NovelToon NovelToon
Queenora, Ibu Susu Bayi CEO Dingin

Queenora, Ibu Susu Bayi CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / CEO / Hamil di luar nikah / Ibu susu / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Realrf

Queenora kehilangan bayinya sebelum sempat menimangnya, dia difitnah, dan dihancurkan oleh keluarga yang seharusnya melindungi.

Namun di ruang rumah sakit, tangisan bayi yang kehilangan ibunya menjadi panggilan hidup baru.

Saat bayi itu tenang di pelukannya, Queenora tahu, cinta tak selalu lahir dari darah yang sama, tapi dari luka yang memilih untuk mencinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mana yang lebih penting?

Queenora tidak menjawab, karena ia sendiri tidak tahu jawabannya. Kata-kata terasa terlalu kecil, terlalu dangkal untuk menjelaskan getaran yang baru saja menjalar dari ujung jarinya hingga ke pusat jiwanya yang luruh.

Ia hanya menatap bayi laki-laki itu, yang kini menatapnya balik dengan mata biru kelabu yang tampak setua jagat raya. Hening yang menggantung di antara mereka bukanlah kekosongan, melainkan sebuah ruang suci yang terisi penuh oleh pengakuan bisu.

Perawat muda itu masih terpaku, napasnya tertahan. Ia seperti menyaksikan hukum alam dibengkokkan di depan matanya.

“Boleh… boleh saya menggendongnya?” bisik Queenora, sebuah permintaan yang keluar bukan dari pikiran, melainkan dari desakan hatinya yang paling dalam.

Sebelum perawat itu sempat memproses atau menolak, Queenora sudah bergerak. Dengan kelembutan yang lahir dari kehilangan, ia menyelipkan satu tangan di bawah leher mungil itu dan tangan lainnya di bawah punggungnya yang ringkih.

Saat ia mengangkat bayi itu dari pelukan sang perawat, sebuah kehangatan yang nyata dan solid memenuhi lengannya, menambal lubang menganga di dadanya. Beban tubuh mungil itu terasa seperti jangkar, menahannya agar tidak hanyut lebih jauh ke dalam lautan duka.

Bayi itu bersandar di dadanya seolah ia dilahirkan untuk berada di sana. Ia tidak menangis lagi, hanya mengeluarkan rengekan kecil yang letih, bibirnya yang kering bergerak-gerak mencari sesuatu. Sebuah isapan tanpa tujuan.

Bersamaan dengan gerakan bibir itu, sebuah sengatan tajam dan menyakitkan menjalari buah dada Queenora. Rasanya seperti ribuan jarum menusuk dari dalam, sebuah pengingat kejam akan susu yang telah tubuhnya siapkan untuk jiwa yang tak pernah tiba.

Biasanya, rasa sakit itu adalah siksaan. Tapi sekarang, dipicu oleh bibir mungil yang mencari kehidupan di dadanya, rasa sakit itu berubah menjadi sebuah panggilan. Sebuah perintah.

Naluri mengambil alih logika, rasa malu, dan aturan rumah sakit menguap begitu saja. Queenora tidak berpikir. Ia hanya bertindak sesuai dengan intuisinya.

Ia berjalan tertatih ke satu-satunya kursi di sudut ruangan, tubuhnya masih menjeritkan protes dari setiap memar yang ia bawa.

Gadis itu duduk dengan hati-hati, mengatur posisi bayi itu di lekuk lengannya. Gaun rumah sakit yang tipis itu terasa seperti penghalang yang menyebalkan. Dengan jari-jari yang sedikit gemetar, ia membuka kancing di bagian bahu, membiarkan kain itu melorot turun.

Perawat muda itu tersentak.

“Nona… apa yang mau Anda lakukan?” suaranya terdengar panik tapi juga bingung.

Queenora tidak menggubrisnya. Matanya hanya tertuju pada makhluk kecil di dekapannya. Ia mengarahkan ujung buah dadanya yang bengkak ke bibir bayi itu.

Seketika, pencarian panik itu berhenti. Bibir mungil itu mengatup, menghisap dengan kekuatan putus asa yang mengejutkan.

Aliran susu yang pertama terasa menyakitkan sekaligus melegakan. Queenora memejamkan mata, menahan napas saat tubuhnya melepaskan apa yang selama ini menjadi sumber penderitaannya menjadi sumber kehidupan bagi orang lain.

Bayi itu minum dengan rakus, suara tegukannya yang kecil dan tergesa-gesa adalah satu-satunya musik di ruangan yang sunyi itu. Ketegangan di tubuh mungilnya perlahan sirna, digantikan oleh ketenangan.

Wajahnya yang semula merah padam kini kembali ke warna merah jambu yang sehat. Ia tidak lagi berjuang untuk hidup, ia sedang menikmati hidup.

Dan Queenora, untuk pertama kalinya dalam waktu yang terasa seperti selamanya, merasa berguna. Ia bukan lagi sekadar tubuh yang rusak, sebuah wadah kosong. Ia adalah sumber penghidupan. Lukanya telah menghasilkan susu. Dukanya telah melahirkan keajaiban.

“Astaga…” desah perawat muda itu, tangannya menutup mulut. Ia tidak lagi melihat Queenora sebagai pasien aneh dari kamar sebelah, tetapi sebagai sesuatu yang lain. Sesuatu yang nyaris sakral.

Momen rapuh itu pecah oleh suara langkah kaki yang tegas dan suara lain yang tajam dan berwibawa.

“Suster Rina! Apa yang terjadi di sini? Kenapa ada tumpahan susu di lantai dan kenapa kau hanya berdiri di situ?”

Seorang wanita berusia akhir empat puluhan, mengenakan seragam suster senior yang kaku dan rapi, berdiri di ambang pintu. Nametag di dadanya bertuliskan ‘Kepala Suster Anjani’.

Tatapannya setajam pisau bedah, menyapu ruangan dengan penilaian cepat sebelum akhirnya mendarat pada Queenora dan bayi di pelukannya.

Ekspresi Suster Anjani membeku sesaat, sebelum berubah menjadi topeng ketidakpercayaan yang dingin.

“Demi Tuhan, apa yang sedang Anda lakukan?”

Perawat muda bernama Rina itu tergagap.

“Suster Kepala… saya… bayi ini tidak mau minum susu formula, dia terus menangis, lalu Nona ini datang dan…”

“Dan Anda membiarkan pasien asing menyusui bayi yang bukan miliknya?” potong Suster Anjani, nadanya naik satu oktaf, sarat dengan tuduhan. Ia melangkah masuk, aura otoritasnya memenuhi ruangan.

“Lepaskan bayi itu sekarang juga!”

Queenora mengeratkan pelukannya secara refleks. Bayi itu, yang merasakan ketegangan mendadak, berhenti menyusu sejenak dan mengeluarkan rengekan protes.

“Tidak,” bisik Queenora, suaranya serak tapi tegas, tubuhnya meringkuk melindungi sang bayi.

“Dia lapar, dia butuh susu.”

“Saya tidak peduli!” bentak Suster Anjani.

“Ini pelanggaran protokol yang sangat serius! Anda tidak tahu riwayat kesehatan wanita ini! Bagaimana jika dia punya penyakit menular? HIV? Hepatitis? Anda membahayakan nyawa bayi ini, Suster Rina! Dan Anda, Nona,” ia menudingkan jarinya pada Queenora.

“Anda tidak punya hak apa pun. Anda bukan ibunya!”

Setiap kata terasa seperti tamparan.

Bukan ibunya.

Tentu saja ia bukan ibunya. Ibunya telah tiada. Dan bayinya sendiri… juga telah tiada. Rasa sakit yang familiar kembali menusuk, tetapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Ada bayi hangat yang bergantung padanya, memberinya alasan untuk melawan.

“Dia akan mati kalau tidak minum,” kata Queenora pelan, menatap lurus ke mata Suster Kepala yang marah, meskipun tangan gadis itu sedikit gemetar.

“Dia menangis, dia lapar dehidrasi. Apa protokol lebih penting dari nyawanya?”

Suster Anjani tampak terkejut oleh perlawanan itu.

“Tentu saja tidak, tapi ada caranya! Ada prosedur! Kita bisa memasang infus atau mencari donor ASI yang sudah terverifikasi, bukan mengambil risiko dengan orang asing dari lorong rumah sakit!”

“Tapi dia tidak mau menunggu. Dia butuh sekarang,” balas Queenora. Keberanian itu datang entah dari mana, mengalir bersama air susu yang menghidupi bayi di pelukannya.

“Ini gila! Saya akan panggil keamanan!” Suster Anjani berbalik, hendak keluar ruangan.

Saat itulah, suara derit pelan dari pintu yang belum tertutup rapat menghentikan semua orang.

Sebuah bayangan jatuh ke lantai. Seorang pria tinggi berdiri di ambang pintu, kehadirannya langsung mengubah dinamika ruangan. Setelan kerjanya yang mahal tampak kusut, seolah ia telah memakainya berhari-hari tanpa tidur. Rambutnya acak-acakan, dan ada lingkaran hitam pekat di bawah matanya yang menatap kosong. Wajahnya tampan, tetapi dibekukan oleh duka yang begitu dalam hingga tampak seperti pahatan es.

Dia adalah Darian. Ayah si bayi.

Matanya yang dingin menyapu ruangan, lantai yang basah, perawat muda yang ketakutan, Suster Kepala yang marah, sebelum akhirnya berhenti dan terkunci pada pemandangan di kursi.

Pada Queenora. Pada gaun rumah sakitnya yang tersingkap. Pada putranya yang menempel di dada wanita asing itu, menyusu dengan tenang seolah mereka telah saling memiliki seumur hidup.

Keheningan yang mencekam turun. Ekspresi Darian bergeser dalam gerakan lambat yang menyakitkan.

Kekosongan di matanya pertama kali diisi oleh keterkejutan yang cukup besar, lalu dengan cepat digantikan oleh kebingungan.

Dan akhirnya, saat otaknya yang berduka memproses apa yang ia lihat, wajahnya mengeras menjadi topeng penghakiman yang brutal. Sebuah ekspresi jijik yang begitu telanjang dan menghina, seolah ia baru saja menyaksikan tindakan paling kotor dan paling hina di dunia.

1
Nar Sih
biarkan darian membatu mu queen ,kasih semagatt sja dan doa kan smoga mslh mu cpt selesai
Nar Sih
jujur sja queen ,biar semua terungkap
Nar Sih
darian mulai jatuh cinta dgn mu queen
Harmanto
miskin dialog terlalu banyak menceritakan suasana hayalan
Sumarni Ukkas
sangat bagus..
Realrf: makasih kak
total 1 replies
Harmanto
ceritanya terlalu banyak fariasi hayalan yg sangaaat pamjang jarang sekali dialog yg menghidupkam cerita. sering tidak kubaca fariasi2 itu
Realrf: baik kaka trimakasih masukannya
total 1 replies
Harmanto
Nora diberi makan apa untuk memproduksi asi tdk diceritakan, diberi sandang apa. dia dianggap mahluk bukan manusia yg punya rasa emosi
Harmanto
ceritanya membingungkan apa iya tadinya menawarkan berapa uang kau minta. dia tdk butuh uang .kok dia malah membelenggu dg seribu atran yg robot
Nar Sih
seperti nya darian udh mulai suka dng mu queen
Indah MB
di tunggu selalu bab selanjutnya 😍
Realrf
ma aciwww 😘
Indah MB
bacanya kayak makan permen nano nano ... manis asam asin rame rasanya .... selalu penasaran
Indah MB
lanjut ya thor... jgn berenti sampai di sini
Indah MB
atau jangan jangan , si Luna yg g pernah melahirkan, dan anaknya queenora yg diambil menggantikan anak luna yg meninggal... bisa aja kan?
Nar Sih
jgn ,,foto yg dilihat queenora adalah poto org di msa lalunya
Indah MB: mungkin foto org yg melecehkannya.. kan dia hamil
total 1 replies
Nar Sih
semagatt ya queenora💪
Realrf
hasek 💃💃💃💃
Nar Sih
kak thor sbr nya aku msih bingung dgn cerita queenora yg tiba,,keguguran trus msa lalu nya siapa ayah dri byi nya
Realrf: 🤭🤭🤭 pelan pelan ya ... pelan kita buka siapa dan mengapa
total 1 replies
Nar Sih
sabarr queenora yaa,hti mu yg bersih dan niat mu yg tulus demi nyawa seorang byi yg hampir dehidrasi smoga kebaikan mu dpt blsn bahagia
Indah MB
tajam tajam kata katamu.... seram seram perbuatanmu, tak tahan mata dan telinga .....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!