Pertemanan dua keluarga tidak menjadikan Allegri dan Allegra akrab. Sejak kecil keduanya selalu berdebat dan membuat Allegra sebagai gadis mungil yang memiliki tubuh berisi menangis karena bullying yang di lakukan Allegri.
Allegra selalu memeluk Monica, mengadu pada wanita yang sudah ia anggap sebagai ibu kedua baginya setelah Giana.
Beberapa tahun berlalu keduanya telah dewasa. Kini Allegri menjadi pimpinan rumah yang di dirikan orang tuanya. Laki-laki tampan itu menjadi pemimpin yang terkenal dingin dan berdedikasi tinggi terhadap aturan yang telah ia tetapkan.
Allegra tidak bisa menolak ketika kedua orangtuanya Valentino dan Giana , meminta ia melanjutkan bekerja untuk mengabdikan diri dirumah sakit yang kini di pimpin Allegri.
Bagaimana saat keduanya menjadi rekan kerja? Apakah keduanya masih saling membenci?
Ikuti sekuel TERJEBAK CINTA MAFIA ini ya. Anak Monica-Luigi & Valentino-Giana. Semoga kalian suka.
Jangan lupa interaksi kalian di setiap bab, agar novel ini bisa berk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SALAH KAMAR
Allegra menaiki tangga menuju kamarnya. Tiba di lantai dua gadis itu langsung masuk ke kamar sesuai petunjuk Gabriel.
Kamarnya pintu ke tiga.
Alle langsung masuk ke dalam kamar. Sesaat terdiam di belakang pintu, mengusap dadanya yang masih berdebar-debar setelah yang ia alami bersama Allegri di luar.
Alle mendadak merasa panas, padahal cuaca Tuscany sangat dingin, namun mendadak tubuhnya berkeringat. Dan terasa lengket.
"Sebaiknya aku mandi membersihkan tubuh ku".
Allegra menuju salah satu pintu yang ada di kamar berukuran luas itu seraya membuka satu persatu kancing pakaiannya. "Aku ingin berendam dengan essentials lavender. Menghilangkan penat tubuh ku", ucap Alle sambil mengisi air di bathtub.
*
Hampir satu jam Alle melakukan ritual berendam, berusaha memejamkan matanya namun tidak bisa. Yang terus-menerus berkelebat di kepalanya kejadian beberapa waktu yang lalu terjatuh di atas tubuh Allegri.
Mereka begitu dekat. Alle bisa merasakan hembusan nafas Allegri dan harum parfum laki-laki itu. Beberapa waktu lalu di Sorot tajam Allegri tak nampak kebenciannya pada Alle.
Entah apa yang akan terjadi jika saja Gabriel tidak menyadarkan keduanya.
"Apa yang aku pikirkan. Demi Tuhan. Al tidak tidak menyukai ku sejak dulu, juga sekarang. Beberapa hari ini ia baik pada ku karena menghormati mommy dan daddy saja. Kami bekerja dengan profesional karena berada di lingkungan yang sama".
Allegra berdiri membilas tubuhnya di bawah kucuran shower.
Tanpa mengeringkan rambut dan tubuhnya gadis itu langsung memakai bathrobe berwarna putih yang ada di dalam lemari tertata rapi di sana.
Allegra menggelengkan kepalanya. "Kenapa juga aku berpikir yang tidak-tidak".
Gadis itu menepuk-nepuk keningnya hendak membuka pintu, tapi pintu kamar mandi terbuka sendiri.
"Oh my god..."
Alle berteriak kaget dengan netra terbelelak. Tubuhnya oleng, terpeleset karena tetesan air dari tubuhnya sendiri. Ternyata Allegri yang membuka pintu secara tiba-tiba dan mengagetkan Alle yang baru saja selesai mandi.
"Bruggh..
"Kauuu?!!!"
"Allegra...Apa yang kamu lakukan–"
"Kenapa kau di kamar ku? Keluar!!", ketus Alle melotot menatap Allegri yang lagi-lagi ia tindih.
"Oh my god...Kenapa tubuh mu basah!!!", teriak Alle dengan kedua mata terbelalak menatap Allegri yang bertelanjang dada dengan tubuh basah kuyup begitu.
"Aku baru selesai fitnes. Apa yang kau lakukan di kamar ku?".
"Kamar mu??".
Allegra mengedarkan pandangannya ke penjuru kamar. Netranya melihat koper dan ransel Allegri di sudut kamar. "Sial..."
Allegra menekan dada Allegri, berdiri. Beruntung ia mengenakan bathrobe, walau kenyataannya tidak mengenakan underwear di dalamnya. "Tapi Gabriel bilang kamar ku pintu ke tiga. Kamu mendengar Gabby mengatakannya kan?!", seru Allegra melihat Allegri yang sudah berdiri.
Gadis itu cepat-cepat mengalihkan perhatiannya dari tubuh maskulin Allegri. "Demi Tuhan kenapa sial sekali hidupku, dua kali seperti ini", batinnya.
"Kamar mu di sebelah, setelah kamar ku, Alle. Pintu pertama itu tidak di hitung, itu ruang fitness".
"Shitt...Aku salah kamar. Lagian kenapa kau masuk kamar tidak bersuara, seperti pencuri saja", cicit Allegra melebarkan kedua matanya. "Di kamar mandi mu ada shampo dan sabun wanita, aku tidak berpikir salah kamar", ketusnya.
"Hei...Heiii, yang salah siapa kenapa kau seperti menyalahkan aku. Kau saja yang ceroboh. Untung kau masuk ke kamar ku, coba kalau kau masuk ke kamar suami orang kau bisa di tuduh yang tidak-tidak", jawab Allegri hendak membuka celana jeans-nya.
Tindakan Allegri jelas membuat kedua netra Allegra melotot. "Kamu mau apa? Yang benar saja kau mau telanjang di depanku?", hardik Allegra.
"Makanya kau keluar dari kamar ku. Atau kau mau membantuku melepaskan celanaku, aku tidak akan menolak".
Ucapan Allegri membuat Allegra kesal.
"Kau ini menyebalkan sekali. Mandi sana... Tubuh mu bau", Ketus Allegra dengan menghentakkan kakinya gadis itu buru-buru keluar kamar Allegri. Dadanya bergemuruh mendengar tawa laki-laki itu. Bahkan dari luar kamar pun Alle masih bisa mendengarnya.
...***...
To be continue