Apakah kamu percaya cerita Cinderella?
Amina Arafat hanyalah seorang gadis yatim piatu, imigran dari Palestina dan tinggal bersama paman bibinya serta sepupunya di Brussels Belgia. Amina memiliki wajah cantik yang khas, membuat Akira Léopold, putra mahkota kerajaan Belgia, jatuh cinta pada pandangan pertama.
Amina yang merasa tidak pantas bersanding dengan seorang pangeran dan putra mahkota, mencoba menjauh dari Akira tapi dia salah. Akira adalah keturunan Léopold yang tidak akan menyerah begitu saja demi mendapatkan wanita yang sudah mencuri hatinya sejak bangku sekolah.
Generasi 8 klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejujuran Itu Penting
Amina menatap Akira bingung.
"Kamu mau kopi?" tawar Amina. "Aku siapkan ya. Mau roti bakar juga?"
Akira mengangguk. "Boleh!"
Amina berjalan ke dalam apartemen.
"Eh Mina ...."
"Ya Akira?"
"Kita sarapan disini ya? Suasananya menyenangkan," pinta Akira.
"Oke."
Akira duduk di kursi teras yang ada di balkon sambil melihat pemandangan hijau yang didesain oleh Sean. Opanya sangat suka lingkungan hijau dan tak heran, Belgia juga menerapkan undang-undang anti deforestasi di negaranya. Jika memang harus menebang pohon, diwajibkan menanam kembali. Satu pohon ditebang, harus menanam lima pohon. Jika melanggar, hukuman tidak main-main menjerat termasuk denda yang sangat besar.
Tidak heran Belgia, Belanda, Denmark dan negara-negara Eropa meniru Norwegia yang sudah melakukan undang-undang itu. Belgia juga memiliki tanah sangat luas di Kalimantan dan Sumatera di bawah naungan PRC Group yang tidak boleh dieksploitasi. Tak heran jika banyak pembalak yang 'hilang' atau 'dihilangkan' oleh PRC Group.
Situasi ini sudah berlangsung dari jaman Sean masih muda yang didukung oleh Hoshi Reeves dan Bagas Hadiyanto. PRC Group termasuk AJ Corp, MB Enterprise dan bantuan para bangsawan anggota keluarga Pratomo, membuat pemerintah Konoha tidak bisa berbuat apa-apa.
Tak heran sekarang paru-paru bumi sudah kembali dan udara pun menjadi lebih bersih. Akira sendiri sangat mendukung program penghijauan di negara Eropa dan Asia. Dia dan para saudaranya yang punya kekuasaan berbagai negara, akan terus menjalankan legacy dari keluarga besarnya.
"Lihat apa Akira?" tanya Amina saat memergoki Akira melamun.
"Aku hanya ... Senang Opa punya program penghijauan di Belgia. Malah kita lebih sedikit populasi nya dibandingkan burung-burung dan hewan yang ada disini." Akira tersenyum saat melihat ada burung kakaktua terbang ke hutan dekat gedung apartemen.
"Ayo minum dulu kopinya."
Akira melihat ada secangkir kopi hitam dan sebotol air mineral serta roti panggang lengkap dengan berbagai macam selai dan sosis goreng serta sunny side up.
"Lengkap sarapannya," kekeh Akira. "Terima kasih ya."
Amina mengangguk sambil tersenyum. "Bagaimana pameran semalam? Maaf, aku tidak ikut."
"Oma marah kamu tidak mau ikut! Jadi Sabtu besok, kamu harus ikut aku nonton balet!" jawab Akira sambil menyesap kopinya.
"Tapi ...."
"Baju sudah aku pesan buat kamu! Tidak ada kata aku tidak punya baju!" potong Akira sok galak.
Amina cekikikan. "Aku cuma mau bilang ...."
"Sepatu dan perhiasan sudah aku atur! Sudah, kamu tinggal bawa badan!" potong Akira lagi.
Amina hanya tersenyum sambil menyesap kopinya. "Terima kasih... Itu yang aku mau bilang."
Akira tertegun. "Oh ... Kirain."
"Lalu, bagaimana dengan semalam?" tanya Amina sambil makan roti.
"Aku bertemu dengan Hikmah. Dia pamerkan lukisan aku versi abstrak. Bagus sih, berbakat tapi ... Apa kamu tahu, dia menyisipkan kertas dengan nomor ponselnya dan minta aku menghubungi dirinya!" jawab Akira sambil menatap Amina serius.
Mata hijau Amina terbelalak. "Ya Allah ... Beraninya!"
"Mina, aku mengatakan yang sejujurnya ... Aku buang kertas itu setelah aku sobek kecil-kecil."
Amina menggeleng. "Akira ...."
"Mina, aku sudah bilang padamu. Aku akan selalu jujur padamu, sepahit apapun itu. Bukan apa-apa, lebih baik kamu mendengar dari aku langsung, duluan daripada kamu mendengar dari pers atau gosip di sosial media. Itu janjiku padamu, Mina," potong Akira.
"Aku tahu. Aku yang tidak jujur saat kuliah di Zürich ... Hanya itu ketidakjujuran aku padamu ...."
"Aku tahu. Aku selalu memantau gerak gerik kamu. Bahkan kamu dimana, aku tahu," jawab Akira.
"Bea ...."
Akira hanya tersenyum pertanda mengiyakan. "Jadi kembali ke Hikmah. Apa kamu akan kembali ke rumah paman kamu?"
"Aku rasa tidak. Aku tidak keberatan jika harus membantu biaya pendidikannya Hikmah tapi untuk tinggal disana ... Aku terpaksa pinjam apartemen Queen Mother karena apartemen aku sendiri belum bisa ditempati karena masih ada yang menyewa."
"Kamu tidak usah pergi ke apartemen lain! Oma suruh kamu tinggal sini, ya sudah dipakai saja! Aku tidak melarang kamu memberikan bantuan biaya pendidikan karena dulu kamu juga dibantu oleh mereka. Tapi ... Aku minta, berhati-hatilah. Tunggu ... Apa terjadi sesuatu saat kamu pulang kesana?" Akira menatap concern ke Amina.
"Aku mau cerita padamu ... Ini yang sebenarnya karena aku tidak mau ada yang ditutup-tutupi. Maaf jika menyinggung perasaan kamu." Amina lalu bercerita bagaimana ucapan Hikmah yang membuat dirinya kesal.
Akira mendengarkan tanpa memotong ucapan Amina. Pria itu hanya memasang wajah dingin dan tahu, Amina hanya mengatakan yang sebenarnya agar mereka tidak ada saling kesalahpahaman.
"Jadi ... Dia maunya uang?" gumam Akira. "Sangat klasik!"
"Aku tidak tahu kalau dia bisa kepikiran seperti itu," gumam Amina.
Akira tertawa lalu mengelus rambut coklat Amina. "Hampir semua wanita di Belgia dan Belanda ingin berada di posisi kamu, Mina. Tak heran jika Hikmah juga ingin menjadi kamu tapi ... Aku hanya tertarik dan suka padamu! Itu perbedaannya!" ucap Akira.
"Maafkan adikku ya Akira."
Akira menggeleng. "Bukan salah kamu. Hikmah saja yang tidak tahu batasannya."
"Aku senang kita saling jujur seperti ini," ucap Amina.
"Aku ingin kita nanti kalau sudah menikah, harus jujur ... Apalagi kita akan tinggal di lingkungan istana yang banyak tembok punya telinga."
Amina tergagap. "Apa? Me ... Menikah?"
"Lho iya Mina. Kita pacaran sudah lama lho ... Masa cuma gini-gini saja ...." jawab Akira cuek. "Ingat Mina, kita hanya percaya satu sama lain. Aku percaya padamu, kamu percaya padaku."
Amina menatap Akira sebal. "Kamu itu ngajak nikah atau ngajak jalan-jalan?"
"Eh?"
Amina pun berdiri dengan wajah kesal.
"Lho? Mina? Kamu kok marah?" tanya Akira. "Kamu mau kemana?"
"Mandi!" jawab Amina dengan langkah lebar-lebar.
Akira tampak bingung lalu dia menepuk jidatnya. Astaghfirullah! Aku bilang soal pernikahan santai sekali! Ya ampun gen akuuuu!
***
Istana Brussels Belgia
"Akira kemana?" tanya Arsyanendra yang tidak melihat putra sulungnya di meja makan.
"Akira ke Amina," jawab Zinnia.
*Pagi-pagi begini?" Arsyanendra menaikkan sebelah alisnya. "Ini baru jam sembilan pagi lho!"
"Ya biarin saja. Akira mau mengajak Amina ke pagelaran balet besok Sabtu. Aku yang minta," senyum Zinnia.
"Oh begitu. Memang sudah waktunya go public sih ...."
Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan Amira yang berlari meninggalkan istana. Imelda pun ikut pergi bersama dengan Amira membuat Arsyanendra dan semua anggota keluarganya melongo.
"Amira! AMIRA!" panggil Arsyanendra.
Seorang pengawal pria yang hendak mengejar Amira dan Imelda, dipanggil Arsyanendra.
"Ya Yang Mulia?"
"Kemana itu Amira?" tanya Arsyanendra.
"Tuan putri ke bandara, Yang Mulia."
"Ngapain?" Arsyanendra tampak gusar.
"Grady Daugherty mengalami kecelakaan yang membuatnya kritis."
***
Yuhuuu up Siang yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
prince Akira seperti pria-pria keturunan Pratomo lainnya
coba kalo nggak pasti bukan hanya para sesepuh yang masih hidup, tapi Kanjeng Raden Ayu The God Mother dari dunia arwah terlebih Kanjeng Raden Mas Haryo Pratomo akan turun tangan
memang sih orang tuanya berjasa buat kamu tapi si hikmah nggak bisa menempatkan diri