"Oh My God!! Pasti aku bermimpi, siapa pria tampan itu? Kenapa mukanya mirip sekali dengan aktor idolaku, Luhan?"
"Sebaiknya jaga matamu, Cinta Su!!"
"Doakan saja semoga hatiku tidak goyah, lagipula siapa yang bisa menolak seorang Tuan Muda dari keluarga kaya raya, apalagi wajahnya sangat tampan dan mirip idolaku, Luhan. Bukankah kita sebanding, apalagi banyak yang mengatakan jika aku mirip dengan Jessica Jung!!"
Cinta adalah putri bungsu dari keluarga "Su" sejak kecil dia jatuh cinta pada seniornya yang bernama Steven, namun kedatangan pria tampan dari keluarga Qin menggoyahkan perasaan Cinta untuk sang senior.
Cinta terjerat pesona dan kelembutan si Tuan Muda yang terkenal dingin dan arogan. Mampukah Cinta mempertahankan perasaannya pada Steven, atau justru dia benar-benar berpaling pada Aiden?
Hanya waktu yang bisa menjawab semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusica Jung 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saling Menghangatkan
Aiden baru saja mendapatkan kabar jika Steven mencoba bunuh diri dan saat ini berada di rumah sakit. Dia tidak meninggal dan hanya mengalami patah tulang akibat jatuh dari ketinggian 5 meter.
Jika saja hubungan diantara mereka terjalin dengan baik. Pasti Aiden sudah langsung pulang untuk melihat keadaanya, tapi dia tidak peduli karena hubungannya dan Steven sejak awal sangat buruk.
Cinta yang baru saja keluar dari kamar mandi memicingkan matanya melihat suaminya yang sedang diam termenung di depan jendela kamar yang terbuka.
Masih dengan handuk yang melingkari pinggulnya. Cinta menghampiri Aiden yang sepertinya belum menyadari kedatangannya.
"Kak Ai, apa yang sedang kau pikirkan?" Tegur Cinta. Sontak Aiden menoleh dan menatap wanita yang berdiri di belakangnya.
"Tidak ada, hanya saja aku baru mendapatkan kabar dari orang rumah jika Steven mencoba mengakhiri hidupnya dan saat ini dirawat di rumah sakit Karana mengalami patah tulang." Tuturnya.
"What?! Orang seperti dia ternyata bisa berpikiran sempit juga?! Menggelikan." Bukannya prihatin dan terkejut, Cinta malah mencemooh, menurutnya apa yang Steven lakukan sungguh sangat kekanakan.
"Kau bisa sakit, sebaiknya segera pakai bajumu." Pinta Aiden melihat Cinta yang hanya berbalut handuk saja. Perempuan itu mengangguk.
Kemudian Cinta beranjak dan meninggalkan Aiden sendirian di sana. Lagipula dia juga sudah sangat kedinginan karena udara yang semakin dingin malam ini.
Aiden mengeluarkan sebungkus rokok dari saku Long Vest nya dan sebuah pematik. Mengambil satu lalu menyulutnya. Kepulan asap putih keluar dari sela-sela bibir Kiss Able nya.
Udara malam ini terasa lebih dingin dari malam-malam sebelumnya. Mengingat jika ini sudah berada di ujung musim gugur, yang artinya musim dingin akan segera tiba. Aiden merapatkan Long Vest nya. Sekali lagi dia menghisap dalam-dalam nikotinnya lalu membuangnya secara perlahan.
Drapp... Drapp.. Drapp..
Aiden menoleh setelah mendengar suara derap langkah kaki seseorang yang mendekat. Pria itu membuang puntung rokoknya yang hanya tinggal setengah lalu menghampiri Cinta.
Aiden memperhatikan penampilan Cinta dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ada yang berbeda pada penampilan Cinta malam ini. Dia memakai piyama tidur berwarna merah yang memperlihatkan lekuk tubuhnya, yang membuatnya terlihat, errr... Seksi.
"Kak Ai, menurutmu bagaimana dengan Lingerie ini? Cocok tidak? Aku tidak menyangka jika kau menyiapkan Lingerie seperti ini juga untukku." Ucapnya.
Aiden menyeringai. Dia menarik pinggang Cinta hingga wanita itu jatuh ke dalam pelukannya. "Kenapa? Apa kau tidak menyukainya? Lihatlah dirimu, Sayang. Kau sangat cantik dan mempesona dengan Lingerie ini." Aiden mengangkat dagu Cinta lalu mengecup singkat bibirnya.
"Apa Kak Ai sendiri yang memilihkannya untukku? Aku tidak menyangka jika Kak Ai memiliki selera sebagus ini." Tuturnya.
"Karena aku selalu tau mana yang cocok dan tidak untukmu." Jawabnya.
"Soo, bisakah malam ini kita saling menghangatkan? Uhh, aku sangat kesepian."
Aiden mengangkat tubuh Cinta bridal style dan membawanya menuju tempat tidur. "Aku akan membuatmu menyeru kan namaku sepanjang malam." Ucap Aiden sembari membaringkan tubuhnya pada tempat tidur.
Cinta memeluk lengan Aiden saat pria itu kembali menyatukan bibir mereka dan memagut nya seperti tadi.
Jari-jari lentiknya melepas Long Vest yang Aiden kenakan kemudian beralih pada kemeja lengan panjangnya, dan membuangnya begitu saja. Menyisakan singlet hitam yang masih melekat pas ditubuh Aiden.
"Aahhh... Kak Ai," rancau Cinta setelah Aiden menurunkan ciumannya menuju leher jenjangnya. Wanita itu terus saja merintih dan menggeliat dalam posisinya.
Kedua matanya membelalak ketika salah satu jari Aiden masuk ke dalam Miss nya yang telah basah dan mengeluarkan cairan. Wanita itu kembali mengeram, merasakan kenikmatan yang tiada Tara.
Dan Aiden tidak akan berhenti meskipun Cinta memohon. Dia akan membuat Cinta terus menyerukan namanya hingga pagi menjelang.
.
Percintaan mereka selesai sejak 1 jam yang lalu. Cinta sudah terkapar tidak berdaya karena terlalu lelah. Sementara Aiden masih terjaga. Dia sedang memeriksa beberapa file yang Max kirim padanya.
Tiba-tiba saja Aiden merasa haus. Pria itu beranjak dari duduknya dan pergi ke dapur untuk mengambil minum.
Kedua matanya memicing melihat ada beberapa pria yang terlihat mencurigakan memasuki Villa nya. Aiden memiliki firasat buruk.
Aiden menghampiri mereka dan langsung menegurnya. "Siapa kalian?!" Tanya Aiden to the poin.
"Serahkan semua hartamu maka kami akan membiarkanmu tetap hidup!!"
"Oh, jadi kalian datang untuk merampok?! Dasar bandit-bandit bodoh!! Kalian datang ke tempat yang salah!!" Ucapnya.
"Banyak bacot!!"
Aiden berlari menuju halaman. Dia membutuhkan tempat yang luas untuk menghajar mereka semua. Jika saja ini di mansion nya. Pasti orang-orang itu tidak akan selamat. Karena kepungan dari semua penjaga dan bodyguard yang ada di sana.
Aiden menangkis semua pukulan dan tendangan yang mengarah padanya. Dia di keroyok oleh mereka yang jumlahnya lebih dari 5 orang. Mereka bersenjata sementara Aiden hanya dengan tangan kosong.
Sejauh ini Aiden belum memberikan perlawanan yang berarti. Dia hanya menangkis, menendang dan menghindar. Aiden sengaja melakukannya dan membuat tenaga mereka terkuras.
Bruggg...
Dua diantara mereka tersungkur setelah mendapatkan tendangan telak pada dada dan perutnya. Tersisa 4 orang lagi. Ada yang membawa senjata tajam, ada yang membawa tongkat besi, dan ada yang membawa balok.
"Serang!!!"
Mereka menyerang Aiden secara bersamaan. Aiden langsung membungkuk untuk menghindari serangan bersamaan yang mengarah padanya. Dalam posisinya Aiden menjatuhkan lawan dengan cara menjegal kakinya. Dua berhasil dia tumbangkan dan tersisa dua lagi.
Dan sementara itu...
Tanpa Aiden sadari, salah satu orang yang dia tumbangkan tadi berhasil bangun, dia berjalan mengendap-endap sambil membawa sebuah guci yang tidak sengaja ditemukan di balik semak-semak.
"Mampus kau!!!"
Sontak Aiden menoleh dan...
Prakkk...
"Aaahhh.." Guci itu menghantam wajah dan kepalanya. Membuat darah segar seketika keluar dari beberapa titik.
Melihat fokus Aiden berantakan. Hal tersebut segera dimanfaatkan oleh lawan untuk menyerangnya secara bersamaan. Tapi hebatnya Aiden masih berhasil menghindarinya. Bahkan dia mampu memberikan serangan balasan.
Dengan sisa tenaga yang dia miliki. Aiden mengeluarkan senjata api yang terselip di pinggangnya lalu menembak mereka. Dan tubuh Aiden jatuh tak sadarkan diri setelahnya.
-
"KAK AI!!"
Cinta memekik kencang saat melihat kelopak mata Aiden perlahan terbuka. Aiden tak sadarkan diri semalaman akibat luka-luka yang dia alami. Wajahnya mendapatkan jahitan pada pelipis dan tulang pipinya. Mata kananya mengalami cidera ringan karena goresan pada kelopaknya.
Air mata Cinta semakin tumpah membasahi wajah cantiknya. Dia menangis sejadi-jadinya. Rasa takut dan cemas yang dia pendam semalaman akhirnya hilang juga. Dia lega melihat Aiden akhirnya membuka mata
"Hiks, Kak Ai. Huwaa." Wanita itu langsung berhambur ke dalam pelukan Aiden sambil menangis lebih kencang.
"Sudah, Sayang. Jangan menangis lagi. Aku tidak apa-apa, sungguh."
"Hiks, Kak Ai, kau sungguh membuatku ketakutan dan cemas setengah mati." Ucap Cinta.
Dan hanya satu kata yang keluar dari bibir Aiden untuk mewakili segalanya. "Maaf!!"
-
Bersambung.