Bukan salah Mika hadir dalam rumah tangga Naya sebagai orang ketiga. Karena hadirnya juga atas permintaan Naya yang tidak ingin punya anak gara-gara obsesinya sebagai model. Mika melawan hati dengan rela menerima tawaran Naya juga punya alasan. Sang mama yang sedang sakit keras menghrauskan dirinya untuk mendapatkan uang dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Sedangkan Naya sendiri, karena rasa bersalah pada suaminya, dia rela mencarikan istri untuk si suami.
Bukan salah orang ketiga. Ini murni kisah untuk Mika, Naya, dan Paris. Tidak sedikitpun aku terlintas di hati untuk membela orang ketiga. Harap memakluminya. Ini hanya karya, aku hanya berusaha menciptakan sebuah karya dengan judul yang berbeda untuk kalian nikmati. Mohon pengertiannya. Selamat membaca. Temukan suasana yang berbeda di sini. Dan, ambil pelajarannya dari kisah mereka. Bisakah cinta segitiga berjalan dengan bahagia? Atau malah sebaliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab*3
Kini, Mika tahu alasan penolakan pria asing yang sedang dia tolong. Namun, saat Mika ingin kembali bicara, ponsel Mika malah berdering. Perhatian gadis itupun langsung teralihkan.
Wajah cerah Mika seketika berubah saat seseorang yang menghubunginya angkat bicara. Wajah tenang yang menenangkan milik Mika seketika berubah panik. "Apa! Aku ke sana sekarang."
Panggilan itupun berakhir. Mika ingin langsung beranjak, namun tangan Paris mencegahnya. "Mau ke mana?"
"Ah, pak. Saya harus pergi sekarang. Maaf, apakah anda baik-baik saja jika saya tinggalkan?"
"Ya aku .... "
Cahaya mobil Rama terlihat mendekat. Cengkraman tangan Paris pada lengan Mika lepas. Sejenak terdiam, saat mobil itu berhenti tepat di depan mobil Paris, Mika langsung bergerak pergi.
Beberapa langkah setelah kepergian Mika, barulah Paris sadar kalau gadis yang menolongnya telah pergi. Jangankan tahu nama si gadis, berucap terima kasih saja dia tidak sempat.
"Pak Paris."
"Rama."
Rama yang tahu tentang si bos yang tidak suka dengan suasana di rumah sakit, datang bersama dengan seorang dokter. Paris pun langsung diberikan pertolongan pertama di tempat kejadian.
Sementara itu, panggilan yang Mika terima adalah panggilan telepon dari rumah sakit tempat di mana mamanya di rawat. Ya, mama Mika sedang di rawat di rumah sakit. Gadis itu berusaha keras untuk mengumpulkan uang agar sang mama bisa di operasi secepatnya.
"Dokter. Apa yang terjadi dengan mama saya?"
"Mika."
"Dok."
"Kondisi mama kamu semakin memburuk, Mika. Operasi harus di lakukan secepatnya."
Wajah Mika terlihat sangat tidak baik-baik saja.
"Berapa lama lagi waktu mama saya bisa menunggu, Dok?"
"Paling lama satu bulan, Mika. Jika mama kamu tidak juga di operasi dalam waktu satu bulan, maka pihak rumah sakit tidak lagi bisa melakukan apapun. Mama kamu mungkin tidak akan tertolong lagi."
Ucapan dokter terus berulang di telinga Mika. Satu bulan. Dalam waktu satu bulan dia harus mencari uang puluhan juta. Bagaimana bisa? Kerja siang dan malam pun sekalian, Mika yakin tidak akan mampu mendapatkan uang puluhan juta dalam waktu satu bulan.
Selama ini, dia bekerja tanpa lelah hanya untuk biaya pengobatan mamanya. Namun, itu hanya cukup untuk biaya perawatan. Tidak untuk biaya operasi yang sangat besar.
"Satu bulan, ya Tuhan? Hanya satu bulan. Bagaimana caranya aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu." Mika menangis sambil bersandar di tembok rumah sakit. Hatinya terluka sangat dalam. Sedih bukan kepalang.
"Di mana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Tuhan, tolong aku." Mika terus tergugu.
...
"Bagaimana kondisi pak Paris sekarang, Pak?"
"Aku cukup baik," ucap Paris sambil bangun dari baringnya.
Tadi malam, setelah kejadian itu, dia tidak pulang ke rumah. Paris malah memilih untuk di bawa pulang ke apartemennya saja. Rama yang sudah bekerja cukup lama dengan Paris sedikit mengerti akan keadaan bosnya ini. Ada masalah yang sedang Paris alami, karena itu, Paris memilih untuk menyendiri.
"Mm ... pak Paris, apa saya harus menghubungi mbak Naya?"
"Tidak. Tidak perlu." Paris menatap tajam Rama. "Jangan hubungi dia. Tadi malam aku kan juga sudah bilang, bukan? Jangan hubungi dia." Dari nada bicara Paris, Rama bisa mendengar nada kesal yang sangat kuat.
"Ba-- baiklah kalau gitu, Pak."
Di sisi lain, tepatnya di rumah sakit. Mika sedang terdiam dengan wajah lesu karena beban masalah yang sedang ia hadapi. Satu sentuhan pun mendarat di bahunya.
"Mika. Kamu yang kuat ya. Maaf, aku tidak bisa terlalu banyak membantu. Tapi, aku akan tetap berusaha untuk memberikan bantuan padamu sebisa aku." Sinta berucap dengan wajah yang terlihat cukup bersalah.
Mika tersenyum kecil. Sinta adalah teman satu-satunya yang dia miliki. Teman baik yang sudah cukup banyak membantu. Selama ini, Sinta sudah memberikan bantuan sumber dana yang cukup besar. Jika Mika membutuhkan uang, Sinta tanpa ragu mengeluarkannya. Tapi untuk uang puluhan juta, Sinta pun tidak bisa membantu. Karena uang sebanyak itu, tidak mudah untuk mendapatkannya.
"Tidak, Sinta. Kamu tidak salah, kenapa harus minta maaf? Bukan salah kamu jika tidak bisa membantu aku sekarang, Sin. Karena selama ini, kamu sudah sangat banyak memberikan bantuan padaku."
"Aku beneran menyesal, Mik. Aku tidak punya uang sebanyak yang kamu butuhkan." Sinta tetap melontarkan kata dengan nada penuh sesal.
Mika hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan. Senyum kecil ia perlihatkan. Namun, belum sempat dia berucap, dering ponselnya langsung mengalihkan perhatian.
"Sebentar, Mik."
Sinta langsung menjawab panggilan yang masuk. Terlihat wajah si gadis sedang sangat serius mendengarkan omongan orang yang ada di ujung panggilan. Beberapa menit kemudian, panggilan itupun berakhir.
Sinta menghampiri Mika dengan wajah sedikit menyesal. "Mika, aku harus pergi sekarang. Mbak Naya sudah menunggu."
Mika mengangguk. "Hati-hati di jalan, Sin. Semoga perjalanan kali ini dilancarkan yah."
"Hm." Si gadis mengangguk dengan mantap dan penuh semangat. "Tunggu aku pulang. Aku pasti bawakan oleh-oleh untuk kamu, Mika."
Di sisi lain, tepatnya di kediaman Paris. Kanaya sedang menunggu asisten pribadinya datang. Ya. Sinta adalah asisten model yang sudah bekerja sejak lama dengan Kanaya. Sinta adalah tangan kanan kepercayaan Naya sejak wanita itu menekuni profesinya sebagai seorang model.