Pensiun sebagai pembunuh nomor satu karena penyakit mematikan, Kenzo bereinkarnasi ke dalam novel kultivasi buatannya sendiri. Berbekal 'Sistem Sampah' yang ia modifikasi menjadi senjata maut dan pengetahuan sebagai sang pencipta, Kenzo siap membantai siapa pun yang berani mengusik waktu santainya bersama sang putri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Hadiah luar biasa
Ketiga kultivator itu menatap Kenzo dengan pandangan merendah. "Hei, rakyat jelata! Berikan barang berhargamu atau nyawa bocah itu sebagai gantinya!" gertak pria yang berdiri di tengah, tangannya sudah memegang hulu pedang.
Lin-er gemetar di punggung Kenzo, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher ayahnya. Kenzo tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Alih-alih melawan dengan otot, ia merogoh sakunya dan mengeluarkan Pil Pemurnian Qi merah yang berdenyut tidak stabil.
"Aku hanya seorang pemburu kayu," ucap Kenzo dengan suara yang dikontrol agar terdengar gemetar—sebuah akting sempurna dari seorang pembunuh bayaran profesional. "Aku menemukan ini di sebuah gua di balik bukit. Tolong, ambillah dan biarkan kami lewat. Ini pasti sangat berharga."
Kenzo melemparkan pil itu dengan gerakan melambung yang santai. Mata ketiga kultivator itu membelalak melihat aura merah yang terpancar dari pil tersebut.
"Pil Pemurnian Qi Tingkat Tinggi?!" seru salah satu dari mereka, matanya dipenuhi ketamakan. "Pergi sana, sampah! Tak kusangka rakyat jelata sepertimu memiliki keberuntungan sebesar ini!"
Kenzo berbalik dengan tenang, melanjutkan langkahnya tanpa menoleh sedikit pun.
Di belakang mereka, pertengkaran hebat pecah.
"Berikan padaku! Aku yang paling senior di sini!"
"Persetan! Aku yang menangkapnya tadi!"
"Sini! Biar aku yang menelannya sekarang juga!"
Rebutan kasar itu menciptakan guncangan hebat pada struktur molekul pil yang memang sudah cacat. Kenzo terus berjalan menjauh, menghitung dalam hati. Tiga... dua... satu.
BOOOOM!!!
Ledakan energi Qi yang tidak stabil menghancurkan keheningan hutan. Tekanan udara panas menyapu punggung Kenzo, namun ia bahkan tidak berkedip. Jeritan pendek para kultivator itu tenggelam oleh suara dentuman yang memekakkan telinga.
"Suara burung yang sangat indah, bukan?" ucap Kenzo datar, matanya menatap langit yang damai.
Lin-er mendongak dari pundak ayahnya, matanya yang besar mengerjap bingung. "Burung? Memangnya suara burung sekeras itu ya, Ayah?"
Kenzo diam sejenak, otaknya mencari alasan yang masuk akal bagi seorang anak tujuh tahun. "Itu... burung langka yang sedang bermigrasi ke tempat yang sangat jauh. Mereka meledakkan semangat mereka agar bisa terbang lebih cepat."
"Ooh... kasihan burungnya ya, Ayah," gumam Lin-er, kembali menyandarkan kepalanya.
[Ding!]
[Misi Tersembunyi Selesai: Membersihkan Sampah Dunia (Kultivator Sombong).]
[Menghitung Kontribusi... 100%.]
[Selamat! Kreator mendapatkan Hadiah Luar Biasa: "Sendok Makan Biasa".]
Sebuah sendok berbahan besi kusam muncul di genggaman Kenzo. Ia menatap benda itu dengan intensitas yang sama seperti saat ia memeriksa pisau bedah untuk membunuh.
"Sendok?" Kenzo bergumam.
Sistem memberikan deskripsi tambahan:
[Deskripsi: Sebuah sendok yang sangat biasa. Tidak memiliki energi spiritual, tidak bisa memotong besi, dan sangat berkarat. Kegunaan: Untuk makan (Mungkin).]
"Benar-benar sistem yang konsisten dengan sampahnya." puji Kenzo dengan sarkasme yang dalam.
Namun, ia memperhatikan ujung sendok yang sedikit bengkok dan gagangnya yang memiliki keseimbangan berat yang unik. Matanya berkilat. Di tangan seorang ahli anatomi, sebuah sendok biasa bisa menjadi alat untuk mencungkil titik saraf, menyumbat jalur pernapasan, atau bahkan memantulkan cahaya untuk membutakan lawan dalam kegelapan.
"Yah, setidaknya ini akan berguna untuk menyuapimu makan nanti, Lin-er." ucap Kenzo pelan sambil memasukkan sendok itu ke balik pinggangnya, seolah-olah itu adalah senjata rahasia paling mematikan di dunia.
sebentar😅😅