Riko Permana, demi gadis yang dicintainya, rela meninggalkan cita-cita menjadi seorang polisi. Melepas beasiswa yang diberikan negara. Ia mundur, sengaja mengalah. Sengaja membiarkan nilainya menjadi buruk demi memuluskan jalan calon kakak iparnya.
Profesor pembimbing kecewa dan ia merasa bersalah. Hanya satu yg membuat ia bahagia: bisa menikah dengan wanita yang sangat dicintainya.
Akan tetapi, apa yang terjadi kemudian? Dirumah mertua ia diperlakukan layaknya budak, dihina dan dipermalukan. Istri yang dicintai tidak membela malah ikut merendahkan.
Puncaknya adalah ketika ia mengetahui bahwa sang istri berselingkuh secara terang-terangan di hadapannya.
Pria yang menertawakan kebodohannya sendiri. Istri yang selama satu tahun pernikahan tidak mau disentuh, kenapa dia tidak sadar sama sekali?
"Cukup sudah! Seluruh cintaku sudah habis. Aku akan tunjukkan pada semua, aku bukan orang yang bisa mereka hina begitu saja. Mereka yang telah menghinaku, akan bertekuk lutut di hadapanku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Pukulan telak
.
Suasana butik perhiasan itu berubah mencekam.
Riuh ejekan pengunjung masih menggantung di udara, menusuk harga diri Aldo dan Nyonya Ratna tanpa ampun. Aldo berdiri kaku, kartu kreditnya masih berada di tangan kasir, sementara wajahnya pucat pasi seolah seluruh darahnya menguap dalam sekejap.
“Huu… uuu…,” suara sumbang kembali terdengar.
“Modal tampang doang!”
“Ngaku-ngaku kaya, ternyata zonk!”
Setiap tawa itu terdengar seperti palu godam yang menghantam dada Aldo. Napasnya memburu. Pandangannya berkunang-kunang. Untuk pertama kalinya, ia merasa telanjang, bukan tubuhnya, melainkan kebohongannya yang terbuka di hadapan dunia.
Nyonya Ratna gemetar. Tangannya mencengkeram tas mahalnya erat-erat, seolah itu satu-satunya hal yang masih bisa ia banggakan. Kuku-kukunya menekan kulit tas sampai memutih. Matanya liar, menoleh ke sana kemari, mencari satu wajah yang masih memihaknya, namun tak ada.
“Diam kalian semua!” bentaknya histeris, namun suaranya terdengar rapuh. Ia menoleh ke arah Riko, tatapannya penuh amarah dan malu yang bercampur. “Jangan senang dulu! Kau pikir kau menang hanya karena satu kartu hitam itu?!”
Nada suaranya tinggi, namun di baliknya terselip ketakutan yang tak bisa ia sembunyikan. Ketakutan bahwa dunia yang selama ini ia bangun di atas penghinaan… runtuh di depan mata.
Riko yang sejak tadi berdiri tenang, akhirnya melangkah maju satu langkah.
Tap… tap…
Suara sepatu kulitnya terdengar jelas, seakan menghitung detik kehancuran mereka. Setiap langkahnya membuat udara terasa semakin berat.
“Satu kartu?” Riko tersenyum tipis, senyum yang dingin dan tajam. “Nyonya Ratna… Anda terlalu meremehkan dunia yang tidak Anda pahami.”
Ya, itulah yang tidak semua orang ketahui. Bekerja di SENTINEL, Riko mendapatkan gaji yang besar. Dan ia selalu menggunakan separuh dari gajinya untuk bermain di pasar saham. Otaknya yang jeli membaca situasi bursa, membuat dia selalu mendapat keuntungan besar.
Mungkin hanya dirinya dan profesor Rahmat yang tahu, dia bukan hanya sekedar asisten, tapi juga pemilik saham di berbagai perusahaan besar. Bahkan Bu Maryam, ibunya pun tidak tahu. Putranya, yang dulunya hanya seorang anak bersahaja, penyayang dan rendah hati, sesungguhnya telah menjadi seorang bos di balik layar.
“Apa maksudmu?!” Aldo membentak, berusaha menutupi kepanikannya. “Jangan sok hebat! Kau cuma mantan pelayan!”
Ucapan itu terlontar refleks, jeritan seseorang yang sedang tenggelam dan mencoba menyeret orang lain bersamanya.
Riko melangkah dan berhenti tepat di depan Aldo. Tatapan matanya turun perlahan, membuat Aldo refleks menelan ludah. Jarak mereka begitu dekat hingga Aldo bisa melihat pantulan dirinya sendiri di mata Riko, kecil, pucat, dan menyedihkan.
“Mantan pelayan?” ulang Riko pelan. “Benar. Dan dari bawah itulah aku belajar satu hal.”
“Apa?” Laras berbisik tanpa sadar. Suaranya hampir tak terdengar, seolah ia takut kata itu akan mengundang kenyataan yang belum siap ia terima.
“Bahwa orang yang paling berisik merendahkan orang lain… biasanya yang paling rapuh ketika kebenaran datang.”
Deg.
Laras menggenggam dadanya. Ucapan itu menghantam tepat ke ulu hatinya. Kenangan masa lalu berkelebat, Riko yang dulu selalu menunduk, selalu mengalah, selalu menuruti semua keinginannya, dan selalu menyayangi dirinya dengan tulus, hingga begitu mudah dimanfaatkan. Kini… pria itu berdiri tegak, sementara mereka perlahan runtuh.
Belum sempat siapa pun membalas, suara deru mesin tiba-tiba terdengar dari luar butik.
Brrrmmm… brrrmmm…
Satu mobil hitam mewah berhenti tepat di depan pintu kaca. Disusul mobil kedua. Ketiga. Keempat.
Rolls-Royce. Mercedes-Maybach. Bentley. Deretan mobil yang membuat seluruh pengunjung terdiam. Beberapa orang bahkan tanpa sadar mundur selangkah.
Nyonya Ratna menatap ke arah pintu dengan napas terputus-putus. Dalam hatinya muncul firasat buruk, amat buruk.
Pintu mobil terbuka hampir bersamaan.
Beberapa pria dan wanita berpakaian formal turun dengan langkah cepat dan penuh wibawa. Jas hitam rapi, sepatu mengkilap, dan ekspresi hormat di wajah mereka. Bukan hormat palsu. Bukan basa-basi. Ini hormat yang lahir dari hierarki kekuasaan.
Pintu toko dibuka lebar.
“Permisi,” ucap seorang pria paruh baya dengan suara tegas. Matanya langsung tertuju pada Riko. Ia membungkuk sedikit.
“Tuan Riko.”
Satu kata itu menghantam ruangan seperti petir.
'Tuan'.
Semua mata membelalak.
Dunia Nyonya Ratna seperti berhenti berputar. Kata itu bergaung di kepalanya, mematahkan satu demi satu kesombongan yang selama ini ia banggakan.
Pria-pria lain ikut menunduk.
“Kami sudah menunggu di luar, Tuan. Rapat dewan direksi sudah siap.”
“Aku sudah katakan sedang ingin berlibur. Kenapa menggangguku?” Suara Riko terdengar dingin, menatap ke arah pria berjas yang masih menunduk menunggu.
"Maaf, Tuan. Rapat kali ini membutuhkan kehadiran Anda,” jawab pria berjas membuat Riko menghela nafas berat.
Sementara Aldo? Pria itu masih mencoba mencerna laporan yang ia dengar dari orang yang kini berdiri di hadapan Riko. ‘Rapat direksi’. Kata itu membuat Aldo nyaris muntah darah. Ia menatap Riko dengan mata merah, penuh penyesalan yang terlambat. Selama ini ia mengira dirinya berada di puncak, padahal Riko bahkan belum pernah memamerkan gunung yang ia pijak.
Kaki Nyonya Ratna melemas.
“A… apa?” bibirnya gemetar “Tuan… Riko?”
Pemilik toko sampai menegakkan badan, wajahnya dipenuhi rasa penasaran. “T-Tuan Riko… jadi Anda adalah…?”
Riko menoleh sekilas. “Pemegang saham mayoritas grup internasional yang menaungi toko ini.” Nada suaranya datar. Mematikan. Kalimat itu seperti vonis mati.
Bruk.
Aldo jatuh berlutut. Lututnya menghantam lantai dingin tanpa ia sadari. Dadanya sesak. Tenggorokannya terasa O.
“Tidak… ini tidak mungkin…” suaranya pecah. “Aku… aku aktor terkenal…” Air mata menggantung, bukan karena cinta, tapi karena kehancuran harga diri yang tak bisa diselamatkan.
Riko menatapnya dingin. “Aktor terkenal… yang kartunya ditolak di toko milikku.”
Setiap kata Riko seperti pisau yang memotong sisa-sisa kebanggaan Aldo. Ia menunduk, bahunya bergetar. Penyesalan itu nyata, tercetak jelas di wajahnya.
Laras tak kuasa menahan diri. Ia maju dengan langkah gemetar. “Riko… aku… aku salah…” air matanya jatuh. “Aku tidak tahu kau akan menjadi sebesar ini. Kita bisa bicara, kan? Kita bisa...”
“Tidak,” potong Riko tanpa emosi. Satu kata. Tegas. Final. Ia menoleh, menatap Laras lurus-lurus.
“Kau meninggalkanku bukan karena miskin. Tapi karena kau memilih menginjak orang yang kau anggap rendah. Memanfaatkan aku tanpa ampun. Lalu membuang dikala tak lagi butuh!”
Kalimat itu membuat Laras benar-benar runtuh. Ia terisak dan ikut berlutut. “Maafkan aku… aku mohon…”
Nyonya Ratna akhirnya tak sanggup lagi berdiri. Ia ikut terduduk, tas mahalnya terlepas dari tangan. Matanya basah, bukan oleh air mata manipulasi, melainkan penyesalan yang telanjang. Grup internasional. Bukankah itu artinya grup Darmawan milik suaminya juga termasuk di bawah Riko?
“Tuan Riko… saya salah… saya mohon… dulu saya hanya...”
“Cukup,” Riko mengangkat tangan.
Seluruh ruangan senyap. “Kalian ingin menjilat setelah menghina?” ucapnya dingin. “Ingin mendekat setelah tahu siapa aku?”
Ia menunduk sedikit, suaranya merendah namun justru semakin mengerikan. “Aku tidak butuh pengakuan kalian. Seharusnya, kalian masih punya hutang berlutut di hadapan ibuku. Tapi aku tidak butuh itu. Kalian bahkan tidak layak menyentuh kaki ibuku."
Ia menoleh ke rombongan pria bersetelan formal. “Kita pergi!"
“Baik, Tuan.”
Riko menggenggam tangan ibunya lembut. "Ayo pulang, Bu." Wajahnya yang semula datar dan dingin ketika berhadapan dengan semua orang, seketika berubah lembut dan manis kala berhadapan dengan ibunya. "Kita tidak pantas berada di dekat orang-orang seperti mereka."
Saat Riko melangkah keluar, Nyonya Ratna menjerit. “Tunggu! Tolong! Jangan hancurkan kami!”
Riko berhenti sejenak tanpa menoleh. “Aku tidak menghancurkan kalian. Kalian sudah hancur sejak memilih merendahkan orang lain.” Ia melangkah lagi.
Pintu toko tertutup.
Deru mesin mobil mewah kembali terdengar, menjauh perlahan.
Di dalam butik, Aldo terduduk lemas dengan tatapan kosong, ketakutan tercetak jelas di matanya. Laras menangis dalam diam, dan Nyonya Ratna hanya bisa memandangi lantai, tempat harga diri mereka runtuh selamanya.
aduh.. kalo sampai terjadi apes berkali-kali si laras
ditambah emaknya model itu lagi
mungkin emaknya aja yg dijual 😅😅😅
🤭😁😁😁😄