Merlisa harus menerima kenyataan pahit, bahwa mantan kekasih yang masih begitu ia cintai harus bersanding dengan kakak tersayangnya.
Dan lebih parahnya lagi, Merlisa harus terjebak dalam pernikahan sandiwara dengan seorang Arga Sebastian, CEO tampan namun angkuh dan sudah memiliki kekasih. Demi memajukan perusahaan sang papa Merlisa menerima pernikahan yang tidak di dasari oleh cinta.
Bagaimana kisah Merlisa selanjutnya? apakah ia akan menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ropiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
" Sayang aku tidak mau wanita preman itu ada di sini, pecat dia sayang." Rengek Vanesa pada Arga.
Arga tidak menghiraukan perkataan Vanesa, ia masih sibuk dengan laptopnya.
"Sayaaaanngg!" teriak Vanesa yang langsung mengambil laptop Arga.
Arga membuang napas secara kasar, " berikan laptop ku sayang." Ucap Arga.
" Tidak, kalau kamu tidak menuruti perkataanku." Sahut Vanesa.
"Vanesaaa!" teriak Arga.
"Sayang kau membentak ku, hiks hiks."
" Bukan begitu sayang maafkan aku ya, aku sedang banyak pekerjaan. Masalah wanita itu aku tidak bisa memecatnya karena itu atas rekomendasi dari mama." Ucap Arga, sambil menangkupkan kedua tangannya pada pipi Vanesa.
"Uuhhuukk uuhhuukk." Merlisa pura - pura batuk saat melewati ruang tengah yang terdapat Arga dan Vanesa.
Arga hanya menaikan sebelah alisnya, dan Vanesa sengaja bergelayut manja di lengan Arga.
"Sungguh aku sangat mual melihat tingkah si mak Lampir dan pria bunglon itu." Gumam Merlisa, ia melangkahkan kakinya menuju roof garden. ia menaikan kedua kakinya di atas ayunan sambil memangku laptop miliknya, memeriksa email yang di kirim oleh Lia.
Merlisa masih di sibukan dengan laptopnya. Handphonnya berdering, ada panggilan video call dari sang kakak yang sudah lama ia rindukan.
" Hai dek, kamu lagi apa dek." Ucap Andri di sebrang sana.
" Hai juga kak, aku kangeeenn." Ucap Merlisa manja.
" Kakak juga sama kangen kamu dek, kamu ada di mana dek, kakak tau itu bukan taman rumah kita?" tanya Andri penuh selidik.
" Eemmm aku, aku ada di rumah temen kak." Bohong Merlisa.
" Kamu lagi gak menutupi sesuatukan dek?" curiga Andri.
" Apaan si kak, ngapain juga aku bohong, aku lagi di rumah temen, mau menginap. Kakak sedang apa di sana?" ucap Merlisa berusaha mengalihkan pembicaraan.
" Kakak baru pulang dek, langsung video call kamu."
" Pantas saja tercium bau asem kak, ternyata kakak belum mandi, hehehe." Goda Merlisa.
" Wah wah awas kamu ya dek kalau ketemu. Kakak walau belum mandi tapi tetap wangi dan ganteng dong." Ucap Andri.
" Wwweee aku gak takut dengan kakak, ganteng si iya tapi kok gak laku ya, hahahaha." Ucap Merlisa dengan gelak tawanya.
" Kakak tuh bukan gak laku tapi belum mau punya kekasih, huh!" dengus Andri.
" Cepatlah kenalkan kekasihmu denganku kak."
" Kau menyuruhku mempunyai kekasih sedangkan kau juga tidak mempunyai kekasih, huh!"
Aku tidak mempunyai kekasih kak, tapi sudah memiliki suami. Maafkan aku belum bisa mengatakan kepada mu kak. Batin Merlisa.
" Hei dek,kamu kenapa." Suara Andri di sebrang sana yang membuyarkan lamunan Merlisa.
" Ahh aku tidak apa - apa kak, kakak sana makan, kakak terlihat kurusan." Ucap Merlisa.
" Ya sudah dek, kakak mau mandi dulu. Iya nanti makan, kamu juga ya dek jangan cape - cape, harus istirahat cukup." Ucap Andri.
" Siap pak bos." Ucap Merlisa sambil memberi hormat layaknya hormat kepada bendera.
Dan video callpun terputus.
****
Di dalam arpatemen Arga dan Vanesa masih berada di ruang tengah, Vanesa sedang mengoceh dan bermanja - manja dengan Arga. Sedangkan Arga masih di sibukan dengan laptopnya, sesekali menjawab ocehan Vanesa.
Duuhh kenapa dia begitu cerewet si, tidak habis - habisnya mengoceh, sungguh aku pusing di buatnya. Batin Arga.
"Sayang aku boleh ya magang di perusahaan mu." Rengek Vanesa.
" Sayang buat yang satu itu maaf aku tidak bisa, kalau kau ingin magang di perusahaanku, kau harus berusaha sendiri mengikuti seleksi yang berlaku di perusahaan, karena itu peraturannya sayang." Ucap Arga.
Kalau kau magang di perusahaan induk, maka aku akan ketahuan dengan papa, kalau aku masih berhubungan denganmu. Batin Arga.
" Tapi apa gunanya aku menjadi kekasih CEO, kalau aku juga harus ikut seleksi." Ucap Vanesa dengan khas suara manjanya.
" Karena itu peraturannya sayang, masa aku yang membuat peraturan, aku yang melanggarnya." Ucap Arga.
" Memang kamu tidak mau dekat - dekat dengan ku ya, kan kalau aku bisa magang di perusahaan mu kita bisa sama - sama terus." Ucap Vanesa.
" Maka berusaha lah." Ucap Arga santai.
" Ahhh sayaaaang." Rengek Vanesa lagi.
Arga menghela nafas kasar, " Sudah malam, ayo aku antarkan pulang." Ajak Arga.
" Terus tentang magangku bagaimana?" tanya Vanesa.
"Tetap tidak bisa sayang, kau harus berusaha sendiri. Kalau kau mau aku akan memasukan mu di perusahaan cabang, tidak di perusahaan induk." Ucap Arga menawarkan.
"Aahh sayang, aku bisa pulang sendiri." Ucap Vanesa menghentakan kakinya dan pergi meninggalkan arpatemen Arga.
"Sungguh membuatku pusing, kenapa sifatnya sangat bertolak belakang dengan gadis bar - bar itu ya." Gumam Arga.
Ia melangkahkan kakinya menuju kamar Merlisa, namun tidak ada sosok yang ia cari.
"Kemana gadis itu." Ucap Arga sendiri saat.sudah mencari di setiap ruangan di arpatemennya.
Arga berjalan menuju roof garden, seketika senyuman terulas di bibirnya.
" Ternyata kau ada di sini, selalu saja kau tertidur sembarangan." Ucap Arga saat melihat Merlisa tertidur di atas ayunan dengan posisi duduk.
Arga berdiri menggunakan lututnya, berhadapan dengan Merlisa yang tengah tertidur pulas. Ia menatap wajah Merlisa lekat, tanpa ia sadari bibirnya melengkung sempurna.
Cup, satu ciuman kilas di kening Merlisa.
" Kau selalu ingin aku menggendongmu terus dengan tertidur sembarang seperti ini." Gumam Arga sambil menggendong tubuh Merlisa.
Ia membawa tubuh Merlisa ke dalam kamarnya, dengan hati - hati ia meletakan tubuh Merlisa di atas tempat tidur dan menyelimutinya.
Arga berlalu menuju kamar mandi untuk sikat gigi dan berganti pakaian.
Arga naik ke atas tempat tidur, menatap gadis yang berada di sampingnya.
Cup, satu kecupan kilas pada bibir Merlisa, Merlisa hanya menggeliat.
" Kenapa aku selalu ingin mencium gadis bar - bar ini, aku sudah gila rupanya." Gumam Arga sambil merebahkan tubuhnya, dan memeluk Merlisa erat,
Jam 05:00 pagi Merlisa sudah terbangun dari tidurnya, seperti biasa ia harus menyelesaikan tugas bersih - bersih di arpatemen.
" Di mana aku, kok bisa ada di sini." Gumam Merlisa.
Saat menoleh ke samping Merlisa melihat wajah tampan yang masih tertidur pulas di sampingnya, wajahnya begitu dekat sampai hembusan nafasnya terasa di kulit Merlisa, dengan pelukan yang begitu erat, seakan enggan untuk melepaskannya.
Kenapa kau seperti ini, lama - lama aku bisa meleleh di buatnya. Tapi tidak - tidak Merlisa, jangan sampai kau jatuh cinta dengannya, ingat dia sudah mempunyai kekasih dan cintanya hanya untuk kekasihnya. Batin Merlisa menatap wajah tampan Arga.
Sekilas Merlisa mencium bibir Arga, dan turun dari tempat tidur secara perlahan.
Merlisa melangkahkan kakinya menuju kamar miliknya untuk mencuci muka dan menggosok gigi.
Cukup lama Merlisa habiskan waktu untuk menyelesaikan pekerjaan rumahnya.
" Sudah selesai semua, tinggal membangunkan pria bunglon itu." Ucap Merlisa berbicara sendiri saat menata makanan untuk sarapan mereka.
" Hai bangun lah, aku sudah menyiapkan air hangat untuk mu mandi." Ucap Merlisa saat sudah berada di dalam kamar.
Mata Arga masih menutup sempurna, namun tangannya menarik lengan Merlisa yang langsung terjatuh di atas tubuh tegap miliknya.
" Mau kemana kau, aku belum mengizinkan mu untuk pergi." Ucap Arga dengan suara khas bangun tidur.
"Aku mau siapkan pakaian untuk mu, jadi lepaskan tanganmu ini." Ucap Merlisa berusaha melepaskan dekapan Arga.
" Cium aku dulu."
" Apa! aku bukan kekasihmu, jangan - jangan kau masih bermimpi ya." Ucap Merlisa.
" Aku sudah sadar nona, kau adalah istri ku jadi sudah seharusnya kau memberikannya bahkan kau belum memberi hak ku selama kita menikah." Ucap Arga.
" Kau terbentur apa si, pagi - pagi sudah ngelantur bicaranya. Apa harus aku ingatkan tuan, kita menikah hanya san...." Ucap Merlisa yang sudah terpotong.
Arga me***at bibir Merlisa begitu dalam, mengawali pagi dengan sebuah ci***n panas yang di buat oleh Arga.
Arga berusaha masuk ke dalam rongga mulut Merlisa, dengan menggigit pelan bibirnya dan Merlisa membuka mulutnya, dengan cepat Arga menerobos masuk, bermain dengan lidahnya. Arga tau betul jika Merlisa belum pernah melakukannya, karena ia begitu kaku.
Bersambung....