NovelToon NovelToon
Toxic Love

Toxic Love

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Cinta Terlarang / Keluarga / Romansa / Tamat
Popularitas:2.5M
Nilai: 4.9
Nama Author: Mizzly

"Kalau kamu cinta sama aku, buktikan dong! Kamu wanita pertama dalam hidup aku, Luna. Apa kamu tidak mau menjadikan aku lelaki pertama yang pernah tidur denganmu?"

Saat Noah meminta pembuktian cintaku padanya, aku bisa apa selain dengan bodohnya memberikan keperawananku padanya? Semua atas nama cinta. Cinta yang bagaimana? Cinta yang penuh dengan toxic?

Diilhami dari kisah nyata pergaulan anak muda jaman sekarang. Mohon bijak menyikapinya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keberanian Wulandari

POV Author

Luna datang sambil berlari masuk ke dalam rumahnya. Sejak di perjalanan, Luna merasa tidak tenang. Ia terus mengkhawatirkan Mamanya yang akan kena omel Papanya. Bayangan rasa sakit tamparan Papanya terus terngiang, Luna tak mau Mamanya merasakan rasa sakit itu lagi.

Betapa terkejutnya Luna, saat ia masuk ke dalam rumah didapatinya sang Papa sedang memegang leher Mamanya seperti posisi hendak mencekik sang Mama. "Papa! Hentikan!" teriak Luna dengan air mata yang tak bisa ia tahan lagi.

Luna berlari dan mendorong Papanya agar menjauh dari tubuh sang Mama. Luna melindungi Mamanya dengan tubuhnya. "Kalau Papa mau marah, marah sama aku saja. Tampar aku lagi sesuka Papa, tapi jangan pernah menyentuh Mama!"

Air mata Wulandari turun tanpa dikomando. Ia merasa haru, putrinya yang selama ini terkesan cuek dan bodo amat sampai membelanya seperti itu.

"Kamu pikir Papa takut? Hanya karena kamu anak Papa satu-satunya, jangan kamu pikir Papa akan luluh sama kamu! Anak tidak tahu malu, pergi ke luar kota sama pacar kamu. Sudah berapa kali kamu ditiduri oleh pacar kamu? Dibayar berapa kamu? Bikin malu saja!" maki Pak Tedjo pada Luna.

"Yang selama ini bikin malu, aku atau Papa? Yang suka menggoda para janda siapa? Yang suka kawin cerai macam kucing siapa? Papa yang sudah buat malu keluarga ini! Kalau aku begini, aku tuh mencontoh Papa!" jawab Luna dengan suara kencang. Keberanian yang selama ini tak pernah ia keluarkan semua menguap. Luna sangat marah melihat Mamanya mau dicekik. Luna tak mau kehilangan Mamanya. Hanya Mama yang peduli dan sayang dengan tulus pada Luna.

"Dasar anak kurang ajar!" Tedjo mengangkat tangannya hendak menampar Luna namun naluri seorang ibu untuk melindungi anaknya yang dimiliki Wulandari keluar. Ia menahan tangan Pak Tedjo agar tidak menyentuh pipi anaknya.

"Berani kamu sentuh Luna, aku pastikan kalau aku akan menggugat cerai kamu, Mas!" ancam Wulandari.

Luna menoleh ke arah Mamanya. Selama ini sang Mama selalu takut bercerai. Takut diomeli oleh Mbah. Takut digunjingi oleh saudara-saudaranya, tapi kini Mama malah berani mengancam Papa dengan sesuatu yang paling ia takuti.

"Oh ... makin berani ya kamu? Benar dugaanku, si Eko itu yang sudah meracuni pikiran kamu-" Belum selesai Pak Tedjo berbicara, Wulandari memotong ucapannya.

"Bukan Mas Eko yang meracuni pikiranku tapi kamu, Mas. Kamu yang sudah membuatku jadi pengecut dan nyaliku menjadi kerdil. Aku menjaga rumah tangga kita selama ini tapi apa, kamu malah membalasnya dengan hinaan demi hinaan, seakan kelakuan kamu tak lebih hina dari aku dan anakku. Ngaca, Mas, ngaca! Apa kamu sudah lebih baik? Apa kamu sudah mencontohkan yang baik sebagai seorang imam? Kamu saja hidupnya blangsak, kok seenaknya menghina kami berdua. Aku selama ini hanya diam saat kamu hina, Mas. Jangan harap aku akan diam saat anakku kamu hina. Kita bertemu di pengadilan! Biar aku yang gugat cerai kamu!" kata Wulandari dengan tegas.

Mata Tedjo membola mendengar keputusan Wulandari. Ia pikir Wulandari hanya gertak sambal saja, rupanya Wulandari benar-benar mewujudkan apa yang ia ancam. Bayangan akan menjadi duda rupanya membuat Tedjo agak takut, namun meminta Wulandari mengurungkan niatnya sungguh membuat Tedjo gengsi.

Tedjo pun mulai melakukan kebiasaannya di saat marah. Ia merusak berbagai barang yang ada di rumah. Tak mau dirinya dan Luna celaka, Wulandari menarik tangan Luna dan membawanya ke dalam kamar. Mereka berdua mengunci pintu dari dalam dan bersembunyi dengan tangan bergetar karena ketakutan.

Di luar kamar, Tedjo masih berteriak-teriak sambil merusak barang yang susah payah Wulandari beli dari hasil kerjanya. Wulandari tak peduli, baginya Luna yang utama. Ia mau Luna selamat.

Wulandari memeluk Luna dan menenangkannya, padahal Wulandari juga merasa takut. Lelaki yang emosi di luar kamar itu kalau berbuat nekat bagaimana?

Wulandari melepas pelukannya dan menatap Luna yang masih menangis. "Jangan kamu dengar Luna. Jangan dengar! Acuhkan saja. Sebentar lagi, Papa kamu akan puas meluapkan amarahnya dan kita bisa keluar." Wulandari menutup kedua telinga Luna, seperti yang selama ini selalu ia lakukan. Tangan Luna gemetar dan terasa dingin, sama seperti tangan Wulandari namun Wulandari sok bersikap kuat hanya demi anaknya.

Suara keributan di ruang tamu sudah tak lagi terdengar. Setelahnya terdengar suara pintu ditutup dengan kencang lalu suara mobil yang meninggalkan rumah, pertanda Tedjo sudah pergi.

Wulandari dan Luna menghela nafas lega. Benar-benar pertengkaran sengit yang terjadi hari ini membuat mereka ketakutan setengah mati. Wulandari hendak keluar untuk memeriksa kekacauan yang terjadi namun tangan Luna mencegahnya.

"Mama benar akan menceraikan Papa bukan?" tanya Luna. Ia senang sekali saat tadi mendengar Mamanya akan menceraikan Papanya.

"Itu .... " Wulandari memejamkan matanya. "Mama belum tahu, Luna."

Luna menghembuskan nafas dengan kesal. Ia pikir Mamanya benar akan menceraikan Papanya, ternyata Mamanya masih meragu. Apa yang mau diharapkan coba dari seorang Papa yang suka kasar dan bahkan tadi hampir membunuhnya?

"Terserah Mama saja, aku tak peduli!" Luna berdiri, kini gantian tangan Wulandari yang mencegahnya pergi. "Aku mau membersihkan bekas pertengkaran Mama dan Papa. Kupikir, kejadian hari ini akan membuat Mama sadar, ternyata tidak."

"Lun-"

"Ma, mau sampai kapan sih Mama begini terus? Papa tadi hampir membunuh Mama loh, apa yang membuat Mama masih mempertahankan hubungan Mama dengan Papa? Ma, Mama masih bisa menemukan lelaki lain yang mencintai Mama kayak Om Eko. Ma, seumur hidup itu terlalu lama untuk Mama habiskan dengan Papa!" Luna sangat putus asa, dengan cara apa lagi ia meyakinkan Mamanya untuk mau bercerai dengan Papanya. Mamanya tak pernah sadar dan tak pernah kapok.

Luna meninggalkan Mamanya dan pergi keluar kamar. Ruang tamu mereka bak kapal pecah. Luna menghela nafas dalam. Lelah sekali dirinya hari ini. Ia kangen kasur. Sungguh hari ini sial sekali.

Wulandari tak lama keluar dan melihat Luna berjongkok dan menatap kekacauan dengan sorot matanya yang kosong. Hatinya sedih, Luna pasti memiliki beban mental yang lebih dibanding dirinya.

"Luna," panggil Wulandari.

"Iya, Luna bereskan, Ma," kata Luna dengan suara datar.

"Bukan itu, Lun. Mama bisa bereskan sendiri. Mama mau bilang kalau ... Mama akan bercerai sama Papa," kata Wulandari.

"Serius? Mama tak akan berubah pikiran lagi 'kan?"

Wulandari menganggukkan kepalanya dengan penuh keyakinan. "Mama yakin. Kamu mau menemani Mama bukan menjalani kehidupan ini?"

Senyum di wajah Luna merekah. Meski hari ini dipenuhi dengan kesialan demi kesialan, ternyata ditutup dengan berita baik. Memang benar kata orang, badai akan berlalu dan berganti dengan langit yang lebih cerah. Semoga kehidupan Mama Luna akan membaik setelah berpisah dengan Papanya.

"Oke. Kalau begitu, aku jadi semangat nih beresin semua kekacauan ini. Besok, pesankan tukang urut ya, Ma. Pegal sekali aku!" Luna mengambil sapu dan mulai membersihkan kekacaun.

Tidak seperti Luna yang tersenyum, Wulandari khawatir. Benarkah yang dikatakan Tedjo kalau Luna sudah dirusak Noah? Kalau memang benar demikian, semua ini memang salahnya yang salah mendidik.

"Luna, maafin Mama. Akan Mama perbaiki kesalahan Mama sedikit demi sedikit. Mama janji!" batin Wulandari.

****

1
Bun cie
karya yg bagus..dismpaikan dengan gaya bahasa yg baik , ada pembelajaran yg bisa diambil.
terimakasih kak author..sukses u karya2 selanjutnya🙏💐
Maria Ulfa
wah...
MAYZATUN 🥰🥰🥰al rizal
🥰🥰🥰😍
indira kusuma wardani
Luar biasa
Ran Aulia
terima kasih kak, ceritanya bagus 🥰🥰🥰🥰
𝕭'𝐒𝐧𝐨𝐰 ❄
lambemu mas 👍
𝕭'𝐒𝐧𝐨𝐰 ❄
aku suka ama kamu sumpah...
keren sih jadi cowok 😁
fujichen
sosor terussss,,,
kaget pas bilang mantan narapidana🙃
fujichen
bagus rina
fujichen
kok papa bisa bener sich,,,,
fujichen
kasihan c Luna kena jebakan Batman
ͩ☠ᵏᵋᶜᶟ⏤͟͟͞R•Dee💕
astagaaa ketagihaannn🤣🤣
ͩ☠ᵏᵋᶜᶟ⏤͟͟͞R•Dee💕
Ya kali Bahri bs terpengaruh sama Luna..Luna ga sehebat itu juga kali bs mempemgaruhi Bahri..🤣
sirik aja kamu Zah, klu udh pikirannya negatif yaa susah deh🤦‍♀️
ͩ☠ᵏᵋᶜᶟ⏤͟͟͞R•Dee💕
astagaa emang gaya hidup Luna kayak apa🙄
Rina jg fun2 aja sama Luna, Bahri jugaa..loe aja yg sirik Zizah
ͩ☠ᵏᵋᶜᶟ⏤͟͟͞R•Dee💕
ehek..ehekk😄😄
ͩ☠ᵏᵋᶜᶟ⏤͟͟͞R•Dee💕
astagfirullah..teenyata azizah kok bgitu yaaa
ͩ☠ᵏᵋᶜᶟ⏤͟͟͞R•Dee💕
astagfirullah..kok kakak nya sendiri malah bilang gitu...emang dia mau juga kalau dipoligami sama suamia nya🤪
ͩ☠ᵏᵋᶜᶟ⏤͟͟͞R•Dee💕
Manaa tuh istri siri yg suka gonta ganti...kawin aja lagi sana.
sskarang aja bilang kesepian ga ada teman..telat Pak🤪
ͩ☠ᵏᵋᶜᶟ⏤͟͟͞R•Dee💕
khilaf tapi kok berkali kali 🤪🤣
ͩ☠ᵏᵋᶜᶟ⏤͟͟͞R•Dee💕
laki2 yg selalu ngintip yaa..yg luna merasa diawai laki2 inikah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!