NovelToon NovelToon
Possessive Wife

Possessive Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Romansa / Komedi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: SNOWBIRDS

Dimas hanyalah seorang pegawai kantoran biasa yang hidup dalam rutinitas yang melelahkan. Namun, di balik pintu apartemennya, menanti sebuah rahasia yang tidak akan dipercayai oleh siapapun: seorang istri cantik luar biasa bernama Linda, yang berasal dari ras siluman rubah.

Linda bukan sekadar istri biasa. Ia memiliki kasih sayang yang meluap-luap, namun berbanding lurus dengan sifatnya yang sangat posesif. Baginya, keterlambatan Dimas pulang kerja adalah "kejahatan besar" yang hanya bisa ditebus dengan perhatian penuh dan kemanjaan yang intens. Linda tidak segan-segan menggunakan pesona silumannya untuk memastikan Dimas tidak pernah berpaling darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SNOWBIRDS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20

...«----------------🍀{DIMAS}🍀----------------»...

Pagi itu, apartemen nomor 404 terasa diselimuti oleh kesunyian yang mencekam, tipe kesunyian yang membuat setiap detak jam dinding terdengar seperti dentuman palu godam. Aku berdiri di depan pintu kamar mandi yang tertutup rapat, jemari ku bergetar hebat saat memegang pinggiran meja rias. Di dalam sana, Linda sedang melakukan sesuatu yang bagi manusia biasa adalah hal rutin, namun bagi kami, ini adalah penentuan nasib dua dunia.

“Ini dia,” Keluh ku dalam hati, napas ku tertahan di tenggorokan yang kering. “Momen yang akan mengubah segalanya. Bukan lagi tentang laporan logistik, bukan tentang target bulanan, bahkan bukan lagi soal ancaman Genta. Ini tentang eksistensi yang lebih besar dari diri ku sendiri. Apakah benih manusia yang fana ini benar-benar bisa bersemi di dalam rahim seorang siluman?”

Aku melirik ponsel ku yang tergeletak di meja. Ada tiga panggilan tak terjawab dari kantor ku. Aku tidak peduli. Bos ku bisa memecat ku hari ini juga, dan aku tidak akan berkedip. Satu-satunya hal yang relevan di semesta ini hanyalah apa yang terjadi di balik pintu kayu jati itu.

"Linda?" panggil ku, suara ku pecah. "Kau sudah selesai?"

Tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang menyesakkan.

“Jangan-jangan gagal?” pikiran buruk itu mulai merayap seperti racun. “Bagaimana jika hukum alam memang tidak bisa dilawan? Bagaimana jika Genta benar bahwa kami hanyalah dua garis yang tidak seharusnya bersinggungan? Tidak, aku merasakannya malam itu. Aku merasakan aliran energi yang tidak masuk akal itu. Itu harus berhasil.”

Tiba-tiba, kunci pintu berputar. Klik.

Pintu terbuka perlahan. Linda berdiri di sana, masih mengenakan piyama sutranya yang longgar. Telinga rubahnya terkulai lemas, hampir tertutup oleh rambutnya yang berantakan. Wajahnya pucat pasi, dan matanya yang hijau tampak berkaca-kaca, memancarkan emosi yang sulit aku baca, antara ketakutan, ketidakpercayaan, dan harapan yang rapuh.

Dia tidak mengatakan sepatah kata pun. Dia hanya mengulurkan tangannya yang gemetar, menyodorkan sebuah benda plastik kecil berwarna putih.

Aku menerimanya dengan tangan yang tak kalah gemetar. Mata ku terfokus pada jendela kecil di alat itu. Jantung ku seolah berhenti berdetak saat melihatnya.

Dua garis biru. Tegas. Nyata. Tidak terbantahkan.

"Dimas..." suara Linda nyaris menyerupai bisikan angin. "Dua garis. Itu artinya..."

"Itu artinya kita akan punya anak, Linda," suara ku serak, mata ku mulai memanas. Aku menatap alat itu seolah-olah itu adalah artefak paling suci yang pernah ditemukan manusia. "Elkan... dia benar-benar ada di sana."

Linda tiba-tiba ambruk ke pelukan ku. Dia menangis sesenggukan, sebuah tangisan yang melepaskan seluruh beban kecemasan, rasa sakit dari mual pagi hari, dan ketakutan akan penghakiman klannya selama berminggu-minggu ini. Bahunya berguncang hebat, dan aku bisa merasakan ekor tebalnya melilit kaki ku dengan kekuatan yang putus asa, seolah dia ingin memastikan bahwa aku tidak akan menghilang dari hadapannya.

"Aku takut, Dimas... aku sangat takut," isaknya di dada ku, membasahi kemeja yang baru saja aku kenakan. "Bagaimana jika aku tidak bisa menjaganya? Bagaimana jika dunia ini terlalu kejam untuk anak seperti dia?"

Aku memeluknya lebih erat, mencium puncak kepalanya, menghirup aroma melati yang kini terasa lebih murni dari sebelumnya. "Dunia mungkin kejam, tapi dia punya ibu paling kuat di seluruh ras siluman. Dan dia punya ayah yang akan melakukan apa pun, apa pun, Linda, untuk memastikan dia punya tempat untuk tumbuh."

“Lihat ini, Genta,” Keluh ku penuh kemenangan di dalam batin. “Kau bilang aku adalah pencuri waktu. Tapi lihat apa yang diciptakan oleh si pencuri ini. Sebuah kehidupan baru. Sebuah bukti bahwa kefanaan ku tidak menghancurkannya, melainkan memberinya sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh keabadian mu yang dingin: sebuah keluarga.”

Aku menuntun Linda untuk duduk di tepi tempat tidur. Aku berlutut di depannya, mensejajarkan wajah ku dengan perutnya yang masih tampak rata. Aku meletakkan telapak tangan ku di sana. Rasanya hangat, seolah ada percikan listrik statis yang sangat halus yang menyapa kulit ku.

"Hai, Kecil," bisik ku pada perutnya. "Ini Papa. Jangan khawatir, ya? Mama dan Papa akan menjaga mu. Tidak akan ada yang berani menyentuh mu."

Linda mengusap air matanya, menatap ku dengan tatapan yang kini dipenuhi oleh tekad yang membara. "Dimas, mulai hari ini, semuanya akan berubah. Aku tidak bisa lagi sembunyi-sembunyi. Klan ku... mereka akan merasakan kehadiran energi baru ini. Getaran Elkan tidak akan bisa disembunyikan selamanya."

"Aku tahu," kata ku tegas. Aku berdiri dan mengambil ponsel ku, lalu mematikan semua notifikasi kantor. "Aku akan bekerja lebih keras, Linda. Aku akan mencari posisi yang lebih tinggi, atau mungkin membangun bisnis ku sendiri agar aku punya waktu lebih banyak di rumah untuk menjaga mu. Aku akan mengumpulkan uang sebanyak mungkin untuk membangun 'benteng' kita, entah itu di sini atau di tempat terpencil yang tidak bisa ditemukan siapa pun."

"Kau benar-benar siap?" tanya Linda, telinganya mulai tegak kembali, menunjukkan keberaniannya yang pulih.

"Aku tidak pernah sesiap ini seumur hidup ku," jawab ku. "Selama ini aku hidup untuk diri ku sendiri, lalu untuk mu. Sekarang, aku punya alasan ketiga yang lebih besar. Aku akan menjadi dinding beton bagi kalian berdua. Jika ada siluman atau manusia yang mencoba mengganggu kita, mereka harus melangkahi mayat ku dulu."

Linda tersenyum, sebuah senyum kemenangan yang membuat aura di kamar itu mendadak terasa agung. "Mereka tidak akan bisa melangkahi mu, Dimas. Karena aku akan berdiri tepat di samping mu dengan sembilan ekor ku yang siap membakar siapa saja."

Momen ini terasa seperti penutupan dari satu babak panjang hidup ku sebagai pria lajang yang membosankan, dan awal dari sebuah epik yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Apartemen nomor 404 bukan lagi sekadar tempat persembunyian; ia telah resmi menjadi rahim bagi sebuah revolusi ras.

“Mulai besok, aku akan bangun lebih pagi,” Keluh ku dengan tekad yang mengeras seperti baja. “Aku akan menghadapi bos ku, aku akan menghadapi klien-klien sulit itu, dan aku akan meraup setiap rupiah yang bisa aku dapatkan. Setiap keringat ku adalah batu bata untuk perlindungan Elkan. Setiap lembur ku adalah jaminan bahwa Linda tidak akan kekurangan madu hutan atau apa pun yang dia butuhkan. Aku adalah manusia, dan kekuatan ku ada pada ketahanan ku demi mereka yang aku cintai.”

Aku memeluk Linda lagi, kali ini dalam keheningan yang penuh rasa syukur. Sinar matahari pagi mulai merayap masuk, menyinari dua garis biru di atas meja rias, sebuah simbol kecil yang memegang kunci masa depan kami.

"Aku mencintai mu, Linda. Aku mencintai mu dan Elkan," bisik ku.

"Kami juga mencintai mu, Dimas," jawabnya, suaranya kini tenang dan berwibawa. "Suami manusia ku yang luar biasa."

Di luar sana, Jakarta mulai bising dengan hiruk pikuk klakson dan ambisi orang-orang yang tidak tahu bahwa di sebuah apartemen sederhana, sebuah keajaiban baru saja dikonfirmasi. Perang mungkin akan datang, Genta mungkin akan kembali, dan tantangan biologis mungkin akan semakin berat, tapi saat aku menatap mata hijau Linda, aku tahu kami sudah memenangkan pertempuran pertama.

Dua garis biru. Satu awal baru. Dan sebuah janji yang takkan pernah luntur oleh waktu.

1
Jeje Milkita
404 not found
Jeje Milkita
pov pak Rt 🤣 banyak banget sudut pandangnya thor ....
mizuno
semangat bikinnya kak
Jeje Milkita
ya ampun tajam banget hidungnya .... rubah suka melati jg yah 🫠
Jeje Milkita
rubah ini biasanya akan makan jantung manusia.... duhhhhhh si si si cinta ini si si
Jeje Milkita
astaga kenapa nomor 404 artinya si ...artinya kematian... duh 😭😭😭😭 revisi nomor kamar deh biar aura novel ni bukan si si si
kertaslusuh: semangat kak ,
total 1 replies
MayAyunda
keren kak 👍
@☠️⃝🖌️M⃤Sang Senja♬⃝❤️
hayo kena marah kan.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!