NovelToon NovelToon
Cinta Yang Kupaksa Kau Benci

Cinta Yang Kupaksa Kau Benci

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Cinta Murni / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:27k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

“Kita cerai.”
Sepuluh tahun pernikahan hancur oleh satu kalimat dingin dari Kaisyaf. Pria yang dulu menunggu Ayza selama empat tahun.

Pria yang pernah menjadi rumahnya itu kini berubah menjadi orang asing. Ia jarang pulang, menjauh dari keluarganya, bahkan meninggalkan jejak yang seolah membuktikan bahwa ia memiliki wanita lain.

Namun Ayza tidak pergi. Ia bahkan rela dimadu asalkan suaminya tidak meninggalkannya.

Fahri, adik angkat yang diam-diam mencintai Ayza sejak lama, tak tahan melihatnya terus disakiti. Sementara Reza, mantan suami yang pernah kehilangan Ayza, kembali dengan penyesalan yang belum selesai.

Hingga kebenaran tentang Kaisyaf akhirnya terungkap, dan menghancurkan hati Ayza lebih dari pengkhianatan apa pun.

Kini Ayza harus memilih: tetap setia pada cinta yang telah pergi, kembali pada masa lalu, atau menerima seseorang yang sejak lama menunggunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. Yang Dilihat Tidak Selalu Benar

Mobil melaju membelah jalan yang kian gelap.

Angin bertiup semakin kencang, menggoyangkan pepohonan di sisi jalan. Sesekali petir menggelegar, menyambar langit yang pekat.

Tak lama, hujan turun. Awalnya rintik… lalu semakin deras, membasahi jalan dan segala yang dilaluinya.

Di balik kemudi, Kaisyaf fokus ke depan. Tangannya stabil di setir. Namun napasnya… tidak setenang biasanya.

Ada yang mengganjal di dadanya.

Ia menarik napas lebih dalam. Menahannya. Batuk kecil nyaris keluar. Ia menelan. Memaksa.

“...tahan," gumamnya pelan.

Matanya tetap lurus ke jalan. Seolah dengan itu… semuanya bisa tetap terkendali.

Namun beberapa detik kemudian, rasa itu kembali. Lebih kuat. Dada terasa menekan dari dalam. Napasnya mulai tidak teratur. Tangan di setir sedikit mengencang.

“...sial.” Suara itu keluar lebih berat.

Ia melirik sekilas ke sisi jalan. Tanpa banyak pikir, langsung menyalakan lampu sein. Mobil menepi cepat.

Belum benar-benar berhenti sempurna—

"Uhuk.. uhuk..."

Batuk itu pecah. Keras. Tertahan terlalu lama… dan akhirnya keluar tanpa ampun.

Tubuhnya sedikit membungkuk ke depan. Satu tangan terlepas dari setir. Meraih kotak tisu di dashboard.

Cepat. Hampir terburu.

Batuk itu tidak berhenti. Satu kali. Dua kali. Semakin dalam. Semakin menyakitkan.

Ia menutup mulut dengan tisu.

“Uhuk—!”

Dan saat akhirnya batuk itu mereda, ia terdiam. Napasnya berat. Matanya turun… ke tisu di tangannya.

Merah. Pekat. Tidak samar. Tidak ragu. Jelas.

Untuk beberapa detik… ia hanya menatapnya. Tanpa reaksi. Seolah butuh waktu… untuk benar-benar menerima apa yang ia lihat.

Lalu perlahan, ia menyandarkan tubuhnya ke kursi. Matanya terpejam.

Satu tangan masih menggenggam tisu itu. Mengencang. Napasnya masih belum sepenuhnya stabil.

Namun kali ini… bukan karena batuknya. Melainkan karena kenyataan yang tidak lagi bisa ia abaikan.

“…makin cepat, ya," bisiknya pelan.

Tidak ada panik. Tidak ada terkejut. Hanya… penerimaan yang terasa dingin. Ia membuka mata. Menatap ke depan lagi.

Kosong.

Beberapa detik berlalu. Lalu tangannya bergerak. Melipat tisu itu. Menyimpannya ke samping. Seolah itu hanya sesuatu yang… harus dibereskan. Bukan sesuatu yang baru saja mengubah segalanya.

Ia menarik napas panjang. Menegakkan tubuhnya kembali. Tangannya kembali ke setir. Kali ini… lebih tenang. Lebih pasti.

“…berarti waktuku memang tidak banyak.”

Kalimat itu keluar datar. Namun justru karena itu… terasa lebih berat.

Ia kembali menyalakan mesin. Mobil kembali melaju meninggalkan tempat itu. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

Namun kali ini… arah yang ia tuju tidak lagi sekadar pergi. Tapi benar-benar… menjauh.

Kini… ia tidak lagi berpikir bagaimana bertahan. Tapi… bagaimana memastikan semuanya selesai tepat waktu.

***

Bandara belum terlalu ramai saat Kaisyaf melangkah pelan. Terlalu pelan… untuk seseorang yang biasanya selalu berjalan lebih dulu. Satu tangannya bertumpu pada bahu Nara.

Wanita itu menghela napas berat.

“Berat juga kamu,” gumamnya. “Padahal berat badanmu sudah turun banyak.” Nada suaranya setengah kesal, setengah menahan khawatir.

Kaisyaf tersenyum tipis. Lelah.

“Maaf," ujar Kaisyaf sederhana. Namun tidak ringan. “Kalau Ridho tidak ada meeting penting…” lanjutnya pelan, “…pasti dia yang antar.”

Nara mendengus kecil.

“Justru itu. Harusnya aku gak nekat datang sendirian.” Ia melirik sekilas ke arahnya. “…dan harusnya tadi aku maksa kamu pakai kursi roda.”

Kaisyaf tidak menjawab. Hanya menarik napas perlahan. Langkahnya sempat goyah.

Refleks, tangan Nara langsung menguatkan. “Pelan,” katanya cepat. “Kamu pikir ini lomba?”

Kaisyaf menggeleng tipis. “Masih bisa.”

“Ya, jelas. Sampai jatuh dulu baru berhenti, 'kan?” Nada Nara datar. Tapi jelas menyindir.

Kaisyaf hanya diam. Tidak membantah.

Beberapa detik… mereka berjalan dalam diam. Namun dari kejauhan, seseorang berdiri. Memerhatikan.

Reza.

Matanya menyempit sedikit. Tatapannya tertahan pada sosok pria yang dipapah seorang wanita.

Dekat. Terlalu dekat… untuk sekadar rekan kerja, jika dilihat dari jauh.

Kamera di tangannya terangkat.

Klik.

Satu gambar tertangkap. Kaisyaf yang sedikit membungkuk. Nara yang menopang tubuhnya. Terlihat… seperti sesuatu yang lain.

Klik.

Satu lagi.

Reza menurunkan kameranya perlahan. Tatapannya belum lepas.

“…jadi ini," gumamnya pelan.

Bukan karena ia tahu kebenarannya. Tapi karena… ia merasa sudah menemukan jawabannya.

 

Kaisyaf akhirnya duduk perlahan di kursi. Napasnya sedikit berat. Satu tangan bertumpu di paha.

Nara berdiri di sampingnya, menatap tajam. “Duduk yang benar,” gumamnya. “Jangan dipaksakan.”

Kaisyaf hanya mengangguk tipis. Namun beberapa detik kemudian, napasnya tersendat.

Batuk kecil keluar. Tertahan.

Ia menunduk sedikit, mencoba menahan.

“Hey—”

Belum sempat selesai, batuk itu pecah.

“Uhuk—!”

Tubuhnya langsung membungkuk.

Refleks, Nara bergerak cepat. Satu tangan menahan bahunya agar tidak terlalu condong ke depan. Tangan lainnya terangkat… mengusap pelan bagian dadanya.

“Tarik napas pelan,” ucapnya tegas. “Jangan dilawan.”

Batuk itu masih berlanjut. Lebih dalam.

Nara sedikit mendekat. Terlalu dekat… jika dilihat dari jauh.

Tangannya tetap di dada Kaisyaf. Menahan, sekaligus membantu ritme napasnya.

“Pelan,” ulangnya. “Ikuti aku.”

Beberapa detik berlalu.

Batuk itu mulai mereda. Napas Kaisyaf masih berat. Namun perlahan kembali teratur.

Nara tidak langsung menjauh.

Tatapannya masih mengamati. Dekat. Fokus. Seolah memastikan semuanya benar-benar stabil.

“Sudah?” tanyanya lebih pelan.

Kaisyaf mengangguk tipis. “Masih hidup.”

Nara mendengus kecil. “Jangan bercanda di kondisi begini.”

Namun tangannya belum sepenuhnya lepas.

 

Dari kejauhan…

Reza berdiri. Tadi, sebuah pesan sempat memutus fokusnya. Membuatnya kehilangan jejak mereka untuk beberapa saat.

Namun kini… ia menemukan kembali. Dan kali ini, tatapannya tidak lepas.

Jarak itu tidak terlalu dekat. Namun cukup… untuk melihat bagaimana seorang wanita membungkuk di depan Kaisyaf.

Tangan di dada. Wajah yang terlalu dekat. Perhatian yang… terlihat lebih dari sekadar profesional.

Kamera di tangannya terangkat.

Klik.

Momen itu tertangkap. Namun tidak dengan makna yang sama.

***

Koridor rumah sakit itu tidak terlalu ramai. Aroma antiseptik tipis tercium di udara.

Ayza berdiri di depan loket farmasi. Tangannya menggenggam botol obat yang sejak kemarin mengganggu pikirannya.

“Bisa dicek ulang?” tanyanya pelan. “Saya ingin memastikan kandungannya.”

Petugas menerima botol itu. Mengangguk.

“Silakan tunggu, Bu.”

Ayza bergeser sedikit ke kursi tunggu. Duduk. Namun tubuhnya tidak benar-benar rileks.

Matanya sesekali menatap ke arah botol yang tadi dibawa pergi. Seolah jawaban… ada di sana.

 

“Ayza?”

Suara itu membuatnya menoleh.

Reza berdiri beberapa langkah dari sana. Tangannya masih memegang map hasil pemeriksaan.

Ayza sedikit terkejut. Namun cepat menetralkan ekspresinya.

“Pak Reza.”

“Benar kamu,” ucap Reza ringan, ada nada bangga di sana. “Aku sempat ragu, tapi ternyata gak salah. Meski kamu pakai cadar.”

Ia mengamati sekilas. “Kamu sakit?”

Ayza menggeleng tipis. “Saya ada perlu sedikit.”

Reza mengangguk pelan. Tidak langsung duduk. Tatapannya turun sejenak… ke tangan Ayza yang kosong. Seolah menangkap sesuatu yang tidak diucapkan.

“Perlu yang cukup serius, sampai harus datang sendiri ke rumah sakit?” Nada suaranya ringan. Tapi mengamati.

Ayza tidak langsung menjawab.

“Saya hanya ingin memastikan sesuatu,” ucapnya akhirnya.

Reza menatapnya beberapa detik. Lalu duduk di kursi di sampingnya.

“Kalau soal memastikan…” gumamnya pelan, "…kadang yang kita temukan… justru hal yang menghancurkan semuanya.”

Ayza menoleh sedikit. Mengernyit tipis.

“Maksudnya?”

 

...🔸🔸🔸...

...“Kadang yang terlihat jelas justru bukan kebenaran.”...

...“Satu orang memilih pergi, satu orang mulai mencari, dan satu orang… salah memahami.”...

...“Waktu tidak selalu habis karena berhenti, kadang habis karena dipercepat.”...

...“Yang disembunyikan demi melindungi, bisa berubah menjadi luka karena disalahartikan.”...

...“Tidak semua yang kita lihat adalah kebenaran, tapi dampaknya tetap nyata.”...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Yunita Sophi
sukurlah akhirnya ayah membuka sedikit rahasia Kaisyaf... ayo pak selidiki kasian anak istri nya tdk tau klo Kaisyaf sakit...
Anitha Ramto
nah kebenaran Kaisyaf yang sakit akan terungkap,jalannya dari Perawat yang mengatakan Critis

Dan Pak Husein tidak akan tinggal diam,akan melakukan apapun demi Kaisyaf.

langsung nyusul ke Luar Negri bersama Ayza...
semoga Kaisyaf terselamatkan
jangan di bikin meninggoy thor...
awas saja,,kalo Kaisyaf meninggoy mau berenti baca🥺
Wardi's
gk usah tlp ridho., yg ada d blokir aksesnya...
Wardi's
cek gps kaisyaf., pak husein pasti bkn org awam kan.., pst pengusaha jg khan? bs minta bantuan detektif jg.. ayo pak husein gaskeun sbelum terlambat...
Anitha Ramto
Reza terlalu percaya diri dan terobsesi oleh Ayza...
Hanima
Suami mu tidak mau di perhatikan Za, jadi bahagia lah dengan Alfian sajaaaa
septiana
lanjut kak Nana semangat 💪🥰
Wardi's
terbaik...
🌠Naπa Kiarra🍁: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
mery harwati
Semoga Ridho datang menemui Ayza untuk menjelaskan kesehatan Kaysaf bahkan lebih bagus lagi Nara sebagai dokter yang menangani Kaysaf yang menemui Ayza & menjelaskan secara rinci tentang kesehatan
💜🌷halunya jimin n suga🌷💜
ah terserah lo dah... lebih sakit ditinggal pergi tanpa kejelasan....
💜🌷halunya jimin n suga🌷💜
kaysaf jodoh maut kan rahasia allah... kl emang ente pergi duluan seharusya biarkan istrimu menjalani peranya mendapatkan syurga telah mengurusmu ini namay tak percaya dong.... ah susah jelasin sma orang pikiranya sensitif
abimasta
reza mau jadi pebinor,merusak rumah tangga orang
Muhammad Fauzan
suka
🌠Naπa Kiarra🍁: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Gadis misterius
Seharsnya kaysaf klu bnr2 mencintai ayza biarkan diakhir hidupnya tetap dirawat ayza dan diwkt mau maninggal baru ngasih wasiat sruh menikah dngn fahri agar fahri menjaga ayza dan all supaya tdk ada yg mengangu apa lagi dr mantan yg tdk tau diri itu sungguh kasian ayza klu setiap hari hrus berusan dngn buaya buntung ...untungya ayahya reza peka klu reza orangnya licik dan pinter bersilat lidah
Syarifah: Setuju
total 1 replies
naifa Al Adlin
padahal itu dokter
naifa Al Adlin
tuh kan bener, kaisyaf sakit. dia g mau lihat ayza sedih. makanya dia berpura2 selingkuh
ngatun Lestari
makin seru ini.... ditunggu lanjutannya... semangat dan sabar ya ayza
Dew666
💜💜💜
Wardi's
waduuh siapa yg datang... yg gk diharapkan datang pst bukan klrg dekat.., zahron, semoga gk muncul lg..
Hanima
Reza kah?.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!