NovelToon NovelToon
Tanah Wonosobo

Tanah Wonosobo

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Lansia / Single Mom / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Duda / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Langit 2

Mereka berdiri di atas tanah yang sama, namun dengan suasana yang berbeda.

Bertahun-tahun telah berlalu, namun kenangan tentang Arumni masih terasa segar. Cinta pertama yang pernah membakar hatinya, kini menjadi api yang membara dalam do'anya.

Bertahun-tahun Galih berdoa di tengah kemustahilan, berharap akan disatukan kembali dengan Arumni. Meskipun jalan hidup telah membawa mereka ke arah yang berbeda tapi hati mereka masih terikat.

Galih tidak pernah menyerah, dia terus berdoa di tengah kemustahilan, terus berharap, dan terus mencintai tanpa henti.

Apakah mereka akan dapat kembali ke pelukan satu sama lain?

Ikuti kisahnya, karena hanya Tanah Wonosobo yang tahu. 🤗🤗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sore yang mendung

  "Rama!"

  "Ayah!"

  "Ah sudahlah, kita sudah sama-sama hafal sama pertanyaan kita." Kata Rama yang membuat Galih meraup wajahnya.

  Rama menatap langit yang kini mulai berubah menjadi abu-abu. "Ayah, angin sudah berhembus kencang, awan juga mulai menghitam, aku bisa merasakan perubahan cuaca ini." Ucap Rama yang hanya dijawab anggukan oleh Galih. "Seperti ada yang tidak beres," lirihnya.

  "Apanya yang tidak beres?" balas Galih sambil menoleh.

  "Loh, ayah dengar to?"

  "Ayah nggak tuli ya, Rama."

  "Ayah mau pulang sekarang atau mau nunggu hujan turun?" tanya Rama yang hanya dibalas diam oleh Galih. Rama menghembus napas kasar, lalu menarik tangan ayahnya, "jangan menunggu pelangi di sore hari, ayah. Pelanginya nggak akan muncul. Ayo kita pulang, nanti ayah masuk angin nggak ada yang pijitin lo, yah!" ucap Rama yang akhirnya membuat Galih tertawa.

  "Katanya kamu mau nunggu Ayub datang?" gurau Galih, sambil beranjak pergi meninggalkan tempat itu.

  "Ayah tahulah, tadi aku cuma alasan, karena kasihan sama ayah." Katanya.

  "Kamu lapar nggak, Rama?" tanya Galih, lalu dijawab anggukan oleh Rama.

  "Ya lapar lah, orang dari tadi cuma makan angin."

  "Angin nggak bisa dimakan, bisanya diminum." Gurau Galih, "tapi kalau kamu bisa makan angin, makanlah angin setiap hari, biar hemat." Katanya lalu masuk ke dalam mobilnya.

  "Kembung lah, ayah."

  Sesaat setelah mereka duduk di dalam mobil, terdengar suara gemuruh petir yang disusul oleh tetesan air yang membentur kaca dan atap mobil.

  "Nah kan? Untung kita segera masuk mobil." Kata Rama.

  Galih mulai menjalankan mobilnya pelan, menyusuri jalan yang basah dan licin. Derasnya air hujan, sedikit membuat pandangannya menjadi kabur.

  Dipegangnya erat-erat setir kemudinya, ia tetap fokus pada jalan di depan, meskipun terganggu oleh suara wiper yang terus bergerak.

  "Yah."

  "Hmm."

   "Menurut aku, ayah tetap harus mencari penganti ibu, jangan biarkan kenangan masa lalu menghalangi kebahagiaan masa depan, ayah. Ayah berhak bahagia bersama yang lain juga, seperti ibu yang bahagia bersama keluarga barunya." Cicit Rama yang tidak di tanggapi oleh Galih.

  "Ayah terlalu banyak menyimpan rahasia." Sambung Rama yang memicu reaksi pada Galih.

  Ia menoleh cepat dengan wajah gugup, "Rahasia?"

  "Iya, rahasia!" tegas Rama.

   "Masih kecil nggak usah coba-coba cari tahu rahasia orang tua, Rama. Ayah cuma belum menemukan yang seperti ibu," jawabnya.

  "Sebenarnya sudah ketemu, tapi ayah menutup mata–"

  "Nggak lihat dong?" pangkas Galih cepat.

  "Iya, makannya buka penutup mata ayah, pas lihat bu Winda, misalnya."

  Mereka menepi, lalu memarkirkan mobilnya di depan sebuah cafe, mereka memesan makanan dan coklat panas untuk menghangatkan tubuh.

 Galih mengamati Rama yang sedang melamun sambil menempelkan kedua telapak tangannya ke kaca yang terkena tetesan air hujan dari luar. "Rama!" panggilnya.

  Rama menatapnya, lalu kembali duduk dan menyesap coklat panas itu tanpa menjawab ayahnya.

  "Kamu melamun?" sambung Galih.

  "Aku lagi mikir, ayah."

  "Masih kecil nggak usah mikir, Rama. Biar ayah saja yang mikir," jawab Galih santai, sambil menyeruput coklat panasnya. "Sekarang katakan sama ayah, apa yang kamu pikirkan?"

  "Sekarang aku sudah nggak mikir," jawab Rama datar.

  "Yah, Gimana sih, kamu? Tadi bilang lagi mikir, sekarang tiba-tiba nggak mikir?" protes Galih.

  "Ayah yang gimana." ucap Rama yang membuat Galih membelalakan matanya. "Aku lagi mikir, disuruh jangan mikir. Aku sudah nggak mikir, malah ditanya mikir apa?"

 "Bukan itu maksud ayah, Rama." Ucapannya terhenti ketika melihat Winda dan Rania yang kebetulan juga berada di sana.

  Galih segera merubah posisi duduknya, agar tidak sampai terlihat oleh Winda. "Kenapa bu gurunya Rama harus ada di sini? Bisa gawat kalau Rama sampai tahu." Bathin Galih sambil menyembunyikan wajahnya lalu duduk di samping Rama.

 "Kenapa ayah duduk di sini?" tanya Rama heran.

  "Nggak papa, ayah cuma mau duduk di dekat kamu saja." Ucapnya sambil melanjutkan makan.

  "Pak Galih, Rama!" Panggil Winda yang tiba-tiba sudah ada di sampingnya.

  Galih memejamkan matanya, "aduh, kenapa ketahuan?" bathin Galih lalu mengulas senyum menatap Winda.

  "Bu Winda. Bu Winda di sini juga?" Ucap Rama penuh semangat. "Eh, sama Rania juga? Silahkan duduk, bu." Titah Rama yang langsung disetujui oleh Winda.

  "Terimakasih, Rama."

  "Silahkan duduk, bu Winda." Imbuh Galih, dingin.

  "Terimakasih, pak Galih. Kalian berdua saja, di mana bu Susi?" tanya Winda sambil duduk bersama Rania menghadap Galih dan Rama.

  "Ibu di rumah." Jawab Galih singkat.

  "Kita habis dari desa ibu ku, bu Winda." Kata Rama, lalu bercerita tentang bagaimana dia ada di sana pada bu gurunya itu.

  Bu Winda tersenyum, "kamu beruntung, Rama. Pak Galih bisa tetap rukun sama ibumu, meskipun sudah berpisah. Jadinya kamu tetap merasakan kasih sayang kedua orang tuamu dengan utuh, bersyukurlah." Tutur Winda, "bukan begitu, pak Galih?"

  Galih hanya mengulas senyum sambil menganggukan kepala. Sikapnya sangat dingin, membuat Rama jadi menginjak kakinya. Keduanya saling melototi, Rama memberi isyarat agar ayahnya bertanya pada bu Winda, namun Galih engan menanggapi.

"Rania, besok kita ke rumah ibuku, ya?" ajak Rama yang hanya dijawab menatap Winda oleh Rania.

Winda tersenyum sambil menganggukan kepala, lalu Rania mengangguk pada Rama.

"Bagus, aku punya adik seumuran kamu, jadi aku yakin kamu nggak akan bosan di sana." Kata Rama yang akhirnya memicu senyum pada anak pendiam itu. "Besok pagi, aku sama ayah akan menjemput kamu, jadi kamu bersiap saja, ya?"

"Rama, besok ayah ada acara, ayah sibuk." Tolak Galih.

"Cuma sebentar, ayah. Nggak sampai tiga puluh menit," bisiknya memaksa.

"Jangan maksa ayah." Bisik Galih balik.

"Emm, lain kali saja Rama. Pak Galih sedang sibuk, masih ada lain waktu, kan?" Kata Winda setelah menyadari Galih tidak setuju.

"Iya, Rama. Betul apa kata bu Winda, lain kali saja." Jawab Galih yang membuat Rama jadi tersenyum paksa karena tak enak atas sikap dingin ayahnya.

Winda banyak bertanya tentang keluarga Rama, namun Galih tak membalas tanya, ia tetap dingin cenderung acuh pada Winda.

...****************...

1
Althea
aku kasih vote buat karyamu ya thor 👍
Restu Langit 2: terimakasih 😍
total 1 replies
Djabat
bahagianya A A 😄
Restu Langit 2: iya 🤭
total 1 replies
Djabat
semoga selalu bahagia Adit arumni
Restu Langit 2: Aamiin
total 1 replies
Djabat
semoga terwujud cita-citanya ya Rama
Restu Langit 2: Aamiin ☺
total 1 replies
Djabat
sip, keren👍
Djabat
nah lo
Djabat
ha ha arumni bisa aja
Restu Langit 2
oke, terimakasih banyak ☺
Djabat
aku bayangin gimana modisnya mama alin dalam berpenampilan
Djabat
mas ayah🤣🤣
Restu Langit 2: ha ha 🤣
total 1 replies
Djabat
semoga cepet move on dari masalalu ya Galih.
Restu Langit 2: aamiin
total 1 replies
Djabat
betul mama alin
Djabat
ganteng-ganteng jerawatan 😄
Restu Langit 2: pubertas 🤭
total 2 replies
Djabat
nikah lagi aja Galih. Lama-lama pasti lupa sama masalalu mu
Restu Langit 2: sedang diusahakan🤭
total 1 replies
Djabat
ikut saja arumni, cuma di alun-alun kan? 😄
Restu Langit 2: takut suaminya salah sangka 🤭
total 1 replies
Djabat
aku sudah baca langit Wonosobo thor 👍
Fatra Ay-yusuf
jangan biarkan masalalumu membelenggumu Galih, kubur masalalumu rajutlah kisah yng baru,
di kesibukan ku hari ini tak sempetin untuk mendukung mu wahai author /Facepalm/
Restu Langit 2: terimakasih banyak wahai readers 😘😘
total 1 replies
Fatra Ay-yusuf
wahwah kiren nikah gw nggk di undang nih thor 🤣
Restu Langit 2: Sepuluh tahun itu cukup mengubah banyak hal, sampai nggak ada yang tahu kapan dia nikah 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!