NovelToon NovelToon
Benih Yang Ku Sembunyikan

Benih Yang Ku Sembunyikan

Status: tamat
Genre:Romansa pedesaan / Lari Saat Hamil / Berbaikan / Tamat
Popularitas:43.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Nara tumbuh dengan luka ditinggalkan setelah orang tuanya bercerai. Trauma itu terbawa hingga pernikahannya, membuat ia mencintai terlalu berlebihan dan akhirnya kehilangan suaminya.
Di balik perpisahan mereka, Nara menyimpan sebuah rahasia ia hamil, namun memilih menyembunyikan benih itu demi melindungi dirinya dan sang anak dari luka yang sama.
Takdir membawanya kembali bertemu Albi, sahabat lama yang memilih menjadi ayah bagi anak yang bukan darah dagingnya. Di sebuah desa yang tenang, mereka membangun keluarga sederhana, hingga penyakit leukemia merenggut Albi saat anak itu berusia sembilan tahun.

Kehilangan kembali menghantam Nara dan anaknya, sampai masa lalu datang menyapa mantan suami Nara muncul tanpa tahu bahwa ia adalah ayah biologis dari anak tersebut.

Penasaran saksikan selanjutnya hanya di Manga Toon dan Novel Toon

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Pagi datang dengan suara yang lebih teratur.

Albi sudah duduk di meja makan saat Nara keluar dari dapur.Piring di depannya tidak penuh hanya cukup.

Nara berhenti melangkah ketika menyadari satu hal: Albi sudah mulai makan. Nara menatapnya beberapa detik, seolah takut itu hanya kebetulan.

“Bi?” panggilnya pelan.

Albi menoleh. “Iya.”

“Kok wis mangan?”

(Kok sudah makan?)

Albi mengunyah pelan, lalu menjawab tenang, “Wingi… ana sing ora iso turu nek Pak durung mangan.”

(Kemarin… ada yang tidak bisa tidur kalau Ayah belum makan.)

Nara terdiam.

Dari arah kamar, Arbani keluar. Matanya langsung tertuju ke meja makan. Melihat piring ayahnya yang sudah berkurang, langkahnya melambat lega yang ditahan rapat.

“Pak…”

“Iya, Le?”

“Wis mangan?”

(Sudah makan?)

“Wis. Iki lagi,” jawab Albi sambil mengangkat sendok sedikit.

Arbani mendekat. Tidak duduk. Tidak bicara lagi. Ia hanya berdiri sebentar, memastikan.

Lalu mengangguk kecil. “Ojo ditunda maneh, Pak.” (Jangan ditunda lagi, Pak.)

Albi tersenyum. “Inggih.” (Iya.)

Itu saja, dan tidak ada pelukan, ataupun air mata, tapi pagi ini Nara tahu, sesuatu yang berat sedikit tergeser, Albi yang awalnya ngeyel, kini sudah mulai luluh, bukan karenanya tapi karena seorang anak kecil.

  "Ban mangane seng okeh," ucap Nara. (Ban makannya yang banyak.)

  "Inggih Bu," sahutnya (Iya Bu)

Mereka sarapan tanpa banyak kata hanya suara sendok dan piring yang memenuhi ruangan sederhana itu.

Setelahnya, Arbani berpamitan. Ada keinginan kecil untuk diantar, tapi ia menyimpannya sendiri.

  "Pak ... Buk, Bani pamit riyen nggih." (Pak Ibu, Bani pamit dulu ya)

  Keduanya mengangguk lalu Arbani meraih kedua tangan orang tuanya, setelahnya ia melangkah keluar dengan perasaan yang mantap, meskipun harus mengesampingkan keinginannya sendiri.

  "Semoga Bapak cepat sembuh," inginnya sambil menyusuri jalanan desa yang dipenuhi dengan tanaman bunga.

☘️☘️☘️☘️

Bel berbunyi panjang. Anak-anak berhamburan keluar kelas, sebagian berlari, sebagian masih sibuk merapikan buku dengan wajah lelah bercampur lega.

Arbani keluar terakhir. Bukan karena lambat, tapi karena ia selalu memastikan bukunya rapi dulu di tas.

“Ban, kok kowe rapi terus, sih?” celetuk Joko sambil menarik tali tasnya sendiri.

(Ban, kok kamu rapi terus, sih?)

Arbani tersenyum kecil. “Yen buku rusak, Bapak sedih,” jawabnya polos.

(Kalau buku rusak, Ayah sedih.)

“Lah, bapakmu guru?” tanya Rendi.

Arbani menggeleng. “Dudu. Ning Bapak seneng yen barang dirumat.”

(Bukan. Tapi Ayah senang kalau barang dirawat.)

Mereka berjalan beriringan keluar kelas.

Di halaman sekolah, anak-anak lain sudah bermain. Ada yang kejar-kejaran, ada yang jajan, ada juga yang duduk di bawah pohon mangga.

“Kowe ora jajan?” tanya Sari sambil memamerkan es lilin.

(Kamu nggak jajan?)

Arbani menggeleng pelan. “Ngko wae. Aku wes mangan neng omah.”

(Nanti saja. Aku sudah makan di rumah.)

“Kok manut tenan, sih?” Joko tertawa.

(Kok nurut banget, sih?)

Arbani tidak menjawab. Ia hanya mengangkat bahu kecil.

Di bangku kayu dekat lapangan, ia duduk membuka kotak bekalnya. Isinya sederhana nasi, telur dadar, dan sayur bening, anak itu memang sedikit pemilih, ia hanya bisa makan dari masakan ibunya saja.

Rendi melongok. “Wah, ibumu pinter masak.”

Arbani mengangguk bangga. “Ibuku alus. Bapakku… luwih meneng.”

(Ibuku lembut. Ayahku… lebih pendiam.)

“Pendiam tapi galak?” Joko menyeringai.

Arbani cepat menggeleng. “Ora. Yen nesu, Bapak mung meneng luwih suwe.”

(Tidak. Kalau marah, Ayah cuma diam lebih lama.)

Anak-anak terdiam sesaat.

Entah kenapa, itu terdengar bukan menakutkan melainkan hangat, di desa ini masih jarang anak-anak yang di didik lembut, mereka cenderung di didik keras namun hal itu berbeda dengan kedua orang tua Arbani yang memang selalu mendidik anaknya dengan cara lembut dan penuh kasih sayang.

Bel masuk berbunyi, anak-anak mulai berhamburan masuk, begitu juga dengan Arbani yang masuk paling akhir setelah temannya semua dapat duduk.

“Ban, lungguh kene!” teriak Sari sambil menarik kursi.

Arbani duduk, membuka buku tulisnya. Sebelum guru masuk, ia menulis sesuatu kecil di sudut halaman.

“Bapak, ojo lali mangan.”

(Ayah, jangan lupa makan.)

Rupanya meskipun di dalam sekolah anak itu tidak lupa dengan kondisi ayahnya. Setelah menulis ia menutup buku itu pelan, lalu menatap papan tulis dengan wajah serius.

Di kelas itu, Arbani hanyalah anak biasa. Tapi dari cara ia duduk, berbicara, dan mengingat

terlihat jelas:

ada rumah yang menjaganya dengan cinta, meski dari kejauhan. Dan hal itu membuatnya berbeda dari anak kebanyakan.

☘️☘️☘️☘️☘️

Siang itu matahari sudah cukup terik, bel berbunyi dan anak-anak mulai berhamburan pulang, begitupun dengan Arbani, anak itu melangkah dengan pelan.

Langkahnya tetap teratur, tas masih di satu bahu, tapi matanya sesekali menoleh ke arah tikungan dekat balai desa.

Tempat itu, dan benar saja, di sana ada pria kemarin yang sempat bertabrakan dengan Arbani.

Pria itu bukan berdiri mencolok. Tidak menunggu terang-terangan. Ia berpura-pura memeriksa ponsel, tapi matanya terangkat begitu melihat sosok kecil mendekat.

“Kemarin…,” batinnya. “Anak itu lagi.”

Arbani yang pertama menyapa.

“Pak.” Suaranya sopan. Sama seperti kemarin.

Ardan mengangkat kepala, pura-pura terkejut kecil. “Eh… ketemu lagi.”

“Iya, Pak.”

“Kowe mulih sekolah?”

(Kamu pulang sekolah?)

Ardan tidak sadar ia memakai bahasa Jawa.

“Iya.” Arbani mengangguk. “Pak lagi apa?”

Pertanyaan itu sederhana. Terlalu sederhana untuk kecurigaan orang dewasa.

“Cuma… ngenteni wong,” jawab Ardan asal.

(Hanya… menunggu orang.)

“Oh.” Arbani tidak bertanya lagi. Ia memang tidak diajari mencampuri urusan orang.

Ardan memperhatikan caranya berdiri. Cara menaruh tas. Cara menatap orang dewasa tanpa takut tapi juga tanpa menantang.

“Kemarin… kamu jatuh bukunya,” ujar Ardan. “Sekarang aman?”

“Aman, Pak.”

Lalu setelah ragu sebentar, Arbani menambahkan. “Matur nuwun wingi wis nulungi.”

(Terima kasih kemarin sudah membantu.)

Kalimat itu menancap lebih dalam dari yang Ardan kira. Anak ini… tidak dibesarkan dengan kasar, batinnya.

“Kamu tinggal dekat sini?” tanya Ardan hati-hati.

“Iya. Omahku neng kono,” jawab Arbani sambil menunjuk arah rumahnya tidak tepat, tapi cukup memberi arah.

“Omah karo sapa?”

(Rumah dengan siapa?)

Arbani tidak langsung menjawab. Bukan karena curiga. Tapi karena ia selalu menjawab jujur.

“Karo Bapak lan Ibu.”

Ardan mengangguk. “Bapakmu… kerja apa?”

“Nanem kembang. Ning Bapak pinter,” kata Arbani dengan nada bangga kecil.

(Menanam bunga. Tapi Ayah pintar.)

Dada Ardan mengencang tanpa alasan jelas, entah kenapa hatinya merasa sinis disaat mulut kecil itu membanggakan pria lain dihadapannya.

“Pinter gimana?”

“Pinter meneng,” jawab Arbani polos.

(Pintar diam.)

Itu bukan pujian yang biasa. Tapi entah kenapa, Ardan merasa, itu pujian paling jujur yang pernah ia dengar.

“Ya wis,” kata Ardan akhirnya. “Ati-ati mulih.”

(Ya sudah, hati-hati pulang.)

“Iya, Pak.” Arbani menunduk sopan, lalu melangkah pergi.

Ardan tidak menahannya. Ia hanya berdiri di tempat itu lebih lama dari yang ia rencanakan.

Anak itu tidak tahu apa-apa.Tapi entah kenapa, Ardan merasa seperti sedang menatap bagian hidup yang pernah ia tinggalkan.

“Aku tidak tahu siapa anak itu,” gumam Ardan.

“Tapi ini bukan sekadar mirip.”

Bersambung ....

Sore semoga suka ya

1
Sugiharti Rusli
semoga takdir yang harus memisahkan mereka sekarang jadi bekal bagi Arbani ke depannya dan tetap menjadikan sosok Albi sebagai ayah yang selalu hadir❤❤🤍
Sugiharti Rusli
Albi mengajarkan kalo kasih sayang dan ketulusan bukan hanya soal darah siapa yang mengalir, dan Arbani telah merasakan sosok seorang bapak selama 9 tahun ini
Sugiharti Rusli
dan sepertinya kepulangan mereka ke kampung halaman memang menjadi keinginan Albi agar pergi di tempat dan bersama orang" yang dia sayangi selama ini
Sugiharti Rusli
karena cinta dan ketulusan Albi kepada Nara dan Arbani tuh sangat menyentuh
Sugiharti Rusli
asli baca part ini air mata terus mengalir dan turut merasakan perpisahan mereka😭
Ummee
makasih kak author...
ada bonus chapter kah? hehe
Ummee
huuaaaa.... 😭😭😭
aku nangis ini kak...
Rohmi Yatun
😭😭😭😭😭😭ahh sedihh..
ari sachio
😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Kasih Sklhqu
terimakasih Thor 🙏 ditunggu karya berikutnya 🙏
Lisa
Terimakasih y Kak Ayu utk kisahnya..meskipun endingnya sedih..tp ada pelajaran sangat berharga yaitu dari seorang laki2 yg tulus merawat anak yg bukan anak kandungnya..
Ayumarhumah: Sama-sama Kakak ....
total 1 replies
Naim
bahasanya kebanyakan di campur"
Naim
baca nya ribett
Ayumarhumah: itu translate banyak yang gak tahu bahasa Jawa. karena kebanyakan yang baca dari luar pulau. makanya minta translate.
total 1 replies
Naim
bahasanya kalo bisa indo aja, kalo mau ada jawa jangan terlalu banyak jadi kya aneh bacanya
Ayumarhumah: aku di sini hanya ikut event. dan event itu hastagnya romansa pedesaan dan di event itu harus menggunakan bahasa daerah 🙏 nah saat aku menggunakan bahasa daerah banyak pembacaku yang gak ngerti akhirnya aku kasih translate. kalau kakak gak suka skip saja dari pada beri bintang satu.
total 1 replies
Naim
bahasanya belibet
ari sachio
antara Aku,Suamiku dan Mantanku

antara Aku, ibuku,dan Kedua Bapaku
Sugiharti Rusli
apalagi sekarang mereka sudah bisa saling memahami dengan Ardan yang notabene ayah biologis Arbani,,,
Sugiharti Rusli
meski sakit yang Albi derita belum tahu ujungnya sampai kapan, tapi pulangnya mereka semoga menjadi obat dan semangat baru lagi,,,
Lisa: Amin..setuju banget Kak..
total 1 replies
Sugiharti Rusli
mungkin bagi Albi sekarang bukan kesembuhan penuh yang dia harapkan, tapi berkumpul bersama sang putra yang sangat dia sayangi,,,
Sugiharti Rusli
apalagi apa yang Albi dan Nara lalui jauh dari kampung dan putra mereka sendiri,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!