Di Benua Sembilan Awan, takdir seseorang ditentukan oleh Pusaka Jiwa yang mereka bangkitkan. Li Tian, seorang murid luar yang gigih namun miskin, menjadi bahan tertawaan seluruh sekte ketika ia membangkitkan pusaka berupa sarung tangan perunggu kusam yang dianggap sampah tak berguna.
Namun, dunia buta akan kebenarannya. Di balik karat itu bersemayam Zu-Long, Roh Kaisar Naga Primordial yang pernah menguasai langit. Pusaka itu bukanlah sampah, melainkan Cakar Naga Pemutus Takdir, satu dari Sembilan Pusaka Kaisar legendaris dengan kemampuan mengerikan: melipatgandakan kekuatan penggunanya tanpa batas.
Menolak menyerah pada nasib sebagai "sampah", Li Tian bangkit. Dengan bimbingan Naga Purba yang angkuh dan tekad baja, ia bersiap menampar wajah para jenius sombong, melindungi orang-orang terkasih, dan mendaki puncak kultivasi untuk menjadi Dewa Perang Terkuat.
Legenda seekor Naga yang membelah langit baru saja dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rampasan Sang Naga
Altar Pusat Hutan Sekte Dalam seharusnya menjadi zona aman tempat peserta menyerahkan bendera. Namun saat ini, tempat itu berubah menjadi zona bencana.
"Lari! Itu Ular Piton Batu!" "Zhao Feng gila! Dia membawa monster Tingkat 2 ke sini!"
Puluhan peserta yang sedang beristirahat atau menunggu rekan tim mereka berhamburan panik. Tanah bergetar hebat saat Ular Piton Batu sepanjang dua puluh meter itu menyeruduk pepohonan, matanya yang kuning reptil menyala dengan amarah pembunuh.
Di atas kepala ular itu, terselip di antara celah sisik batunya, sebuah Bendera Naga berkibar mengejek.
Zhao Feng berlari di depan, napasnya memburu. Rencananya berantakan. Dia mengira para Tetua akan turun tangan membunuh monster itu jika sudah dekat altar, tapi Tetua Guntur di langit hanya melipat tangan menonton.
"Sialan! Tetua tidak mau membantu?" umpat Zhao Feng. "Kalau begitu aku harus membunuhnya sendiri!"
Zhao Feng berbalik. Dia mengaktifkan Akar Roh Angin Tingkat 7-nya.
"Bilah Angin Pemotong Besi!"
Dia mengayunkan pedangnya, mengirimkan tiga gelombang udara tajam ke arah kepala ular itu.
Tang! Tang! Tang!
Serangan itu hanya meninggalkan goresan putih dangkal di sisik batu si ular. Serangan elemen angin Zhao Feng tidak cukup kuat untuk menembusnya.
SHAAA!
Ular itu menyemburkan kabut petrifikasi (pembatu) dari mulutnya. Zhao Feng melompat menghindar, tapi dua pengikutnya di belakang terkena semburan itu. Kaki mereka seketika berubah menjadi batu abu-abu, membuat mereka jatuh menjerit ketakutan.
"Tuan Muda! Tolong kami!"
Zhao Feng tidak menoleh. Dia terlalu sibuk menyelamatkan nyawanya sendiri. Ular itu mengibaskan ekornya, menghantam Zhao Feng hingga terpental menabrak pilar altar.
"Ugh..." Zhao Feng memuntahkan darah. Dia mencoba bangkit, tapi ular itu sudah mengangkat tubuh bagian depannya tinggi-tinggi, siap mematuk dan menelan Zhao Feng bulat-bulat.
"Tamat riwayatku," pikir Zhao Feng, matanya melebar ngeri.
Tiba-tiba, sebuah bayangan hitam jatuh dari langit, tepat di antara Zhao Feng dan ular itu.
"Minggir, Tuan Muda," suara tenang itu terdengar. "Kau menghalangi jalan."
Zhao Feng mendongak.
Li Tian berdiri membelakanginya. Jubah tempurnya berkibar. Tangan kanannya, yang terbungkus sarung tangan perunggu, terangkat menahan rahang bawah ular raksasa itu yang sedang meluncur turun.
BAM!
Tanah di bawah kaki Li Tian retak jaring laba-laba. Lututnya sedikit menekuk menahan beban berton-ton itu. Tapi dia tidak hancur.
"Li... Li Tian?!" Zhao Feng ternganga.
Ular itu mendesis marah, mencoba menekan lebih kuat.
"Berat juga," gerutu Li Tian, keringat menetes di pelipisnya.
"Sisik di lehernya, tujuh inci ke bawah," instruksi Zu-Long cepat. "Itu titik lemahnya. Tapi tertutup lapisan batu setebal tiga inci. Kau butuh daya hancur maksimal."
"Mengerti."
Li Tian menyeringai. Dia menatap mata ular itu.
"Maaf, sobat besar. Bendera itu milikku."
Li Tian menarik napas dalam. Dia memusatkan seluruh Qi-nya ke tangan kanan. Sarung tangan perunggunya mulai bergetar hebat, memancarkan cahaya hijau yang menyilaukan.
Dia tidak akan menahan diri. Dia akan menggunakan batas aman barunya.
"Gandakan..."
Jantungnya memompa darah seperti mesin uap.
"...Empat Kali!"
[GANDAKAN x4!]
Otot lengan kanan Li Tian membesar seketika, urat-uratnya menonjol seperti akar pohon tua. Namun kali ini, berkat Tulang Emas dan penguatan Besi Meteorit pada sarung tangannya, tidak ada darah yang menyembur. Tubuhnya mampu menahan beban kekuatan raksasa itu!
Li Tian menghentakkan ular itu ke atas, menciptakan celah sesaat.
Lalu, dia melompat.
"CAKAR PENGHANCUR!"
Kelima jari Li Tian, yang kini diselimuti aura cakar naga hijau transparan sepanjang setengah meter, menghujam tepat ke titik tujuh inci di leher ular itu.
KRAAAK!
Suara batu pecah terdengar seperti ledakan meriam.
Sisik batu yang kebal terhadap pedang angin Zhao Feng hancur berantakan seperti kerupuk. Tangan Li Tian menembus masuk, merobek daging, dan menghancurkan tulang leher ular itu.
SHAAA—
Jeritan ular itu terputus. Cahaya di matanya padam seketika.
Tubuh raksasa itu ambruk ke tanah dengan suara dentuman keras yang menggetarkan seluruh hutan. Debu membumbung tinggi.
Hening.
Seluruh peserta di sekitar Altar Pusat terpaku. Mulut mereka menganga lebar.
Li Tian mendarat dengan mulus di atas kepala bangkai ular itu. Dia mencabut Bendera Naga yang tertancap di sana.
"Dua bendera," kata Li Tian santai, mengibaskan darah ular dari sarung tangannya.
Dia kemudian melirik ke bawah, ke arah Zhao Feng yang masih terduduk di tanah dengan wajah pucat dan syok.
"Kau berhutang nyawa padaku, Zhao Feng," kata Li Tian dingin. "Tapi jangan khawatir, aku tidak minta bayaran. Bendera ini sudah cukup."
Wajah Zhao Feng berubah dari pucat menjadi merah padam karena malu. Dia, jenius Kota Awan Putih, diselamatkan oleh murid yang dia hina? Dan bendera yang dia kejar susah payah diambil begitu saja di depan matanya?
"Kau..." Zhao Feng menggertakkan gigi, tapi tidak bisa berkata apa-apa. Perbedaan kekuatan barusan terlalu nyata.
Di kejauhan, Su Yan baru saja tiba. Dia melihat bangkai ular itu, lalu melihat Li Tian yang berdiri gagah di atasnya.
Untuk pertama kalinya, sebuah senyum tipis—sangat tipis—muncul di wajah dingin Su Yan.
"Dia benar-benar Naga," gumam Su Yan.
TENG! TENG! TENG!
Lonceng matahari terbenam berbunyi.
Tetua Guntur turun ke altar. Wajahnya berseri-seri.
"Waktu habis! Ujian selesai!"
"Peringkat Pertama: Li Tian (2 Bendera, 1 Kill Boss)." "Peringkat Kedua: Su Yan (2 Bendera)." "Peringkat Ketiga: Wang... (1 Bendera)."
Zhao Feng, dengan nol bendera, terlempar dari 10 besar. Dia lulus, tapi dengan predikat terendah.
Li Tian melompat turun dari kepala ular. Dia berjalan menuju Tetua Guntur untuk menyerahkan benderanya. Langkahnya ringan, seolah beban dunia telah diangkat dari pundaknya.
Dia telah membuktikan diri. Dia bukan lagi sampah. Dia bukan lagi sekadar murid luar.
Mulai hari ini, dia adalah Murid Sekte Dalam. Dan pintu menuju dunia yang lebih luas baru saja terbuka lebar.
Di dalam jiwanya, Zu-Long tertawa bangga.
"Kerja bagus, nak. Tapi jangan terlalu nyaman. Di Sekte Dalam... monster yang sesungguhnya bukan berbentuk ular, tapi manusia."
Li Tian tersenyum. "Aku siap, Guru. Ayo kita guncang langit di atas langit."