Hana dan Aldo mempunyai seorang anak laki-laki bernama Kenzo. Mereka adalah sepasang suami istri yang telah menikah selama 6 tahun, Kenzo berusia 5 tahun lebih dan sangat pandai berbicara. Kehidupan Hana dan Aldo sangat terjamin secara materi, Aldo mempunyai perusahaan batu bara di kota kalimantan...kehidupan rumah tangga mereka sangat rukun dan harmonis, hingga suatu hari musibah itu menimpa dalam rumah tangga mereka...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VISEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20 pertengkaran Aldo Dan Sari
Hana dan Sari saling menatap dengan tatapan yang penuh arti. Aldo menatap wajah Hana yang tegang, Aldo bisa merasakan ada perasaan tidak nyaman dalam hati Hana.
Aldo: "Maafkan aku, Hana. Sari memaksa ingin ikut denganku." ucapnya dengan perasaan tidak nyaman. "Aku hanya bisa menemui Kenzo di sini." ucapnya lagi.
Hana: "Tidak apa-apa, mas. Aku harus terbiasa." ucapnya dengan suara berat. "Aku akan menunggu di luar." ucapnya sambil melangkah dengan terburu-buru meninggalkan ruangan Kenzo. Sari menatap kepergian Hana dengan tatapan sinis, Sari ikut keluar dari ruangan itu menemui Hana.
Sari: "Apa kabar, Hana?" tanyanya sambil tersenyum tipis.
Hana: "Sangat baik, Sari." ucapnya dengan wajah ketus. "Wanita tidak tahu malu, beraninya muncul di hadapanku." batinnya.
Sari: "Wajahmu sangat tegang, Hana." ucapnya sambil menatap wajah Hana dalam-dalam. "Apakah kamu tidak memberiku ucapan selamat, Hana?" tanyanya.
Hana: "Untuk apa?" tanyanya.
Sari: "Untuk bayi yang ada di dalam kandunganku ini." ucapnya sambil mengelus perutnya yang mulai membesar. "Ini adalah anak mas Aldo." ucapnya lagi dengan rasa bangga. Hana menatap perut Sari dengan tatapan sinis dan kesal, namun ia berusaha menyembunyikan kekesalannya di depan Sari.
Hana: "Ucapan selamat hanya untuk wanita terhormat. Bukan untuk wanita perampas suami wanita lain." ucapnya dengan tajam dan tatapan sinis.
Sari: "Maafkan aku, Hana. Mas Aldo sangat menggoda imanku." sahutnya dengan nada mengejek. "Selama kita berteman, kamu selalu mendapatkan keinginanmu. Aku selalu mengalah padamu, Hana." ucapnya dengan suara lantang. "Mas Aldo adalah cinta pertamaku. Aku lebih dulu mengenalnya, dan kamu mengambilnya dariku." ucapnya dengan penuh amarah. "Bertahun-tahun aku memendam perasaan cinta pada mas Aldo. Aku sangat tersiksa dengan kemesraan kalian dulu." ucapnya lagi. Hana terkejut mendengar penuturan Sari, ia tidak menyangka jika selama bersama dengan Aldo, Sari diam-diam mencintai Aldo.
Hana: "Aku tidak ingin membahas masa lalu. Kamu sudah memiliki Aldo sekarang." ucapnya dengan tegas.
Sari: "Aku puas telah merampasnya darimu, Hana. Aku bahagia bersama dengan mas Aldo." ucapnya dengan bangga.
Hana: "Pada akhirnya, kamu mendapat sisa dariku." ucapnya sambil tersenyum sinis. "Aku lebih dulu merasakan kehangatan tubuh Aldo." ucapnya lagi. Sari menatap wajah Hana dengan penuh kekesalan, perkataan Hana telah menembus ke ruang hatinya yang paling dalam. Sebuah kebenaran bahwa Sari mendapatkan saat Aldo lebih dulu menikahi Hana.
Sari: "Tidak penting bagiku, karena sekarang mas Aldo adalah milikku." ucapnya sambil menatap wajah Hana dengan tatapan tajam.
Hana: "Perkataanmu membuktikan, bahwa kamu selalu mendapatkan sisa dariku." ucapnya dengan tenang. Hana berbalik, ia melangkah dengan terburu-buru meninggalkan Sari yang terlihat kesal padanya. Sari menatapnya dengan penuh kebencian dan kekesalan. Aldo keluar dari dalam ruangan Kenzo, Aldo menatap wajah Sari yang terlihat kesal.
Aldo: "Di mana Hana? Apakah kalian bertengkar?" tanyanya dengan rasa ingin tahu.
Sari: "Aku tidak tahu di mana Hana. Aku bukan satpamnya." teriaknya. "Mengapa kamu mencari Hana? Bukankah aku ada di sini?" tanyanya dengan kesal.
Aldo: "Mengapa kamu marah?" tanyanya dengan heran. "Aku hanya bertanya, Sari." ucapnya. "Sebaiknya kita pulang." ucapnya lagi. Aldo memegang tangan Sari dan melangkah dengan terburu-buru meninggalkan ruangan rumah sakit itu. Sedangkan Hana sedang duduk di ruang tunggu apotik. Aldo melihat Hana yang sedang duduk, ia menghampiri Hana walaupun Sari berusaha menghalanginya.
Aldo: "Aku pulang, ya , Hana. Kenzo sedang menunggumu di ruangannya." ucapnya sambil menatap wajah Hana dengan tatapan dalam. Hana menganggukkan kepalanya lalu melangkah meninggalkan Aldo dan Sari.
Sari: "Kamu lihat, mas. Ia tidak menjawabmu. Jangan bicara lagi padanya." ucapnya dengan kesal. "Jangan menemuinya lagi, mas." ucapnya dengan suara lantang.
Aldo: "Aku tidak menemuinya, Sari. Aku menemui putraku yang sedang sakit." ucapnya dengan membela diri. "Hana juga tidak sudi melihatku lagi, setelah apa yang kita lakukan padanya." ucapnya lagi dengan penuh kesadaran.
Aldo: "Kamu selalu membelanya, mas. Aku tidak suka, ya." ucapnya dengan kesal sambil berjalan meninggalkan ruangan rumah sakit itu. Aldo mengikuti Sari dari belakang. Mereka sampai di tempat parkiran dan masuk ke dalam mobil.
Sari: "Aku tidak ingin kamu menemui Hana lagi dalam keadaan apapun, mas." ucapnya dengan kesal. "Kalau perlu, kita pindah saja di luar kota." ucapnya dengan penuh amarah.
Aldo: "Pikirkan pekerjaanku, Sari." ucapnya. "Jika bukan karena Kenzo, aku dan Hana tidak akan bertemu." ucapnya. "Ada ikatan di antara kami berdua, yaitu Kenzo." ucapnya lagi. Di dalam mobil, Sari dan Aldo terus berdebat.
Sari: "Aku tidak ingin hidup dalam bayang-bayang Hana, mas. Kamu dan Hana sudah resmi berpisah." ucapnya dengan suara lantang.
Aldo: "Apa maksud ucapanmu, Sari? Bayang-bayang Hana?" tanyanya dengan heran.
Sari: "Hana mengejekku tadi, mas. Ia mengatakan bahwa aku mendapatkan sisanya." ucapnya dengan kesal. Aldo semakin tidak mengerti dengan perkataan Sari.
Aldo: "Aku tidak mengerti dengan ucapanmu, Sari." ucapnya. "Setau aku, Hana tidak mungkin mengatakan sesuatu yang menyakitkan jika bukan kamu yang memulainya." ucapnya dengan penuh keyakinan. Hati Sari semakin panas mendengar perkataan Aldo yang membela Hana.
Sari: "Maksud kamu, aku yang memulai pertengkaran ini? Mengapa kamu tidak pernah membelaku, mas?" tanyanya dengan suara yang lantang. Aldo menghentikan mobilnya di pinggir jalan, ia menatap wajah Sari yang memerah karena amarah.
Aldo: "Mengapa kamu emosi, Sari?" tanyanya dengan suara yang agak keras. "Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Aku mengenal Hana luar dalam. Hana wanita yang cukup pendiam dan lembut." ucapnya lagi.
Sari: "Terus saja kamu membelanya, mas." teriaknya. Sari membuka pintu mobil, lalu berlari kecil di pinggir jalan. Aldo mengejar dan memanggil Sari, namun Sari tidak memperdulikan teriakan Aldo.
Aldo: "Sari... Sari. Kembali ke mobil, Sari. Kamu bisa terjatuh." teriaknya dengan kencang. Sari terus saja berlari dengan kencang sambil memegang perutnya yang cukup besar. Aldo terus mengejar Sari, hingga akhirnya sebuah motor menyambar kaki Sari dan Sari terjatuh di tanah yang berbatu. Aldo yang melihat kejadian itu terkejut, ia terus berlari menghampiri Sari dan melihat Sari tergeletak di tanah. Pengendara motor yang menyambar kaki Sari telah melarikan diri.
Sari: "Aduh, perutku sakit." ucapnya sambil menahan rasa sakit di perutnya.
Aldo: "Sari... Sari." ucapnya sambil memegang perut Sari.
Sari: "Bawa aku ke rumah sakit, mas. Perutku sakit sekali." ucapnya pelan.
Aldo: "Iya, Sari." sahutnya. Aldo mengangkat tubuh Sari dengan pelan dan membawanya masuk ke dalam mobil. Setelah memastikan posisi Sari aman, Aldo melaju dengan mobilnya menuju ke rumah sakit tempat putranya dirawat karena hanya rumah sakit itu yang terdekat.
***********************************