NovelToon NovelToon
Dilamar Si Cantik Tak Dikenal

Dilamar Si Cantik Tak Dikenal

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Tamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mami Al

Dio tak menyangka wanita yang ditemuinya dalam hitungan jam berani melamarnya. Bagi dirinya itu adalah sebuah penghinaan meskipun wanita yang ditolongnya cantik dan mampu memberikan seluruh harta. Dio pun menolak keinginannya, tetapi si cantik Laras tetap terus mengejarnya.

Apakah Dio bersedia menerima lamarannya atau tetap pada pendiriannya mencintai kekasihnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode Kelima

Dio tak menyangka bertemu lagi dengan Laras, wanita yang ingin sekali dihindarinya. "Kenapa kamu malam-malam di sini?"

"Mobilku mogok dan ponselku mati. Orang bengkel akan datang kira-kira dua jam lagi dan aku mau pulang."

"Ya sudah, kalau begitu kamu tunggu saja mereka memperbaiki mobilmu!"

"Mereka sangat lama, aku takut sendirian di sini," kata Laras menjelaskan, ia berharap Dio mau membantunya.

"Siapa suruh jam segini masih gentayangan?" ketus Dio.

"Ini masih jam sebelas malam!" kata Laras dan menurutnya belum terlalu larut malam.

"Aku tidak bisa membantumu!" Dio menutup kaca helmnya dan menyalakan mesin motornya kembali.

"Dio, tolong aku!" Laras memegang lengan Dio berharap pria itu tak meninggalkannya.

"Tunggu saja mereka!" Dio menurunkan tangannya Laras dari lengannya.

Laras yang tak dapat memaksa hanya menelan kekecewaan. Dirinya sekarang cuma bisa pasrah apa yang akan terjadi padanya. Ia membalikkan badannya dan berjalan malas menuju mobilnya beriringan dengan laju motor Dio meninggalkannya.

Dio telah semakin menjauh. Perasaan khawatir hinggap di hatinya. Rasa tega memenuhi pikirannya. Laras bukan siapa-siapa, tapi mengapa wanita itu mampu mengobrak-abrik ketenangan batinnya.

Dio pun memutuskan kembali menemui Laras, begitu sampai lampu mobil tak menyala. Mengetuk kaca jendela berulang kali tetapi tak ada sahutan.

"Di mana dia?" Dio mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Laras di tengah gelapnya malam.

"Oh, Tuhan, di mana dia? Kenapa aku jadi khawatir begini?" Dio begitu cemas, ia berharap Laras baik-baik saja.

Dio kembali mengetuk kaca jendela bahkan ia mencoba mengintip menggunakan senter ponselnya. Namun, ia tak melihat ada seseorang di dalamnya. "Apa dia sudah pulang?" gumamnya.

-

Dio tiba dirumahnya sejam kemudian, membersihkan diri dan bersiap buat tidur. Namun, perasaan gelisah terus menghantuinya. Ia terus memikirkan Laras, takut terjadi sesuatu hal buruk menimpa wanita itu.

"Besok aku harus kembali ke sana!" janji Dio dalam hati.

Dio pun berusaha memejamkan matanya. Tetapi, bayangan wajah Laras meminta bantuan kepadanya muncul. Apalagi raut wajah Laras begitu memelas meminta pertolongan.

Dio bangun dan mengacak rambutnya, "Aarrgh...!!" ucapnya pelan. Ia tak mau suaranya mengganggu waktu istirahat orang tua dan adiknya.

***

Keesokan paginya, Dio pamit kepada kedua orang tuanya berangkat kerja lebih awal dari biasanya.

"Kenapa buru-buru? Memangnya ada pesanan?" tanya Derry melihat putranya melewati sarapan bersama.

"Iya, Yah," jawab Dio berbohong.

"Oh, ya sudah, hati-hati!" kata Derry.

Dio bergegas menaiki motornya dan melesat ke tempat ia dan Laras semalam bertemu.

Sesampainya di sana, ia tak menemukan mobil milik Laras yang terparkir. "Apa dia sudah mengambil mobilnya?" gumamnya.

Melihat arloji ditangannya, masih ada waktu 30 menit lagi menuju tempatnya bekerja. Dio lalu memutuskan ke rumahnya Laras buat memastikan bahwa wanita itu pulang dengan selamat.

Sesampainya dikediaman orang tuanya Laras, Dio turun dari motornya dan bertanya kepada penjaga keamanan. "Apa Laras ada di rumah?"

Pria bertubuh besar dan tinggi menatap tajam Dio yang menanyakan putri majikannya hanya dengan sebutan nama saja. Apalagi Dio datang cuma menggunakan motor biasa.

"Saya temannya," Dio coba menjelaskan hubungan dirinya dan Laras.

"Teman?" pria itu tak percaya.

"Iya," ucap Dio terbata-bata.

"Sejak kapan Nona Laras memiliki teman seperti anda?" pria itu memperhatikan Dio dari ujung kepala hingga kaki lalu berpindah ke arah motor yang terparkir tak jauh dari gerbang.

"Sejak.....!" Dio bingung harus menjelaskannya secara panjang.

"Sepertinya anda salah alamat!" kata pria itu lagi.

"Tidak mungkin saya salah alamat. Saya pernah mengantarkannya pulang ke sini. Mungkin saja bukan kamu yang sedang bertugas waktu itu," ujar Dio kepada pria yang menurutnya usianya sebaya dengannya.

"Tapi, saya tidak yakin kalau anda adalah temannya Nona Laras."

"Ya sudah kalau tidak percaya, sekarang panggilkan saja dia!" kata Dio yang malas terus berdebat.

"Maaf, saya tidak bisa memanggilnya."

"Kenapa? Kamu masih tak percaya kalau saya temannya?" kesal Dio.

"Jam segini Nona Laras sedang sarapan bersama kedua orang tuanya. Sekitar sepuluh atau lima belas menit lagi, mereka akan keluar dan berangkat ke kantor."

Dio kembali melihat arlojinya, jika dirinya menunggu maka dia akan terlambat bekerja.

"Lebih baik tunggu saja!" penjaga keamanan itu memberikan saran.

"Lain waktu saja saya kemari. Saya senang kalau dia sudah berada di rumah!" ucap Dio tersenyum lega, ia pun bergegas menuju motornya dan meninggalkan kediaman orang tuanya Laras.

Selang 10 menit setelah Dio pergi, Laras dan kedua orang tuanya keluar berjalan menuju mobil yang telah terparkir di halaman rumah.

Penjaga keamanan berlari kecil menghampiri Laras dan berkata, "Nona, tadi ada yang datang mencari."

"Dia tidak menyebutkan nama, Nona."

Laras lalu menyipitkan matanya.

"Dia laki-laki, masih muda, tampan, naik motor warna merah," penjaga keamanan menyebutkan ciri-ciri Dio.

"Dio?" Laras mencoba menebak.

"Saya tidak tahu namanya, Nona. Dia ke sini menanyakan apakah Nona ada di rumah atau tidak," kata si penjaga keamanan lagi.

"Ya, aku tahu siapa dia!" kata Laras.

"Tadi saya sudah memintanya buat menunggu, tapi sepertinya dia buru-buru," jelas penjaga keamanan.

"Iya, tidak apa-apa. Terima kasih sudah memberitahu saya. Dia bukan orang jahat. Kamu bisa kembali bekerja," kata Laras.

Penjaga keamanan kemudian berlalu.

Johan dan Karin yang belum masuk ke mobil, sedari tadi mendengarkan obrolan antara putri dan penjaga keamanan rumahnya.

"Siapa Dio, Laras?" tanya Johan.

"Dia calon menantu kalian," jawab Laras.

Johan dan Karin saling pandang mendengar jawaban putrinya.

"Tapi, dia menolak aku," kata Laras sembari membuka pintu mobil dan masuk.

Karin juga masuk dan duduk di samping putrinya. "Kenapa dia menolakmu? Apa dia sudah beristri?"

"Dia belum menikah, tapi dia memang tak mau menikah denganku," kata Laras.

"Kurasa dia sudah mempunyai kekasih," tebak Karin.

"Entahlah, aku tidak tahu. Pastinya, saat aku menawarkan uang kepadanya biar mau menjadi calon suamiku dia menolaknya mentah-mentah," ujar Laras lagi.

"Kenapa bisa? Bukankah semua orang menyukai uang? Apa dia cuma tertarik dengan pria?" Karin menerka asal.

"Astaga, Mama. Kenapa bicara begitu?" tegur Laras.

"Kamu itu cantik, masih muda, uang banyak. Banyak pria yang mengincar kamu. Kekasihmu itu aja terus berharap menjadi bagian dari keluarga kita. Tetapi, dia cuma laki-laki biasa malah menolakmu. Itu 'kan sungguh aneh!" ucap Karin panjang lebar.

"Mungkin dia memang tidak menyukai Laras, Ma. Ada juga pria yang ingin mencari pasangan setara dengannya," sahut Johan yang duduk dihadapan keduanya.

"Mungkin saja, Pa. Tetapi, itu laki-laki memang sangat langka!" kata Karin.

"Di mana kalian bertemu?" tanya Johan.

1
Dew666
💥💥💥💥💥
Dew666
Loh kok tamat thor?
Dew666
🍭💎
Dew666
💜💜💜
Dew666
🍡🪸💜
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!