NovelToon NovelToon
Anak Untuk Rayyan

Anak Untuk Rayyan

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Nikahmuda / One Night Stand / Hamil di luar nikah / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Ifah Latifah

"Gue lahirin anak lo, lo bawa dia pergi sama lo. Sementara gue pulang ke Papa dan pergi jauh dari sini. Kita lupain semua yang terjadi disini. Lo lanjutin hidup lo dan gue lanjutin hidup gue. Itu rencananya,” jelas Alana.

Entah bagaimana Alana bisa terbangun dalam sebuah kamar asing dengan seorang pria di sampingnya. Tapi bukan itu masalahnya.

Masalahnya, video mereka malam itu diputar di momen yang paling Alana tunggu setelah kelulusan yaitu penghargaan dirinya sebagai siswi paling berprestasi.

Cerita ini remake dari tulisanku Dalam Pelukan Dosa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifah Latifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 - Pencarian Pelaku

Alana turun dari taksi, berdiri dengan punggung tegak. Kantung mata terlihat menghitam di bawah matanya. Namun, sorot matanya menatap ke depan dengan tenang dan dingin. 

Tatapan itu menyorot pada rumah di depannya. Cat luarnya warna krem. Di bagian depan terdapat beberapa pot besar berisi tanaman lidah mertua jumbo, palem kipas, dan aglaonema. Tanaman hijau itu membuat suasana rumah lebih asri tanpa perlu banyak perawatan.

Rayyan masuk lebih dulu, Alana mengikuti di belakang. 

“Assalamualaikum!” Rayyan membuka pintu rumah, kemudian mendorong koper Alana masuk.

Alana masuk. Di ruang tamu, terdapat satu set sofa abu-abu berukuran sedang dengan foto-foto yang terpajang rapi di dinding.

“Waalaikumsalam.”

Seorang perempuan berhijab datang dari dalam rumah.

“Bunda, ini Alana,” ucap Rayyan memperkenalkan Alana.

Alana menoleh pelan, tatapannya langsung naik turun tanpa berusaha disembunyikan. Mata Alana bergerak dari ujung kerudung yang disematkan sederhana, turun ke blus yang warnanya sudah agak pudar, lalu ke celemek yang warnanya bercampur noda minyak samar.

Saat perempuan itu tersenyum, alis Alana sedikit terangkat. Senyum itu tampak dipaksakan dari wajah yang begitu lelah. Senyum itu juga tidak benar-benar ramah, dipaksa ramah untuk menyembunyikan rasa bersalah dan tidak nyaman.

Pandangannya kemudian naik kembali ke wajah perempuan itu, mengunci di area mata, memperhatikan kerutan tipis dan lingkar gelap yang menunjukkan kurang istirahat dan bekas menangis.

Alana tidak menunjukkan reaksi apapun. Wajahnya datar.

“Alana.” 

Saat Lisa, Bunda Rayyan mendekat, Alana refleks mundur satu langkah.

Lisa terlihat terkejut, tapi buru-buru mengatur kembali ekspresi wajahnya. Lisa kembali tersenyum hangat, sekolah tidak terjadi apa-apa.

Atmosfer di sekitar terasa lebih dingin.

Rayyan menatap Alana heran. 

Alana menoleh pada Rayyan. “Kamar gue mana?” 

“Oh.” Rayyan sedikit kikuk. Dia mengusap tengkuknya pelan. “Sementara… lo tidur di kamar gue dulu.”

Alana masih menatapnya datar.

“Ayo gue tunjukin.”

Rayyan berjalan menuju ke pintu kamar yang berada dekat ruang tamu. Saat melewati Lisa, mereka saling tatap. Rayyan mengedikkan bahu samar, seakan mengatakan bahwa Alana memang seperti itu.

Tatapan Lisa beralih pada Alana yang masih diam di tempatnya. Lisa tersenyum hangat.

“Kamu istirahat ya, nak. Kalau butuh apa-apa, panggil Bunda aja.”

Alana tidak menanggapi ucapan Lisa. Dia melewatinya, menyusul Rayyan masuk ke dalam kamar. 

Kamar itu tidak terlalu luas, hanya muat untuk satu ranjang single, lemari dua pintu, meja belajar, dan space kosong yang tidak terlalu luas di bagian depan pintu hingga ranjang.

Alana menatap ke sekeliling. Di bagian ranjang, dua bantal ditata simetris, dan spreinya berwarna krem muda dengan motif daun yang biasanya tidak disukai cowok. Sprei itu terlihat begitu rapi, seperti baru dipasang. 

Terlihat jelas bahwa kamar itu sengaja dipersiapkan buru-buru untuk Alana.

Rayyan meletakkan koper Alana di sudut ruangan, lalu menoleh pada Alana.

“Lo tidur di sini, biar gue tidur di sofa,” ucap Rayyan. 

Alana tidak menanggapi ucapan Rayyan. Dia justru berbalik badan dan melangkah menuju pintu.

“Lo mau kemana?" tanya Rayyan.

Alana berhenti tepat di depan pintu. Tangannya masih menggenggam gagang, rahangnya mengeras.

“Cari tau apa yang terjadi." 

...***...

Setelah beberapa menit perjalanan, motor Rayyan sampai di sebuah hotel. Di fasad depannya, huruf-huruf besar berwarna emas menyala terang bertuliskan Luxe Horizon Hotel.

Alana berjalan masuk lebih dulu. Langkahnya mantap. Punggungnya tegak. Sorot matanya tertuju lurus ke depan. Dingin dan tajam.

Rayyan mengikuti di belakang.

Alana berhenti di depan meja resepsionis.

"Selamat malam, Kak. Ada yang bisa saya bantu?” tanya resepsionis perempuan itu dengan senyum profesional.

"Saya mau lihat CCTV hotel ini," ucap Alana dingin.

Senyum resepsionis itu mengendur sedikit. Tangannya menyatu di depan dada. “Mohon maaf, Kak. Untuk CCTV hotel ini tidak dapat diakses oleh pihak luar untuk kepentingan privasi pelanggan kami." 

Rahang Alana mengeras. Sorot matanya semakin tajam.

Rayyan buru-buru maju. “Kak, kami butuh lihat CCTV itu. CCTV itu tidak akan kami bawa keluar, kami hanya ingin mengecek sesuatu." 

“Sekali lagi mohon maaf, Kak. Sesuai kebijakan hotel ini, CCTV hanya bisa diakses jika ada surat perintah penyelidikan dari kepolisian." 

Luna mengerutkan kening. 

"Ada apa ini?” 

Seorang laki-laki paruh baya dengan setelan jas yang rapi menghampiri ke meja resepsionis.

Dia datang bersama satu pria lain yang juga mengenakan setelan jas lengkap. Tapi pria itu langsung menuju pintu keluar dari pergi dari tempat itu.

Alana mengamati pria yang baru keluar pintu itu sebentar, lalu menoleh pada pria satunya. "Bapak manajer disini?”

Pria itu mengangguk. "Iya. Ada yang bisa kami bantu?”

"Saya ingin lihat CCTV tanggal 15 Juni 2025 sekitar pukul setengah satu pagi di lorong kamar 357,” jawab Alana yang membuat Rayyan menoleh.

Dia tidak menyangka Alana hafal sedetail itu.

Pria itu tersenyum. "Mohon maaf sekali, saya tidak dapat membantu, Kak. CCTV akan dihapus otomatis oleh sistem setelah 30 hari. Jadi CCTV pada tanggal tersebut sudah terhapus.”

"Back up? Hotel sebesar ini pasti memiliki back up.” 

Manajer itu menghela napas kecil. “Rekaman back-up juga tidak dapat diakses tanpa surat perintah kepolisian. Itu prosedur kami untuk menjaga privasi tamu kami.”

Tatapan Alana memicing curiga. Matanya menatap pria itu tajam, mencoba mencari letak kebohongan di matanya. Alana jelas tidak percaya, tapi dia tidak bisa melakukan apapun.

“Rekaman video CCTV pada tanggal tersebut tetap tidak bisa diakses,” ucap pria itu final.

...***...

Alana sama sekali tidak bisa tidur semalaman. Bukan karena tubuhnya tidak lelah, tapi karena pikirannya menolak berhenti. Setiap kali memejamkan mata, yang muncul bukan gelap, melainkan   ingatan-ingatan yang berlubang.

Dia duduk di tepi ranjang sejak entah jam berapa. Punggungnya tegak. Kedua tangannya bertaut di pangkuan. Tidak gemetar. Tidak bergerak. 

Otaknya tidak bisa berhenti memikirkan kemungkinan orang yang melakukan hal ini padanya. Tapi nihil. Tidak ada satupun orang yang bisa Alana curigai untuk ini.

Tok! Tok! Tok!

Alana tidak bereaksi.

Rayyan membuka pintu kamar perlahan. Lampu kamar masih mati, hanya cahaya pagi pucat yang masuk dari jendela.

Rayyan berhenti di depan pintu.

“Lo nggak tidur, Na?” tanya Rayyan hati-hati.

Jangankan menjawab, menoleh pada Rayyan pun tidak.

Rayyan menarik napas dalam. Dia melangkah mendekat, berhenti beberapa langkah dari Alana.

“Lo perlu istirahat, Na.”

Alana masih tidak menjawab perkataannya.

Rayyan mengusap wajahnya sebentar, lalu menghela napas.

“Soal pelakunya… gue akan cari tahu sampai ketemu, Na. Gue udah minta orang buat lacak pengirim video itu.”

Alana perlahan menoleh. Tatapannya tajam. “Lo udah tahu pelakunya?”

Rayyan menggeleng pelan. “Ini gue mau kesana buat tahu hasilnya." 

Alana sontak berdiri dari tempatnya. “Gue ikut." 

Rayyan menggeleng. “Enggak, Na. Lo belum istirahat." 

“Gue nggak butuh istirahat. Gue harus cari pelaku itu sampai ketemu,” ucap Alana tajam.

Rayyan menghela napas panjang. “Gue tahu. Tapi lo tenang aja disini. Biar gue aja." 

“Enggak.”

“Na, dengerin gue. Kali ini aja. Lo tetap disini. Istirahat. Urusan itu biar gue yang urus. Gue akan kasih tahu ke lo apapun yang gue dapet.”

Alana menatap Rayyan lama, mempertimbangkan apakah harus mengikuti ucapannya atau tidak.

“Lo disini. Tunggu info dari gue.”

...----------------...

1
Nadiaaa
kpn up lagi kak
Chillzilla: nanti kak🤗
total 1 replies
Retno Harningsih
up
Nadiaaa
doubel up kk🤭
Chillzilla: yahhh udah aku set satu² kak😁
total 1 replies
Nadiaaa
semangat nulisnya kak 💪 lanjut terus sampe tamat💗
Chillzilla: makasih kak🤗🤗
total 1 replies
Nadiaaa
👍
Nadiaaa
kpn lanjut kak
Chillzilla: nanti sore kakk
total 1 replies
Nadiaaa
suka❤️‍🔥
Nadiaaa
lanjut
Nadiaaa
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!