Rembulan Senja adalah anak yatim-piatu di sebuah panti di kota pesisir pantai. Hidupnya selalu diliputi kemalangan. Suatu hari, dirinya melihat mobil mewah terbalik dan mengeluarkan api, milik orang kaya dari kota.
Dibalik kaca, dia mengintip, tiga orang terjebak di dalamnya. Tanpa keraguan, tangan mungilnya membuka pintu yang tak bisa dibuka dari dalam. Akhirnya terbuka, salah satunya merangkak keluar dan menolong yang lainnya. Kedua orang kaya itu ternyata pemilik panti dimana dia tinggal. Lantas, dirinya dibawa ke kota, diadopsi dan disematkan nama marga keluarga angkat. Tumbuh bersama anggota keluarga, jatuh cinta dan menikah dengan salah satu pewaris. Malangnya, ada yang tak menyukai kehadirannya dan berusaha melenyapkannya!
Tiga tahun menghilang, kemudian muncul dan menuntut balas atas 'kematiannya'. Bangkit dan berjaya. Harus memilih antara cinta dan cita. Yang manakah pemenangnya!? Siapa jodoh yang diberikan Tuhan padanya? Akankah dia menjemput kebahagiaannya!?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cathleya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Misi Kedua: Memiliki rumah impian.
Kembali ke masa depan, 3 tahun kemudian.
Rembulan menyewa apartemen sederhana namun, tidak jauh dari pusat kota, sebagai misi kedua dalam menjalankan balas dendam. Untuknya, terlalu boros membeli apartemen dengan harga selangit, toh akhirnya dia akan tidur di ruang dimensi yang pastinya sangat nyaman.
Rumah impian yang akan dia bangun bertujuan untuk memamerkan pada yang menyakitinya bahwa dia sukses melebihi mereka dan masih hidup! Tidak mungkin membawa mereka ke dunia dimensi dan menunjukan bahwa dia memiliki istana lebih mewah dan luas dari Buckingham Palace Inggeris!
"Master! Anda hebat sekali dalam berbisnis. Lantas, misi selanjutnya apalagi? Anda tinggal bilang pasti kami bantu!" ucap keduanya berbinar.
"Misi keduaku adalah membangun mansion di pusat kota agar mempermudah akses kemanapun!" unggahnya sambil menerawang.
Rembulan duduk di pinggir jendela sambil mengunyah buah apel, matanya menatap keriuhan kota di siang terik dari balik kaca besar jendela di apartemen lantai 10 dari 15, sambil menopang dagu di lutut. Matanya seolah X-Ray yang memindai seisi kota, mencari lokasi hunian ideal untuk melaksanakan misinya saat mengamati kepadatan kota.
"Dan kalian, coba cari tahu lokasi yang bisa aku jadikan hunian. Harus tepat di tengah kota dan strategis. Akses jalan masuk luas serta berupa tanah kosong. Berada tepat di depan kediaman Ambrosia."
"Kalau pemiliknya tidak mau melepaskan, tawarkan sejumlah uang dengan harga fantastis agar mereka melepaskan asetnya dan hengkang dari lokasi tersebut. Usahakan, tidak ada kekerasan dan drama karena nanti viral dan heboh!" perintahnya tegas.
Baginya, uang saat ini bukan menjadi persoalan krusial. Mudah dicari. Cepat hilang, cepat pula datang. Hidupnya tidak lagi menderita. Perutnya tak lagi lapar dan dahaganya tak lagi kering. Dari hasil menjual 10 koin emas terakhir, sudah membuatnya kaya raya. Jhon Lee selalu mengontaknya dan berkabar serta menanyakan tentang koin kuno lainnya. Dan dia mengatakan belum ada, agar tidak menimbulkan kehebohan.
"Bukan apa-apa, keluarga Ambrosia ada di daerah tersebut. Kalau mereka tahu, bukankah untuknya lebih mudah pamer tanpa mengeluarkan ongkos banyak dan berpanas ria di tengah kemacetan ibukota!?" monolognya.
Begitu diperintah dan tak ada tambahan lagi, keduanya mengangguk tanda mengerti.
"Baiklah! Your wish is our command (perintah anda adalah titah bagi kami)!" ujar mereka hormat.
Keduanya pun melesat ke udara (kasat mata) menuju lokasi yang diinginkan tuannya. Sementara di apartemen yang disewa, sebenarnya ada perabotan yang disediakan pemilik gedung bagi para tenan agar lebih simpel dan siap huni. Ukuran ruangan cukup besar untuk hidup sendiri, dibandingkan yang lainnya, seukuran rumah tapak tipe 36 (2 kamar, 1 toilet, ruang tamu dan ruang keluarga). Tentu saja harga yang ditawarkan lebih tinggi dari yang lainnya.
Rembulan merenung melihat perabotan rumah barunya yang sedikit usang namun layak pakai. Entah mengapa dia merasa dejavu. Saat melihat perabotan sederhana, dia teringat diusir dari kamar mewah di lantai dua, menempati kamar bekas gudang ukuran 3x3M dengan jendela kecil sebagai ventilasi, kasur lepek ukuran 90x200Cm, dan bau kadang terasa ada yang menggigit tubuhnya saat rebahan selesai bekerja. Saking capenya, rasa gatal pun tak dihiraukan.
Akhirnya dia tahu perabotan itu dibeli orangtua angkatnya dari pasar loak. Tentu saja mereka menyuruh bawahan untuk bergerak. Jadi dia trauma dan mual melihat barang usang walau pun masih layak pakai. Dia melobi pemilik gedung agar dia bisa merubah interior dan furnitur seduai keinginannya. Dia rela merogoh kocek dua kali lipat untuk harga sewa, yang penting matanya nyaman tidak melihat barang bekas pakai orang. Walaupun tidurnya di Ruang Dimensi, tapi kesehariannya di alam manusia.
Lebih baik aku keluar, mencari angin segar sekalian mencari ahli desain interior untuk merubah flat ini. Lebih cepat lebih baik, bukan!" ujarnya pada diri sendiri.
Dengan mencari yang dimaksud dari gadget berupa apel digigit, dia menemukan apa yang dicari.
"Desain Interior Menara Agung! Beralamat di tengah kota. Berlisensi dan pengalaman lebih dari 10 tahun!"
"Hemmm! Tidak ada salah untuk mencoba. Berdiri lebih dari sepuluh tahun berarti kurang dari lima belas tahun!"
Dia keluar ruangan memakai topi, kacamata hitam dan masker yang dia beli setelah keluar dari kediaman Ricky Pranajaya.
Apartemennya termasuk semi mewah, dengan sewa 15 juta rupiah sebulan (diawal) karena merubah interior dan membayar 5 juta per bulan, cukup berharga, dengan harga segitu mendapatkan fasilitas lengkap.
Apartemennya berada di tengah pusat bisnis ibukota. Dekat ke tempat pusat belanja dan pusat makanan. Walaupun untuk nutrisi sudah dilengkapi di Ruang Dimensi bertahun-tahun, dia harus juga membiasakan hidup di alam manusia, dimana dia berasal.
Dia menuju kantor desain Menara Agung dengan taksi online yang dan diterima pemiliknya. Disepakati harga dan renovasi minggu depan.
"Belum saatnya aku menunjukan wajahku yang sekarang pada tikus-tikus got itu tanpa uang dan kekuasaan!" ucapnya.
Selanjutnya, memesan taksi online lagi dan diarahkan ke tempat lain untuk membeli pakaian dan keperluan wanita lainnya sebab dia membeli dua set pakaian setelah keluar dari rumah Ricky Pranajaya.
Sepuluh menit tibalah dirinya di sebuah mall terbesar di ibukota. Dia memandang tak berkedip deretan gedung Skycraper yang semakin banyak dari ingatannya di masa lalu. Dia memang jarang keluar rumah, pasti ikut dengan oma. Kalaupun tiap hari hanya pergi ke sekolah dan dijemput sopir pribadi.
Guru les pun didatangkan ke rumah dan mansion memiliki perpustakaan lengkap karena dia hobi belajar. Diperparah dengan betapa patuh dan bodohnya dia terutama empat tahun ke belakang, takut hidup di jalan yang ternyata tidak semenyeramkan itu, dan mau saja menerima siksaan fisik dari keluarga Ambrosia. Buktinya, dia bisa hidup bahagia, nyaman dan damai di kampung.
Selepas 'kematiannya', dirinya yang lama telah mati pula. Dan selama tiga tahun bersemedi di dunia dimensi, sesekali dia keluar seputar hutan dan mendapati penduduk kampung yang sangat ramah dan baik hati.
Selama keluar dari ruang dimensi, dia menyewa rumah sederhana tipe 36 sebagai kamuflase agar dapat keluar dari ruang dimensi. Ternyata, hidup di luar, sangat menyenangkan dan hidup!
Rembulan memasuki kemegahan gedung Mall yang menurutnya tidak ada apa-apa dibandingkan istananya di ruang dimensi. Dia ingat, dulu selalu mengikuti oma ke tempat ini. Oma sangat memanjakannya. Membelikan baju seharga motor atau mobil, dari brand internasional. Belum perhiasan dari galery brand terkenal. Pokoknya hidupnya bak puteri raja.
Mungkin itu yang membuatnya dibuli dan dibenci sepupu, ibu dan kerabat angkat lainnya. Dan itu pula, cara oma Marina memberi upah setelah disiksa keluarga angkatku.
Namun, semua itu sirna saat opa-omanya keluar negeri mengobati putera bungsu berbulan lamanya. Hidupnya berbalik 180 derajat. Dari puteri raja menjadi upik abu di istananya sendiri hingga puncaknya adalah 'kematiannya'. Rembulan berdiri di lobi mall mengulang memori masa lalu dengan tersenyum pahit.
Saat ini giliran dia yang akan membalikan keadaan dan merebut 'istana' serta menegakkan harga dirinya yang telah mereka tenggelamkan ke dasar lumpur penderitaan hingga tak diberi kesempatan untuk bernafas!
Rembulan memasuki gedung mall dan memasuki toko lingerie dari brand internasional. Saat dirinya sedang asyik melihat model pakaian yang berjajar di rak gantung, dirinya menyenggol seseorang di sebelahnya hingga keseimbangannya goyah. Dia pun jatuh terduduk dan pakaian pilihan di tangannya berhamburan ke lantai juga kacamata hitam yang sedang dipakai.
Brukkk!
Segera dia memunguti pakaian tersebut, dilihatnya tangan kekar bertato ikut membantunya memunguti baju yang berserak di lantai.
"Maaf!" ucap pelan pemilik suara bariton dan lengan bertato yang ikut berjongkok memunguti pakaiannya.
"Tidak apa. Salah saya yang jalan tidak melihat!" ucap Rembulan bergegas menerima barang yang disodorkan pria tersebut tanpa melihatnya dan memakai kacamata.
Saat wajahnya mendongak mencari tahu pemilik suara dan kedua netra mereka bertemu, matanya membulat sempurna dan giginya bergemeletuk.
Deg!
Pria bertato itu adalah mantan suaminya yang paling bejad dan biadab seantero jagat raya!
Calvin Orion!
Dia sungguh tak menduga bertemu secepat ini. Inginnya, mereka bertemu saat dirinya sudah memiliki kekuatan dan kekuasaan yang mampu menghancurkan pria brengsek di depannya.
"Mbak! Kamu tidak apa-apa? Ada yang terluka!?" tanya Calvin khawatir hendak memegang lengan wanita dihadapannya yang sedang memandangnya, di balik kacamata hitam.
Plak!
"Jangan sentuh!" teriak Rembulan keras sambil menepis tangan sang mantan.
Suaranya begitu nyaring hingga menarik atensi pengunjung. Seorang wanita yang berada di samping Calvin yang menyaksikan kejadian pun ikut kaget melihat reaksinya yang menurutnya berlebihan terhadap suaminya yang mau menolongnya.
"Heiii, mbak! Jangan lebay deh! Suami saya hanya mencoba membantu anda dan dia tidak salah. Anda yang duluan menubruk. Dia mencoba membantu. Saya saksi matanya!" ucap wanita bergaun hitam ketat dengan sewot.
"Helga Hendrio alias Helga Oriza!"
"Mereka bersama. Jadi, mereka sudah menikah!? Dasar iblis durjana!" batinnya bersumpah serapah kepada dua makhluk menjijikan di depannya.
"Setelah 'membunuh' langsung kawin tanpa memberi akta cerai. Hewan saja kawin dahulu baru memangsa korbannya!" batinnya lagi.
"Cih! Sial! Kenapa juga cowok brengsek itu ikut ke toko khusus wanita!" dengusnya dalam hati.
"Kalau aku marah, mereka akan curiga karena hal itu dilakukan oleh orang yang saling mengenal. Aku harus tetap tenang dan segera keluar dari toko ini!" batinnya.
Rembulan bergegas membetulkan kacamatanya yang melorot di hidungnya yang mancung.
"Yah! Tidak apa. Sama-sama. Permisi!" ucapnya singkat dan datar sambil membalikan badan menuju ke arah kasir.
Rasanya malas sekali untuk mengucapkan kata maaf pada orang seperti mereka. Terlalu berharga, batinnya berkata, sambil dirinya membayar belanjaan yang harganya sama dengan satu unit kendaraan roda dua tipe teranyar dengan kartu hitam.
Calvin tak lepas mengamati pergerakan wanita yang jatuh tadi dari berdiri hingga ke kasir, tanpa disadari Helga.
"Black Card!? Berarti bukan wanita sederhana seperti penampilannya!" batinnya.
Berbeda dengan Helga. Walaupun memegang kartu platinum tapi dandanannya mewah dan glamour!" batinnya membanding keduanya.
"Wajahnya sangat cantik alami. Sepertinya remaja SMU dari sekolah belit!" kagumnya dalam hati sambil melirik kembali si gadis yang belum beres bertransaksi di kasir karena mengantri.
"Dihhh! Biasa saja kelesss. Tidak minta maaf lagi!" cibir Helga pada gadis yang dia tegur.
"Sudah yuk, yank! Kita keluar dari toko ini. Aku lapar!" ajaknya manja sambil mengamit lengan kiri Calvin yang sibuk melirik sang gadis dengan sudut matanya tanpa disadari isterinya.
Isteri!?
Yap! Calvin dan Helga, menikah setahun setengah kemudian setelah keluarga Ambrosia mengumumkan kematian pada keluarga besar setelah kecelakaan menimpa isteri pertamanya. Alasan yang diberikan kepada keluarga besar sederhana saja, takut terjadi hal yang tak diinginkan.
Dia pun mengajukan permohonan cerai kepada KUA bahwa sang isteri telah wafat dan menyerahkan surat kuning dan mengabulkan satu bulan kemudian. Dia pun mengganti identitas di KTP dengan kata cerai-mati, barulah bisa melangsungkan pernikahan dengan pujaan hati. Helga di KB karena masih terikat kontrak dengan brand internasional yang menaunginya.
Sementara itu, Calvin yang berjalan di sampingnya, melalui ekor matanya masih tak lepas mengikuti sosok yang tadi menubruknya hingga keluar toko. Dia mengibaskan tangan kanannya, serasa pegal.
"Apa perasaanku saja, yah!? Saat dia mengibaskan lengannya saat tak sengaja menyentuh tangannya, aku pun reflek menghindar, seperti tersengat aliran listrik statis. Kaget aku!" batinnya sambil berjalan menuju kasir.
Sementara Helga membayar belanjaan dengan kartu platinum miliknya, tanpa dia sadari, matanya mencari sosok wanita tadi yang sudah beres bertransaksi dan keluar toko.