[kiamat + ruang dimensi + wanita tangguh]
oh yeah, untuk jodoh Lin yan mungkin akan penuh plot twist dan tidak seperti novel pada umumnya yang pria mana yang bersama Lin yan bisa jadi itu jodohnya, nah bukan ya jadi jodohnya mungkin akan terlambat atau apakah selama ini berada di sekitarnya? tidak ada yang tau bagaimana jodoh si gadis gila akan muncul.
Sinopsis :
Bagaimana jika seorang gadis dari rumah sakit jiwa bertansmigrasi ke novel kiamat? apakah dia akan mengacaukan alur cerita novel atau mengikuti alur novel itu?
kehidupan Lin Yan si gadis gila dari rumah sakit jiwa dengan sifat psikopat gila akan memenuhi hari dengan kegilaan nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
memungut orang lagi
Pagi itu, Lin Yan bangun dengan semangat yang belum pernah ada sebelumnya. Ia langsung berlari ke lantai atas kastil, tempat sistem menjanjikan bioskop pribadi. Dan benar saja di ujung lorong, sebuah pintu baru berdiri megah.
Ia membuka pintu, dan matanya terbelalak.
Di dalam, sebuah ruangan luas dengan layar raksasa menutupi seluruh dinding depan. Kursi-kursi malas elektrik berjejer rapi, lengkap dengan meja kecil di samping masing-masing. Di pojok, mesin popcorn otomatis berkilau mengilap, mesin soda dengan berbagai varian rasa, dan kulkas kecil berisi camilan. Lampu redup, karpet empuk, suara surround system yang siap menghantam telinga.
Lin Yan melompat ke kursi paling tengah, memutar tubuh 360 derajat, tertawa senang.
"KEREN! BIOSKOP BENERAN!"
【Jangan terlalu heboh. Sekarang pilih film. Ada banyak pilihan ada film horor, komedi, action, dokumenter, bahkan film-film lama.】
"Film horor! Yang paling seram!"
Lin Yan memilih film horor Thailand legendaris. Popcorn sudah di tangan, soda di samping, kursi direbahkan. Layar mulai menyala. Suara-suara mencekam mulai terdengar.
Tiga menit kemudian, saat hantu pertama muncul di layar, suara Sistem Xiyue meledak di kepalanya.
【MISI DARURAT! BERSIHKAN GEDUNG PERTANIAN DI SEKTOR BARAT! TERDAPAT ZOMBIE LEVEL 2 DAN 3 YANG MENGANGGUM!】
"APA?!" Lin Yan hampir menjatuhkan popcorn. "SEKARANG?! AKU BARU MAU NONTON TAU!"
【SEKARANG! DARURAT! GAK MAU TAU HARUS SEKARANG!! KALAU TIDAK, ZOMBIE BISA MENYEBAR KE PEMUKIMAN!】
Dia mendengus kesal "Sana minta tolong militer! Aku mau nonton!"
【MILITER SIBUK! INI TANGGUNG JAWAB WILAYAH KAU! AYO GERAK!】
"GAK MAU!"
【KALAU KAU TIDAK PERGI, BIOSKOP INI AKU BONGKAR! KU BAKAR SEKALIAN JIKA PERLU】
Lin Yan membeku. Matanya menyipit. "Kau tidak akan."
【COBA LIAT!】
Layar bioskop berkedip. Popcorn meletus sendiri. Kursi malas bergerak-gerak aneh.
"STOP! STOP! AKU PERGI! AKU PERGI! PUAS KAU" Lin Yan bangkit dengan muka masam. "Tapi ini terakhir kalinya aku diganggu waktu nonton!"
【TERGANTUNG SITUASI! SEKARANG CEPAT!】
Dua puluh menit kemudian, Lin Yan sudah berdiri di depan Gedung Pertanian Sektor Barat. Penampilannya? Kaos oblong hitam lusuh, celana olahraga biru tua, rambut pendek masih berantakan seperti habis bangun tidur karena memang habis bangun tidur, orang dia nonton sambil tidur -_-. Sepatu lari putih sudah tidak putih lagi.
【Kenapa kau pakai baju gitu?】
"Karena aku buru-buru. aku mau cepat supaya bisa nonton bioskop."
【...Setidaknya pakai jaket!】
"Gak mau, panas."
Lin Yan melangkah masuk ke gedung, masih mengantuk, masih kesal. Ia menguap lebar, tidak peduli dengan puluhan zombie yang mulai mendekat.
"Oke. Kerja bakti. Lakukan dengan cepat biar bisa cepet pulang."
Ia mengangkat tangan, menciptakan tombak es. Satu tombak, satu zombie tumbang. Tombak kedua, zombie kedua roboh. Lambat. Membosankan.
【CEPATAN! KAU LAMBAT BANGET! LELET BANGET KEK SIPUT!!】
"Iya, iya."
Tombak ketiga, keempat, kelima. Zombie terus berjatuhan, tapi gerakannya malas, tanpa semangat. Lin Yan masih memikirkan film horor yang terputus.
【INI MISI BUKAN JALAN-JALAN! KAU BISA LEBIH CEPAT!】
"Ih ini udah cepet kok."
【BELUM! LIAT ZOMBIE DI BELAKANG! KAU PIKIR UDAH CEPAT, HA!!?】
Lin Yan menoleh. Seorang zombie level 3 berjalan ke arahnya dengan mata merah menyala. Ia mendengus, menciptakan tombak es lagi.
Tapi tombaknya meleset. Zombie itu menghindar.
【AKU BILANG CEPETAN! BODOH!!】
"iya iya ih, cerewet banget kek mak-mak"
Tombak es lain meleset lagi. Lin Yan mulai kesal.
【KALAU KAU MAIN-MAIN TERUS, AKU BONGKAR BENERAN ITU BIOSKOP!】
Lin Yan berhenti.
Matanya berubah.
Dari malas jadi tajam. Dari kantuk jadi terbakar. Dari biasa jadi... mengerikan.
Ia menatap sistem dengan tatapan dingin. "Kau. tidak akan. berani. melakukan. hal itu. Kan?" katanya dengan nada penuh tekanan amarah.
【...】Sistem terdiam.
Lin Yan menoleh ke zombie level 3 yang masih mendekat. Tanpa ekspresi, ia berjalan ke arah zombie itu. Tidak terburu, tidak santai. Langkahnya datar, berirama.
Zombie itu menyerang. Lin Yan menghindar dengan geseran kecil, lalu tangannya mencengkeram lengan zombie. KRAK! Tulang patah. Lengan zombie terpelintir dengan sudut tidak wajar.
Zombie itu menjerit bukan erangan biasa, tapi jeritan sakit.
Lin Yan tidak berhenti.
Ia menarik lengan itu hingga terlepas dari sendinya. Darah hitam menyembur. Ia melempar lengan itu ke lantai, lalu tangannya bergerak ke lengan satunya. KRAK! Lepas lagi.
Zombie itu jatuh berlutut, tidak bisa melawan.
Lin Yan berdiri di depannya, menunduk, menatap matanya. Matanya merah delima bersinar aneh di ruangan gelap.
"Kau ganggu filmku," bisiknya.
"Kau ganggu waktu nontonku."
Ia mencengkeram kepala zombie, lalu dengan gerakan lambat dan teliti, ia memutar. Leher zombie itu berputar 180 derajat. Tapi tidak mati, zombie itu masih hidup.
Lin Yan mengeluarkan pisau bedah dari ruang dimensi sisa operasi semalam. Dengan gerakan ahli, ia membelah dada zombie. Tulang rusuk patah, organ dalam terlihat. Ia mengambil jantungnya, yang udah tidak berdetak namun penuh cairan hitam, lalu meletakkannya di telapak tangan zombie itu sendiri.
"Ini jantungmu. Pegang. Sudah tidak berdetak lagi, kan?"
Zombie itu merintih sakit dan takut.
Lin Yan tidak peduli. Ia melanjutkan "pekerjaannya". Organ demi organ dikeluarkan, diletakkan di lantai, disusun rapi. Paru-paru, hati, ginjal, limpa, usus, semua berjejer seperti toko daging.
Zombie lain yang tadinya mendekat, kini mundur. Mereka melihat pemandangan itu, dan untuk pertama kalinya, zombie level 2 dan 3 menunjukkan ekspresi yang jelas: teror.
Tapi Lin Yan belum selesai.
Ia berdiri, menatap zombie-zombie yang mundur, dan tersenyum. Senyum yang tidak normal. Senyum yang membuat sistem terdiam. Senyum yang memperlihatkan gigi putihnya di tengah wajah belepotan darah hitam.
"Kalian mau ikut?"
Zombie-zombie itu lari. Tapi Lin Yan lebih cepat.
Ia mengejar, mencengkeram satu zombie dari belakang, membantingnya ke lantai. Golok daging muncul di tangannya, dan dalam hitungan detik, zombie itu kehilangan kedua lengannya. Ia menjerit, merangkak, tapi Lin Yan menginjak kepalanya.
"Kemana? Aku belum selesai tau."
Ia membelah kepala zombie itu dengan pisau bedah, mengambil kristal level 3 yang masih berdenyut, lalu melemparnya ke udara dan menangkapnya dengan mulut. Ia menggigit kristal itu keras, seperti permen.
"Rasanya... asin."
【...UDAH CUKUP, BERHENTI.】Suara sistem akhirnya keluar, pelan, hampir berbisik.
Lin Yan tidak mendengar. Atau pura-pura tidak mendengar.
Ia mengejar zombie berikutnya, mencabik-cabik dengan tangan kosong. Darah hitam memercak ke mana-mana, membasahi kaos oblong putihnya yang dulu hitam atau sudah tidak jelas lagi warnanya.
Zombi itu berusaha melawan, tapi Lin Yan terlalu kuat. Ia mematahkan tulang belakang zombie dengan sekali hentakan lutut, lalu merobek daging dari tulangnya dengan kuku. Bukan dengan senjata. Dengan kuku.
"Satu lagi. Hehe aku suka ini" iya terkekeh bahagia dan menjilati bibirnya.
Ia menghitung dalam hati, sambil memotong-motong zombie berikutnya menjadi 10 bagian. Semua masih hidup. Semua masih merintih. Lin Yan menyusun potongan-potongan itu membentuk lingkaran, lalu berdiri di tengahnya, puas.
"Karya seni yang bagus, hehe"
【...SUDAH CUKUP 】Suara sistem bergetar. 【SUDAH, LIN YAN. CUKUP.】
Lin Yan menghentikan gerakannya. Ia menoleh ke layar hologram yang tidak terlihat orang lain. Matanya masih bersinar aneh, tapi perlahan mulai redup.
"Apa?"
【CUKUP. MISI SELESAI. KAMU SUDAH MEMBERSIHKAN 47 ZOMBIE. 12 LEVEL 3, 35 LEVEL 2. LEBIH DARI CUKUP.】Sistem terdengar seperti lega. 【KAMU BISA PULANG SEKARANG DAN MENONTON LAGI.】
Lin Yan diam. Ia menatap tangannya yang berlumuran darah hitam, lalu ke sekeliling kesebuah gedung hancur, mayat berserakan, organ bertebaran, dan satu lingkaran potongan zombie yang ia buat dengan rapi.
Ia menghela napas. "Filmku udah lewat, ya?"
【... FILMNYA BISA DIULANGI LAGI KOK, UDAH IYA UDAH CUKUP.】
"Oh baiklah."
Ia membersihkan tangan dengan kain yang diambil dari saku, lalu berbalik untuk pergi.
Tapi langkahnya berhenti. Dari balik pintu besi di ujung lorong, terdengar suara bukan zombie tapi seperti suara manusia. Napas dengan tertahan dan ketakutan.
Lin Yan mengerutkan kening. Ia berjalan ke arah pintu itu, dan tanpa basa-basi, menendangnya hingga terbuka lebar. Pintu besi berkarat itu terbanting ke dinding dengan suara menggelegar.
Di dalam ruangan kecil, tiga orang berdiri membeku. Dua wanita muda, satu sekitar 25 tahun dengan kacamata, satu lagi lebih muda, mungkin 20 tahun, rambut sebahu, mata besar penuh ketakutan. Seorang pria paruh baya dengan jas lab lusuh, jenggot putih panjang, wajah keriput tapi mata masih tajam.
Mereka memegang pisau seadanya mungkin pisau dapur kecil, pisau lipat dan menodongkannya ke arah Lin Yan dengan tangan gemetar.
Dan mereka melihat Lin Yan: kaos berlumuran darah hitam, wajah belepotan, rambut berantakan, mata merah menyala, dan di belakangnya, pemandangan neraka yang baru saja ia ciptakan.
Wanita muda berkacamata itu hampir pingsan. Yang lebih muda menjerit kecil, menutup mulut dengan tangan.
Lin Yan menatap mereka dengan kesal. "Kalian siapa? Ngapain di sini?"
Wanita berkacamata itu mencoba tenang, suaranya bergetar. "K-Kami peneliti pertanian. Terjebak di sini sejak kiamat. Gedung ini tempat kami bekerja dulu."
"Peneliti pertanian?" Lin Yan mengangkat alis.
Pria paruh baya itu maju selangkah, berusaha berani. "Aku Profesor Lin, ini dua asistenku namanya Xiao Yue dan Xiao Ning. Kami meneliti bibit tahan hama dan tanaman cepat panen. Sebelum kiamat, kami sedang mengembangkan varietas padi yang bisa panen dalam 2 bulan. Tapi setelah kiamat semuanya hilang"
Lin Yan mengangguk datar. "Oke aku tidak peduli. Selamat bertahan. Aku pergi."
Ia berbalik.
"T-TUNGGU!"* suara wanita muda namanya mungkin Xiao Ning yang berteriak. Lin Yan menoleh kesal.
"Apaan?"
Xiao Ning menelan ludah. Matanya masih takut, tapi ada tekad di sana. "A-Apakah kami... bisa ikut denganmu? Kami tidak punya tempat tinggal. Kami sudah tiga bulan di sini, makan cadangan laboratorium, hampir habis. Kami... kami bisa kerja! Kami bisa menanam! Kami berguna!"
Lin Yan mendengus. "Tidak. merepotkan saja"
Ia berjalan keluar.
【TUNGGU SEBENTAR!】 suara sistem tiba-tiba muncul. 【MEREKA PENELITI PERTANIAN! KAU PUNYA RIBUAN HEKTAR TANAH SUBUR YANG TIDAK PERNAH DITANAMI! ADA APARTEMEN KOSONG! MEREKA BISA KERJA! INI KESEMPATAN!】
"Malas ngurus orang baru."
【KAU GAK PERLU NGURUS MEREKA! KASIH MEREKA TEMPAT, KASIH MEREKA TANAH, BIARKAN MEREKA KERJA SENDIRI! LIN FENG BISA BANTU KOK! KALO GAK, TANAH SUBUR ITU PERCUMA!】
Lin Yan berhenti. Ia berpikir. Tanah subur yang tidak pernah ditanami. Apartemen kosong. Adiknya yang rajin.
Dengan enggan, ia berbalik lagi. Ketiga ilmuwan itu masih berdiri di ambang pintu, wajah penuh harap.
Lin Yan menatap mereka dengan dingin. "Aku bawa kalian. Tapi syaratnya: jangan ribut. Jangan banyak tanya. Jangan merepotkan. Kalian harus Kerja. Kalau tidak berguna, aku usir. Setuju?"
Mereka mengangguk cepat, hampir pingsan karena lega.
Di luar gedung, Lin Yan mengeluarkan mobil militer hitam dari ruang dimensi yang muncul tiba-tiba di depan mereka. Ketiga ilmuwan itu terbelalak, tapi tidak berani bertanya. Mereka naik ke kursi belakang dengan gemetar.
Perjalanan ke kastil berlangsung dalam keheningan yang canggung. Lin Yan mengemudi dengan satu tangan, wajahnya masih belepotan darah hitam, kaosnya masih basah. Di belakang, ketiga ilmuwan itu duduk rapat, sesekali saling pandang, tidak berani bicara.
Xiao Ning mencoba membuka suara. "K-Kamu... seorang diri?"
"Ada adikku"
"O-Oh..."
Hening.
Xiao Yue, yang berkacamata, menambahkan, "Kamu... sangat kuat. Melawan zombie level tinggi kayak gitu sendirian..."
Lin Yan tidak menjawab. Hening lagi.
Profesor Lin, pria tua itu, akhirnya berkata pelan, "Kami tidak akan mengganggumu. Kami hanya ingin tempat aman dan bisa bekerja. Kami peneliti pertanian, kami bisa menanam apa saja. Kami berguna."
Lin Yan melirik spion. "Kita lihat nanti."
Satu jam kemudian, mobil memasuki jalan setapak menanjak. Hutan lebat di kiri kanan, lalu tembok tinggi dengan pagar besi bermawar. Pintu gerbang terbuka otomatis.
Ketiga ilmuwan itu membeku.
Di dalam, jalan raya mulus, taman bunga mawar, lampu-lampu bergaya antik, dan di ujung, sebuah kastil megah berdiri.
"A-Apa ini..." bisik Xiao Ning.
"Rumah. Apalagi" Lin Yan memarkir mobil.
Lin Feng sudah menunggu di pintu kastil. Wajahnya segar, senyum ramah lalu melihat penampilan kakaknya. Kaos berlumuran darah, wajah belepotan hitam, rambut acak-acakan. Ia menghela napas panjang.
"Jie... habis dari mana lagi?"
"Main." Lin Yan turun, membuka pintu belakang. "Ini temuan. Mereka peneliti pertanian. Habis dipungut di jalan."
Lin Feng mengamati tiga orang yang keluar dari mobil dua wanita muda, satu pria tua. Semua tampak ketakutan, kotor, kurus. Tapi mata mereka berbinar melihat kastil.
"Habis dipungut di jalan?" ulang Lin Feng, setengah tidak percaya.
"Iya. Suruh mereka tinggal di apartemen. Kasih tahu peraturan."Lin Yan melambaikan tangan malas. "Jie mau mandi."
"JIE! JELASIN DULU!"
Tapi Lin Yan sudah masuk ke kastil, meninggalkan Lin Feng yang menghela napas dan tiga ilmuwan yang masih terpaku.
Lin Feng tersenyum ramah, berusaha menjadi tuan rumah yang baik meskipun bingung. "Selamat datang. Nama aku Lin Feng. Kakakku memang... unik. Silakan masuk, aku akan jelaskan semuanya."
Mereka masuk ke kastil, melewati ruang tamu megah, keluar ke area Masyarakat Surga Gila. Pagar tinggi, jalan raya, dua bangunan megah—laboratorium dan apartemen. Mata mereka makin terbelalak.
"Ini... ini semua milik kakakmu?" tanya Xiao Yue tak percaya.
"Iya. Di sana apartemen, kalian bisa pilih unit kosong. Di sebelah laboratorium, tapi kalian peneliti pertanian, mungkin nanti ada tempat khusus. Aku akan urus."
Profesor Lin mengusap air mata. "Kami... kami tidak tahu harus bilang apa. Kami hampir mati di sana. Sekarang... tempat semewah ini..."
"Kakakku memang sedikit aneh,"kata Lin Feng sambil membuka pintu apartemen.
"Tapi dia baik. Kalau kalian berguna, kalian akan aman di sini. Tugas kalian menanam? Tanah di belakang sangat subur. Selama ini menganggur karena dia terlalu malas."
Ketiga ilmuwan itu mengangguk bersemangat. "Kami akan bekerja keras!"
Di kamarnya, Lin Yan sudah selesai mandi dan berganti pakaian. Kaos hitam kering, celana pendek, rambut masih basah. Ia menjatuhkan diri di ranjang, menghela napas lega.
【Misi selesai. 47 zombie. 3 ilmuwan baru. Bioskop masih utuh.】
"Filmnya masih bisa diputar?"
【Bisa. setiap film yang sudah di putar masih bisa diputar lagi】
"Bagus." Lin Yan tersenyum kecil. **"Besok aku nonton. Jangan ganggu."**
【tidak janji】
"berisik"
Di luar, matahari mulai terbenam. Di area Masyarakat Surga Gila, tiga ilmuwan baru mulai menata hidup baru mereka. Di dapur kastil, Lin Feng memasak untuk semua orang. Dan di kamar lantai tiga, Lin Yan sudah tertidur, memimpikan film horor yang belum sempat ia tonton.