"Menikahimu adalah ibadah terpanjang yang pernah aku ikrarkan. Namun, mengapa kini aku merasa sedang menyembah kehampaan di rumah yang tak lagi bertuan?"
Sepuluh tahun lamanya, Hana percaya bahwa kesetiaan adalah fondasi tunggal yang akan menjaga atap rumah tangganya tetap kokoh. Ia telah memberikan segalanya—masa mudanya, impian-impiannya, hingga seluruh napasnya hanya untuk melayani Aris, suaminya. Bagi Hana, rumah mereka adalah "Surga" kecil yang ia bangun dengan tetesan keringat dan doa-doa di setiap sujud malamnya.
Namun, perlahan "Surga" itu mulai terasa dingin. Aris, pria yang dulu selalu pulang dengan senyum hangat, kini berubah menjadi sosok asing yang membawa aroma parfum yang tak pernah Hana kenali. Tatapan matanya yang dulu penuh cinta, kini kosong dan seolah menembus tubuh Hana seakan ia adalah bayangan yang tak kasat mata.
Petaka itu dimulai saat sebuah nama dari masa lalu Aris kembali muncul. Aris tidak hanya lupa jalan pulang ke pelukan Hana, ia mulai "melupakan" sel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: Cermin yang Retak
Pukul sepuluh pagi, suasana di sebuah kafe bergaya minimalis di sudut Jakarta Selatan terasa cukup tenang. Aroma biji kopi yang baru digiling menyeruak, kontras dengan aroma gulai dan detergen yang biasanya memenuhi indra penciuman Hana. Hana duduk di kursi sudut, tangannya yang dingin melingkari cangkir chamomile tea yang sudah mulai hangat kuku. Ia merasa asing di tempat seperti ini. Mengenakan setelan blus merah marun dan celana kain hitam—pakaian terbaik yang ia miliki yang sudah jarang ia sentuh—ia merasa seperti penyusup di dunianya sendiri.
"Hana? Ya ampun, ini benar-benar kamu?"
Hana mendongak. Seorang wanita dengan setelan jas kerja yang tajam, rambut dipotong bob rapi, dan tas bermerek yang tersampir di bahunya berdiri di hadapannya. Maya. Sahabatnya sejak ospek kuliah, wanita yang dulu selalu menjadi juara debat dan kini telah menjadi pengacara perceraian yang cukup disegani.
Hana memaksakan senyum, meski matanya tak bisa berbohong. "Hai, May. Maaf ya, mendadak sekali."
Maya duduk, matanya yang tajam langsung memindai penampilan Hana dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Jangan minta maaf. Aku justru senang akhirnya kamu mau keluar dari 'istana' itu. Tapi jujur, Na... kamu terlihat pucat. Ada apa? Suara kamu di telepon tadi malam kedengarannya seperti orang yang sedang melihat hantu."
Hana terdiam sejenak. Ia merogoh tasnya, mengeluarkan sebuah bungkusan tisu kecil, dan meletakkannya di atas meja. Dengan perlahan, ia membuka lipatan tisu itu, menyingkapkan anting mutiara yang ia temukan di saku Aris.
Mata Maya menyipit. Sebagai pengacara yang menangani ratusan kasus rumah tangga, ia tidak perlu bertanya banyak untuk memahami situasinya. "Di mana kamu menemukannya?"
"Saku celana Aris. Bersama struk parkir di mall mewah di jam yang dia bilang dia sedang rapat," suara Hana lirih, nyaris tertelan suara musik jazz yang mengalun pelan di kafe itu.
Maya menghela napas panjang, ia menyandarkan punggungnya ke kursi. "Anting ini mereknya Mikimoto, Na. Harganya bisa untuk mencicil mobil kelas menengah selama setahun. Aris tidak mungkin membelikan ini untuk rekan bisnis pria, kan?"
Hana menggeleng pelan. Air mata yang sejak tadi ia tahan mulai menggenang. "Dia bilang aku drama, May. Dia bilang aku terlalu curiga dan seperti anak kecil. Dia membuatku merasa seolah-olah akulah yang gila karena mempertanyakan kejujurannya."
Maya meraih tangan Hana, menggenggamnya kuat. "Itu namanya gaslighting, Na. Teknik klasik pria untuk membuat istrinya merasa bersalah padahal dialah yang bersalah. Dia menyerang pertahananmu agar kamu berhenti bertanya. Sekarang katakan padaku, apa yang ingin kamu lakukan?"
"Aku... aku tidak tahu," Hana menunduk. "Sepuluh tahun, May. Aku tidak punya apa-apa selain dia. Aku tidak punya pekerjaan, aku tidak punya tabungan atas namaku sendiri. Semua aset atas nama Aris atau perusahaan. Kalau aku menyerah sekarang, aku mau ke mana?"
Maya menatap Hana dengan tatapan iba namun tegas. "Itulah kesalahan banyak wanita, Na. Kamu memberikan 'surga' itu pada Aris tanpa menyisakan kunci cadangan untuk dirimu sendiri. Tapi dengar, belum terlambat. Kalau kamu mau tahu siapa pemilik anting ini, jangan tanya pada Aris. Dia akan terus berbohong sampai kamu sendiri yang membuktikannya."
"Bagaimana caranya?"
"Aris bilang dia sibuk dengan proyek baru, kan? Coba periksa daftar mutasi rekeningnya jika kamu bisa, atau periksa jadwal asistennya. Tapi yang paling penting... lihatlah dirimu sendiri di cermin, Hana."
Hana mengernyit bingung.
"Kamu terlalu cantik untuk layu di dapur hanya untuk pria yang bahkan tidak bisa menghargai masakanmu," lanjut Maya. "Mulai sekarang, jangan hanya jadi penjaga rumah. Mulailah jadi pengamat. Jangan tunjukkan kalau kamu tahu dia selingkuh. Jadilah istri yang paling manis, paling penurut, tapi biarkan matamu merekam semuanya."
Percakapan itu berlangsung selama dua jam. Maya memberikan banyak nasihat hukum secara tersirat, sementara Hana hanya bisa mendengarkan dengan hati yang berkeping-keping. Saat mereka berpisah di parkiran, Maya memberikan sebuah kartu nama kecil.
"Ini detektif swasta langganan kantorku. Dia sangat rahasia. Kalau kamu sudah siap melihat kenyataan pahit itu secara visual, hubungi dia. Tapi ingat, Na... sekali kamu melihatnya, surgamu tidak akan pernah sama lagi."
Hana pulang dengan perasaan yang lebih berat daripada saat ia berangkat. Di perjalanan, ia melewati sebuah toko perhiasan besar. Ia teringat anting mutiara itu. Selama sepuluh tahun, hadiah termahal yang diberikan Aris padanya hanyalah sebuah kalung emas tipis saat ulang tahun pernikahan kelima, itu pun dibeli karena Hana yang memintanya. Sementara untuk wanita lain, Aris dengan ringan mengeluarkan puluhan juta untuk sepasang anting mutiara.
Sesampainya di rumah, Hana tidak langsung masuk. Ia berdiri di depan pintu besar rumahnya yang megah. Rumah ini dulunya adalah impian mereka. Mereka yang memilih catnya, mereka yang memilih lantainya. Namun sekarang, rumah ini terasa seperti penjara berlapis emas.
Ia masuk ke dalam, dan keadaan masih sama sepi. Aris belum pulang. Hana berjalan menuju kamar mandi utama. Ia berdiri di depan cermin besar yang dipenuhi uap air karena ia menyalakan air panas. Ia menghapus uap itu dengan tangannya, menatap wajahnya sendiri.
Ia melihat lingkaran hitam di bawah matanya. Ia melihat kulitnya yang kusam. Ia melihat bibirnya yang pecah-pencah. Ia teringat kata-kata Maya: Lihat dirimu di cermin.
Hana mengambil lipstik merah yang ia beli dua tahun lalu dan belum pernah ia pakai karena Aris bilang dia lebih suka Hana yang "natural". Ia memoleskan warna merah berani itu di bibirnya. Kontras. Terlihat aneh, namun kuat.
"Surga ini sudah terlupakan olehmu, Mas," bisik Hana pada bayangannya di cermin. "Maka jangan salahkan aku kalau aku mulai membangun duniaku sendiri."
Tiba-tiba, suara pintu depan terbuka. Itu Aris. Hana segera menghapus lipstiknya dengan kasar menggunakan tisu, namun sisa warna merahnya masih membekas sedikit di sudut bibirnya. Ia menarik napas dalam, memaksakan wajah "istri sabar" miliknya kembali terpasang, dan turun ke bawah.
Aris masuk dengan wajah yang lebih cerah dari biasanya. Ia membawa sebuah buket bunga mawar putih yang besar.
"Untukmu, Na," ucap Aris sambil menyodorkan bunga itu. "Maaf soal tadi pagi. Aku terlalu stres dengan pekerjaan. Aku tidak bermaksud membentakmu."
Hana menerima bunga itu. Harumnya menyeruak, namun indra penciuman Hana justru mendeteksi sesuatu yang lain. Di antara wangi mawar segar itu, ada sisa aroma parfum floral yang sama dengan yang ada di kemeja Aris semalam.
Aris memberikan bunga ini bukan karena cinta, tapi karena rasa bersalah. Atau lebih buruk lagi, karena dia ingin menyuap Hana agar berhenti bertanya.
"Terima kasih, Mas. Bunganya cantik sekali," ujar Hana dengan senyum yang paling manis yang pernah ia buat. Senyum yang sama sekali tidak mencapai matanya. "Aku akan taruh di vas agar tidak cepat layu. Seperti hubungan kita, kan? Harus terus dijaga agar tidak layu."
Aris sempat tertegun mendengar kalimat Hana, namun ia segera tertawa kecil dan mengacak rambut Hana. "Kamu bicara apa sih, Na. Sudah ya, aku mau mandi dulu."
Hana menatap punggung Aris yang menjauh. Ia menatap mawar putih di tangannya. Dengan gerakan pelan, ia mencabut satu kelopak mawar itu dan meremasnya hingga hancur di telapak tangannya.
"Permainan dimulai, Mas," batin Hana.
Malam itu, Hana tidak lagi menangis di pojok tempat tidur. Ia berbaring dengan mata terbuka, menatap punggung Aris yang sudah terlelap. Di dalam pikirannya, ia mulai menyusun rencana 60 bab kehidupannya yang baru. Bab-bab di mana ia tidak lagi menjadi tokoh figuran di dalam rumah tangganya sendiri.
Ia meraih ponselnya, mencari nomor detektif yang diberikan Maya, dan mengirimkan satu pesan singkat: "Saya ingin memulainya besok."