Bagaimana jadinya, jika pernikahan harus terjadi akibat tersebarnya sebuah video mesum? Itulah yang dialami Raisa dan Naufal. Dua orang yang memiliki sifat sangat berbeda, terpaksa harus hidup bersama diumur yang masih sangat muda.
Penasaran bagaimana kelanjutan ceritanya?
Ikuti cerita selanjutnya 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Firchim04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Suami Sakit
"Kampret tuh berdua nggak mau bagi jawaban. Terpaksa harus nulis contekan nih. Maafin aku Ya Allah, maafin aku juga bebeb. Aku nggak bisa tanpa contekan".
Hari pertama ujian pun telah selesai. Tersisa 3 hari lagi, untuk Raisa dan teman-temannya bisa bernapas lega.
"Akhirnya ujian hari pertama selesai juga. Senang banget deh" ucap Dara.
"Iya senang banget, apalagi kalau ada contekan mudah banget ngerjainnya. Giman tuh yang katanya belajar tapi manggil-manggil" ejek Serly.
"Gue mendadak lupa tadi. Terus kenapa juga kalian nggak kasih jawaban pas gue panggil? sengaja ya?" sungut Raisa.
"Iya lah, kan lo bilang nggak bakalan minta jawaban sama kita-kita" kata Sevia.
"Lain kali nggak gitu lagi guys, tolong bantu sahabat kalian yang bodoh ini ya?" mohon Raisa.
"Iya deh. Kita kan sahabat yang baik" ucap Serly.
"Uhh makasih banyak guys. Sini pelukan dong".
Mereka berempat saling rangkul kemudian membentuk lingkaran di tengah lapangan, lalu mulai menyanyi, membuat mereka menjadi pusat perhatian.
"Heh geng nggak jelas, minggir kalian! suara nggak ada bagus-bagusnya malah nyanyi. Bubar semuanya" kata Pak Retno mulai marah-marah.
"Ada tuyul di siang bolong, hiih takut. Lari guys" teriak Serly.
Keempat geng 'wanita buas' itu lari keluar sekolah, takut kalau Pak Retno mengejar mereka.
"Kurang ajar, kemarin dibilang Pak Botak, sekarang malah dibilang tuyul. Dasar anak-anak nggak ada akhlak. Mau jadi apa itu mereka berempat" kesal Pak Retno.
Saat kembali ke kantor, Pak Retno berpapasan dengan Ibu Susi.
"Eh Pak Retno, digundulin lagi rambutnya? mirip tuyul ya sekarang".
Ternyata tadi mereka nggak asal bilang ya. Apa benar aku mirip tuyul? aku kira aku ini mirip Lee Min Hoo.
Raisa pulang ke rumah sambil bersenandung. Ia senang karena bisa pulang lebih cepat.
Saat ia membuka pintu rumah, pintu ternyata tidak terkunci. Raisa merasa ada yang janggal karena hal itu.
"Kok pintu nggak dikunci? apa Naufal udah pulang? tapi perasaan dia harusnya masih di sekolah jam segini deh".
Raisa masuk kedalam rumah sambil mengendap-endap, ia takut ada pencuri yang membobol rumahnya. Diambilnya payung yang tergantung dibelakang pintu, kemudian ia memeriksa seluruh ruangan.
Saat memeriksa kamar tidur mereka, Raisa terkejut melihat Naufal yang terbaring dikasur dengan wajah pucat dan keringat bercucuran.
"Ya ampun beb, kamu kenapa?" tanya Raisa panik.
Ia melempar payung kesembarang arah dan memeriksa kondisi Naufal. Dipegangnya kening Naufal, terasa sangat panas.
"Beb kamu demam. Udah minum obat?".
Naufal membuka matanya perlahan karena suara berisik, lalu melihat Raisa yang sudah panik disebelahnya.
"Kamu udah pulang?".
"Iya udah. Kamu sakit ya? kenapa nggak bilang aku?".
"Aku nggak mau ujian kamu terganggu".
"Tapi kalau kenapa-kenapa gimana? udah minum obat?".
Naufal menggeleng pelan.
"Bentar ya, aku buatin bubur dulu baru habis itu kamu minum obat".
"Kamu kan nggak tahu masak beb" kata Naufal.
"Aku akan usaha demi kamu. Pokoknya tunggu disini, jangan banyak gerak".
"Nanti kalau kamu malah ngebakar rumah gimana?".
"Doain aja biar nggak kayak gitu. Udah ya, aku mau masak dulu."
Naufal sebenarnya ragu dengan ucapan Raisa, tetapi karena kepalanya saat ini pusing dan juga demam, ia memutuskan menyerahkan nasibnya pada Raisa.
"Oke sekarang buka dulu tutorial masak bubur gimana".
Raisa terlihat sangat bersemangat untuk memasak. Ia mulai mengikuti setiap tahapan yang ditontonnya.
Tiba saatnya ia akan menyalakan kompor.
"Gimana nyalainnya? kok lupa gini sih? perasaan dulu Naufal udah ajarin".
"Coba dulu diputar deh bodo amat jadi gimana" lanjutnya lagi.
Hanya melalui instingnya, ia memutar ke arah kiri tombol kompor gasnya dan kompornya pun menyala.
"Wah akhirnya nyala juga. Memang hebat sih aku".
Sambil menunggu sampai buburnya masak, ia masuk kembali kedalam kamar dan mulai menyeka keringat Naufal.
"Gimana buburnya? bisa dimasak?" tanya Naufal.
"Bisa dong. Sekarang aku udah jago beb".
"Iya, istri aku ini memang jago".
"Kamu kenapa sih bisa sakit gini? terus yang anterin pulang tadi siapa?".
"Nggak tahu. Tadi tiba-tiba udah ngerasa nggak enak badan. Diantar pulang sama yang piket uks".
"Murid juga? tanya Raisa.
"Iya" jawab Naufal.
"Cowok atau cewek?" selidik Raisa.
"Memangnya kenapa? kalau cewek kamu mau cemburu?".
"Iya lah".
"Cowok kok beb".
"Serius?".
"Iya serius".
"Syukur kalau gitu. Kamu cepat sembuh ya beb, aku nggak mau lihat kamu sakit kayak gini lagi" ucap Raisa sambil mencium pipi suaminya.
"Iya makasih beb. Oh iya, kamu nggak mau lihat buburnya? nanti gosong loh" kata Naufal.
"Oh iya ya. Tunggu ya beb, aku lihat dulu".
Raisa mengecek bubur yang dimasaknya, kemudian ia menunggu hingga matang.
Setelah dirasanya sudah siap, ia membawa buburnya kepada Naufal.
"Beb ini buburnya udah jadi. Ayo bangun dulu, nanti aku suapin".
Raisa membantu Naufal untuk duduk, kemudian ia mulai menyuapinya.
"Hati-hati beb masih panas" kata Raisa.
Naufal membuka mulutnya dan mengunyah perlahan bubur itu. Ia mengernyitkan dahinya, seperti ada sesuatu yang aneh.
"Kenapa beb? nggak enak?".
"Kok buburnya manis sih? kamu tambahin apa beb?".
"Hah? kok manis? perasaan tadi aku tambahin garam deh sesuai tutorial yang aku nonton. Aku cobain dulu".
Raisa mencoba bubur buatannya dan benar saja, rasanya manis.
"Kok manis gini".
"Jangan bilang kamu masukin gula bukannya garam".
"Dari penglihatan aku garam kok beb".
"Kamu nggak cobain dulu?".
"Nggak".
Naufal menghela napas berat.
"Ya sudah suapin aja bubur itu lagi nggak apa-apa kok. Kamu kan udah capek masak" ucap Naufal.
"Tapi ini manis beb, aku buatin lagi ya".
"Nggak usah. Aku hargain kok apa yang udah kamu buat. Ini kan pertama kalinya kamu masak buat aku, wajar aja kalau ada yang salah. Suapin aku lagi, aku mau makan".
"Kamu yakin beb?".
"Yakin beb".
Dengan ragu, Raisa menyuapi kembali bubur itu kepada Naufal sampai habis tanpa sisa.
"Maaf ya beb, nanti aku belajar lagi masaknya dan nggak akan keliru kayak tadi lagi".
"Iya nggak apa-apa. Aku maklumi itu beb".
"Makasih beb. Kamu minum obat ya?".
"Iya".
Raisa mengambilkan obat penurun demam, kemudian memberikannya kepada Naufal.
"Ini beb".
Naufal mulai meminumnya. Kemudian, kembali bersandar di sudut kasur.
"Naik sini beb, aku mau peluk kamu" ucap Naufal.
"Tumben banget beb".
"Cepetan sini".
Raisa yang masih merasa heran pun naik ke atas kasur.
Naufal memeluk tubuh istrinya itu, kemudian mencium puncak kepala Raisa.
"Makasih ya".
"Makasih untuk apa beb?".
"Karena udah nemenin aku meskipun kita susah seperti ini".
"Nggak masalah kok. Asal sama kamu, aku mau kok".
"Kamu udah pengen punya anak ya?" tanya Naufal tiba-tiba.
Wow kenapa tiba-tiba nanya gini? apa dia juga udah kepengen ya? asik juga. Tapi tetap tenang Raisa, jangan terlihat terlalu senang. Batin Raisa.
"Sebenarnya sih iya, tapi aku tunggu kamu siap aja beb" ujar Raisa.
"Makasih ya, karena udah ngerti. Aku cuma takut aja belum bisa membiayai kebutuhan anak kita nanti dengan kondisi ekonomi seperti sekarang, dan untuk masalah berhubungan intim, aku masih mikir-mikir dulu lagi, karena aku udah terlanjur janji waktu dulu" ucap Naufal.
"Iya beb, aku ngerti" kata Raisa.
Yaah gagal lagi deh.
Mampir thor🙋🙋