Kanara, enam tahun, memilih diam dan takut pada cermin.
Nura datang hanya untuk menolong, tapi malah terikat pada Elang, ayah Kanara, duda kaya yang menyimpan luka dan penyesalan.
Di antara tangisan dan kasih yang tumbuh perlahan, cinta hadir tanpa rencana. Namun saat masa lalu mulai terkuak, Nura harus memilih, pergi untuk melindungi diri atau bertahan mencintai dua hati yang sama-sama terluka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang bersama Nura
Keesokan harinya, Kanara diperbolehkan pulang dengan syarat yang cukup berat. Dokter memberi peringatan keras yang lebih terdengar sebagai pesan pribadi daripada sekadar prosedur medis.
“Hati-hati, Pak Elang. Jika Kanara sampai ‘mematikan’ tubuhnya lagi , kondisinya akan jauh lebih berbahaya. Nyawanya bisa terancam,” pesan dokter serius.
Elang mendengarkan sambil mencatat setiap detail jadwal obat dan kontrol. Tangannya sedikit gemetar. Bukan karena ia bingung, tapi karena ia takut melakukan kesalahan sekecil apapun yang bisa melukai putrinya lagi.
Saat keluar, Kanara duduk di kursi roda dengan selimut biru yang menutupi kakinya. Pandangannya lurus ke depan, kosong. Setiap kali ada pintu terbuka atau langkah terlalu keras, tubuh kecilnya menegang. Menyadaei hal itu, Nura yang berjalan di samping kursi roda, memperlambat langkahnya.
“Sebentar lagi ya… kita pulang,” bisik Nura lembut.
Kanara mengangguk kecil.
Di parkiran mobil, Rian–asisten Elang, sudah menunggu di samping mobil.
“Semua sudah siap, Ria ?” tanya Elang pada Rian.
“Sudah, Pak.”
“Nura…,” panggil Elang. “Kenalkan ini asistenku, Rian. Rian, ini Nura, terapisnya Kanara,” Elang memperkenalkan keduanya dengan singkat.
Rian melangkah maju dengan ramah. “Selamat siang Mbak… eh, kak Nura?”
“Panggil Nura saja,” jawab Nura sambil tersenyum.
Saat Rian hendak membalas senyuman itu, Elang tiba-tiba memotong di tengah-tengah mereka, membuat Rian sedikit terdorong mundur.
“Ayo cepat! Kanara sudah kelelahan,” potong Elang dengan nada dingin. Rian yang bingung melihat ketus bosnya hanya bisa segera masuk ke kursi kemudi.
Di dalam mobil yang melaju, Kanara mencengkram ujung baju Nura.
“Pak Elang…,” panggil Nura pelan.
“Iya?” Elang menyahut sambil melirik lewat spion tengah.
“Boleh kita mampir ke tempat saya sebentar? Saya mau harus mengambil barang-barang. Teman saya sudah merapikannya,” pinta Nura.
“Oke,” jawab Elang singkat.
“Kanara, kita mampir ke rumah kak Nura sebentar ya. Kakak mau ambil baju, Setelah itu kita langsung pulang bersama-sama.” Nura menjelaskan pada Kanara agar gadis kecil itu tidak merasa terasing. Kanara mengangguk setuju.
“Rumah kamu di daerah mana, Nura?” tanya Rian ramah.
“Di–”
“Jalan saja dulu, nanti aku kasih tahu jalannya,” potong Elang lagi.
Rian terdiam. Ia merasa ada aneh yang aneh dengan suasana hati bosnya hari ini.
Sesampainya di depan kontrakan, Zoya sudah menunggu di teras dengan tas besar di sampingya. Begitu Nura turun, Kanara langsung menempelkan wajahnya ke kaca mobil. Matanya terus mengawasi Nura seolah takut wanita itu akan pergi meninggalkannya.
“Kak Nura cuma sebentar, Sayang. Dia ikut kita pulang,” kata Elang berusaha menenangkan putrinya.
Di luar, tampak Nura mengecek tas. “Semuanya sudah masuk, kan?”
“Iya, sudah. Aku masukin sesuai list yang kamu kirim,” jawab Zoya.
Matanya melirik ke arah dua pria di dalam mobil. “Ra, aku iri deh. Kamu beneran mau tinggal sama duda ganteng dan kaya itu?”
“Ssst! Ini urusan kerja, Zoy. Aku di sana jadi terapis,” sahut Nura sambil menutup ristleting tasnya.
“Apaan sih, Zoy?! Ini cuma urusan kerja aja. Aku di sana akan menjalankan tugasku sebagai terapis,” ujar Nura saat menutup ristleting tasnya.
“Eh, itu yang di sebelahnya siapa?”
“Oh, Pak Rian. Asistennya pak Elang,” jawab Nura yang sudah menjinjing tasnya.
“Kamu beruntung di kelilingi cowok-cowok keren,” goda Zoya lagi.
“Sudah, ah! Aku jalan dulu, ya. Jangan bawa cowok masuk ke sini kalau aku nggak ada!” pesan Nura sebelum berpamitan.
“Iya, iya… jalan sana. Semoga baik-baik ya….”
Nura melambaikan tangannya asal.
Di dalam mobil, Rian baru saja melepas sabuk pengamannya untuk membantu Nura. Namun, Elang langsung menahannya dengan rahang mengeras.
“Mau ke mana kamu?” tanya Elang.
“Mau bantu Nura angkat tas, Pak. Itu…,” jawab Rian terbata.
“Tidak usah..Kamu diam di sini. Biar aku saja,” ucap Elang ketus. Ia keluar dan mengangkat tas Nura ke bagasi sendirian, meninggalkan Rian yang bergumam bingung, “Tumben banget, dia mau angkat-angkat barang sendiri.”
**********
Rumah besar Elang menyambut mereka dengan sunyi. Pagar dibuka pelan, dan di halamann, Bu Yati bersama beberapa staf sudah berbaris rapi. Nura merasa sedikit gugup.
“Mereka…,” gumam Nura ragu.
“Tenang saja. Saya sudah perintahkan agar mereka tidak mendekat tanpa izinmu,” jawab Elang meyakinkan.
Saat turun, Kanara sempat ragu di balik pintu mobil. Kepalanya tertunduk. Nura segera berjongkok di hadapannya. “Kita masuk pelan-pelan, ya?”
Kanara meraih tangan Nura dan mengangguk. Para staf dengan sigap menyingkir ke sisi jalan memberi ruang saat mereka mulai melangkah masuk.
Begitu pintu utama dibuka, aroma kayu cendana dan pengharum ruangan yang samar menyambut mereka. Sebelumnya, saat Nura ke sini untuk pertama kalinya, ia tidak terlalu memperhatikan, rumah ini sangat bersih tapi terasa kurang ‘nyawa’. Di dinding-dindingnya yang luas, tidak ada satupun foto keluarga atau pajangan yang jejak kehidupan yang hangat.
“Kamar kamu ada di lantai dua, tepat di sebelah kamar Kanara. Ada pintu penghubung di dalamnya supaya kamu bisa langsung mengecek dia kalau ada apa-apa,” ucap Elang menatap Nura.
Nura terpana saat Elang mengantarnya ke kamar tersebut. Ruangan itu hampir sebesar seluruh luas kontrakannya. Jendelanya besar, langsung menghadap ke taman belakang yang memiliki kolam renang pribadi.
“Ini… terlalu bagus untuk saya, Pak,” gumam Nura pelan.
“Ini yang pantas untuk orang yang sudah menjaga putri saya,” balas Elang tegas namun tulus.
Tiba-tiba ponsel Elang berdering. Ia menjauh sejenak untuk bicara, lalu kembali dengan wajah gusar.
“Nura, maaf. Aku harus ke kantor sekarang. Ada masalah mendesak yang harus kutangani sendiri. Tapi Kanara…”
Nura menatap Elang dengan tegas. “Pak Elang sebaiknya bicara langsung pada Kanara. Jangan pergi diam-diam. Kepercayaannya baru tumbuh lagi.”
Elang mengangguk lalu berlutut sejajar dengan Kanara. “Kanara Sayang, Ayah harus pergi ke kantor sebentar. Ada pekerjaan yang harus Ayah selesaikan. Ayah janji akan pulang secepat mungkin.”
Kanara menatap mata ayahnya, ada kilat kekecewaan di sana. Elang memejamkan mata, hatinya perih. “Maafkan Ayah, ya …”
Kanara sedikit mundur dan berlindung di baling lengan Nura. Nura ikut berjongkok. “Kanara, Ayah harus pergi sebentar untuk bekerja. Tapi Ayah pasti pulang, kok. Boleh, kan?”
Kanara menunduk sejenak, menggerakkan kakinya seolah tengah menimbang, lalu akhirnya ia menoleh pada Elang dan mengngguk pelan.
Elang menarik napas lega sebelum akhirnya setengah berlari keluar kamar.
Kanara kemudian menarik Nura turun kembali ke lantai dasar. Mereka melewati ruang keluarga dengan TV raksasa, hingga sampai di ruang makan yang menyatu dengan dapur bersih.
Kanara menarik kursi untuk Nura. Ia kemudian beranjak menuju kulkas, mengambil sekotak susu dingin dan sebuah gelas. Hanya ada mereka berdua di sana, suasana yang sunyi dan nyaman.
Kanara menuangkan susu, meminumnya hingga habis, lalu menuangkannya lagi. Kali ini, ia mendorong gelas itu ke arah Nura.
“Minum…,” ucapnya hampir berbisik.
Nura tersenyum manis, sambil menggeleng pelan. “Buat Kanara saja. Kak Nura tidak bisa minum susu, nanti perutnya sakit.”
Mendengar kejujuran Nura, Kanara tiba-tiba tersenyum lebar. Sangat lebar.
Mata Nura mendadak memanas. Ini pertama kalinya ia melihat Kanara tersenyum lepas seperti itu. Sebuah kemajuan kecil yang terasa seperti kemenangan besar.
kasian kl tiba2 histeris