Apakah kamu percaya cerita Cinderella?
Amina Arafat hanyalah seorang gadis yatim piatu, imigran dari Palestina dan tinggal bersama paman bibinya serta sepupunya di Brussels Belgia. Amina memiliki wajah cantik yang khas, membuat Akira Léopold, putra mahkota kerajaan Belgia, jatuh cinta pada pandangan pertama.
Amina yang merasa tidak pantas bersanding dengan seorang pangeran dan putra mahkota, mencoba menjauh dari Akira tapi dia salah. Akira adalah keturunan Léopold yang tidak akan menyerah begitu saja demi mendapatkan wanita yang sudah mencuri hatinya sejak bangku sekolah.
Generasi 8 klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akira Menemui Ferina
Amina tersipu mendengar pujian Akira yang kedengarannya agak cheesy tapi dia percaya, itu pujian dari hatinya. Tanpa sadar, pipinya pun merona, membuat Akira tertawa melihatnya.
"Lho, tapi memang benar Mina. Aku sangat senang kamu sudah berani melawan orang yang menindas kamu. Aku bangga sama kamu!" senyum Akira.
Siapa yang tidak bakalan meleleh jika diberikan senyuman oleh pangeran yang paling diincar di Belgia dan Eropa selain pangeran Nicholas dari Inggris, pangeran Brayden, pangeran Andre de la Borde dari Denmark, pangeran Marcell Eriksson dari Swedia dan pangeran Alois of Liechtenstein.
"Akira ... jangan terlalu banyak memuji aku."
"Kenapa?"
Amina menatap Akira dengan tidak nyaman. "Aku hanya wanita biasa, Akira. Aku tidak pantas di istana ... Apa kamu tahu, keluarga kamu memakai bahasa Jerman karena tahu aku berantakan bahasa Perancisnya dan Belanda aku begitulah? Aku merasa tidak enak!"
"Sayang, dengarkan aku. Dulu Oma Zee juga sama. Bahasa Belanda Oma Zee berantakan tapi memang bisa bahasa Perancis dan Jerman karena sekolah di Swiss. Mau tidak mau kan? Jangan menyerah, Mina. Kamu tidak tahu saja jika keluarga besar aku kumpul, kamu akan melihat mini PBB karena semua bahasa ada!" senyum Akira.
"Benarkah?"
"Oui. Kami biasa bahasa netral itu Inggris dan Indonesia, tapi kalau sudah ngobrol bisa campur aduk bahasa Belanda, Jerman, Perancis, Jepang. Korea, Mandarin dan ada Russia juga karena sepupuku keturunan Russia apalagi ibunya dosen sastra Russia di Jakarta. Oh, Oma aku yang di New York malah kalau ngomong bisa satu tarikan nafas Indonesia, Jawa, Inggris, Jerman dan Perancis. Opa aku juga sama tapi ya ... Keluarga aku memang wajib menjadi poliglot."
Amina menatap Akira dengan wajah kagum. "Kalian tidak bingung?"
"Sudah biasa!" gelak Akira.
Amina menggeleng. "Pasti rusuh ya?"
"Rusuh tapi seru ... Alhamdulillah, kami tidak ada anomali yang tiba-tiba jadi biang kerok yang bisa dicoret dari daftar keluarga." Akira tersenyum. "Kamu tidak usah khawatir. Keluarga aku baik-baik semua kok."
Amina hanya mengangguk. "Akira ...."
"Apa sayang?"
"Apa kamu ... Hendak melakukan sesuatu pada Ferina?" Mata hazel Amina menatap cemas.
Akira melepaskan pelukannya dan mengajak Amina berjalan-jalan di taman yang indah itu.
"Ada saatnya aku hendak melakukan sesuatu. Tidak sekarang. Aku hanya ingin membuatnya kapok."
Amina menatap Akira. "Dia sangat terobsesi padamu."
"Siapa yang tidak?" jawab Akira tanpa bermaksud menyombongkan diri. "Gelar aku pangeran, calon putra mahkota, kaya raya ... Semua gadis pasti mengincar aku kan?"
"Tapi tidak aku, Akira."
Akira tertawa. "Tidak kamu. Heran aku ... kenapa?"
"Karena aku tahu diri, Akira. Aku hanya gadis imigran. Siapa lah aku yang membuat seorang pangeran tertarik," jawab Amina.
"Justru karena kamu itu berbeda, makanya aku tertarik! Kamu memiliki sesuatu yang membuat aku tidak bisa berpaling, Mina. Dan insting aku benar. Kamu tidak hanya cantik fisik tapi juga cantik hati. Sungguh aku tidak tahu kegiatan amal kamu, Mina. Kamu tidak pernah bercerita padaku!" Akira menoleh ke arah Amina.
"Tidak perlu semuanya aku ceritakan bukan? Itu bukan apa-apa. Aku tidak mau terlihat riya' padahal itu memang keinginan aku."
"Bukan apa-apa? Yang benar saja Mina!"
"Akira ... Jangan membuat aku tersanjung," bisik Amina.
Akira memeluk bahu Amina dan mencium pelipisnya. "You're the best for me."
Amina tersenyum kikuk. Bolehkah aku bilang aku macam Cinderella yang dicintai seperti ini oleh seorang pangeran yang tidak perlu mencari pemilik sepatu kaca?
"Aku minta ... Kamu jangan sampai membuat Ferina terluka."
Akira menaikkan sebelah alisnya. "Hei, aku pantang main tangan ke wanita! Aku hanya memberikan batasan! Itu saja!"
"Jangan sampai kamu kena skandal, Akira."
"Kamu tenang saja."
Akira lalu mengajak Amina kembali ke istana dan dia mengantarkan gadis itu ke rumahnya setelah berpamitan dengan semua anggota keluarganya. Akira merasa lega karena kedua orangtuanya terutama ayahnya, tampak setuju dirinya bersama Amina. Biasanya Arsyanendra sangat judes dan teliti soal siapa teman anak-anaknya. Tapi kali ini tidak.
"Menurutmu, apa Akira dan Amina serius?" tanya Sean ke Zinnia.
"Akira dan Amina masih dua puluh tahun, Sean. Tapi mengingat selama lima tahun ini Akira sangat setia bersama Amina meskipun terpisah karena pendidikan, itu sudah membuktikannya," jawab Zinnia.
"Kamu setuju dengan pilihan Akira?" Sean tampak terkejut saat tahu Zinnia tidak menolak jika Akira bersama Amina.
"Amina anak baik, Sean. Jonah kan selalu laporan ke aku dan Vio. Dia bukan tipe gadis neko-neko dan selama kuliah isinya hanya kampus perpus rumah sakit. Itu saja. Amina punya banyak teman tapi menjaga jarak. Dengan Jake Hamm dekat tapi lebih ke Jake yang melindungi Amina atas permintaan Akira," jawab Zinnia.
"Kalian itu ternyata sudah tahu banyak."
Zinnia tersenyum manis.
***
Di hari Senin, Akira mendatangi markas militer dimana Ferina ditugaskan. Dia tahu Ferina masuk ke Royal Military Academy tapi karena masuknya beda jurusan, mereka tidak pernah bertemu. Ditambah Akira dikirim ke Bologna sementara Ferina tetap di Belgia tapi di Antwerp.
Akira datang bersama dengan dua pengawalnya dan Jendral pemimpin markas itu pun menyambut pangeran Belgia itu. Ferina pun dipanggil dan dia langsung senang saat tahu siapa yang mencarinya. Mereka berdua berada di ruang pertemuan yang tertutup.
"Akira!" seru Ferina senang dan hendak memeluk Akira namun pria itu langsung memasang wajah dingin dan memberikan jarak dimana Ferina tahu dia harus menahan diri.
"Kamu ditugaskan disini?" tanya Akira.
"Iya ... Kamu akan ditempatkan disini juga?" tanya Ferina penuh harap.
"Tidak. Aku kemari hanya ingin bilang, kamu tidak akan pernah diundang ke acara kerajaan seumur hidup kamu! Tidak hanya itu, jika ada insiden lagi, gelar lady kamu akan dicabut!"
Ferina melongo. "Apa gara-gara kemarin? Dengar Akira! Anak imigran itu yang menampar aku terlebih dahulu! Bukan salahku!"
"Apa yang kamu ucapkan pada Amina? Namanya Amina! Bukan anak imigran!" desis Akira dengan wajah dingin.
"Apa yang aku ucapkan? Hah! Dia kan pel4cur kamu! Dia memberikan tubuhnya ke kamu kan?" ejek Ferina.
"Biasanya orang yang mengatakan begitu, hanya menutupi apa keinginannya! Apakah kamu ingin tidur denganku?" Akira menatap Ferina.
Wajah Ferina tampak gugup.
"Seorang lady tidak akan bersikap seperti gadis murahan macam kamu! Aku ulangi sekali lagi ucapan aku dari lima tahun lalu. Aku tidak pernah tertarik padamu! Tidak pernah! Camkan itu!" bentak Akira.
"Tapi ... Aku berdarah Belgia asli!" eyel Ferina.
"AKU TIDAK PEDULI! Aku tidak pernah suka padamu, Fermipan!"
***
Yuhuuu up malam yaaaaa.
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu