Setelah dokumentasi ekspedisi mereka melesat ke permukaan dan menjadi perbincangan dunia, nama "Gautama Family" bukan lagi sekadar nama keluarga biasa.
Mereka kini menjadi tujuan akhir bagi mereka yang sukmanya tersesat di tempat-tempat yang tidak bisa dijangkau oleh akal manusia.
Kelahiran Arka Kumitir Gautama, bayi yang lahir tepat di ambang batas kematian semalam, membawa aura baru sekaligus beban yang lebih berat bagi keluarga ini.
Namun, di balik kebahagiaan itu, sebuah panggilan pahit datang dari benua lain. Ada raga-raga yang terbaring kaku; tubuh mereka masih di sini, namun sukma mereka telah didekap habis oleh kegelapan alam sebelah.
.Kalian akan kembali mendengar suara teriakan, tangisan, dan jeritan dari sudut-sudut bumi yang paling sunyi. Ekspedisi ini akan terus berjalan hingga waktu memaksa mereka untuk berhenti.
[Saya sarankan baca Season 1, supaya lebih mengenal kemampuan dan karakter keluarga Gautama]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 008 : Muara Darah Gautama
Puncak Gunung Fuji berdiri angkuh di balik kabut tipis yang merayap turun, memancarkan aura magis yang seolah menindih siapa pun yang berdiri di bawah kakinya.
Udara pagi itu terasa seperti pisau es yang menyayat kulit, sangat dingin hingga setiap embusan napas berubah menjadi uap putih yang tebal.
Di depan teras kayu penginapan tradisional mereka, Bella berdiri dengan mata berbinar, jari telunjuknya mengarah ke puncak yang tertutup salju abadi.
"Mas Suhu, ayolah! Mumpung kita di sini, sekali seumur hidup kita harus sampai ke puncak Fuji! Lihat itu, puncaknya seolah memanggil kita!" bujuk Bella dengan semangat yang meluap-luap, seolah lupa bahwa semalam mereka nyaris kehilangan nyawa di kegelapan Aokigahara.
Mas Suhu, yang sedang menyesap teh hangat sambil menatap kabut, menggeleng tegas. Ia merapatkan jubah wolnya yang berwarna gelap.
Wajahnya menunjukkan gurat kelelahan yang nyata; lingkaran hitam di bawah matanya menjadi bukti betapa hebatnya pertempuran astral di hutan Jukai semalam.
"Jangan konyol, Bella. Mendaki Fuji di musim seperti ini bukan seperti mendaki bukit di belakang rumah. Kita baru saja keluar dari perut bumi Jukai. Energi kita terkuras habis, raga kalian masih rapuh dan belum stabil secara frekuensi ghaib. Jika kita nekat sekarang, tubuh kalian akan tumbang sebelum sampai pos pertama. Gunung itu punya caranya sendiri untuk menolak tamu yang tidak siap secara fisik maupun batin," tutur Mas Suhu dengan nada final yang tidak bisa diganggu gugat.
Di sisi lain kompleks kuil yang tenang, Rachel memilih untuk menjauh secara diam-diam. Ia merasakan sesuatu yang akrab namun menyakitkan kembali terjadi; cairan hangat merembes keluar dari lubang hidungnya.
Dengan langkah yang sedikit goyah dan pandangan yang sesekali berkunang-kunang, ia berjalan menuju area toilet kuil yang terletak cukup jauh di sisi belakang kompleks penginapan.
Di dalam toilet kayu yang beraroma kuat kayu cemara, Rachel tersungkur di depan wastafel. Ia terbatuk hebat hingga dadanya terasa sesak seolah ada bongkahan es yang menghimpit paru-parunya.
Cairan merah pekat membasahi telapak tangannya. Matanya terasa panas, tanda bahwa tekanan dari frekuensi tinggi yang ia gunakan semalam mulai memakan sel-sel tubuhnya sendiri. Rachel menatap pantulan wajahnya di cermin; pucat, dengan noda darah yang kontras.
Ia membersihkan sisa darah di wastafel dengan tangan gemetar, lalu menyumpal salah satu lubang hidungnya dengan gulungan tisu yang ia buat dengan terburu-buru.
Saat ia membuka pintu kayu yang berderit, sosok Melissa sudah berdiri di sana dengan tangan bersedekap dan wajah yang dipenuhi kecemasan yang tidak bisa ditutupi.
"Kamu kenapa, sih? Akhir-akhir ini kok sering kayak gini? Jangan bilang itu cuma kelelahan biasa, Rachel," tanya Melissa langsung tanpa basa-basi.
Rachel tidak segera menjawab. Ia hanya diam, namun matanya menoleh ke arah Melissa dengan tatapan datar yang sulit diartikan.
"Sudah tua!" jawab Rachel asal, mencoba memecah ketegangan. Ia langsung menyambar tisu di tangan Melissa dan mengganti sumpalan di hidungnya tanpa rasa bersalah.
"Jangan cuek sama tubuhmu sendiri! Ingat, kamu masih belum nikah! Gimana Adio nanti kalau tahu kamu ringkih begini?" tutur Melissa sambil berjalan mengekori Rachel yang melangkah menjauh menuju hamparan salju di belakang kuil.
"Heh, dengar gak kataku?" teriak Melissa lagi. Ia melangkah cepat dan menepuk bahu Rachel cukup keras hingga menyebabkan Rachel berhenti mendadak.
"Kenapa, sih Hel? Jawab!" desak Melissa.
"Kamu kenapa kok ngoceh mulu daritadi, astaga! Telingaku lebih sakit dengar suaramu daripada dadaku yang sesak!" timpal Rachel sedikit terusik.
"Ya kamu itu yang kenapa? Kalau sakit bilanglah! Kita ini tim, bukan penonton!" debat Melissa lagi.
Rachel menghela napas panjang, menciptakan gumpalan uap di udara. Tiba-tiba, ia melakukan sesuatu yang sangat absurd.
Ia duduk, lalu menjatuhkan tubuhnya, tidur telentang di atas tumpukan salju yang tebal dan empuk sambil menatap langit Fuji yang mulai memutih. Dinginnya salju seolah mematirasakan rasa perih di sarafnya.
"Sa!" panggil Rachel kali ini dengan nada yang lebih serius.
"Apa?" sahut Melissa pendek sambil ikut jongkok di sampingnya.
"Kalau kekuatanku punya efek samping yang gak aku tahu... menurutmu efek sampingnya apa, ya?"
"Gatau, emang kenapa? Ada gejala yang aneh-aneh selain mimisan itu?" tanya Melissa yang kini ikut merendahkan suaranya, menyadari bahwa Rachel sedang tidak bercanda.
"Iya," jawab Rachel singkat.
"Apa?"
"Kayaknya kejiwaanku mulai sakit gara-gara kamu ngomel daritadi!" cetus Rachel dengan wajah lempeng.
"Hancik! Ya sudah, aku ikut! Mana mungkin aku ninggalin kamu sendirian sama setan Jepang itu!" gerutu Melissa tiba-tiba saat matanya menangkap pergerakan di balik semak-semak yang tertutup salju tak jauh dari mereka.
Di sana ada seorang gadis yang berdiri dengan balutan kimono merah. Gadis kecil dengan rambut sebahu dan juga poni yang rata.
Rachel sedikit tersentak. Ia menghentikan tawanya sejenak dan menoleh ke arah Melissa dengan alis bertaut.
"Sa... kamu barusan misuh? Bule Belanda kayak kamu bisa bilang 'Hancik' juga? Sejak kapan ketularan Cak Dika?" tanya Rachel heran.
"Sudah, jangan dibahas! Cepat samperin itu anak kecilnya, dia nungguin kamu!" balas Melissa ketus untuk menutupi rasa malunya.
Di hadapan mereka, berdirilah Anako. Gadis kecil dengan kimono merah menyala itu berdiri diam di atas salju, namun anehnya, kakinya tidak meninggalkan jejak sedikit pun.
Saat mereka berjarak hanya beberapa meter, sebuah fenomena supranatural terjadi. Suara itu bukan keluar dari mulut Anako, melainkan bergema langsung di dalam tempurung kepala Rachel.
Kata-katanya adalah bahasa Indonesia, namun nadanya kaku, dingin, dan memiliki getaran seperti siaran radio tua yang tidak jernih. Anako meminjam kosa kata dari pikiran Rachel untuk menyampaikan rasa sakitnya.
"Dingin... kakak... ayah... tidak datang..."
Rachel tertegun mendengar suara yang bergetar di benaknya itu. Rasanya seperti ada gelombang listrik yang merambat di sarafnya.
"Dia meminjam bahasaku, Sa. Dia menggunakan memoriku agar bisa bicara," bisik Rachel lirih pada Melissa yang hanya bisa melihat Anako berdiri diam tanpa suara fisik.
Anako mengulurkan tangannya yang pucat dan transparan, menyentuh jimat zamrud di leher Rachel.
Detik itu juga, sebuah kilasan emosi—kesepian yang menyesakkan dan dingin yang mematikan—merambat masuk ke jantung Rachel.
Sosok itu kemudian perlahan memudar, berubah menjadi pendaran cahaya merah tipis yang meresap masuk ke dalam jimat zamrud milik Rachel, mencari kehangatan yang telah lama ia rindukan.
Sore harinya, sebelum keberangkatan mereka kembali ke Jawa, rombongan dijamu dengan sangat baik oleh keluarga Tuan Sato dan pihak kuil di dalam sebuah ruangan besar beralaskan tatami.
Meja-meja rendah kayu gelap dipenuhi dengan berbagai sajian; sushi segar yang berkilat, tempura yang renyah, hingga sup miso yang mengepulkan aroma gurih.
Tuan Sato, sebagai bentuk penghormatan tertinggi, menyuguhkan beberapa botol sake premium di depan setiap tamu.
Namun, Keluarga Gautama dan rekan-rekannya memiliki aturan sendiri. Sake-sake itu hanya berdiri diam sebagai pajangan tanpa disentuh sedikit pun.
Sebagai gantinya, mereka lebih memilih menyesap Oucha, teh hijau Jepang yang kental dan panas, yang aromanya memenuhi ruangan dengan ketenangan.
"Terima kasih atas keramahannya, Tuan Sato. Teh ini sudah lebih dari cukup untuk menghangatkan kami," ujar Mas Suhu dengan sopan melalui penerjemah.
Rachel masuk ke ruangan sedikit terlambat, ia menggeser pintu kayu shoji perlahan lalu membungkuk sopan kepada para hadirin yang sebagian besar adalah orang Jepang yang terlibat dalam kasus semalam.
Di samping Rachel, secara ghaib, sosok Anako berdiri dengan tenang, tangannya memegang ujung kain jimat Rachel.
Seorang nenek tua yang duduk di sudut—yang beberapa waktu lalu sempat dipanggil Marsya dengan sebutan "Obake"—tiba-tiba tertegun.
Matanya yang sudah keriput menatap lurus ke arah ruang kosong di samping kaki Rachel. Ia adalah satu-satunya manusia biasa di sana yang memiliki sisa-sisa kepekaan untuk melihat kehadiran Anako.
Rachel menatap nenek itu dengan lembut, lalu suara Anako kembali bergema di kepalanya:
"Nenek itu sangat baik! Aku sering berkunjung ke belakang kuil. Dan dia sering memberiku makanan manis di bawah pohon!"
Rachel menganggukkan kepalanya pelan ke arah nenek tersebut sebagai tanda mengerti. Sang nenek kemudian bertanya dalam bahasa Jepang yang terbata, yang kemudian diterjemahkan oleh asisten Tuan Sato.
"Dia... mengikutimu?" tanya sang nenek dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.
"Yes, she asked to come along. I feel sorry for her,"
(Ya, dia meminta ikut. Aku kasihan padanya,) jawab Rachel tenang dalam bahasa Inggris yang fasih.
Tiba-tiba, suasana di belakang Rachel mendingin secara drastis, jauh lebih dingin daripada salju di luar sana.
Barend dan Albert muncul dengan manifestasi yang cukup kuat hingga membuat uap teh di cawan Rachel mendadak berhenti bergerak.
"Kenapa kamu membawa orang Nihon ini? Aku tidak suka! Baunya mengingatkan aku pada penderitaan yang tak perlu!" ujar Barend dengan suara berat yang penuh kebencian masa lalu, bergema di batin Rachel.
Rachel tetap tenang, ia mengambil sepotong tempura dan mulai memakannya dengan santai, mengabaikan tatapan tajam kedua pelindungnya.
"Kau tidak menghargai kami, Hel! Membawa dia ke tengah-tengah kita adalah penghinaan!" Albert menimpali, suaranya seperti goresan logam yang menyakitkan.
Rachel menghentikan aktivitasnya sejenak. Melalui batinnya, ia mengirimkan jawaban yang menusuk dan penuh otoritas yang tak terbantahkan.
"Aku tidak membutuhkan izin kalian untuk mengundang seseorang di dalam kehidupanku. Lagi pula, dia masih kecil dan dia bukan pembunuh yang membantai kalian! Kalian boleh membenci pembunuh kalian, tapi bukan Anako! Dia juga kesepian dan terbuang, sama seperti kalian berdua yang tertahan di dunia ini! Jika kalian tidak bisa menerima, silakan menjauh!"
Jawaban itu membuat Barend dan Albert tersentak. Mereka tidak pernah melihat Rachel setegas ini sebelumnya. Keduanya tampak sangat kesal, namun tidak bisa membantah "tuannya".
Dalam sekejap, keduanya menghilang secara kasar, masuk kembali ke dalam bayang-bayang di belakang Rachel.
Di sudut ruangan, Glenda dan hantu Melissa menyaksikan kejadian itu dengan cemas.
"Sepertinya mereka sedang tidak akur sama sekali," ujar Glenda dengan suara lirih.
Cahaya putihnya berpendar redup, mencoba menetralkan sisa hawa dingin yang ditinggalkan Barend.
"Mungkin akan lama," jawab hantu Melissa singkat.
"Barend dan Albert bukan tipe yang mudah memaafkan, apalagi berbagi ruang dengan roh dari tanah ini di sekitar Rachel." tambah hantu Melissa.
Glenda menoleh ke arah Melissa yang asli.
"Ini tetap berbahaya bagi Rachel. Membawa Anako melintasi samudra bukan hanya soal kasihan, tapi soal stabilitas psikis Rachel sendiri. Jika Barend dan Albert terus memberontak dan menekan energi Rachel sebagai bentuk protes, raga fisik Rachel yang akan menanggung bebannya. Sarafnya bisa rusak jika mereka berkonfrontasi di dalam frekuensi pribadinya." jelas Glenda.
Hantu Melissa mengangguk setuju.
"Rachel terlalu berani, atau mungkin terlalu ceroboh karena rasa kasihannya. Tapi itulah yang membuat kita semua ada di sini, bukan?"
Di tengah kehangatan ruangan perjamuan itu, Rachel mendadak merasa kesadarannya ditarik paksa.
Pandangannya terhadap Tuan Sato dan keramaian perlahan memudar, berganti menjadi hamparan putih yang tak berujung namun tidak terasa dingin.
Rachel menyadari ia sedang berada di alam sebelah.
Langkah kakinya terasa ringan saat ia berjalan melewati barisan pepohonan jati raksasa.
Di kejauhan, ia melihat sebuah pendopo agung yang diselimuti kabut keemasan. Di sana, duduk sesosok wanita dengan keagungan luar biasa—Nyai Ratu.
Di sisi kiri dan kanannya, berdiri dua pria yang sangat ia kenali: Simbah Gautama dan Abahnya.
Beberapa Senopati Maung yang menjaga gerbang pendopo segera menunduk dalam, memberikan hormat pada kedatangan Rachel. Rachel mendekat dengan langkah gemetar, lalu bersimpuh di hadapan ketiga sosok itu.
"Nyai... Simbah... Abah..." Rachel memulai, suaranya parau menahan sesak.
"Ada apa dengan diriku? Kenapa akhir-akhir ini ragaku terasa hancur? Kenapa setiap kali aku menggunakan kekuatanku, rasanya seolah-olah nyawaku ikut terhisap?"
Rachel menunduk, air mata jatuh ke lantai pendopo. Ia merasa takut jika ia tidak akan bertahan lebih lama lagi.
Abah melangkah setapak ke depan, tangannya yang terasa hangat menyentuh puncak kepala Rachel. Ia tersenyum lembut.
"Jangan takut, Nduk. Semakin berkembang kekuatanmu, semakin banyak jawaban yang akan kau temukan. Rasa sakit itu bukan tanda kehancuran, melainkan tanda bahwa wadahmu sedang diperluas."
Simbah Gautama ikut bersuara, nadanya berat namun penuh kebijaksanaan.
"Seluruh keluargamu memiliki kemampuan yang beraneka ragam. Ada yang mampu melihat, ada yang mampu melawan, ada yang mampu menjadi perantara. Namun kau, Rachel... kau adalah satu-satunya kesatuan dari kekuatan itu. Kamu adalah titik di mana semua aliran darah Gautama bermuara."
Nyai Ratu hanya tersenyum misterius, matanya yang tajam seolah menembus masa depan Rachel.
"Bersabarlah. Kekuatan besar membutuhkan raga yang kuat. Terimalah anak kecil yang kau bawa itu, karena dia adalah salah satu kepingan yang akan membantumu menyeimbangkan energi yang mulai meluap."
"Tapi, apa maksudnya menjadi kesatuan?" tanya Rachel mendesak.
Namun, bayangan mereka perlahan mulai kabur. Suara-suara mereka terdengar seperti gema yang menjauh.
"Kau akan tahu pada waktunya, Rachel... kembalilah..."
Deg!
Rachel tersentak. Fokus matanya kembali ke cawan teh hijau di depannya. Ia tersengal, keringat dingin membasahi dahinya. Di sampingnya, Melissa menatapnya dengan heran.
"Hel? Kamu melamun? Tehmu sampai tumpah sedikit itu," tegur Melissa sambil memberikan tisu.
Rachel menarik napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantungnya yang menggila. Ia melirik jimat zamrudnya.
Jawaban para leluhurnya tidak memberikan ketenangan instan, justru menambah teka-teki baru.
Namun satu hal yang ia tahu; ia tidak boleh menyerah sekarang. Ada tanggung jawab besar yang sedang tumbuh di dalam darahnya.
"Aku nggak apa-apa, Sa. Cuma... butuh istirahat panjang di pesawat nanti," bisik Rachel, berusaha tersenyum meski batinnya berkecamuk. Di luar jendela, salju turun semakin lebat, mengantar kepergian mereka kembali ke khatulistiwa.