Xeline pergi hanya meninggalkan sebuah pesan di WA
Bhima
Terimalah perjodohan dari orang tuamu.
Benar kata ibuku
aku tidak se worth it itu untuk dimiliki oleh seseorang
Semoga selalu bahagia bersama seseorang yang mencintaimu.
by Xeline NH
Trauma masa lalu Xeline membuat ia begitu yakin hal itu akan menarik Bhima pada kehidupan yang begitu gelap dan berantakan. Xeline memutuskan menjauh dari Bhima sejauh mungkin dari segala kenangan yang pernah membuatnya merasa hidup sekaligus hancur.
Bhima tetap disana. Menunggu dalam diam. Bertahun-tahun. Ia mencintai Xeline bukan dalam waktu sebentar. Ia juga tidak memberikan setengah. Cintanya utuh, meski ia ditinggalkan karena keinsecuran Xeline.
"Aku butuh kamu Xeline. Bukan kamu yang sempurna. Tapi kamu yang beserta pecahanmu yang berantakan. Aku hanya ingin kamu tetap disisiku. Itu saja. Itu janjiku padamu."
Akankah takdir bisa menyatukan kembali cinta mereka?
Happy Reading
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DUOELFA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Di rumah Xeline
Mara memegang hp yang barusan dipakai oleh Xeline. Matanya tertuju pada tulisan chat GOBLOK kamu yang baru saja masuk digawainya.
Mata Mara nanar menahan marah. Ia teringat kembali pengalaman bullying parah yang telah dialami oleh Xeline dua tahun yang lalu hingga ia memutuskan untuk melakukan pindah sekolah pada anak sulungnya tersebut. Bentuk bullying yang sangat parah meliputi bullying fisik, psikis, cyberbullying. Pembina asrama dan pihak sekolah malah membela dan melindungi para pelaku yang berjumlah delapan orang karena mereka orang kaya. Mara tidak mau Xeline kembali mengulangi hal yang sama. Ia sangat melindungi anak perempuannya kali ini.
Ibu Xeline: Maksudnya apa ya mas kok kamu sampai bilang goblok ke anak saya? Saya ibunya Xeline. Tolong omongannya dijaga mas. Saya bisa melaporkan kamu ke wali kelas bila omongan kamu tidak sopan seperti itu. Jujur saya sebagai ibu saya tidak terima. Ini HP saya barengan dengan Xeline. Saya bisa cek wa apapun dari sini. Anda sopan, saya juga segan. Terima kasih.
Ibu Aldi: Saya mohon maaf atas sikap anak saya. Nanti saya akan menasehati anak saya bu. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Ibu Xeline: Saya sudah bertanya pada anak saya. Duduk masalahnya itu seperti ini bu. Anak saya sebagai sekertaris kelas. Ini hanya masalah Xeline meminta untuk mengisi biodata diri yang akan digunakan untuk kartu keluarga kelas. Itu pun yang menyuruh wali kelas. Bukan keinginan Xeline sendiri. Jika ananda tidak berkenan mengumpulkan biodata, tidak apa apa. Tapi saat saya cek WA, malah ananda bilang GOBLOK. Anak saya mungkin nggak apa apa dikatain seperti itu. Tapi sebagai ibu, sungguh saya sangat tidak Terima. Anda tidak bersalah bu. Jadi anda tidak perlu minta maaf ke saya. Sama-sama ibu. Terima kasih. Maaf saya sudah ganggu malam-malam.
Ibu Aldi: Atas sikap anak saya, saya minta maaf yang sebesar-besarnya bu. Terima kasih.
"Kak, sudah tidur?" tanya Mara pada anaknya.
"Belum bu. Ada apa?" sahut Xeline dari kamar.
"Ini ada temenmu WA kamu dengan kata goblok. Kamu nggak pa pa?" selidik Mara.
Xeline terlihat menunduk dan menghela napas panjang. sudah bisa dipastikan Mara pasti nanti malam tidak akan bisa tidur karena harus menemani Xeline yang sesak napas. Ia memang tidak bicara apa apa, tapi tubuhnya akan refleks pada sesuatu yang membuatnya kepikiran.
"Biarin aja bu. Nanti kalo dia WA lagi, bilangin, data dirinya langsung dikumpulin ke wali kelas aja. Kalau nggak mau ngumpulin, ya nggak pa pa. Gitu ae," balas Xeline.
"Ya udah. Cepatlah tidur. Semoga malam ini kamu bisa tidur nyenyak," harap Mara pada Xeline.
Ada WA masuk di hp Mara.
Ibu Aldi: Bu, biodata mana yang harus diisi oleh anak saya?
Mara: Yang ini ibu
Mara mengirim pesan WA ke ibu Aldi.
Ibu Aldi: Yang di IG?
Mara: Nggak bu. Ini saja. Tapi Xeline tadi berpesan, bila ananda nggak mau ngisi biodata, juga nggak pa pa kok.
Ibu Aldi: Iya bu
Mara melakukan screen shot percakapannya dengan ibu Aldi yang mengunggahnya di di status WA dengan caption ketriger banget.
Di rumah Bhima
Sejam berlalu. Bhima belum bisa tidur. Ia melihat ponsel dan Xeline statusnya masih online.
Bhima melihat status WA yang ternyata di pasang oleh ibunya Xeline. Status kalau Xeline baru saja dibully oleh teman sekelasnya yang belum menyerahkan biodata, yaitu Aldi.
Bhima memberanikan diri WA ke ibu Xeline malam itu juga.
Bhima : Selamat malam. Apa ini dengan ibunya Xeline? Saya ingin bertanya sesuatu.
Mara mengernyit tanda keheranan. Ia melihat ke jam dinding yang sudah menunjukkan pukul malam dan ada seorang remaja laki laki yang mengirim Wa padanya, ibunya Xeline. Baru pertama kali ini ada remaja yang mengirim wa ke Mara
Mara : Iya silakan. Betewe jam
Segini, kamu kok belum tidur? Besok sekolah lho.
Bhima: Saya belum mengantuk bu. Xeline dikatain kayak gitu bu? Kasihan Bu. Nanti biar saya saja yang bilang ke Aldi. Dia teman saya bu. Saya minta maaf atas kesalahan teman saya.
Mara mengernyit keheranan.
"Malam yang sama, tapi dua orang yang berbeda yang sama sama meminta maaf pada kesalahan yang tidak mereka lakukan untuk orang yang sama yaitu Aldi. Sedangkan yang bersalah, boro boro minta maaf. Merasa bersalah saja nggak sama sekali. Normalisasi kalau kalian nggak melakukan kesalahan, nggak usah minta maaf. Bisa nggak? Tapi dunia yang aneh," Batin Mara.
Mara: Sebenarnya berhubung Xeline itu hpne barengan sama saya, chat pribadi dia sering dihapus. Kebetulan tadi itu, belum sempat dihapus. Ada kata goblok itu. Terus Xeline tak tanya, kok kamu dibilangin goblok kenapa? Jawabnya tak mintain data diri nggak mau. Ya terus tak bilangin, lek gak mau ngasih biodata diri, ya udahlah. Gak usah dipaksa. Ibu nggak suka kamu dikatain seperti ini. Maaf kalau Xeline dibully seperti itu, saya ketrigger banget
Bhima:Oh ya Bu wajar bu. Lagian setiap orang tua kan juga harus melindungi harga diri anak nya bu
Mara: Ya itu karena dulu Xeline pindah sekolah karena dibully oleh delapan orang temannya saat masih di asrama. Bentuk bullying paling parah sampai menodong pisau ke leher Xeline
Bhima: Jadi Xeline dibully gitu Bu? Delapan orang? Astaga
Mara:Iya
Bhima : Berarti secara tidak langsung Xeline punya trauma bullying ya bu?
Mara : Iya. Sampai saat ini jika aku tanya tentang bullying, Xeline nggak pernah mengaku secara detail saat di asrama dia di bully seperti apa. Semacam masih trauma. Dia juga blacklist banyak kampus.
Bhima : Takut Xeline ketemu lagi sama pembully itu ya?
Mara : Iya. Xeline masih trauma banget. Mungkin dia terlihat ceria, tapi di dalam hati nggak tahu aslinya gimana?
Bhima : Mungkin saya akan usahakan agar bisa buat dia bicara tentang trauma yang dialaminya. Tapi pelan-pelan ya bu
Mara terlihat keheranan membaca pesan dari Bhima.
Mara: Nggak usah lah. Nanti dia curiga lagi jika aku yang bilang macam-macam ke kamu
Bhima: Nggak bu. Soalnya aku sendiri juga sudah tahu sebelum Ibu bilang ke aku
Mara : Benarkah? Kamu Siapa yang bilangin? Xeline sendiri atau siapa? Soalnya dia Anaknya tertutup sekali
Bhima : Saya waktu itu kena hukuman. Terus nggak sengaja mendengar percakapan guru saat di ruang BP. Sebenarnya saya juga anak Osis. Jadi sedikit banyak saya lumayan tahu kabar di sekolah seperti
Mara: Ooo, begitu. Sejak Xeline pindah sekolah, saya off semua medsos karena takut di stalking sama pihak sekolah lama. Selain itu Xeline sangat takut saya posting macam-macam karena saya lumayan aktif di medsos
Bhima: Sebenarnya saya kasihan bu. Makanya saya berusaha menghibur Xeline. Ya walaupun kadang guyonannya garing sih.
Mara : Makasih ya sudah menghibur Xeline
Bhima : Dulu juga saya sempat saya akan nakal gitu. Tapi sekarang berusaha lebih baik. Kalau boleh tahu perkaranya apa bu sampai Xeline dibully seperti itu?
Mara : Menurut Ibu, masalah cowok. Salah satu pembully suka sama cowok. Sebut saja si A. Tapi si A selalu melindungi Xeline. Karena cemburu atau entah ada masalah yang lain, saya kurang tahu ya. Akhirnya ada bullying itu.
Bhima : Oh ...
"Gimana nggak jadi incaran cowok? Wong anak ibu cantik banget. Pinter lagi," batin Bhima.
Bhima : Sebenarnya saya orangnya nggak suka mukul. Tapi pernah suatu hari ada lima orang cowok bully aku. Aku dipukul, ditendang. Paas aku bangkit, tahu-tahu mereka tinggal satu. Yang lain pada pingsan. Saya dulu orangnya nggak bisa dikendalikan. Kadang sama orang tua juga suka membantah. Tapi sekarang saya sudah banyak berubah
Mara : Benarkah? Syukurlah. Xeline segera saya pindah saat mengalami bullying. Takut kejadian seperti di sekolah lain yang siswanya sampai meninggal dunia
Bhima: Iya saya tahu perasaan Ibu. Saya juga tahu kabar itu. Okeyy bu. Saya usahakan jaga Xeline walaupun nggak maksimal
Mara : Iya. Makasih
Bhima : Iya. Mungkin juga nanti saya usahakan masuk kampus yang Xeline inginkan. Biar bisa menjaga Xeline agar tidak ada yang membully lagi
Mara begitu keheranan membaca chat dari Bhima.
Mara : By the way, menjaga Xeline. Maaf saya tanya agak gimana gitu. Kamu lagi suka sama Xeline ya?