Penyihir
Makhluk biadab yang memangsa manusia. Tak peduli siapa dirimu.
Mereka akan memangsamu. Membunuhmu.
Di dunia ini sihir terbagi dua.
Sihir cahaya dan sihir kegelapan.
Berabad-abad tahun lepas. Umat manusia berperang melawan makhluk mengerikan yang dinamakan penyihir. Sang para pengguna sihir kegelapan.
Umat manusia yang berjuang melawan mereka disebut 𝘛𝘩𝘦 𝘩𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳. Mereka menggunakan sihir cahaya untuk membunuh para penyihir.
Kini saatnya untuk memburu penyihir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayanagi Souma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26 –[ Mata-Mata Ganda ]–
DUM!
Markas pusat Agensi Hunter menjadi medan perang sengit. Ledakan api biru dan dentuman pukulan keras silih menggema. Berusaha menyerang telak.
SLASH! SLASH! BUM!
Lang berhasil mendaratkan tebasan api biru diiringi ledakan, membelah kedua kakinya. Parmenas pantang menyerah, dengan sisa dua tangannya yang sudah beregenerasi seutuhnya, dia merangsek melompat maju. Menghantam kedua tangan ...
BUM!
Lubang radius lima meter tercipta. Lang berhasil menghindar. Melompat ke belakang sebelum hantaman itu mengenainya. Abaikan debu-debu mengepul menghalau pandangan. Ini menyenangkan bagi Lang. Sudah lama dia tidak bertempur se-epik ini.
Parmenas kembali meraung. Monster kekar itu beregenerasi diluar nalar. Kakinya sudah tumbuh kembali. Utuh seperti semula.
ROAAARRR!
Lang memasang kuda-kuda lagi. "Kau memaksaku menggunakannya. Jangan salahkan aku, jika tidak bisa menahan serangan ini."
Parmenas mendengus tidak peduli. BUM! Tanpa ba bi bu langsung merangsek menghantam kedua tangan. Debu bertambah mengepul. Tanah bergetar keras.
Lang menyeringai, setelah sekian lama dia akan menggunakan jurus kejayaannya.
Dia merapal mantra sembari menghindari pukulan berbahaya Parmenas.
DUM!
"藍色的火焰燃燒著靈魂… Lánsè de huǒyàn ránshāozhe línghún.
(Api biru membakar jiwa ...)"
Merunduk, melompat jauh ke samping. Parmenas tidak lelah mengejar.
DUM!
"藍色的火焰燃燒著黑暗... Lánsè de huǒyàn ránshāozhe hēi'àn.
(Api biru membakar kegelapan ...)"
Meliuk, Lang berlari menjauh, Parmenas siap mengejar.
DUM!
"藍色的火焰燃燒著死亡... Lánsè de huǒyàn ránshāozhe sǐwáng.
(Api biru membakar kematian ...)"
Pukulan Parmenas meleset, menghantam pilar merah hingga patah. Lang tersenyum, ini akan menjadi nostalgia terhebat.
DUM!
Tangan satunya mencecar Lang. Segera Lang melompat mundur, mengambil jarak. Parmenas terdiam sejenak melihat sosok Lang yang perlahan berubah.
Rambut merah muda panjang sepinggangnya beriap-riap. Ujungnya berubah warna menjadi biru tua, api biru membuat tanduk di kepalanya. Mata biru tuanya membara, api biru membumbung tinggi menyelimuti sosok pria tua itu. Suasananya seketika berubah.
"Bersiaplah anak muda! Jangan mengecewakan kakek tua ini!" Lang berseru semangat. Suara beratnya terdengar lantang.
Parmenas memijak permukaan keras, membuat retak radius sepuluh meter. Bersiap mengeluarkan pukulan.
"Gaya naga pertama; 第一龍式,藍色火息;
(Hembusan Nafas Api Biru!)"
SLASH! BUM!
Parmenas melangkah secepat kilat meluncurkan pukulan straight, tangan kanan itu terputus dalam sekejap setelah memukul. Parmenas terhempas oleh bara ledakan api biru, lalu mundur sepuluh meter. Dia menggerung waspada. Tebasan Lang sangat cepat. Ini berbahaya.
"Kemarilah anak muda. Bukankah tadi kau ingin membunuhku?" Lang memasang kuda-kuda, bersiap melangkah kilat.
SLASH! BUM!
Tangan kiri Parmenas terputus sekaligus terbakar efek ledakan. Kedua tangannya melepuh oleh api biru. Tidak bisa meregenerasi lagi. Parmenas meraung ketakutan.
ROARR!
Dia memutuskan mundur, pergi kabur. Berlari menjauhi Lang. Kabur secepat yang dia bisa. Parmenas bahkan bisa berlari secepat peluru.
Lang terkekeh, "Heh, jangan lari dariku!" Satu langkah, Lang sudah menyusul Parmenas kabur, keluar dari medan pertempuran di dalam markas Agensi. Mengayunkan goloknya dari samping ...
BLAR! BUM!
Parmenas kembali terhempas sejauh seratus meter. Kulitnya terbakar api biru, melepuh perlahan. Tak bisa padam. Membuatnya tidak bisa beregenerasi. Dia harus mencari cara agar bisa kabur dari kakek tua bangka itu.
Matanya melirik orang-orang yang berhasil hidup di halaman gedung arena. Dia segera melesat berlari ke sana.
"Heh, sudah kubilang jangan kabur anak muda!" Lang secepat kilat menyusul. Namun, Parmenas lebih dulu mendarat. Tepat di depan Jianying yang sedang membawa Luxia yang lemas. Tanah berdebam, membuat semua orang menjauhi sumber debaman itu.
Mulut Parmenas yang penuh taring, siap menerkam kepala Jianying utuh. Jianying sempat lengah, tidak sempat menghindar ...
Crot!
Sizhu lebih dulu menusukkan tongkat api ke tengah perutnya, membuat gerakan Parmenas terhenti. Batuk berdarah.
"Kerja bagus, nak!"
SLASH! SLASH! SLASH!
Kepala dan bagian tubuh Parmenas terbelah menjadi tiga. Api birunya membakar daging mayat besar itu. Membuatnya tidak bisa meregenerasi. Lang kembali menyarungkan golok panjangnya. Seketika sosok Lang berubah menjadi seperti biasa.
Dia menatap sekelilingnya. Banyak mayat manusia bergelimpangan dimana-mana. Tempat ini kacau sekali.
"Berapa orang yang berhasil selamat?" Dia bertanya pada salah satu Professor yang berdiri terdiam di sampingnya. Professor itu menghitung jumlah.
"Ada dua ratus lima puluh murid dari tiga ratus yang berhasil selamat, sisanya terluka berat maupun ringan. Tim penyembuh bisa menyembuhkan mereka." Professor itu memberi laporan. Lang mengangguk pelan. Mengusap wajah. Ini buruk sekali.
"Bagaimana keadaan Nona Luxia?" Sekarang pandangannya terlempar pada Jianying yang sedang membawa Luxia dengan kedua tangannya. Luxia menjawab lemah.
"Aku baik-baik saja. Hanya kehabisan sedikit mana. Terima kasih sudah membereskan sisanya Tetua Lang." Luxia berusaha memasang senyum lembut walau tubuhnya tampak pucat. Dia benar-benar kelelahan.
Lang mengangguk. "Sebaiknya kita bicarakan rencana kita selanjutnya. Markas pusat Agensi hancur karena pertempuran ku barusan. Kita harus segera mengadakan rapat lagi untuk membicarakan masalah ini."
Luxia mengangguk kecil. "Bisa bawakan aku ke rumah, Manajer Jianying?"
"Tentu saja Nona." Jianying segera pergi mengantarkan Nona Luxia ke rumahnya di puncak pegunungan paling tinggi. Melayang menggunakan batu segi lima.
"Kalian yang berhasil selamat, sebaiknya beristirahat. Kami akan mengurus sisa kekacauan. Akan ku beri libur sebulan untuk menghilangkan suasana buruk ini. Sebaiknya kalian segera pulang ke rumah masing-masing terlebih dahulu."
Murid-murid dan profesor mengangguk menyetujui ucapan Lang, guru besar mereka.
"Bagaimana dengan kelas kami guru besar?" Ashley bertanya. Sebelas murid itu tampak cemong oleh debu dan darah pertarungan. Mereka berkumpul mendekat di dekat Sizhu yang sedang berhadapan dengan Lang.
"Kalian pergilah berlibur. Professor kalian memiliki tugas penting saat ini. Kalian bisa tinggal di sini atau bersama-sama berlibur ke tempat lain. Akademi Sihir Qincheng akan membayar semua biaya perjalanan kalian. Ambil ini." Lang melempar sebuah kartu kredit pada Ashley. Ashley menangkapnya. Sebenarnya dia tidak butuh uang. Hanya sekedar bertanya saja.
Tatapan Lang berpindah pada anak bermata hijau zamrud. "Sizhu, kau akan pergi denganku. Setelah itu kau boleh menyusul teman-temanmu berlibur."
Sizhu sedikit terkejut mendengarnya. Padahal berlibur itu menyenangkan. Dia sedikit enggan, protes menggeleng. Namun, tatapan tajam kakek Lang membuatnya berubah keputusan, mengangguk.
"B-baiklah."
Setelah kejadian itu, media menyebarkan berita pilu. Dan teror masih berlanjut.
***
"Rapat akan diadakan setelah Nona Luxia sudah pulih kembali. Nona Luxia harus memperbaiki kubah pelindung yang rusak. Tidak ada yang bisa, kecuali Nona." Jianying memberi laporan dari Lang. Lang yang menyuruhnya mengatakan itu. Karena memang salah satu bakat sihir terlangka adalah menciptakan kubah pelindung raksasa yang bisa menutup langit-langit kota. Dan hanya Luxia yang bisa.
Luxia mengangguk lemas di kasurnya. "Terima kasih Manajer Jianying. Kamu sudah boleh pergi."
Jianying menggeleng, "Saya pengawal pribadi Nona. Sudah menjadi kewajiban pengawal untuk menjaga tuannya. Apapun yang Nona butuhkan, bilang saja. Akan saya siapkan segera."
Luxia tersenyum. "Aku akan tidur sebentar. Manajer boleh melakukan apa saja di rumah ini."
Jianying menaikan selimut Luxia hingga wajah. Mengangguk paham.
"Selamat tidur, Nona." Berjalan meninggalkan kamar. Membiarkan Luxia tertidur.
Jianying menuju ruang tengah, membuka laptopnya. Dia mendapatkan pesan dari An. Pesan itu dikirim tadi subuh. Karena dia sibuk mengajar, dia tidak sempat membuka pesan itu. Apa katanya? Si bedebah itu memberitahu akan ada serangan pada seluruh kepala cabang, termasuk memberi tahu pada Lang dan Luxia.
Dia mengklik pesan dari An. Membacanya.
[Ini pesan khusus untuk sahabatku tercinta, Jianying Ren. Tehee~]
Membaca satu bait saja Jianying merasa kesal. Membayangkan An memasang wajah tanpa dosa itu. Sembari mengatakannya membuatnya jijik.
[Kau pasti akan kesal dan marah setelah kejadian nanti pagi. Aku sudah mengatakan semuanya pada seluruh petinggi Hunter Cina. Dan mereka memberiku izin. Aku adalah mata-mata ganda, Jianying. Tenang saja, semua akan sesuai rencana Nona Luxia. Kita akan mengalahkan Raja Fuchai dan organisasi Menschliche Evolution. Sekali tepuk, dua nyamuk. Hehe. Terakhir aku memintamu jangan mendendam dan membunuhku, karena hei! Siapa pula yang ingin bermain mata-mata? Aku dipaksa oleh para petinggi itu. Ini menyebalkan. Intinya aku ingin kau jangan membunuhku ok! Lokasi pedang Goujian akan ku kirim setelah penyerangan. Zheijian, tehee~]
Jianying menggebrak meja kesal. Ternyata selama ini dia bermain-main. Tapi, Nona Luxia merencanakan semua ini? Dan hanya dia yang tidak diberitahu. Itu mengejutkan. Kasihan An mempertaruhkan nyawanya untuk menjadi bedebah picik. Jianying menyengir, lebih baik dia mati di sana. Dasar bedebah.
Hacuh! ...
An bersin keras sekali, mengelap hidungnya. Liu menoleh.
"Kau sakit An?" tanyanya.
An menggeleng. "Sepertinya ada yang marah padaku." Menyengir.
Liu melambaikan tangan. "Jaga kesehatanmu hingga malam itu tiba." Lanjut melangkah, melewati koridor kapal besar. An terkekeh.
"Siap senior!"
Dia berjalan mengikuti Liu. An sebenarnya sedang diajak berkeliling kapal besar oleh Liu. Karena An baru saja menjadi rasul baru, pengganti Timon sebulan lalu. Luxia dan keputusan petinggi Hunter Cina yang suruh. Karena dia memang cocok menjadi agen mata-mata ganda.
Awalnya karena kasus obat-obatan yang tersebar luas dan beberapa penyihir yang muncul di kota Shanghai. Ternyata itu ulah anak buah 'bayangan' yang berusaha merencanakan penyerangan keluarga Tao. Namun selalu gagal. An iseng menyelidikinya. Dan mendapatkan hasil buntu. Tidak mendapatkan informasi berarti.
Baru saat penyerangan keluarga Tao dimulai, benang merah itu terlihat. 'Bayangan' itu adalah sebuah organisasi internasional yang besar dari Jerman. Kebetulan dia sudah mengenalnya lebih dahulu dibanding Luxia dan Jianying. Karena tertarik, dia memutuskan menggali lebih dalam tentang organisasi gelap itu. Ikut menjadi salah satu anggota palsu.
Mengejutkannya! Ternyata Liu, seniornya, sudah bergabung sejak sangat lama. Mungkin ada lebih dari lima tahun. Karena sebagai sesama Hunter kepala cabang, Liu merekomendasikan posisi Rasul yang kebetulan kosong lagi pada Tuan Muda Lucifer.
Dari situ An merasa ada yang tidak beres. Dia kira Menschliche Evolution hanya organisasi gelap sebatas ekonomi gelap. Ternyata lebih dari itu. Mereka berniat membebaskan monster, mengulangi bencana agung, memusnahkan kehidupan dengan iming-iming menciptakan kehidupan abadi untuk anggotanya.
Terlanjur nasi menjadi bubur. Dia sudah menjadi salah satu anggota, atau lebih tepatnya salah satu Rasul grup itu. Baru setelah investigasi rahasia bersama Jianying selesai, An menceritakan semuanya pada Luxia. Luxia merespon baik, dan berbagai rencana tak terduga, Luxia rancang. Membiarkan kekalahan hari ini untuk kemenangan esok hari.
Nasib, sekarang An harus menjadi sekutu musuh walau tak ingin. Dia harus akting sebaik mungkin di depan mereka. Terlebih, di depan seniornya yang lebih dulu masuk ke dalam Menschliche Evolution. Berakting itu berat.
Sejam berlalu, An selesai menghafal denah kapal besar ini. Tujuan mereka kota Hong Kong, atau lebih tepatnya, bersembunyi di bawah laut. Misi An dari Hunter kali ini adalah mencari keberadaan Raja Fuchai yang tersegel. Baru setelah itu, dia akan mengirim pesan pada Agensi dan memulai penyerangan. Begitu rencana yang Luxia buat.
An juga yang membocorkan rencana penyerangan hari ini pada seluruh anggota Hunter. Karena itu para Hunter pergi dari markas pusat. Menyisakan Lang, Luxia, dan Jianying yang menonton pertandingan evaluasi mingguan. Dan korban Hunter tidak berkurang drastis. Walaupun beberapa murid akademi menjadi korban.
Bruk!
"Wahai, Kau sudah bekerja keras ... Timon."
An tidak sengaja menubruk badan Tuan Muda Lucifer karena sibuk melihat isi kapal. Seketika membuatnya salah tingkah. Menggaruk kepala yang tak gatal.
"Eh, eh, ya, maafkan saya Tuan Lucifer. Saya terlalu antusias berkeliling sehingga tidak sadar menubruk tuan." An segera membungkuk hormat, meminta maaf. Dibalas lambaian tangan oleh Lucifer.
Apa aku akan mati? Apa aku akan mati?
Kaki An bergemetaran merasakan tangan Lucifer akan menyentuhnya. Menutup mata tak ingin melihat.
Puk. Puk.
Eh?
Lucifer menepuk pundak An beberapa kali.
"Beristirahatlah, pasti lelah selalu berpura-pura."
Lucifer melenggang melewatinya, diikuti pengawal pribadinya, Rasul Stefanus yang memberinya tatapan tajam saat melewatinya.
Kulit An pucat ketakutan. Mama aku ingin pulang! Menjerit dalam hati.
***
19 Mei 2023
"Ayo Sizhu, lebih cepat!"
Lang dan Sizhu berlari secepat macan, menaiki lembah gunung di pegunungan Xi'an. Setelah kejadian kemarin, Lang membawanya ke kediaman keluarga Zen. Kai ikut ayahnya karena ingin menemani Sizhu. Dan siang ini, Sizhu diajak berlari oleh ayah Kai. Entah apa tujuannya. Mereka sudah berlari dua jam tanpa henti, tanpa jeda, tanpa mengurangi kecepatan lari sedikit pun.
Sizhu mengatur nafas sembari menyusul ayah Kai berlari. Kakek tua bangka itu bugar sekali tubuhnya. Tidak terlihat seperti kakek-kakek pada umumnya. Padahal dia sudah berumur seabad lebih. Tapi penampilannya seperti baru berumur lima puluh tahun dengan jenggot kumis merah muda dan rambut merah muda panjang. Mereka memiliki warna rambut yang aneh.
Tambah satu jam, akhirnya mereka sampai di tujuan. Sizhu tersengal, mengatur nafas. Dasar monster tua.
"Apa gurumu Lao Tzu tidak pernah mengajarimu melatih fisik?" Lang bertanya. Lihat, satu butir peluh pun tak ada. Bahkan baju jubah besarnya kering. Dia tidak menunjukkan tanda-tanda lelah untuk pria tua seumurnya.
Sizhu menggeleng, "Guruku lebih parah lagi. Beliau menyuruh ku berlari menyusuri sungai hingga muara. Setelah itu kembali sebelum matahari tenggelam. Jika tidak, aku tidak akan diberi jatah makan."
Lang terkekeh, "Gurumu memang keras wataknya. Karena dialah pendekar terhebat di zamannya. Ada yang aku ingin tunjukan padamu Sizhu. Tentang warisan janji itu."
Sizhu melebar matanya, tertarik. Selama ini dia buntu mencari makna janji yang dimaksud gurunya. Karena ayah Kai kenal dengan guru, sepertinya dia tahu sesuatu.
Mereka memasuki sebuah paviliun kosong di tengah lembah hutan. Ajaibnya, walau pun tak pernah diisi, tempat itu sangat rapih dan bersih, seperti ada yang membersihkannya setiap hari. Halaman luar paviliun itu juga sama bersihnya. Indah dengan nuansa paviliun Cina yang khas.
Lang membuka pintu, memasuki ruang depan yang tersambung langsung dengan ruang tengah luas. Ada berbagai senjata di situ, dimulai dari yang antik, hingga pedang dan panah. Dipajang di dinding kayu coklat.
Perabotannya sederhana, rata-rata terbuat dari kayu. Bantal-bantal empuk menanti di kursi kayu. Gulungan-gulungan kertas tersimpan rapih di rak. Ada dua kamar di sana, satu di atas lantai dua. Satu lagi dekat dapur yang menyatu dengan ruang tengah. Di luar kanan paviliun ada sebuah kolam batu, asri natural alami. Pohon-pohon bambu hijau menjadi pemandangan indah background kolam itu.
"Dulu, sebelum gurumu menyendiri di tengah hutan. Dia sempat tinggal di sini beberapa tahun."
Sizhu mengangguk, menengok-nengok sekitar. Aroma yang khas tercium. Ini aroma pewangi ruangan yang selalu digunakan gurunya. Sebuah batang kayu gaharu kecil, menjadi dekorasi di atas meja kayu bundar. Kayu gaharu itu juga dulunya ada di gubuk tempat tinggal Sizhu. Rasa nostalgia dan kenangan sepuluh tahun lalu seketika berkelebat di kepala. Tersenyum tipis.
Lang mengambil sebuah gulungan kertas. Melemparnya pada Sizhu. Sizhu menangkapnya, membuka gulungan lembaran khas Cina itu.
"Bukalah, setelah itu, laksanakan wasiat gurumu, Sizhu."
***
/Facepalm/