Demi menjalankan misinya mencari tahu mengenai pelaku pembantaian massal keluarga Anthony, dengan rela Tuan Vigor menikahkan putri tunggalnya dengan seorang mafia yang merupakan putra sahabatnya untuk melancarkan misinya dan mendapatkan harta yang ia inginkan. namun lain halnya dengan si mafia, yang mempunyai tujuan lain dengan adanya ia masuk kedalam keluarga elit itu untuk bisa menguasai dan mengendalikan keluarga itu lewat Calon istrinya yang saat ini mendapat julukan Bloody Queen.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionnaclareta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Villa Andean
Bukit andean, adalah bukit tua yang terletak di ujung barat Canada, lokasinya benar benar sangat jauh dari kota yang saat ini mereka tempati hingga membutuhkan Enam jam lebih untuk menempuh perjalan hingga sampai di tempat terpencil itu. Dan sesuai dugaan setelah melewati panjangnya tol dan lebatnya hutan mobil Leo pun sampai di halaman luas sebuah vila tua namun masih bisa di huni itu. Dan sesuai dugaan juga Yoona tertidur di sepanjang perjalanan, sebab Leo sama sekali tidak memberhentikan mobilnya untuk beristirahat hingga dengan perlahan gadis itu pun tertidur.
"Dasar keras kepala." Ucapnya saat melihat Yoona yang terlihat tertidur begitu pulas disana.
Leo melepaskan sabuk pengaman miliknya dan turun dari dalam mobil
Melihat hal itu Luan berjalan menghampiri mereka berdua sembari membawa tas jinjingnya yang berisi beberapa baju miliknya. Luan menatap lekat wajah gadis yang kini sedang asik dengan dunia mimpinya, menyadari hal tersebut membuat Leo sedikit menyembunyikan wajah Yoona dari pandangan pria itu.
"Aku baru saja menyuruh beberapa orang untuk membersihkan tempat ini, jadi tenang saja kau bisa menginap dengan tenang disini." Ucap Luan sembari menatap ke arah vila tiga lantai yang atapnya di tumbuhi tanaman hijau dan tampilan luar dinding terbuat dari batu alam hingga terlihat begitu menyatu dengan alam.
Vila itu memiliki beberapa jendela kaca besar sehingga memungkinkan cahaya matahari masuk dengan maksimal dan menyajikan pemandangan yang indah ke arah pegunungan. Kolam renang pribadi yang terletak tepat di lantai dua tepatnya di depan ruang utama dengan dek kayu dan beberapa tumbuhan di sekitarnya sehingga memberikan tempat yang nyaman untuk bersantai. Meskipun eksterior nya begitu Klasik, namun tempat itu di desain dengan gaya moderen dan dilengkapi perabotan yang mewah dan nyaman.
"Disini cuma ada satu Vila, kau bisa menggunakan ruang utama, biar aku tidur di ruangan bawah." Lanjut Luan sementara Leo hanya mengangguk tipis lalu pergi begitu saja masuk kedalam Vila tersebut sembari menggendong istrinya itu.
Sementara Luan mulai masuk kedalam vila itu dan masuk ke dalam kamar yang terdapat di lantai paling bawah, sementara Leo naik ke lantai atas sembari membopong istrinya itu.
"Sebenarnya apa yang dia inginkan dari tempat angker ini." Gumam Luan sembari meletakan tas jinjingnya di samping ranjang miliknya, sebab pada nyatanya vila itu memang sudah kosong selama lebih dari 15 tahun lamanya.
Luan mengistirahatkan tubuh nya dengan duduk di tepian ranjang miliknya sembari mengingat wajah polos yang baru saja ia lihat tadi. "Kenapa dia tidak pernah berubah sama sekali." Gumamnya sembari mengingat wajah lembut Yoona yang sedang tertidur dengan begitu lelapnya.
Setelah puas, pria itupun akhirnya beranjak dari tempat duduknya dan bermaksud pergi untuk melihat keadaan ruang utama, namun sebelum ia menaiki tangga batu, ia melihat Leo yang baru saja masuk kedalam vila itu dengan menarik sebuah koper di tangannya.
"Mungkin aku akan beristirahat dulu malam ini, dan berkeliling besok pagi, jadi kau bisa beristirahat sekarang." Ucapnya yang kemudian melanjutkan langkahnya menarik koper besar nya itu naik ke lantai atas, sementara Luan sama sekali tidak merespon Leo dan kembali ke ruangannya untuk kembali beristirahat.
...***...
Keesokan paginya, matahari sudah bersinar begitu teriknya menembus cela gorden sehingga membuat gadis yang sedari tadi tidur dengan begitu lelapnya terbangun dari dunia mimpinya, ketika kedua kelopak matanya terbuka ia melihat atap atap langit berlapis kan marmer coklat yang begitu asing baginya, dinding belakang ranjang yang berlapis batu alam dengan jendela besar yang kini masih tertutup oleh gorden hitam kecoklatan.
Gadis itu turun dari ranjangnya dengan rambutnya yang berantakan dan membuka gorden tempat itu hingga terlihat dengan begitu indah pemandangan pegunungan yang disajikan dari tempat itu.
"Wahh, sepertinya aku benar benar tertidur semalam." Gumamnya yang kemudian tidak sengaja melihat dua pria yang sedang bercengkrama sembari berkeliling di sekitar tempat itu.
Yoona keluar dari kamar itu dan sampai di sebuah ruang tengah yang terlihat begitu damai dan elegan, di samping itu juga di sebuah meja yang tidak jauh darinya, terlihat sebuah sandwich yang terletak di atas piring.
Yoona mengabaikan hal tersebut dan memilih untuk keluar dari dalam tempat itu. Sementara di sisi lain Leo dan Luan kini sedang asik menjelajahi tempat itu.
"Tempat ini benar benar menakjubkan, kenapa kau tidak memanfaatkan nya?" Tanya Leo.
"Sebab terlalu jauh dari pusat kota, aku tidak mau membuang waktu ku hanya untuk mengurus tempat terpencil ini." Ucapnya.
"Sayang sekali padahal disini masih bisa dibangun beberapa vila dan gazebo." Sahutnya sembari berjalan hingga sampai di sebuah Padang hijau luas.
"Seperti tempat ini, aku nanti bisa memanfaatkan nya sebagai lapangan golf, pasti akan sangat menyenangkan." Ujarnya .
"Terserah mau kau bangun kolam ikan pun bukan urusan ku, yang penting disini aku hanya mengenal kan tempat angker ini padamu."
"Sepertinya kau takut dengan tempat ini, sampai sampai kau tidak mau menggunakannya kembali." Sahutnya sementara itu di sisi lain Yoona baru saja keluar dari dalam Vila itu, dan di saat yang bersamaan Sebuah motor tiba tiba muncul dari arah jalan hutan dan berhenti di depan gadis yang kini sedang menikmati udara segar di luar.
Pemilik motor itu melepaskan helm miliknya hingga terlihat rambut hitam pekatnya. "Laurent." Ucap Yoona saat melihat senyum pria yang ia kenal itu.
Dengan senyum manisnya pria itu turun dan menghampiri gadis itu. "Good morning, apa kau bisa tidur nyenyak semalam?" Tanyanya ketika melihat penampilan gadis itu yang benar benar berantakan, sebab pada nyatanya memang Yoona belum mandi saat ini.
"Yahh seperti itulah." Jawabnya singkat sembari menatap ke arah dua pria yang jauh dari pandangan nya.
Laurent menghela nafas panjang sembari ikut menatap ke arah dua pria itu. "Sebenarnya apa yang mereka bahas sebenarnya sampai seserius itu." Ucapnya.
"Apa kau sudah sarapan?" Tanyanya yang kembali menatap kearah Yoona yang memang tidak memungkinkan baginya sudah sarapan dengan penampilan seperti itu.
"Apa mereka menyimpan bahan makanan? Ayo biar ku buatkan sarapan untukmu." Ucapnya sembari meraih pergelangan tangan Yoona.
"Mereka tidak menyimpan apapun didalam." Sahut Yoona, sebab yang ia tahu yang ada di kulkas hanyalah air mineral dan beberapa buah apel segar.
"Aku penasaran kenapa Luan terus berkata kalau tempat ini adalah tempat angker, apa kau tahu sesuatu Laurent?" Tanyanya.
"Apa yang kau harapkan dari ku Yoona, aku bahkan baru tahu tempat ini, tapi menurutku dari segi penampilan tempat ini benar benar menawan." Respon nya hingga tidak lama kemudian pandangan dua pria itu tidak sengaja tertuju pada Laurent dan Yoona yang sedari tadi memantau mereka berdua.
Leo terus menatap ke arah Laurent yang saat ini senyum sama sekali tidak pudar dari wajahnya, entah itu karena Yoona atau karena hal lain.
"Kudengar tempat ini punya arena berkuda, apa tempat itu masih berjalan dengan baik?" Tanya Leo pada pria di samping nya.
Luan mengangguk sembari menunjuk ke arah jalanan hutan yang terletak tidak jauh dari Padang hijau itu. "Tentu saja masih bisa digunakan, bahkan jika kita berkuda kita bisa melewati pantai yang berada di sekitar kaki bukit ini, tapi sayangnya disini aku tidak menyiapkan Kuda." Jawab Luan.
"Tidak masalah, yang terpenting aku tahu kalau jalur itu masih bisa di lewati, paling tidak itu bisa menjadi pelengkap vila ini."
"Aku sudah menghubungi sekretaris ku untuk menyiapkan proses pembayarannya, dan besok aku akan mulai mengukur dan menilai kembali tempat ini agar aku bisa segera merenovasi nya." Lanjutnya.
"Terserah, yang terpenting aku mendapatkan untung dari ini." Sahut Luan.
"Ngomong ngomong apa di sekitar sini tidak ada restoran atau semacamnya?"
"Kalau diatas bukit ini memang tidak ada, tapi ada satu restoran di dekat kaki bukit tepatnya di daerah pantai." Jawab Luan.
"Kalian mau pergi cari sarapan?" Sahut Laurent dari kejauhan sembari menghampiri mereka berdua.
Luan dan Leo yang mendengar hal tersebut sontak menatap ke arahnya. "Tapi yang ku tahu disana hanya ada restoran cepat saji dan restoran sushi." Lanjutnya.
"Entahlah, aku juga tidak pernah kesana." Timpal Luan.
"Apa masalah nya, mumpung disini, ayo pergi aku hari ini ingin sekali mencoba sushi dan seafood." Girang Yoona yang entah kenapa membuat pandangan Leo dan Laurent tertuju padanya.
Kita kesana dengan mobil bukan, tunggu sebentar aku akan mandi dulu." Lanjut Yoona yang langsung pergi begitu saja meninggalkan mereka bertiga.
Luan menghela nafas panjang "sepertinya semuanya berakhir karena makan, terserah kau mau apakan tempat ini, aku tidak Peduli, yang terpenting aku mendapatkan untung dari ini." Ucapnya.
"Itu maksudku, baiklah setelah ini jika kalian ingin pergi pergilah, kalian tidak perlu menungguku." Ujar Leo
"Cih siapa juga yang betah di tempat angker ini, dan siapa juga yang ingin menunggumu" sahut Luan yang langsung pergi begitu saja dari hadapan Leo dan disusul dengan Laurent yang juga ikut pergi menyusulnya.
Sementara itu di sisi lain, Yoona baru saja menyelesaikan ritual mandi nya dan kini ia sedang ng menancapkan diri di depan cermin besar di kamarnya. "Seharusnya aku bawa atau beli beberapa baju lain untukku." Gumamnya sembari terus menerus menatap dirinya di dalam cermin.
"Sepertinya Kau begitu bersemangat untuk pergi sampai bingung untuk memilih baju." Sahut Leo yang baru saja ingin masuk ke dalam kamar dan melihat istrinya itu sedang dilema dengan dirinya sendiri.
"Sangking bersemangat nya aku sampai tidak ingin memakai semua baju itu." Protesnya.
Leo memiringkan kepalanya. "Kenapa? Ahh mungkin maksudmu karena ini di pantai kau ingin memakai bikini? Iya? Karena disana ada mantan pacarmu iya kan?"
"Hati hati dengan mulutmu itu Leo, meskipun aku ingin memakai nya, aku tidak Sudi jika harus berkaitan dengan nya." Tegasnya.
Leo tertawa kecil sembari menghampiri gadis yang saat ini memakai dress putih polos panjang yang jatuh di atas lutut dengan tali yang terikat di pinggangnya.
Leo menggeledah koper yang ia bawa "meskipun kau ingin memakainya sekarang tanpa ada nya Luan, aku tetap tidak akan mengijinkan mu, pakailah bikini mu itu sepuas hatimu malam nanti saat bersamaku, sebab aku tipe orang yang tidak mau berbagi." Ucapnya.
"Jangan mengira kau sudah berhasil menyentuh ku, aku sudah menjadi milikmu Leo, dengar aku tidak memedulikan hal itu, entah kau mau memakai ku seribu kali pun kau tidak akan bisa memiliki ku, anggap saja pernikahan ini sebagai tujuan pemuas nafsu tanpa cinta." Tegasnya.
Leo tersenyum sembari menatap gadis yang saat ini menatap lekat ke arahnya. "Aku setuju, jadikan aku alat pemuas mu dan tetaplah pada pendirian mu Yoona." Jawabnya.
"Lagi pula apa salahnya dengan pakaian mu itu, lihatlah kau tidak terlihat buruk bukan." Lanjutnya sembari meraih dan menangkup semua rambut Yoona dan mengikat pendeknya dengan pita putih yang ia temukan di dalam koper.
"Sudah selesai." Ucapnya sembari menepuk kedua pundak Yoona lalu pergi begitu saja dari hadapan gadis itu.
Setelah selesai bersiap, Yoona keluar terlebih dahulu dari dalam Vila itu tanpa harus menunggu Leo yang entah pergi kemana, dan disaat yang bersamaan pula Laurent pun juga baru saja keluar dari dalam ruangan Luan.
"Kau sudah siap pergi Yoona?" Tanyanya ketika melihat gadis itu Baru saja menuruni tangga.
Laurent Melihat ke sekelilingnya, "kau pergi sendiri, dimana suamimu itu?" Tanyanya pada gadis yang memakai dress putih dengan sehelai pita yang yang terikat pendek padanya.
"Siapa yang peduli dengannya, ayo pergi aku sudah lapar." Jawabnya.
"Sekarang, apa kau tidak menunggu Luan dan Laurent, mereka yang bawa mobil, kalau aku sekarang hanya bawa motor Yoona." Ucap Laurent.
"Memang apa masalahnya, ayo pergi, ahh apa perlu ku bonceng, ngomong ngomong kalau soal mengendarai motor aku juga bisa." Sahut Yoona yang membuat Laurent seketika menghela nafas panjang sembari merogoh kantong celananya.
"Ayo, biar aku yang membonceng mu." Ucapnya yang kemudian akhirnya naik ke motor sport miliknya.
"Tapi tunggu aku hanya bawa helm satu Yoona, akan lebih baik kau satu mobil dengan suamimu itu."
"Kita hanya lewat hutan kan? Kepalaku tidak akan sampai pecah jika aku jatuh dari tebing Laurent." Sahutnya yang langsung naik ke atas motor milik Laurent itu.
Laurent hanya diam menanggapi wanita yang pada awalnya memang susah di atur. "Pegangan yang erat mungkin jalannya akan sedikit rusak." Ucapnya yang kemudian langsung melajukan motornya itu, sementara itu disisi lain ada dua sorot mata yang sedari tadi memantau nya dari balik jendela lantai atas dengan ekspresi wajah datarnya.
Motor sport itu mulai melewati lebatnya hutan dan jalanan bebatuan rusak sehingga menimbulkan ketidak nyamanan mereka. Jarak antara vila dan pantai memang cukup jauh, namun semuanya menjadi lebih singkat jika hanya di tempuh menghinakan mobil ataupun motor yah meskipun harus melewati hutan dan tebing karena memang pada awalnya tempat itu adalah rute berkuda para keluarga Anthony saat berlibur ke vila.
"Wahhh, kenapa aku baru tahu ada tempat seindah ini." Gumam Yoona ketika melihat pemandangan pantai dari atas tebing.
Hingga beberapa saat kemudian motor itupun akhirnya berhenti di depan sebuah restoran cepat saji. "Kenapa kita berhenti disini?"
"Kau bilang ingin sarapan bukan, burger dan pizza disini sangat enak Yoona, ayo masuk." Ajaknya.
"Aku tadi bilang ingin makan Sashimi dan seafood Laurent, kenapa kau malah mengajakku kesini bukan kesana." Jawab Yoona sembari menunjuk ke arah restoran sushi yang berada tidak jauh dari tempatnya saat ini.
"Yoona, tidak baik makan makanan mentah di pagi hari, tidak baik untuk kesehatan mengerti." Tuturnya.
"Terserah, pokoknya aku mau makan itu, lagi pula baru kali ini aku makan makanan seperti itu, jadi tidak masalah." Elak Yoona dan beberapa saat kemudian terlihat dua mobil berjalan menghampiri mereka.
"Kalau kau tidak mau, ya sudah, aku akan makan sendiri." Kesalnya yang kemudian pergi begitu saja meninggalkan Laurent sendirian.
Laurent menghela nafas panjang dan mau tidak mau ia pun akhirnya menyusul gadis itu.
Derit pintu mulai terdengar saat Yoona mulai membuka pintu kaca restoran itu. Mereka berdua duduk di sebuah bangku yang dekat dengan jendela dan mulai Memesan makanan yang mereka mau.
"Mmm...aku mau paket sashimi yang ini dua sama ice Americano satu, kau mau minum apa Laurent?" Tanyanya sembari menatap pria di depannya itu.
"Samakan saja Yoona."
"Kalau begitu ice Americano nya juga dua." Lanjut Yoona.
"Baik Noona." Respon pelayan restoran itu setelah mencatat semua pesanan Yoona.
"Yoona apa kau tidak mau membeli sesuatu?" Tanya Laurent.
"Tidak." Jawabnya singkat yang seketika membuat pria itu terdiam pasrah mendengar jawaban gadis yang ada di depannya itu.
"Ngomong ngomong Laurent apa kau tahu sesuatu tentang Vila itu? Vila sebagus itu kenapa tidak pernah dioperasikan?"
"Entahlah Yoona, aku juga tidak tahu, mungkin saja karena letaknya sangat jauh dari pemukiman dan ditambah tempatnya begitu terpencil hingga tidak ada yang tahu." Jawab Laurent.
"Suasana disana juga sangat suram, meskipun tempatnya bagus tapi menurutku ku tempat itu menjadi sangat menyeramkan karena tidak ada yang pernah menempati nya." Ucap Yoona sementara Laurent hanya mengangguk setuju dengan opini yang gadis itu berikan.
Berapa menit kemudian akhirnya pesanan mereka pun tiba dan tertata rapi di meja makan mereka. "Yoona kau yakin bisa menghabiskan makanan sebanyak ini?"
"Kenapa tidak bukankah kau juga akan ikut makan Laurent?" Jawab Yoona sembari mengambil Sumpit miliknya dan mengambil salahsatu makanan disana.
"Ahh Yoona , apa kau tidak mau minum dulu, sepertinya mereka lupa dengan pesanan minuman kita tadi" cela Laurent saat menyadari ada yang kurang dari pesanannya.
"Benar juga." Responnya sembari menoleh ke arah pelayan, namun bersamaan dengan itu seorang pelayan yang sama keluar dari dalam dapur sembari membawa dua gelas ice Americano.
"Maaf menunggu lama Noona." Ucapnya sembari menyajikan minumannya itu.
Yoona mulai menyeruput sedikit ice Americano miliknya dan kembali mengambil sashimi yang sempat ia letakan tadi.
"Tunggu sashimi sangat enak jika dimakan dengan nasi hangat, sebentar aku akan memesankan nya untukmu."
"Nasi hangat?" Tanya Yoona dan Laurent mengangguk sembari melambaikan tangannya ke arah pelayan restoran disana.
"Tunggu Laurent, kau tidak sedang melarangku untuk makan bukan?" Tanya Yoona yang menyadari akan Sesuatu.
"Apa? Tidak, aku aku cuma menyarankannya saja padamu Yoona, lagi pula tidak bagus makan ikan mentah sebanyak ini, itu tidak bagus untuk kesehatan." Jawabnya.
"Tapi masalahnya aku sama sekali belum memakannya Laurent, kalau memang seperti itu aku akan memakan dua samosi tiga suap saja kalau sisanya untukmu." Ucap Yoona yang kembali ingin memakan makanan yang sedari tadi masih terhampit sumpit itu.
Namun sebelum makanan itu masuk kedalam mulut Yoona, Laurent sudah terlebih dahulu menghampiri makanan Yoona dan merebut makanan itu darinya. "Kau tidak bisa makan ini Yoona." Ucapnya yang kemudian langsung memakan makanan itu.
"Apa? Laurent apa yang kau lakukan?." Tanyanya namun Laurent sama sekali tidak menggubrisnya, melihat responnya itu membuat Yoona mengambil kembali daging sashimi yang ada di depannya. Namun dengan begitu tangkasnya pria itu langsung menjauhkan dua piring yang berisi penuh sashimi itu dari Yoona.
"Laurent, apa maksudmu seperti itu?"
"Sudah kubilang kau tidak bisa memakan makanan ini Yoona."
"Apa? Kenapa?" Tanya Yoona yang kesekian kalinya namun jawaban pria itu tetap sama diam tidak memberikan jawaban yang pasti.
Yoona menghela nafas kesal dan jengkel terhadap pria yang ada di depannya. "Jika kau tidak punya alasan untuk melarangku maka biarkan aku makan Laurent." Lanjutnya yang berusaha meraih piring nya lagi.
"Kau memang tidak bisa memakan makanan itu Yoona!" Ucap seorang laki laki yang baru saja tiba di tempat itu dan kini sedang berjalan menghampiri dua orang yang sedang berdebat di meja makan.
Mendengar suara yang begitu tidak asing di telinganya membuat Yoona seketika menatap ke arah sumber suara itu.
Sosok pria berpostur tinggi dengan menggunakan kemeja pendek berwarna abu abu dengan celana jeans nya kini sedang menghampirinya dengan membawa sekantong makanan yang baru saja ia beli.
Pria itu mengambil tempat duduk tepat di samping Yoona dan meletakan makanan yang baru saja ia beli tadi di depan gadis itu.
"Lupakan sashimi itu, dan makan saja ini" ucapnya.
"Kenapa aku harus menurutimu?"
"Kalau begitu terserah padamu, jika kau tidak mau ya sudah, makan saja makanan itu, tapi jangan salahkan aku kau akan menginap di rumah sakit selama satu bulan setelah memakannya." Ucapnya enteng.
"Tunggu tunggu apa maksud mu, sebenarnya apa maksud kalian melarang ku seperti ini."
Leo memiringkan kepalanya menatap ke arah Yoona. "Apa separah itukah lukamu sehingga kau tidak ingat sama sekali tentang dirimu sendiri, apa Mama papamu tidak pernah menceritakan nya pada mu tentang dirimu?" Tanya Leo yang ke heranan sebab gadis yang di depannya itu terlihat tidak tahu apapun mengenai dirinya sendiri.
"Kau itu alergi terhadap daging ikan mentah sejak kecil, apa kau tidak ingat kau pernah di rawat di rumah sakit selama 3 Minggu saat kau masih berumur 3 tahun karena tidak sengaja memakan sashimi ikan tuna?" Tanyanya lagi namun gadis yang di depannya itu sama sekali tidak tahu bahkan bingung sendiri dengan semua ucapan yang Leo katakan.
"Aku ingat sekali tubuhmu begitu bengkak dan merah setelah memakan setengah potong sashimi itu, dan sekarang kau ingin memakan tiga suap, apa kau ingin dirawat selama 5 bulan di rumah sakit hmm?"
"Aku tahu kau kehilangan ingatanmu ketika umur mu lima tahun, tapi aku tidak menyangka mama papa mu tidak pernah memberitahu mu tentang hal ini." Lanjutnya.
"Kenapa aku harus mempercayai mu?"
"Jika kau tidak percaya ya sudah terserah, makanlah aku tidak melarangmu yang terpenting aku sudah memperingatkan mu." Jawab Leo sembari memakan daging sashimi milik Laurent yang belum sama sekali ia sentuh.
Mendengar hal itu membuat Yoona terdiam dan sesekali menatap ke arah Laurent yang kini memang duduk di depannya. Yoona menghela nafas pasrah sehingga membuat nya mau tidak mau membuka kantong plastik yang berisi burger king size dan pizza yang Leo belikan untuknya.
Yoona mengambil Burger itu dan memakannya, sebab bagaimana pun juga ia tidak mau menanggung resiko yang berdampak pada tubuhnya.
"Kalau begitu sashimi ini milikku bukan." Ucap Leo sembari meraih piring sashimi milik Yoona sementara Yoona sama sekali tidak menggubris pria yang mulai memakan makanan miliknya itu.