Bima Sakti hanyalah seorang sopir di Garuda Group yang dikenal malas, sering terlambat, dan suka menggoda perempuan cantik. Namun, di balik sikapnya yang sembrono, Bima menyimpan identitas dan kemampuan luar biasa yang tidak diketahui siapa pun.
Kehidupan santainya berubah ketika ia harus berurusan langsung dengan Sari Lingga, Presiden Direktur Garuda Group yang dijuluki "Si Cantik Gunung Es". Di tengah persaingan bisnis yang kejam dan kejaran pria-pria berkuasa, Bima hadir bukan hanya sebagai sopir, melainkan sebagai pelindung rahasia bagi Sari.
Dari ruang kantor yang kaku hingga konflik dunia bawah Jakarta, Bima menunjukkan bahwa ia jauh lebih berbahaya daripada sekadar sopir armada biasa. Akankah si "Gunung Es" Sari Lingga akhirnya luluh oleh pesona sang sopir misterius ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Belasan anak buahnya ikut mencibir dengan sombong. Walaupun Bang Tigor membawa massa yang lebih banyak, mereka sama sekali tidak gentar. Belasan orang yang dibawa Dedi adalah petarung elit Geng Barong, sedangkan orang-orang Bang Tigor hanyalah preman jalanan biasa—atau lebih tepatnya, gerombolan tanpa disiplin yang hanya menang jumlah.
"Sialan! Hari ini aku benar-benar akan melawanmu!" bentak Bang Tigor akhirnya. "Bukankah kalian hanya Geng Barong? Hari ini aku tetap akan bertarung!"
Ia mengangkat batang besi di tangannya lalu menoleh kepada Bima. "Tuan Bima! Selama Anda memberi perintah... kami akan bertarung!"
Bima mengangguk pelan. Setidaknya Tigor bukan orang yang sepenuhnya pengecut jika sudah terpojok.
"Tigor," katanya tiba-tiba. "Apa kamu pikir aku menjebakmu dengan memintamu membawa orang untuk menghadang Dedi?"
Bang Tigor tertegun. Ia tidak mengerti arah pembicaraan itu. Bima melanjutkan dengan tenang, suaranya mengalun seperti guru yang sedang memberi pelajaran.
"Kalau kamu tidak datang hari ini, aku bisa menjamin... dalam waktu seminggu nasibmu mungkin akan lebih buruk daripada Dimas. Pernahkah kamu pikirkan? Dua hari lalu orang-orang dari Prawira Group memintamu menanganiku. Kenapa mereka memilihmu?"
Bang Tigor tiba-tiba membeku. Beberapa detik kemudian, ekspresi wajahnya berubah drastis. Ia akhirnya mengerti. Dengan kekuatan dan hubungan yang dimiliki Prawira Group, mereka sebenarnya bisa dengan mudah meminta bantuan geng besar di Jakarta. Tidak perlu mencari kelompok kecil seperti miliknya.
Jika mereka tetap mencarinya, hanya ada satu alasan: mereka sudah menyiapkan kambing hitam. Jika sesuatu terjadi, orang-orang kecil seperti Bang Tigor yang akan dijadikan pihak yang disalahkan dan dikorbankan.
Memikirkan itu, tangan Bang Tigor mengepal kuat hingga buku jarinya memutih. Wajahnya penuh amarah yang tertahan.
Bima melambaikan tangan dengan santai. "Kalau kamu bisa memahami ini, berarti kamu tidak terlalu bodoh. Dunia ini memang hukum rimba. Yang kuat dihormati dan ditakuti—itulah aturan yang berlaku."
"Tidak terima? Ingin melawan? Tentu saja boleh. Tapi ada risiko. Kamu harus siap menanggung akibatnya." Bima tersenyum tipis. "Yang penting... ada kesempatan. Dan kesempatan itu sekarang ada di depanmu."
Ia menunjuk ke arah Dedi.
"Pemimpin cabang barat Geng Barong, Dedi... bersama pasukan elitnya... semuanya ada di sini." Ia menepuk bahu Bang Tigor pelan. "Kalau kamu bisa menghancurkan mereka hari ini... maka hari ini juga akan menjadi hari kebangkitanmu."
Bima tersenyum lebih lebar. Ia merasa, dengan kefasihan lidahnya, sungguh sayang jika ia tidak menjadi seorang orator ulung. Setelah kata-kata yang baru saja ia ucapkan, seluruh orang di pihak Bang Tigor mendengarkan dengan semangat yang berkobar-kobar.
Benar sekali. Jika mereka memanfaatkan kesempatan ini untuk menjatuhkan Dedi beserta para preman elitnya, maka kawasan kumuh di barat kota pasti akan jatuh ke dalam kekacauan. Mungkin kelompok Bang Tigor tidak akan langsung menggantikan posisi Geng Barong sebagai kekuatan terbesar, namun setidaknya, mereka akan memperoleh nama dan reputasi yang diperhitungkan.
Terlebih lagi, belum lama ini Bang Tigor telah membantu Bima menyingkirkan Dimas. Dimas adalah putra mahkota Prawira Group yang kini telah cacat. Tidak mungkin Tama Prawira akan membiarkan perkara ini berlalu begitu saja. Bima adalah dalang utamanya, dan Bang Tigor adalah kaki tangannya.
"Sialan!" Bang Tigor akhirnya menggertakkan gigi. "Kalau mati ya mati! Hari ini aku akan bertarung habis-habisan!"
Tatapan Dedi langsung berubah tajam dan berbahaya.
"Tigor!" bentaknya dingin. "Kamu benar-benar tidak tahu diri. Kamu sungguh ingin melawan Geng Barong?"
Bang Tigor meliriknya, tetapi tidak menjawab. Ia justru menoleh kepada sekitar empat puluh orang yang berdiri di belakangnya. Mereka adalah hampir seluruh anggota kelompoknya.
"Saudara-saudara!" Suara Bang Tigor menggelegar di dalam pabrik tua itu. "Apa yang dikatakan Tuan Bima tadi benar! Kita sekarang lemah. Di mata orang lain, kita hanyalah semut kecil! Kalau mereka ingin meremas kita sampai mati, mereka tinggal meremas! Kalau ingin menginjak kita sampai mati, mereka tinggal menginjak!"
"Orang lain menguasai tempat yang bagus, makan makanan enak, minum minuman mahal, tidur dengan wanita cantik! Kita juga mempertaruhkan nyawa setiap hari, tapi kenapa kita hanya bisa minum sisa kuah di belakang mereka? Kita semua dilahirkan oleh orang tua! Kenapa kita harus terus hidup melihat wajah orang lain?!"
Suasana mulai memanas. Semangat para preman jalanan itu mulai tersulut.
"Tuan Bima benar! Kesempatan sudah ada di depan kita! Kalau kita berani bertarung, mungkin kita bisa bangkit! Kalau tidak berani bertarung... maka seumur hidup kita hanya akan diinjak!"
"Aku sudah memikirkannya. Daripada hidup seperti sampah begini, lebih baik sekali ini saja mengikuti Tuan Bima untuk berjudi dengan nasib! Kalau kalah? Tidak masalah! Paling-paling kepala kita pecah! Dua puluh tahun lagi kita akan lahir menjadi pahlawan lagi!"
"Tapi kalau kita menang... kita bisa hidup bebas dan bermartabat! Membuat para binatang yang selama ini memandang rendah kita berlutut!" Bang Tigor mengangkat tangannya tinggi-tinggi. "Aku ingin minum arak terbaik dan tidur dengan wanita tercantik! Saudara-saudara... bagaimana dengan kalian?!"
"Hajar mereka! Minum arak terbaik! Tidur dengan wanita tercantik!" Sorak-sorai langsung meledak memekakkan telinga.
Wajah Dedi sedikit berubah. Ia tidak menyangka Bima mampu membakar semangat para "sampah" jalanan itu hanya dalam waktu sesingkat itu. Namun ia tetap merasa di atas angin.
"Sampah tetaplah sampah!" ejeknya dingin. "Berteriak sekeras apa pun, kalian tetap sampah! Tigor! Karena kamu ingin melawanku... hari ini aku akan memusnahkan kelompokmu! Saudara-saudara—serang!"
Dedi memang sombong, tetapi ia sangat tegas dalam bertindak. Jika Tigor terus memprovokasi anak buahnya, situasi bisa berubah tak terkendali. Karena itu, tanpa ragu ia langsung memberi perintah menyerang.
Belasan anak buahnya menerjang seperti harimau turun gunung, langsung menyerbu ke arah empat puluh lebih anggota Geng Cobra.
“Saudara-saudara! Ikuti aku!” Bang Tigor juga tidak mau kalah. “Hancurkan Dedi, kita menjadi raja kawasan kumuh!”
Dua kelompok orang itu langsung bertabrakan. Suara benturan, teriakan, makian, dan jeritan kesakitan segera memenuhi pabrik tua yang sunyi itu. Untung saja Dedi sebelumnya memang berniat melumpuhkan Bima, sehingga ia membawa mereka ke tempat terpencil ini. Jika tidak… dengan keributan sebesar ini, polisi pasti sudah dipanggil sejak tadi.
“Brengsek! Danu! Selama ini kamu selalu menyombongkan diri karena bergabung dengan Geng Barong! Hari ini aku akan menendang telurmu!”
“Lius! Waktu itu aku baru saja mendapatkan gadis incaran, tapi kamu merebutnya dan bahkan menamparku di depannya! Hari ini aku akan mematahkan kakimu!”
Ternyata orang-orang Bang Tigor selama ini sering ditindas oleh anak buah Dedi. Kini ketika kedua pihak bertarung dengan mata merah, bahkan dendam-dendam lama pun ikut dibongkar. Anak buah Bang Tigor dipenuhi kemarahan. Dengan keunggulan jumlah, mereka mengepung lawan tiga atau lima orang sekaligus, lalu menghantamkan tongkat di tangan mereka tanpa ragu.