Arum, seorang sarjana ekonomi yang cerdas dan taktis, terpaksa menikah dengan Baskara, Kepala Desa muda yang idealis namun terlalu kaku. Di balik ketenangan Desa Makmur Jaya, tersimpan carut-marut birokrasi, manipulasi dana desa oleh perangkat yang culas, hingga jeratan tengkulak yang mencekik petani.
Baskara sering kali terjebak dalam politik "muka dua" bawahannya. Arum tidak tinggal diam. Dengan kecerdikan mengolah data, memanfaatkan jaringan gosip ibu-ibu PKK sebagai intelijen, dan strategi ekonomi yang berani, ia mulai membersihkan desa dari para parasit. Sambil menata desa, Arum juga harus menata hatinya untuk memenangkan cinta Baskara di tengah gangguan mantan kekasih dan tekanan mertua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon habbah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: Musuh dalam Selimut
Nama yang terpampang di layar monitor ruang kontrol itu membuat udara di ruangan seketika terasa membeku. Profesor Darmono. Sosok negarawan yang sering muncul di televisi dengan pidato-pidato tentang integritas dan kedaulatan rakyat. Bagi warga Navasari, ia adalah pahlawan yang pernah memperjuangkan akses listrik masuk desa sepuluh tahun lalu.
"Tidak mungkin," gumam Baskara, suaranya bergetar. "Profesor Darmono adalah orang yang meresmikan balai desa ini, Rum. Dia yang memberiku beasiswa dulu."
Arum menatap barisan data yang terus bergulir. Sebagai seorang auditor, ia telah belajar satu hal pahit: Angka tidak memiliki sentimen, dan data tidak mengenal rasa terima kasih.
"Lihat ini, Mas," Arum menunjuk pada kolom transaksi tersembunyi yang menggunakan kode akun yayasan pendidikan milik sang Profesor. "Aliran dana dari proyek 1995 tidak pernah berhenti. Siska dan Adiguna hanyalah 'tangan kanan' dan 'tangan kiri'. Profesor Darmono adalah otaknya. Dia yang menjaga agar Navasari tetap miskin dan terisolasi, supaya deposit lithium ini tidak pernah terendus publik sampai teknologinya siap ia kuasai sendiri."
Tiba-tiba, suara tepukan tangan kembali terdengar. Namun kali ini, suara itu berasal dari speaker di ruang kontrol. Rupanya, seseorang telah meretas balik sistem komunikasi mereka.
"Audit yang sangat teliti, Nak Arum. Persis seperti ibumu, Ratna," suara itu tenang, berwibawa, dan sangat familiar. Suara Profesor Darmono.
Arum segera meraih mik kontrol. "Profesor? Jadi Anda selama ini mengawasi kami?"
"Aku tidak hanya mengawasimu, Arum. Aku menjagamu. Kenapa kau pikir Siska gagal berkali-kali? Kenapa kau pikir Kolonel Baskoro tidak langsung menghabisimu di menara? Karena aku masih ingin kau berada di pihakku," ujar Darmono di seberang sana.
"Berada di pihak penipu rakyat?" sela Baskara geram.
"Baskara, anakku... politik bukan soal benar atau salah, tapi soal kapan waktu yang tepat. Lithium ini adalah masa depan energi bangsa. Jika aku membiarkan warga desa yang buta hukum mengelolanya sejak dulu, tanah ini sudah hancur dikeroyok spekulan asing. Aku mengamankannya untuk momen ini."
Arum mencengkeram pinggiran meja. "Dengan cara menindas mereka selama tiga puluh tahun? Dengan cara membungkam ibuku?!"
"Ibumu keras kepala, Arum. Dia ingin mengungkap segalanya saat bangsa ini belum siap. Tapi kau... kau punya kecerdikan yang bisa kita gunakan. Datanglah ke Jakarta besok. Kita umumkan kemitraan strategis Navasari dengan yayasanku. Kau akan menjadi CEO dari konsorsium ini. Wargamu akan kaya, dan kau akan menjadi pahlawan."
"Dan jika aku menolak?" tanya Arum dingin.
Hening sejenak. "Data yang kau lihat itu... hanya ada di server lokal pompa itu. Dan aku baru saja mengirimkan perintah penghapusan otomatis (self-destruct). Dalam tiga puluh detik, bukti itu akan musnah. Tanpa bukti itu, kau hanya seorang istri kades yang sedang berhalusinasi menyerang nama baik seorang tokoh nasional."
Layar monitor mulai berkedip merah. Proses penghapusan data dimulai.
"Arum! Hentikan penghapusannya!" seru Baskara panik.
Arum tidak panik. Ia justru menjauh dari keyboard. Ia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan layar panggilannya yang sudah aktif sejak lima menit lalu.
"Profesor," ujar Arum dengan nada yang sangat manis namun mematikan. "Anda lupa satu hal tentang auditor modern. Kami tidak hanya menyimpan data di satu server. Sejak awal saya masuk ke ruang ini, saya sudah menyambungkan sistem ini ke siaran langsung (Live Streaming) di akun media sosial BUMDes Navasari yang ditonton oleh seratus ribu orang secara real-time."
Arum mengarahkan kamera ponselnya ke layar monitor yang sedang menampilkan nama Darmono dan skema korupsinya sebelum data itu terhapus.
"Ribuan orang baru saja mendengar suara Anda, dan melihat bukti itu sebelum Anda menghapusnya. Audit publik adalah jenis audit yang paling mustahil untuk Anda hentikan, Profesor."
Di ujung telepon, suara Darmono yang tadinya tenang kini berubah menjadi desisan penuh amarah. Sambungan terputus.
Arum terduduk lemas. Ia tahu, dengan melakukan ini, ia baru saja mendeklarasikan perang terbuka dengan salah satu orang paling berpengaruh di negeri ini. Tidak akan ada lagi perlindungan hukum yang tenang. Mulai besok, Navasari akan menjadi pusat badai politik.
"Rum, apa yang harus kita lakukan sekarang?" Baskara memegang pundak Arum.
"Kita tidak bisa diam di sini, Mas," Arum menatap suaminya dengan tekad baja. "Kita harus membawa fisik map merah ini langsung ke kantor pusat KPK malam ini juga. Kita akan melakukan perjalanan darat. Jangan pakai pengawalan resmi, mereka pasti sudah mencegat di jalan utama."
Arum mengambil tasnya, namun langkahnya terhenti saat melihat Marno masuk dengan napas tersengal.
"Bu Kades! Ada mobil-mobil hitam tak dikenal masuk lewat jalur hutan! Mereka tidak pakai seragam polisi, tapi mereka bersenjata!"
Arum menoleh pada Baskara. "Mereka datang lebih cepat dari perkiraanku. Mas, siapkan mobil tua kakek. Kita akan lewat jalur tikus di lereng sungai."
Lampu di ruang kontrol berkedip-kedip sebelum akhirnya mati total, menyisakan kegelapan yang hanya ditembus oleh pendar merah dari indikator server yang sedang menghapus dirinya sendiri. Arum merasakan tangannya ditarik oleh Baskara dalam kegelapan.
"Rum, tidak ada waktu lagi! Marno sudah menunggu di garasi belakang," bisik Baskara, suaranya parau karena ketegangan yang memuncak.
Arum tidak segera bergerak. Ia meraba meja, memastikan map merah dan hard drive cadangan sudah masuk ke dalam tas anti-airnya. "Mas, Profesor Darmono bukan orang sembarangan. Jika dia mengirim tim eksekutor ke sini, artinya dia sudah siap menghapus Navasari dari peta."
Mereka merangkak keluar lewat pintu darurat yang tertutup rimbunnya tanaman rambat. Di luar, suara deru mesin mobil-mobil SUV hitam terdengar mengelilingi balai desa. Lampu sorot mereka menyapu pepohonan seperti mata predator yang lapar.
"Lewat sini!" Marno muncul dari balik kegelapan, menuntun mereka ke sebuah mobil Jeep tua tahun 80-an milik kakek Baskara yang disembunyikan di bawah tumpukan jerami di gudang belakang.
"Mobil ini? Apa bisa lolos dari SUV-SUV canggih itu, Marno?" tanya Arum ragu.
"Mobil ini tidak punya sistem GPS atau komputer mesin yang bisa diretas Darmono, Bu Kades," jawab Marno sambil menghidupkan mesin dengan sekali sentak. "Dan yang paling penting, mobil ini bisa memanjat tebing berbatu di jalur sungai yang tidak mungkin dilewati mobil kota mereka."
Saat mereka mulai melaju, suara tembakan terdengar dari arah balai desa. Arum menoleh ke belakang, melihat kantor kontrol yang baru saja ia tinggalkan meledak hebat. Profesor Darmono benar-benar ingin memastikan tidak ada jejak digital maupun fisik yang tersisa.
"Mas... mereka meledakkannya," Arum mencengkeram sabuk pengamannya erat-erat.
"Fokus, Rum. Kita harus sampai ke perbatasan kabupaten sebelum fajar," Baskara mengambil alih kemudi dari Marno agar Marno bisa memantau situasi di belakang dengan teropong malam.
Mobil Jeep itu melompat-lompat di atas bebatuan sungai yang licin. Arum membuka laptopnya sekali lagi, menggunakan koneksi satelit darurat yang ia sembunyikan di dalam tas. Ia harus melakukan sesuatu sebelum mereka benar-benar terputus dari dunia luar.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Baskara sambil membanting setir menghindari batang pohon yang tumbang.
"Aku sedang melakukan 'Audit Bayangan'," sahut Arum, jarinya menari cepat. "Aku mengirimkan pesan enkripsi ke seluruh mantan rekan kerjaku di firma audit internasional. Jika dalam enam jam aku tidak memberikan sinyal aman, mereka akan merilis profil risiko Profesor Darmono ke bursa saham global. Aku akan menyerang titik terlemahnya: kekayaan pribadinya di luar negeri."
Tiba-tiba, sebuah cahaya terang muncul dari arah belakang. Dua motor trail dengan lampu sorot LED mengejar mereka lewat jalur setapak di pinggir sungai. Penumpangnya memegang senjata laras pendek.
DOR! DOR!
Satu peluru menghantam kaca spion Jeep.
"Merunduk!" teriak Baskara.
Arum tidak merunduk. Ia meraba jok belakang, menemukan botol pemadam api kimia yang tadi sempat dibawa Marno dari balai desa. Ia membuka jendela belakang.
"Mas, buat mobil ini berguncang hebat saat aku bilang sekarang!" seru Arum.
"Sekarang!"
Baskara membanting setir ke kiri, membuat Jeep miring. Arum melepaskan katup pemadam api, menyemprotkan bubuk putih pekat ke arah pengejar. Dalam sekejap, pandangan pengendara motor trail itu tertutup kabut kimia yang tebal. Salah satu motor tergelincir masuk ke dalam arus sungai yang deras.
"Satu tumbang!" teriak Marno.
Namun, kegembiraan mereka hanya sesaat. Di depan mereka, jalur sungai itu buntu oleh sebuah tebing tinggi. Dan di atas tebing itu, sudah berdiri Kolonel Baskoro dengan sisa pasukannya, menutup satu-satunya jalan keluar dari Navasari.
"Sepertinya auditmu harus berakhir di sini, Arum," suara Kolonel Baskoro menggema lewat pengeras suara.
Arum menatap Baskara, lalu menatap map merah di pangkuannya. "Belum, Mas. Kita belum selesai."
menegangkan ..
lanjut thor..