Di kehidupan sebelumnya, Arga Bimantara adalah pria malang yang terjebak dalam jerat cinta buta kepada Tiara. Namun, pengabdiannya hanya dibalas pengkhianatan. Ia harus melihat kedua orang tuanya meninggal dalam kemiskinan dan kehinaan, sementara dirinya sendiri habis dikuras sebagai "sapi perah" oleh keluarga Tiara yang parasit. Arga mati dalam penyesalan mendalam, menyia-nyiakan hidup tanpa sisa.
Tak disangka, takdir memberinya kesempatan kedua. Arga terlempar kembali ke tahun 2000—titik awal di mana segalanya masih bisa diperbaiki.
Kali ini, Arga tidak akan lagi menjadi "si penjilat" yang lemah. Dengan ingatan masa depan dan modal miliaran rupiah dari keberuntungan yang ia rebut, ia memulai langkah pertamanya dengan satu tindakan tegas: Memutuskan hubungan dengan Tiara dan menghancurkan skema licik keluarga wanita itu!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Arga mengangguk. Mbah Pradipta mengamatinya dengan saksama, lalu mengernyit. "Seperti yang dikatakan Yuda, mangkuk ini memang kuno, tapi nilainya tidak terlalu tinggi. Hanya saja—"
"Hahaha!" Sebelum Mbah Pradipta selesai bicara, Joni sudah tertawa puas. "'Anak Indigo', apa lagi pembelaanmu?"
Arga tak menghiraukannya. Ia mengambil kembali mangkuk itu dan dengan lembut mengetuk retakan kecil di pinggirnya.
Krak!
Lapisan tanah liat dan kerak kusam yang menutupi permukaan luar mangkuk itu retak dan runtuh! Sekejap kemudian, cahaya keemasan yang menyilaukan memancar dari dalam mangkuk. Semua orang refleks memicingkan mata!
"Mbah Pradipta," Arga bertanya tenang, "Sekarang, bagaimana menurut Anda?"
Wajah Mbah Pradipta berubah drastis. Ia mengambil mangkuk itu lagi—tangannya gemetar, napasnya tersengal. "Ini... ini bukan tanah liat biasa! Ini porselen berlapis emas murni kerajaan! Ini mahakarya yang hilang!"
Arga berkata lantang dan mantap, "Aku memiliki sebuah pusaka abadi. Ia terkubur debu selama bertahun-tahun. Kini debu sirna, cahaya pun lahir—menerangi ribuan gunung dan sungai!"
Pada titik ini, bahkan tanpa penjelasan Mbah Pradipta sekalipun, semua orang sudah dapat melihat dengan jelas—mangkuk emas itu pasti bernilai luar biasa tinggi.
“Apa yang kau bicarakan? Pusaka yang kembali? Bukankah itu hanya mangkuk emas sepuhan?” Tiara mencibir dengan wajah penuh penghinaan. “Menurutku, harganya paling banter 2,7 juta. Sulit bahkan untuk menutup modal 3 juta, tapi 5 miliar? Jangan mengada-ada!”
“Diam!” Mbah Pradipta mendadak murka dan berteriak lantang. “Aku tidak mengizinkan siapa pun menghina pusaka nasional!”
Bentakan itu begitu keras hingga membuat Tiara pucat pasi, seakan jantungnya nyaris meloncat keluar. Joni Hartono mengerutkan kening dan bertanya dengan suara rendah, “Mbah Pradipta, apakah mangkuk ini benar-benar harta berharga?”
“Lebih dari sekadar harta,” jawab Mbah Pradipta dengan suara tegas. “Ini adalah pusaka kerajaan yang hilang!”
Ucapan itu membuat seluruh hadirin terguncang.
“Bukankah ini hanya mangkuk emas yang tertutup kerak bumi?” Joni Hartono mengerutkan bibirnya. “Kalau disimpan sampai tua pun, nilainya mungkin hanya beberapa puluh juta. Pusaka nasional? Bukankah itu berlebihan?”
“Ini bukan mangkuk emas biasa,” jawab Mbah Pradipta serius. “Perhatikan bagian dasarnya. Ukiran lambang 'Surya' di sana disematkan dengan batu mulia paling langka dari era kejayaan Majapahit.” Ia menarik napas dalam-dalam, lalu berkata dengan penuh keyakinan, “Berdasarkan catatan kuno, aku dapat bertanggung jawab sepenuhnya—ini adalah Genthong Penglaris milik Saudagar Kiai Kanigoro, tokoh legendaris yang kekayaannya konon tak pernah habis!”
Boom!
Begitu kalimat itu terucap, seakan petir meledak di benak semua orang! Sebagian besar yang hadir adalah pebisnis. Bagaimana mungkin mereka tidak mengenal legenda Kiai Kanigoro atau tokoh-tokoh saudagar sakti zaman dahulu yang namanya melegenda? Konon, barang siapa memiliki wasilah atau pusaka peninggalannya, usahanya akan lancar jaya seolah air mengalir.
Karena itu, ketika para pebisnis di tempat itu mendengar bahwa mangkuk tersebut adalah pusaka legendaris pembawa keberuntungan, mata mereka langsung memancarkan ketamakan yang tak tersembunyi. Siapa yang tidak menginginkan benda yang dikatakan mampu mendatangkan kekayaan tanpa akhir?
“Mbah Pradipta… Anda yakin tidak salah?” Joni Hartono bertanya dengan suara bergetar.
“Aku menjaminnya dengan reputasiku sebagai kurator senior,” jawab Mbah Pradipta tegas. Ia lalu mengangkat mangkuk emas itu dengan sangat hati-hati, sebelum mengembalikannya ke tangan Arga dengan penuh hormat.
“Lalu… berapa nilainya?” Tiara bertanya tergesa-gesa, jantungnya berdebar kencang.
“Pusaka semacam ini tidak ternilai,” jawab Mbah Pradipta perlahan. “Namun, jika harus diberi harga pasar saat ini, setidaknya 6 miliar. Dua puluh tahun lagi, nilainya mencapai puluhan miliar pun bukan hal mustahil.”
Hiss…
Seluruh aula menarik napas panjang secara bersamaan. Barang yang dibeli seharga 3 juta… bisa bernilai miliaran hanya dalam sekejap?!
Yang paling terpukul adalah Tiara dan Yuda Perdana. Keduanya hampir gila karena penyesalan! Mereka menyaksikan sendiri bagaimana Arga membeli mangkuk itu. Saat itu, mereka menertawakan Arga sebagai orang bodoh.
Yuda Perdana begitu menyesal hingga rasanya hatinya berdarah. Mangkuk itu pernah mendekam di galerinya! Ia bahkan hampir memilikinya! Sementara itu, hati Tiara seakan hancur berkeping-keping. Menurutnya, mangkuk itu seharusnya menjadi miliknya—sebagai kompensasi atas waktu yang ia habiskan bersama Arga!
“Arga! Kau sudah tahu mangkuk ini sangat berharga, kan?! Katakan padaku!” Tiara berteriak histeris.
“Tentu saja,” jawab Arga santai. “Kalau tidak, untuk apa aku menghabiskan 3 juta membelinya? Apa kau pikir aku mengeluarkan uang hanya untuk menjengkelkanmu?”
“Kau—!” Tiara melonjak marah. “Mangkuk ini seharusnya diberikan padaku sebagai ganti rugi masa mudaku! Aku bayar kau 3 juta, balikkan padaku sekarang!”
Arga memutar bola matanya dan sama sekali tak menggubrisnya. Tiara merasa sesak napas. Itu 6 miliar! Ia seharusnya bisa memilikinya jika masih menjadi tunangan Arga!
Joni Hartono mengangguk pelan, menatap mangkuk emas itu dengan sorot mata serakah. Bagi pebisnis, maknanya jauh melampaui nilai seni. “Masih berani bertaruh?” tantang Joni.
Arga bertanya tenang, “Bagaimana mekanismenya?”
“Aku telah menyiapkan dana 6 miliar sebagai jaminan di rekening pameran,” ujar Joni Hartono. “Jika kau menang, ambil semuanya. Jika aku menang, mangkuk itu jadi milikku!”
Dokumen ditandatangani dan disahkan oleh notaris pameran. Kini, Joni Hartono tak lagi bisa mundur.
“Baik. Mari kita mulai,” kata Arga tanpa ragu.
“Mas Arga, berhati-hatilah…” Bagus Mahendra mendekat dengan wajah cemas. “Sejujurnya, batu-batu mentah itu sudah ditandai. Hanya Joni yang tahu mana yang isinya bagus. Mustahil menang melawan kecurangan seperti itu!”
Arga menatap Bagus dengan serius. “Pak Bagus, izinkan aku mengatakan ini—siapa pun yang menyinggung utusan Ratu Kidul, akhir hidupnya tidak akan pernah baik!”
Pada saat itu, Sherly melangkah maju. Mata Joni Hartono langsung berbinar melihat kecantikan putri Keluarga Gunawan itu.
“Mbak Sherly,” Joni tertawa kecil, “aku khawatir pemuda peliharaanmu ini akan mempermalukanmu.”
“Tidak,” jawab Sherly mantap. “Aku percaya dia akan menang, karena dia adalah pria pilihan Sherly Gunawan.” Ia menatap Arga dengan mata berkilat penuh keyakinan. “Mas Arga adalah naga sejati!”
Detik berikutnya, di hadapan semua orang, Sherly melakukan sesuatu yang membuat seluruh aula terperangah. Ia mengeluarkan sebuah cek, menuliskan angka 4 miliar dengan cepat, menandatangani, lalu menepukkannya di atas meja.
“Aku juga ingin ikut bertaruh dalam pertandingan ini!”
Semua orang menatap cek itu, lalu kembali terguncang hebat.
4 miliar!
Jika ditambahkan dengan nilai pusaka Mangkuk Penarik Rezeki milik Arga, total nilai taruhan dalam perjudian ini telah melampaui 10 miliar!
“Sherly, kau…”
Arga baru saja hendak berbicara, ketika Sherly tiba-tiba menutup bibir Arga dengan satu tangan. Ia menatap Arga dengan sorot mata serius dan berkata perlahan namun tegas,
“Aku sudah pernah mengatakan sebelumnya—kau adalah pria pilihan Sherly Gunawan, naga di antara manusia. Aku percaya, kau pasti akan menang!”