Hidup tanpa cinta memang hampa, tapi kehampaan tercipta karna adanya cinta.
Apakah hanya wanita yang harus menjadi bahan perbandingan dan apakah semua kesalahan harus ditanggung oleh wanita juga.
Lantas, di mana keadilan itu berada? Mereka bilang cinta membawa kebagian dan cinta menuntun kita ke kehidupan baru, tapi yang aku rasakan jatuh terbalik dari pernyataan itu semua.
Hidupku hancur, harga diriku terhina semua orang mencemooh bahkan mengucilkan aku.
Apakah ini yang di namakan hidup baru penuh kebahagiaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pria Haramku
Gadis berpakaian sexy itu menghindar saat kekasihnya hendak mendaratkan kecupan mesra, Xavier tersenyum sembari melepas jas yang dia kenakan.
“Tangkap aku jika bisa!” Erli berlari kecil masuk ke sebuah ruangan di villa tersebut, Xavier mengikuti gerak langkah Erli.
Terdengar suara jeritan manja Erli dan tawa mereka terdengar jelas sampai ke luar. Selang beberapa detik kemudian tawa itu menghilang bak ditelan bumi, kini hanya ada suara orkestra musik klasik.
Di luar sana sopir pribadi Xavier tersenyum seraya menatap korden putih yang berkibar akibat tiupan angin dan telinga pria tua itu mendengar suara ******* yang membuat hasrat membara.
“Anak zaman sekarang sungguh menakutkan. Semoga anakku terhindar dari perbuatan yang seperti ini,” ucap pria itu seraya menghisap rokoknya.
Sepasang kekasih itu melakukan hal yang seharusnya tidak mereka lakukan. Namun, ini sudah menjadi keputusan mereka dan gadis itu sudah merelakan tubuhnya di jamah dengan pria haramnya.
Mahkota yang seharusnya dia lindungi dan pertahankan, kini dia melemahkan benteng itu demi menyenangkan pacarnya. Jeritan Erli terdengar kala benteng itu didobrak paksa dan buliran air mata menetes bersamaan dengan tamu yang masuk begitu saja.
Pemuda itu tidak menghiraukan rintihan Erli, Xavier terus bekerja keras dalam hal ini sampai dia menyentuh puncak kepuasan saat meneguk madu asmara. Keringat yang bercucuran dan suara napas Xavier yang tersengal-sengal membuat Erli memalingkan pandangannya, dalam dekapan Xavier, Erli berbisik.
“Kamu akan tetap mencintaiku ‘kan?”
Pemuda itu tersenyum dan mencium kening Erli seraya mengangguk, Xavier mengeratkan dekapannya.
Erli dan Xavier masih bersenang-senang dan menikmati malam yang panas. Sedangkan di tempat lain Jafar dan Rasmi mencemaskannya, pasalnya Erli pergi dari jam empat sore sampai tengah malam begini belum juga ada kabar. Khafi sudah mencarinya ke rumah teman dekatnya, tapi tidak ada satu pun yang mengetahui keberadaan Erli, kakak sepupunya tersebut sangat menyakini bahwa saat ini Erli sedang bersama Xavier.
Malam yang penuh gairah pun berlalu begitu cepat, Erli yang bangun terlebih dulu meregangkan tubuh sejenak. Rasa nyeri membuatnya meringis kesakitan dan perlahan dia turun dari ranjang. Gadis itu berjalan sedikit tertatih dan dia masuk ke kamar mandi. Di saat air hangat mengguyur tubuhnya, tiba-tiba Xavier masuk dan mendekap tubuhnya yang ramping, pemuda itu mengecup seluruh bagian leher Erli.
“Cukup Sayang!” cegah Erli.
“Hmm, aku tahu. Kau masih merasakan sakit di sana. Lain kali aku akan lebih lembut lagi, aku sangat kagum padamu, Sayang. Putik bungamu masih terjaga!” Ucapan Xavier membuat gadis itu tertunduk malu.
“Tidak perlu malu! Kita sudah menjadi satu, jadi jangan ada rahasia di antara kita!” ujar Xavier yang kini melumuri tubuh Erli dengan sabun.
Jarum jam terus berputar perlahan dan sang Surya telah memancarkan cahayanya, Erli dan Xavier keluar kamar dan berjalan beriringan menuju ruang tengah villa.
Seorang gadis muda menyajikan sarapan untuk Xavier dan Erli, dua orang yang tampak lesu tidak bertenaga.
“Silakan Tuan, Nona!” Tangan gadis itu mengarah ke sebuah meja yang dipenuhi berbagai makanan.
Erli mengangguk dan duduk berhadapan dengan sang kekasih, tidak ada percakapan di antara mereka hanya ada suara dentingan garpu dan sendok. Setelah selesai makan Xavier mengajak Erli pergi ke salah satu butik ternama di Bogor.
“Kita mau ngapain di sini, Sayang?” Mata Erli terfokus menatap wajah kekasihnya.
“Belanja ‘lah, mau ngapain lagi?!” sahut Xavier kalem.
“Kamu kenapa memanjakan aku seperti ini? Jika aku khilaf bagaimana?” tanya gadis itu seraya memegang tangan kiri Xavier.
“Khilaf bagaimana?” timpal Xavier, “aku yakin sama kamu. Tidak ada alasan bagimu untuk berkhianat,” ucap Xavier penuh percaya diri.
Erli bergelendot di lengan pemuda itu, begitu selesai memarkirkan mobil, Xavier dan Erli masuk ke dalam butik. Beberapa staf butik menyambut mereka, Xavier menunjuk salah satu staf untuk menemani Erli memilih baju yang paling terbaru di sana.
Sepuluh menit, tiga puluh menit telah berlalu begitu saja dan kini tas belanjaan Erli telah penuh dengan beberapa potong baju edisi terbaru dan termahal.
Begitu selesai belanja Xavier mengantar kekasihnya pulang, tetapi pemuda itu menurunkan Erli di depan gang saja. Gadis polos yang menenteng banyak tas belanjaan di sambut tamparan keras yang mendarat di pipinya, Erli mengelus pipi tirusnya sembari menatap Khafi yang menamparnya.
"Dari mana kamu? sudah selesai main-mainnya? Aku pikir kamu sudah lupa jalan pulang." Menatap dengan mata yang menajam.
Kepala Erli tertunduk dan matanya berkaca-kaca, sekilas dia melihat paman dan bibinya terdiam melihat Khafi memakinya.
"Jawab aku, Erli! Apa yang kamu lihat dari bajingan itu?" bentak Khafi.
"Dia baik Aa. Selama tiga bulan kami berpacaran dia selalu membantu Erli," ujar Erli pelan.
"Hmm, baik? Manusia brengsek seperti dia tidak akan berbuat baik tanpa ada hal yang dia inginkan. Aku mau kau menjauhi bajingan itu!" Dengan mata yang melotot Khafi memerintahkan adik sepupunya.
Erli berlari masuk ke dalam kamar dan gadis itu mengurung diri. Ini bentuk penolakan Erli terhadap perintah Khafi, sudah berhari-hari khafi dan Erli tidak bertegur sapa bahkan mereka tidak menatap satu sama lain dan berulang kali Erli kabur dari rumah demi menghindari Khafi.
Setiap hari mereka lalui dengan kebahagiaan dan kedua sepasang kekasih itu sering mengunjungi villa yang mana menjadi saksi bisu pemersatuan mereka.
***
Dua bulan telah berlalu, sikap Xavier telah berubah. Bahkan pemuda itu selalu menghindar dan panggilan telepon Erli sering dia abaikan, hal tersebut membuat Erli resah dan gelisah, gadis itu memutuskan untuk menemui sang pacar saat makan siang nanti. Masih merangkai kata-kata, untuk berbicara dengan Xavier tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk pelan.
“Sayang, tolong bantu Bibi!” Rasmi berbicara dari depan pintu kamar Erli.
Segera gadis itu membuka pintu dan bertanya kepada sang bibi.
“Apa yang bisa Erli bantu, Bik?” Erli tersenyum tipis seraya mengikat rambut panjangnya.
“Tadi Bibi beli ikan, kamu masak, ya! Bibi lagi datang bulan, jadi perut Bibi nyeri sekali.” Perkataan Rasmi membuat jantung Erli berhenti berdetak, tiba-tiba dia mengingat bahwa bulan ini dia belum haid.
“Ok, habis ini Erli masak. Tapi, Erli mau beresin kamar dulu, boleh?” Jari Erli mengarah ke dalam kamarnya.
Rasmi mengangguk dan meninggalkan Erli yang masih terpaku di depan pintu kamar.
“Sekarang tanggal berapa, ya?” ucapnya panik, tangan gadis itu sibuk menghitung tanggal terakhir dia datang bulan.
Netranya melotot dan dia duduk lemas, semangatnya yang berkobar kini menghilang dan napas gadis itu berkali-kali tercekat.
“Aku tidak hamil ‘kan?” Netra Erli serasa panas detak jantungnya berdegup kencang dan hati gadis itu di selimuti rasa takut yang cukup tebal.
Berulang kali dia menyangkal terkaannya, tapi logika gadis itu terus melawan dan berkata bahwa dia sedang mengandung anak Xavier.
“Tenang Erli, jangan panik! Semua ini pasti ada jalan keluarnya dan kenapa aku takut? Xavier pasti menikahi ku, dia ‘kan sudah berjanji akan mencintaiku bagaimana pun keadaanku.” Erli berjalan santai masuk ke dalam dapur.
Semua bahan makanan telah dia sulap menjadi makanan lezat dan beberapa daging dia simpan kembali ke lemari es. Begitu selesai masak Erli berpamitan untuk keluar sebentar ke minimarket dekat pertigaan.
Di sepanjang jalan Erli terus mencoba menghubungi Xavier, tapi tidak ada jawaban dari sang kekasih.
“Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku menemuinya di rumah? Tidak, aku tidak boleh lancang seperti itu.” Baru saja memasukkan ponselnya ke dalam saku, kini ponsel itu berdering dan deringan ponsel miliknya membuat dia kegirangan.
“Pasti, dia merasa bersalah tidak mengangkat teleponku,” kata Erli sembari tersenyum.
Saat dia melihat layar ponselnya, raut wajahnya kembali murung dan dengan malasnya dia mengangkat panggilan tersebut.
"Ya, Bik?"
"Kalau pulang, tolong belikan obat penghilang rasa nyeri!" Sahutan dari seberang telepon.
"Iya, nanti. Ini Erli baru sampai di minimarket," kata Erli kalem.
Sambungan telepon pun terputus, gadis yang memiliki tahi lalat di atas bibir tersebut masuk dan langsung menuju area obat. Erli menggunakan gerak cepat saat mengambil Ovutest Digital atau lebih dikenal sebagai test pack.
Netra gadis itu melirik ke kiri dan ke kanan, memastikan tidak ada orang yang melihat barang yang dia beli saat ini. Karyawan baru wanita minimarket mendekat sembari melontarkan beberapa pertanyaan.
“Ada yang bisa saya bantu, Mbak?”
Erli meneliti karyawan wanita yang berdiri di sebelahnya.
“Saya beli ini Mbak.” Buru-buru Erli meletakkan benda itu di keranjang yang karyawan wanita itu bawa.
Astaga, Cuma ini. Ku pikir dia mau beli barang apaan?! Gerutu Karawang itu.
“Mbak cepat!” titah Erli lembut. Staf tersebut berjalan cepat memberikan benda itu kepada rekan kerjanya.
Ketika sang kasir mengecek semua harga barang, dia bertanya layaknya Karyawan pada umumnya.
“Tidak ada hal lain?" ucap kasir wanita.
“Tidak terima kasih,” sahut Erli pelan, wanita hamil itu memalingkan pandangan. Dia melihat sang pacar bergandengan dengan wanita lain dan wanita itu tampak cantik dan sexy, hati Erli serasa tersayat dan gadis itu melangkah cepat keluar dari minimarket.
"Mbak, barangnya belum dibayar!" pekik karyawan tersebut.
kemasan isi cerita yang menarik 💞 keren 💕semangat selalu sahabat q sayang👍
tes..
that's right answered🤭
miss you thor♥