Dita, siswi kelas 12 SMA, harus menerima nasib pahit ketika ayahnya yang terlilit hutang dan terbaring sakit memaksanya menikah dengan Arjuna, seorang polisi duda beranak satu.
Pernikahan itu dijadikan tebusan atas kecelakaan yang melibatkan Arjuna dan membuat ayah Dita kritis.
Meski tak sepenuhnya bersalah, Arjuna menyetujui pernikahan tersebut demi menebus rasa bersalahnya. Di tengah perbedaan usia dan penolakan putri Arjuna terhadap ibu sambungnya yang masih belia, Dita dan Arjuna harus menghadapi ujian besar untuk mempertahankan rumah tangga mereka.
Apakah cinta diantara mereka akan tumbuh, atau pernikahan itu berakhir dengan perpisahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana yang gagal
Suasana di meja makan mendadak hening mencekam saat jemari Maudy bersiap menyentuh layar ponselnya. Maudy menatap Dita dengan tatapan predator yang siap menerkam mangsanya.
"Mas Juna, lihat ini. Kadang mata kita tertutup oleh wajah polos, padahal di belakang.... "
PRANG!
Belum sempat Maudy mengarahkan layar ponselnya ke wajah Arjuna, Angga yang duduk tepat di sebelah Maudy melakukan gerakan "refleks" yang sangat kasar. Dengan tangan kirinya yang sehat, ia menyenggol gelas berisi jus jeruk penuh hingga terguling tepat ke arah tangan Maudy.
Cairan lengket berwarna oranye itu tumpah ruah, membanjiri tangan Maudy dan merendam ponsel canggihnya yang tergeletak di atas meja.
"ASTAGA! Ponselku!" jerit Maudy histeris. Ia segera menyambar ponselnya yang kini basah kuyup. Layar ponsel itu sempat berkedip beberapa kali sebelum akhirnya meredup dan mati total, alias Matot 😂
"Aduh, Maaf.... maaf sekali, Tante Maudy!" ucap Angga dengan nada bicara yang dibuat-buat panik, meski matanya menatap Maudy dengan kilat tajam yang penuh selidik. "Tanganku masih kaku sekali bekas luka kemarin, sarafnya sepertinya belum sinkron. Aku benar-benar tidak sengaja."
Maudy gemetar karena amarah. Wajahnya memerah padam. Ia tahu betul ini bukan kecelakaan, tapi ia tidak punya bukti untuk menuduh Angga di depan semua orang. Rencana besarnya hancur dalam hitungan detik oleh "keteledoran" calon adik iparnya sendiri.
Tante Elsa yang duduk di seberang meja melihat ekspresi wajah Maudy yang kempis seperti balon bocor. Ia hampir saja tertawa terbahak-bahak melihat wanita angkuh itu frustrasi.
"Pffftttt..." Elsa menutup mulutnya dengan serbet makan, pundaknya berguncang sedikit. Ia segera berdehem saat menyadari Pak Prasetyo menoleh ke arahnya.
"Aduh, kasihan sekali ya, ponselnya mahal pasti itu."
Mimi menyikut lengan ibunya sambil menahan senyum kemenangan. Sementara itu, Dita mengembuskan napas panjang yang sejak tadi ia tahan. Dadanya terasa plong, seolah baru saja lolos dari lubang jarum.
Namun, suasana hati Pak Pras dan Bu Kinan mulai berubah. Mereka yang awalnya melihat Maudy sebagai wanita terpelajar dan anggun, kini mulai merasa risih dengan sikap Maudy yang terus-menerus mencoba memicu keributan di tengah jamuan makan yang seharusnya hangat.
"Maudy, sebaiknya kau ke belakang, bersihkan tanganmu," ucap Pak Prasetyo dengan nada suara yang berat dan tidak senang. "Lain kali, simpan ponselmu saat kita sedang makan bersama keluarga. Itu tidak sopan."
Bu Kinan hanya mengangguk setuju tanpa menoleh ke arah Maudy, ia lebih memilih menawarkan kue kepada Tante Elsa. "Silakan dimakan, Jeng Elsa. Abaikan saja keributan kecil tadi."
Maudy menggeram pelan, ia melirik ke arah Siena yang berada di sampingnya. Siena sendiri menghentakkan kakinya ke lantai, wajahnya cemberut total.
"Ih, Nenek Sihir menang lagi!" gumam Siena sangat lirih namun penuh kebencian.
Arjuna, yang sejak tadi hanya diam, menatap ponsel Maudy yang mati dengan dahi berkerut. Ia adalah seorang detektif, ia tahu Angga sengaja melakukannya. Namun yang membuatnya lebih penasaran adalah: Apa yang begitu penting di ponsel Maudy sampai adiknya rela melakukan tindakan nekat seperti itu?
Angga yang menyadari tatapan kakaknya, segera mengalihkan pembicaraan. "Mas Juna, nanti malam aku ingin mengobrol banyak sama Mas Juna, bisa kan?"
"tentu saja adikku!" jawab Arjuna lembut.
Angga kemudian melirik Maudy yang sedang berjalan ke dapur dengan langkah kesal. Dalam hatinya, Angga mulai menyusun rencana baru.
'Tante Maudy... dari mana kau bisa dapat foto itu? Ya, aku yakin kejadian di taman itu kau tahu. Jika kau mulai bermain kotor memantau aku dan Dita, maka aku tidak akan tinggal diam,' batin Angga penuh ancaman.
*
*
Malam itu, suasana kediaman Diningrat perlahan mulai tenang setelah badai kecil di meja makan. Maudy, dengan wajah yang ditekuk dan ponsel yang mati total, memilih untuk pamit pulang dengan alasan tidak enak badan. Meski Siena merengek memintanya tinggal, Maudy tetap bersikeras, pikirannya hanya tertuju pada satu hal, yakni membawa ponsel itu ke pusat servis tercepat agar "bom" di dalamnya bisa segera diledakkan.
Sementara itu, atas undangan hangat Bu Kinan, Tante Elsa dan Mimi akhirnya menginap. Elsa tampak sangat antusias, matanya berbinar melihat kemewahan kamar tamu, hingga Mimi harus menyikut lengannya berkali-kali.
"Ibu, tolong jaga sikap. Jangan norak begitu, malu dilihat pelayan," bisik Mimi ketus.
"Aduh Mimi, kapan lagi Ibu bisa tidur di kasur seempuk awan begini? Sudah, kamu diam saja," balas Elsa tak acuh.
Kamar Angga
Arjuna kini sudah berada di dalam kamar adiknya, ia duduk di tepi ranjang sambil menatap serius sang adik. Angga menatap kedua mata kakaknya dengan tatapannya yang serius, seolah ingin menanamkan setiap kata ke dalam benak Arjuna.
"Mas, jangan percaya apa pun yang dikatakan Tante Maudy. Dia hanya ingin jadi provokator supaya hubungan Mas dan Dita berantakan. Dia berniat jahat pada Dita," ucap Angga tegas.
Arjuna menatap adiknya, lalu mengangguk mantap. Kecurigaan yang sempat muncul di meja makan tadi ia tepis jauh-jauh. "Kamu tenang saja, Angga. Masmu ini lebih mempercayaimu ketimbang wanita itu."
"Syukurlah. Kalau bisa, jangan beri dia ruang terlalu sering di rumah ini, Mas. Kasihan Dita. Ya sudah, sebaiknya Mas Juna istirahat," tutup Angga.
Setelah pintu tertutup, Angga menghela napas panjang. Ia menyeret kursi belajarnya dan membuka laptop. Di layar itu, terpampang pengumuman resmi: "Selamat, Anda Diterima di University of Tokyo, Jepang."
Angga menatap tulisan itu dengan tatapan kosong. "Mungkin dengan cara ini, aku bisa melupakanmu, Dit. Mas Juna berhak bahagia. Sejak Mbak Dewi pergi, dia menutup hati. Tapi saat bersamamu, aku melihat binar yang berbeda di matanya. Mas Juna tertarik padamu," gumam Angga lirik, sebelum akhirnya terduduk lemas di kursinya.
Kamar Utama
Arjuna masuk ke kamar dengan langkah perlahan. Di atas ranjang, ia melihat Dita sudah meringkuk cantik dalam balutan piyama, membelakanginya. Arjuna tersenyum tipis, lalu menuju lemari untuk mengambil pakaian ganti.
Namun, luka di tangan kanannya benar-benar menyulitkan. Ia meringis saat mencoba melepas kancing kemejanya dengan satu tangan. Kain kemeja itu tersangkut, membuat perban di lengannya terasa tertarik.
Tiba-tiba, ia merasakan kehadiran seseorang di belakangnya. Dita, yang ternyata sedari tadi hanya berpura-pura tidur, kini sudah berdiri di hadapannya.
"Sini Pak, biar aku bantu," ucap Dita pelan, suaranya sedikit serak.
Arjuna terkejut, namun kemudian sorot matanya melembut. "Terima kasih, Dit."
Dita mulai membuka satu per satu kancing kemeja Arjuna. Saat kain itu tersingkap, Dita tanpa sadar menelan ludah. Di depannya terpampang dada bidang yang kokoh dan otot perut yang keras serta berlekuk sempurna, bagaikan roti sobek yang sering ia baca di novel-novel. Wajah Dita mendadak terasa panas.
Arjuna sendiri tidak melepaskan pandangannya dari wajah Dita. Ia menatap dalam, memperhatikan setiap gerakan jemari Dita yang gemetar kecil di atas kulitnya. Ada rasa nyaman yang aneh yang mulai merayap di hati sang perwira. Kehadiran Dita yang awalnya terasa asing, kini mulai terasa seperti rumah.
"Sudah selesai, Pak," bisik Dita tanpa berani menatap mata suaminya.
Arjuna tidak langsung menjauh. Ia justru meraih tangan Dita yang masih memegang kemejanya. "Dit... terima kasih sudah mau bersabar denganku. Maaf jika rumah ini terasa berat untukmu."
Dita hanya terdiam, namun ia bisa merasakan ketulusan dari genggaman tangan Arjuna. Di kamar yang sunyi itu, benih-benih rasa baru mulai tumbuh, meski bayangan masa lalu masih membayangi di luar pintu.
Bersambung...
skrng saatnya hempaskan itu c ulat bulu Maudy jauh jauh Juna