Dewi Wijaya meninggalkan keluarganya yang kaya raya untuk menikahi pria yang dicintainya, Budi Santoso, dan mendirikan perusahaan bersama di Bandung. Namun, kebahagiaan mereka tidak bertahan lama—Budi berselingkuh dengan sekretarisnya, Ratna, dan setelah Dewi wafat dalam keadaan mencurigakan, mereka segera menikah dan mengambil alih kendali perusahaan. Mereka bahkan membuang Ridwan, anak satu-satunya Dewi dan Budi, ke hutan saat dia berusia 14 tahun, berharap dia tidak akan pernah kembali.
Delapan tahun kemudian, Ridwan yang telah diajarkan ilmu pengobatan tradisional dan beladiri oleh seorang kakek yang menyelamatkannya, muncul di Bandung dengan satu tujuan: mengambil haknya yang dirampas. Dia membawa satu-satunya bukti yang tersisa dari ibunya—suatu bungkusan yang berisi foto lama dan petunjuk tentang sebuah surat wasiat yang disembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. KEJELASAN YANG DITUTUPKAN UNTUK KEAMANAN
Pada pagi hari yang cerah, seluruh keluarga Wijaya berkumpul di ruang tamu suite hotel yang mereka tempati di kawasan Dago. Dokter dari Rumah Sakit Umum Pusat Bandung datang secara langsung untuk memberikan hasil tes DNA secara pribadi, membawa sebuah amplop putih yang berisi laporan resmi yang telah ditandatangani oleh tim ahli genetika.
“Setelah melakukan analisis komprehensif terhadap materi genetik dari Bapak Wijaya dan Ridwan Saputra—yang kini kita ketahui sebagai Ridwan Wijaya Santoso—kami dengan penuh keyakinan dapat menyatakan bahwa terdapat hubungan darah langsung antara kedua individu tersebut,” ujar dokter dengan suara yang jelas dan resmi, sambil membuka amplop dan menunjukkan halaman depan laporan. “Hasil tes menunjukkan kesamaan genetik sebesar 99,9% yang mengkonfirmasi bahwa Ridwan adalah cucu kandung Bapak Wijaya dan anak kandung dari Dewi Wijaya Santoso.”
Suasana ruangan langsung dipenuhi dengan air mata kebahagiaan dan suarakan doa syukur. Bu Sri—istri Pak Wijaya—membawanya Ridwan ke dalam pelukan yang erat, menangis sambil mengucapkan terima kasih kepada Tuhan atas keselamatan dan keamanan cucunya yang telah lama hilang. Siti juga tidak bisa menahan emosinya, meraih tangan Ridwan dengan penuh cinta dan kegembiraan.
“Anakku, akhirnya kita memiliki bukti hukum yang tak terbantahkan tentang identitasmu,” ujar Pak Wijaya dengan suara yang sedikit gemetar namun penuh dengan kebanggaan. “Sekarang kita bisa dengan tegas mengajukan klaim mu sebagai ahli waris sah perusahaan dan membawa orang-orang yang bersalah ke pengadilan.”
Namun, setelah beberapa saat merenung dengan tenang, Ridwan berdiri dan menghadapkan seluruh keluarga dengan ekspresi yang penuh dengan keseriusan. “Kakek, Bibi Sri, Kakak Siti,” ujarnya dengan suara yang jelas dan tegas. “Saya sangat bersyukur atas hasil tes yang mengkonfirmasi identitas saya sebagai bagian dari keluarga Wijaya. Namun saya ingin mengajukan permintaan penting—saya mohon agar kita menyembunyikan hasil tes ini dari publik dan hanya memberitahukan kepada pihak berwenang dan tim pengacara kita saja.”
Kehangatan dan kegembiraan di ruangan sedikit mereda, digantikan oleh ekspresi kebingungan dari seluruh keluarga. “Mengapa, anakku?” tanya Pak Wijaya dengan suara yang penuh dengan kekhawatiran. “Hasil tes ini adalah kunci untuk membuktikan hak mu atas perusahaan dan mendapatkan keadilan untuk ibumu. Mengapa kamu ingin menyembunyikannya?”
Ridwan mengambil napas dalam-dalam sebelum menjawab. “Saya memahami betapa pentingnya hasil tes ini, Kakek,” katanya dengan suara yang penuh dengan pemikiran matang. “Namun setelah insiden ancaman yang saya alami beberapa hari yang lalu, dan dengan mengetahui bahwa Ratna, Budi, dan Rio masih berada di luar dan kemungkinan masih memiliki banyak orang yang bekerja untuk mereka, saya merasa bahwa menyembunyikan identitas saya secara resmi akan memberikan kita keuntungan strategis dalam menyelesaikan kasus ini.”
Dia kemudian menjelaskan alasan yang mendasari keputusannya dengan jelas. “Jika mereka mengetahui bahwa hasil tes DNA telah mengkonfirmasi identitas saya, mereka akan semakin terdesak dan mungkin melakukan tindakan yang lebih ekstrem untuk membahayakan saya dan keluarga kita,” lanjutnya dengan suara yang penuh dengan kesadaran akan risiko yang ada. “Selain itu, dengan menyembunyikan identitas saya sementara, saya masih bisa bergerak dengan bebas di dalam dan sekitar perusahaan untuk mengumpulkan lebih banyak bukti yang mungkin kita butuhkan. Mereka akan mengira bahwa saya masih hanya seorang petugas keamanan biasa dan akan mengendurkan penjagaan mereka.”
Tim pengacara yang hadir mulai membahas usulan yang diajukan oleh Ridwan dengan cermat. Salah satu pengacara senior bernama Pak Hendra mengangguk dengan setuju setelah beberapa saat berpikir. “Ridwan memiliki poin yang sangat valid,” ujarnya dengan suara yang penuh dengan penghargaan. “Dengan menyembunyikan hasil tes DNA sementara, kita bisa mengumpulkan bukti tambahan tanpa menarik perhatian yang tidak perlu dari pihak yang tidak bertanggung jawab. Kita bisa menggunakan waktu ini untuk menyusun kasus kita dengan lebih matang dan memastikan bahwa ketika kita akhirnya mengungkapkan identitasnya secara resmi, kita memiliki semua yang kita butuhkan untuk memenangkan kasus ini.”
Siti juga mengangguk dengan setuju setelah mendengar penjelasan Ridwan dan Pak Hendra. “Saya mengerti keputusan kamu, mas,” ujarnya dengan suara yang penuh dengan pemahaman. “Keselamatan kamu dan keluarga kita adalah yang paling penting. Kita tidak bisa mengambil risiko dengan mengungkapkan identitas kamu sebelum waktunya tiba.”
Pak Wijaya merenungkan usulan tersebut dengan seksama, kemudian melihat ke arah Ridwan dengan mata yang penuh dengan cinta dan penghargaan. “Kamu telah menunjukkan kebijaksanaan yang luar biasa untuk seseorang di usiamu, cucu saya,” ujarnya dengan suara yang penuh dengan bangga. “Saya sangat bangga dengan bagaimana kamu bisa berpikir jauh ke depan dan memprioritaskan keselamatan keluarga daripada kepuasan pribadi untuk segera mengaku identitasmu. Saya menyetujui permintaanmu—kita akan menyembunyikan hasil tes DNA sementara dan hanya memberitahukannya kepada pihak yang benar-benar perlu mengetahuinya.”
Setelah keputusan dibuat, keluarga Wijaya bersama dengan tim pengacara segera menyusun rencana tindakan selanjutnya. Mereka menyepakati bahwa hanya dokter yang melakukan tes, tim pengacara, dan beberapa petugas polisi yang menangani kasus ini yang akan mengetahui hasil tes DNA secara resmi. Publik akan tetap diberitahu bahwa Ridwan adalah calon ahli waris yang sedang dalam proses verifikasi identitas, sementara sebenarnya semua proses telah selesai dan hasilnya sudah jelas.
Untuk mengamankan keamanan Ridwan dan seluruh keluarga, Pak Wijaya menyewa tim keamanan pribadi profesional yang akan mengawal mereka selama berada di Bandung. Selain itu, mereka juga memutuskan untuk mengubah tempat tinggal sementara Ridwan ke lokasi yang lebih aman dan terlindungi, jauh dari kawasan yang ramai dan mudah diakses oleh orang yang tidak bertanggung jawab.
Pada hari berikutnya, Ridwan kembali ke perusahaan dengan identitas sebagai Ridwan Saputra—petugas keamanan biasa yang sedang membantu pihak berwenang dalam penyelidikan. Banyak karyawan yang telah mengetahui bahwa dia adalah calon ahli waris Dewi Wijaya memberikan dia senyum dukungan dan beberapa bahkan datang dengan hati-hati untuk menyampaikan dukungan mereka secara pribadi.
“Kami tahu bahwa kamu adalah anak Bu Dewi, Pak Ridwan,” ujar salah satu karyawan lama bernama Pak Jajang yang bekerja di departemen pemeliharaan. “Kami semua telah menunggu lama untuk hari di mana perusahaan akan kembali ke tangan keluarga yang benar. Kami akan membantu kamu sebanyak mungkin, tapi mohon berhati-hatilah—Rio dan orang-orangnya masih sering mengawasi gerakan kita dari kejauhan.”
Ridwan tersenyum dengan rasa syukur kepada Pak Jajang. “Terima kasih banyak atas dukungan Anda, Pak,” jawabnya dengan suara yang lembut namun jelas. “Saya sangat menghargainya. Silakan terus bekerja dengan baik dan jangan khawatir—kebenaran akhirnya akan menang dan perusahaan akan kembali menjadi seperti yang diinginkan oleh Bu Dewi.”
Sementara itu, Mira dan Siti terus bekerja tanpa lelah untuk mengumpulkan bukti tambahan tentang kejahatan yang dilakukan oleh Ratna dan Rio. Mereka menemukan bahwa kedua pelaku tersebut telah mulai mencoba menyembunyikan jejak mereka dengan cara menghapus data dari sistem komputer perusahaan dan mencoba membeli dokumen-dokumen penting dari pihak yang tidak bertanggung jawab. Namun berkat persiapan yang matang dari Ridwan dan tim pengacara, semua upaya tersebut telah dipantau dengan ketat dan bahkan memberikan bukti tambahan tentang kesalahannya.
Pada malam hari, Ridwan menghubungi Kakek Sembilan untuk memberitahukan hasil tes DNA dan keputusannya untuk menyembunyikan identitasnya sementara. “Kamu telah membuat keputusan yang bijak, anakku,” ujar Kakek Sembilan dengan suara yang penuh dengan kebanggaan. “Kekuatan sejati tidak selalu terlihat dari kemampuan untuk menunjukkan diri, tapi juga dari kemampuan untuk bersabar dan menunggu waktu yang tepat. Tetaplah kuat dan terus berjuang—ibu kamu sedang melihatmu dari surga dan pasti sangat bangga dengan apa yang kamu lakukan.”
Ridwan menutup telepon dengan hati yang penuh dengan kedamaian dan tekad yang semakin kuat. Meskipun dia tidak bisa mengumumkan identitasnya secara resmi dan merasakan kebahagiaan untuk secara terbuka mengaku keluarga Wijaya sebagai keluarganya, dia tahu bahwa keputusannya adalah yang terbaik untuk semua pihak. Dengan menyembunyikan identitasnya sementara, dia bisa terus bekerja untuk mengumpulkan bukti yang lebih kuat, melindungi keluarga dan teman-teman yang telah membantunya, dan memastikan bahwa ketika akhirnya dia mengungkapkan siapa dirinya sebenarnya, keadilan akan datang dengan cepat dan menyeluruh.
Di bawah cahaya bulan yang terang menerangi langit malam Bandung, Ridwan melihat ke arah gedung PT. Dewi Santoso yang menjulang tinggi di kejauhan. Di hatinya, dia berjanji kepada ibu nya bahwa dia akan menggunakan waktu yang diberikan untuk menyusun segala sesuatu dengan matang, sehingga ketika waktunya tiba, dia bisa mengambil alih perusahaan dengan penuh rasa hormat dan menghidupkan kembali visi dan misi yang telah dia tetapkan selama hidupnya.