres dan membenci danil
lanjut kak/Drool/
hadirkan kebahagiaan untuk ayang
sudah 3 THN kok masih asih Tor...?