Aisyah Huriyya Atmaja, gadis cantik keturunan ningrat dari Jogjakarta yang memutuskan untuk kuliah di Jakarta. Memiliki kisah cinta masa kecil dengan seorang putra kyai pemilik pondok pesantren yang terus terbawa hingga ia dewasa. Mempunyai impian untuk bisa mengunjungi Tajmahal di India.
Hamzah Alghazali, seorang pemuda gagah penuh kharisma, yang baru saja lulus dari Al-Ahzar, Mesir. Dia adalah putra sulung seorang Kyai pemilik sebuah pondok pesantren yang terkemuka di Jogjakarta.
Dengan demikian, dia lah penerus ayahanda nya kelak.
William Stevan Ballard, pria Indo-Jerman yang baru saja menyelesaikan sekolah bisnis nya di Canada, dan kembali ke Indonesia untuk menjadi Presdir muda di sebuah perusahaan executive di Jakarta milik Ayahnya.
mempunyai motto hidup :
One Life - One Wife.
Kisah antara Aisyah dan Hamzah nyaris sempurna.
Tapi kehadiran William ternyata mengubah segalanya.
Bagimanakah kisah mereka bertiga??
Siapakah yang akhirnya menjadi takdir cinta Aisyah??
Ayat Cinta Aisyah, kisah cinta yang menggugah jiwa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rohana Kadirman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Restoran Pecel Lele
Siang yang melelahkan. Romi kembali ke meja kerjanya dan menghempaskan dirinya ke kursi. Dia melonggarkan ikatan dasinya. Namun, sesaat kemudian ia justru melepaskan dasi dari kerah bajunya, dan menyampirkannya ke atas computer. Ia mendorong kursinya ke belakang dengan tubuhnya, lalu ia menaikkan kakinya ke atas meja.
“Huufftt!” Romi meregangkan kedua lengannya untuk mengusir kepenatan. Ia menatap arloji di tangannya. Pukul 13.00. Sudah waktunya makan siang. Meja kedua rekannya, Luna dan Diana, juga sudah kosong.
Hmm pasti mereka berdua sudah pergi ke kantin.
Perut Romi juga sebenarnya sudah sangat keroncongan, tapi ia memutuskan untuk pergi dulu ke musholla, karena ia belum sholat dzuhur. Ya, meskipun Romi adalah cowok dengan gaya slengekan, namun ia tetap berusaha untuk menjadi seorang Muslim yang baik. Ia tak pernah meninggalkan sholat lima waktunya.
Romi menurunkan kakinya dari atas meja, lalu berdiri. Baru saja ia mau meninggalkan mejanya, pintu ruangan William terbuka.
William keluar dari ruang kerjanya.
“Rom, aku mau keluar untuk makan siang. Kau sudah makan siang?” Tanya William.
“Belum, tapi aku….” Belum sempat Romi menyelesaikan kalimatnya.
“Ini kunci mobilku. Ayo kita keluar makan.” William menaruh kunci mobilnya di atas meja Romi. Itu artinya ia menyuruh Romi untuk menyetir mobilnya.
“Hmm, maaf Boss, bukannya aku menolak, tapi….”
“What? Kau sedang diet? Tak makan siang?”
“Ha ha ha…. Itu tak mungkin terjadi. Aku juga sangat kelaparan saat ini setelah mewawancarai sepuluh orang calon sekretarismu Will. Tapi aku harus pergi ke musholla dulu untuk sholat.”
“Ya ya ya…. I know. Baiklah, ku beri kau waktu 15 menit.” William kembali masuk ke ruangannya.
Romi bergegas pergi ke musholla. Dia merasa sangat beruntung memiliki seorang Boss yang sangat bijaksana seperti William. Dulu, sebelum bekerja di perusahaan William, ia pernah menjadi karyawan di sebuah perusahaan, dan bossnya dulu sangat-sangat killer dalam hal waktu. Telat sedikit saja akan ada sangsi pemotongan gaji.
Selesai sholat, Romi segera keruangan William.
“Tok tok tok.” Romi mengetuk pintu, lalu ia masuk.
“Hmm. Tak sampai 15 menit,” William menatap arlojinya. “Hanya 12 menit 35 detik.”
“Sholat hanya butuh waktu, tidak lebih dari 5 menit saja. Tuhan memberi kita waktu 24 jam sehari. Alangkah pelitnya jika kita tak bisa menyisihkan waktu 5 menit saja untuk melaksanakan perintahnya”
“Sepertinya kau akan mulai menceramahiku lagi,” William berdiri dari kursinya dan berjalan keluar mendului Romi, “Cepatlah, aku
benar-benar kelaparan.” Ujarnya kemudian.
Romi mengangkat kedua bahunya ke atas, lalu mengikuti William keluar. Ketika melewati meja kerjanya, ia menyambar kunci mobil William yang masih tergeletak di situ. Kemudian ia bergegas menyusul William yang sudah menjauh. Bukan karena langkah William yang begitu cepat, tapi karena postur
tubuh bule William yang jangkung, kakinya lebih panjang, sehingga langkahnya
pun lebih lebar, jika di bandingkan dengan langkah kaki Romi yang berpostur tubuh Betawi asli.
“Kita akan makan dimana?” Tanya Romi begitu mereka sudah di dalam mobil.
“Aku ingin makan pecel lele. Selama pulang ke Indonesia, aku belum pernah lagi makan pecel lele”
“Okey. Aku tahu tempat yang enak untuk makan pecel lele.”
Romi mulai menjalankan mobil.
Tak cukup sepuluh menit kemudian, ia menghentikan mobilnya di sebuah restoran sederhana bernuansa khas Betawi. Ada patung ondel-ondel di depan pintu masuk restoran.
“Ayo Will, aku yakin kau akan menghabiskan 2 porsi pecel lele jika makan disini.” Romi melangkah duluan masuk ke dalam restoran.
“Kita lihat saja nanti.” William mengikuti Romi dari belakang.
“Assalamualaikum, selamat datang di restoran Pecel Lele Bang Jali.” Sapa seorang pelayan wanita berkerudung dengan ramah begitu melihat William dan Romi masuk.
“Walaikumsalam Lisa.” Sahut Romi. Rupanya Romi sudah mengenal nama pelayan wanita itu.
“Silahkan Bang, duduk disini.” Lisa mengarahkan Romi dan William ke meja yang kosong. Romi dan William pun mengikutinya.
Restoran Pecel Lele Bang Jali terlihat cukup ramai siang itu.
“Mau pesan apa Bang?” Lisa menyodorkan buku daftar menu kepada Romi dan William.
“Pecel lele 3 porsi, es jeruk satu,” Ucap Romi. “Kau mau minum apa Will?” Romi menoleh kearah William.
“Aku, sama. Pesankan saja es jeruk. Jangan lupa air mineral juga.” Sahut William.
Lisa mencatat semua pesanan Romi dan William. “Ada lagi Bang?” Tanya Lisa kembali.
“Cukup itu saja dulu.” Sahut Romi. “Oh, hampir lupa, kerupuk udang juga 2 bungkus.”
“Baik Bang. Mohon di tunggu.” Lisa kembali mencatat tambahan pesanan Romi.
“Kau memesan 3 porsi makanan, apa ada yang akan menyusul kita disini?” Tanya William.
“Aku memesan 2 porsi untukmu Boss. Sudah ku bilang, kau pasti akan menghabiskan 2 porsi pecel lele di restoran ini.” Ucap Romi yakin.
“Sepertinya kau iri dengan postur tubuhku, jadi kau akan membuatku menjadi lebih gemuk.”
“Ha ha ha.” Romi tertawa mendengar ucapan William.
Tak berapa lama, pesanan mereka sudah datang. Seorang pelayan laki-laki mengantarkan makanan dengan menggunakan sebuah nampan besar. Ia lalu mulai meletakkan pesanan makanan dan minuman, satu persatu ke atas meja di hadapan William dan Romi.
“Selamat menikmati hidangannya.” Ucap pelayan laki-laki itu setelah ia selesai menyajikan hidangan di atas meja.
William menatap nasi pecel lele yang sudah lama di rindukannya itu. Ia kemudian mencelupkan tangannya ke dalam mangkuk kobokan (mangkuk berisi air yang memang di peruntukkan untuk mencuci tangan sebelum makan), meskipun tadi sebenarnya ia sudah mencuci tangan di westafel.
William mulai menyuapkan nasi dan ikan lele ke dalam mulutnya.
“Hmm, ikan lelenya so crunchy dan gurih.” Ucap William sembari mengunyah makanannya. Ia kemudian mengambil daging lele gorengnya dan mencelupkannya ke dalam sambal sebelum memakannya.
“Woow! Sambalnya nikmat sekali. Aku merasa familiar dengan rasa sambal ini.”
“Ha ha ha… Ku kira tadi kau tak akan menyadarinya.” Ucap Romi setelah mendengar ucapan William.
“Menyadari… What??”
“Tentu saja kau mengenali rasa pecel lele ini, karena kau sering memakannya, dulu.”
“What do you mean??”
“Hei Will, kau ingat tidak, dulu di dekat SMA kita, ada warung tenda pecel lele. Pemiliknya bernama Bang Jali.”
“Ya, of course aku ingat. Itu tempat makan favorit kita dulu,” Sahut William. “Wait wait, jadi maksudmu, restoran pecel lele ini,
pemiliknya adalah orang yang sama dengan pemilik warung tenda di dekat sekolah
kita dulu?”
“Yup! Tepat sekali. Bang Jali ini, adalah Bang Jali yang menjual pecel lele di dekat sekolah kita dulu.”
“Oh, pantas saja lidahku mengenali rasa sambal pecel lele yang khas ini.”
“Aku sering makan kesini.” Ucap Romi sembari meminum es jeruknya.
“Pantas saja kau akrab dengan pelayannya.”
“Maksudmu gadis pelayan yang berjilbab tadi?”
“Ya, siapa lagi? Kau bahkan tahu namanya.”
“Oh, gadis itu. Dia lisa, anak Bang Jali. Dulu dia kan masih kecil saat kita SMA. Tapi dia sering ikut di warung babehnya sejak dulu.”
“Oh…” Sahut William sambil terus mengunyah makanannya. Piring makananya sudah tandas, dan benar saja seperti dugaan Romi, ternyata ia memakan lagi satu porsi pecel lele yang masih utuh di atas meja.
Romi tertawa melihat hal itu. “Sudah ku bilang, pasti kau akan makan dua porsi. Dulu kau pun sering begitu. Kau memesan satu porsi nasi dengan dua lele goreng.”
“Eh will, kau ingat tidak? Dulu, Lisa anak Bang Jali itu, setiap kali melihatmu, ia pasti bertanya ‘kenapa matamu pucat? Apa kau sakit?’ Ha ha ha…” Romi tertawa
mengingat hal itu. “Dia pikir mata coklatmu itu karena kau sedang sakit.”
“Ha ha ha… Ya, sekarang aku mengingatnya.” William akhirnya mengingat Lisa. Betapa gadis kecil itu dulu selalu menatapnya heran dan penasaran, kenapa matanya bias terlihat berwarna coklat, sedangkan mata orang
lain berwarna hitam.
Setelah selesai makan, Romi memanggil pelayan untuk membayar makanan. Lisa, si anak pemilik restoran itu yang datang dan menyerahkan billnya.
“Semuanya Rp.230.000,- Bang. ” Ucapnya sambil tersenyum manis.
“Berikan ia satu juta.” Ucap William kepada Romi.
“Baik boss,” Romi meletakkan 10 lembar uang ratusan di atas meja, seperti perintah William.
“Bang ini kebanyakan??” Lisa menatap uang itu.
“Sisanya, bonus untuk Lisa tersayang.” Ucap William kepada Lisa. “Oh ya, lihatlah, mataku berwarna pucat, sepertinya aku sedang sakit,
jadi aku harus segera pulang. Ha ha ha…” William tertawa lebar lalu berdiri dan melangkah keluar.
Lisa menatap keheranan kearah William.
_____________Bersambung____________
.
.
.
.
.
.
.
.
Terimakasih sudah mampir membaca Novel Ayat Cinta Aisyah.
Ini adalah karya pertama saya,.
Baruu belajar nulis
Beri dukungannya dengan cara
LIKE dan VOTE ya,..
Tinggalkan salam juga di kolom komentar.
❤️Rohana Kadirman❤️
maaf Thor baru balik dukung karya 🙏🙏