NovelToon NovelToon
Duka Yang Ternoda

Duka Yang Ternoda

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Janda / Obsesi / Keluarga / Trauma masa lalu / Penyelamat
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Kehidupan Swari hancur dua kali: pertama saat suaminya tewas, dan kedua saat seorang pria misterius merenggut kehormatannya di balik kegelapan kain penutup mata.
Swari yakin kalau mantan kakak iparnya yang memperkosanya, tapi ia tidak mempunyai bukti.
Di ambang keputusasaan untuk mengakhiri hidup, tangan seorang lelaki asing menyelamatkannya. Kini, Swari harus memilih: tenggelam dalam duka, atau bangkit bersama sang penyelamat untuk mengungkap siapa sebenarnya iblis yang telah mencuri jiwanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Aroma segar asam jawa dan harum kemangi dari pepes ikan memenuhi setiap sudut dapur pagi itu.

Swari tersenyum kecil sambil mengaduk panci berisi sayur asem kegemaran suaminya.

Hari ini adalah hari yang ia tunggu-tunggu setelah hampir dua puluh empat jam rumah terasa sepi karena Pradutha harus berjaga di rumah sakit.

Suara dering ponsel di atas meja makan memecah keheningan.

Nama suaminya muncul di layar dengan foto mereka berdua saat bulan madu setahun yang lalu.

"Sayang, sebentar lagi Mas pulang. Tolong masakkan air panas, ya," suara lembut Pradutha menyapa di seberang telepon.

Ada nada lelah dalam suaranya, namun tetap terasa penuh kasih.

Swari tertawa kecil saat melihat wajah suaminya sembari menghidupkan kompor untuk memasak air panas.

"Iya, Mas. Aku sudah menyiapkan air panas untuk kamu mandi. Sayur asem dan pepes ikan juga sudah menunggu kedatangan kamu. Cepat pulang, ya."

Di layar ponsel yang kini ia genggam, Swari bisa melihat wajah suaminya yang masih mengenakan jas putih dokter.

Pradutha tersenyum lebar, senyum yang selalu berhasil membuat beban di pundak Swari terangkat.

Pria itu mendekatkan bibirnya ke kamera ponsel, seolah mencium kening istrinya dari jauh.

"Jaga diri kamu baik-baik ya, sayangku. Aku sangat mencintai kamu, Swari. Sangat mencintaimu," ucap Pradutha pelan dengan tatapannya yang mendadak berubah menjadi sendu sebelum akhirnya sambungan telepon terputus.

Swari perlahan menurunkan ponselnya dari telinga.

Ia terdiam di depan meja makan yang sudah tertata rapi.

Ia mengernyitkan keningnya dan ada rasa tidak nyaman yang tiba-tiba menyelinap di dadanya.

"Jaga diri kamu?" gumam Swari.

Swari ingat betul kalau suaminya akan selalu bilang "Sampai ketemu di rumah" atau "Jangan lupa sarapan".

Perkataan suaminya barusan terdengar seperti sebuah pesan yang teramat penting.

Swari menepis pikiran buruk itu dan mencoba kembali fokus menata piring, namun denting sendok yang beradu dengan keramik terasa lebih nyaring dan hampa dari biasanya.

Di luar rumah, awan mendung mulai berarak menutupi sinar matahari pagi, seolah alam sedang bersiap untuk memberikan kejutan yang akan mengubah hidup Swari selamanya.

Sudah setengah jam air panas sudah siap dan Pradutha masih belum sampai di rumah.

"Kenapa Mas belum pulang? Apa lembur lagi?" gumam Swari yang menutup panci air panas.

Swari membuka pintu dan melihat suaminya yang masih belum datang.

Ting... Tung... Ting... Tung...

Suara dering ponsel Swari yang berbunyi dan ia melirik nomor asing yang sedang menghubunginya

Swari menyambar ponselnya dengan tangan gemetar.

Perasaan tidak enak yang sedari tadi mendekam di dadanya kini memuncak menjadi firasat buruk yang nyata.

"Halo?" suara Swari terdengar parau.

"Selamat pagi, Bu. Apa benar ini dengan Ibu Swari, istri dari Dokter Pradutha?" tanya seorang lelaki dengan suara bariton di seberang sana terdengar sangat formal dan dingin.

"I-iya, benar. Saya istrinya. Ada apa ya, Pak?"

"Kami dari Satlantas Polres ingin mengabarkan bahwa kendaraan yang dikendarai suami Ibu mengalami kecelakaan beruntun di jalan raya utama sepuluh menit yang lalu. Saat ini korban telah dilarikan ke ruang IGD Rumah Sakit Husada. Kami mohon Ibu segera datang ke lokasi untuk identifikasi.

Swari menggelengkan kepalanya dan menangis sambil menangis sesenggukan saat mendengar perkataan dari kepolisian.

"Kecelakaan? Tapi barusan Mas Pradutha menelpon saya, Pak. Mas Pradutha bilang dia mau pulang!" pekiknya dengan suara yang pecah.

Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, Swari mematikan sambungan.

Dengan sisa tenaga yang ada, ia mencari kontak Ratri, kakak keduanya.

Saat ini hanya Ratri kakaknya yang bisa ia andalkan.

Di kediaman lain, suasana pagi yang tenang terusik oleh nada dering ponsel yang meraung-raung.

Ratri yang sedang merapikan dasi suaminya, Navy, segera meraih ponsel di atas nakas.

Melihat nama Swari yang memanggil, dahi Ratri berkerut.

"Tumben Swari telepon sepagi ini," gumamnya.

Begitu tombol hijau digeser, suara tangisan histeris langsung memenuhi ruangan.

Ratri menjauhkan ponselnya sejenak, wajahnya mendadak pucat pasi.

"Swari? Swari, tenang! Bicara yang jelas, ada apa?" tanya dengan wajah kebingungan.

Sampai membuat Navy yang sudah siap berangkat kerja menghentikan langkahnya di ambang pintu kamar.

"Mas Pradutha, Mbak. Mas Pradutha kecelakaan. Aku harus ke rumah sakit sekarang, tolong aku, Mbak..." Suara Swari timbul tenggelam di balik isak tangis yang menyesakkan.

Ratri langsung terkejut dan ponselnya hampir jatuh.

Navy berjalan mendekat, menyentuh bahu istrinya yang tampak bergetar hebat.

Ia menatap lekat mata Ratri yang mulai berkaca-kaca, mencoba mencari jawaban atas ketegangan yang tiba-tiba menyergap.

"Ada apa?" tanya Navy dengan nada rendah namun penuh penekanan.

Ratri menoleh ke arah suaminya dengan tatapan kosong.

"Pradutha kecelakaan. Swari sendirian sekarang."

Navy yang juga terkejut langsung menyambar kunci mobil di meja.

"Kita jemput Swari sekarang. Hubungi dia, bilang kita dalam perjalanan. Jangan biarkan dia menyetir sendiri dalam keadaan seperti itu!"

Ratri menghubungi adiknya tetapi tidak ada jawaban sama sekali.

"Swari tidak mengangkat ponselnya, Mas." ucap Ratri.

Navy kang melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit Husada.

Sementara itu Swari baru saja sampai di rumah sakit bersama tukang ojek yang mengantarnya.

Tukang ojek yang khawatir dengan keadaan Swari langsung memapahnya menuju ke dalam.

Swari berjalan sempoyongan dan melihat dokter Ratih teman suaminya dan dua petugas polisi yang menunggunya.

"Ibu Swari?" Dokter Ratih segera menghampiri, wajahnya yang biasa tenang kini tampak kuyu dan penuh simpati.

Ia menangkap lengan Swari tepat sebelum wanita itu luruh ke lantai koridor yang dingin.

"Di mana suami saya, Ratih? Di mana Mas Pradutha?" suara Swari nyaris hilang, hanya berupa bisikan kering yang menyakitkan.

Dokter Ratih tidak menjawab pertanyaan Swari, ia menuntun Swari menuju sebuah brankar di sudut ruangan yang tertutup tirai putih.

Di sana dua petugas polisi berdiri dengan topi yang dilepas, memberikan gestur hormat yang justru terasa seperti hantaman palu bagi Swari.

Begitu tirai disingkap, dunia Swari seakan berhenti berputar.

Di atas brankar itu, sesosok pria terbaring kaku dengan jas putih dokter yang tadi pagi masih tampak rapi di layar ponsel, kini koyak dan bersimbah darah.

Wajah tampan yang beberapa menit lalu tersenyum padanya, kini pucat pasi dengan luka menganga di pelipis.

"Kami sudah mencoba segalanya, Swari. Tapi benturan di kepalanya terlalu hebat. Dokter Pradutha sudah tidak ada saat tiba di IGD," isak Ratih pecah.

Swari terdiam dalam keheningan yang mengerikan.

Tangannya yang gemetar terangkat, menyentuh pipi suaminya yang mulai mendingin.

Ingatannya berputar pada percakapan telepon terakhir mereka.

'Jaga diri kamu baik-baik ya, sayang. Aku sangat mencintai kamu, Swari...'

Ternyata perkataan suaminya itu bukan sekadar sapaan manja, melainkan sebuah pamit.

Suaminya tahu kalau di detik-detik terakhir sebelum maut menjemput, Pradutha hanya ingin mendengar suara istrinya untuk terakhir kali.

"Mas, bangun. Air panasnya sudah siap. Sayur asemnya nanti dingin, Mas..."

Tepat saat itu, Ratri dan Navy berlari menyusuri koridor.

Begitu melihat Swari yang mematung di samping jenazah, Ratri langsung menghambur memeluk adiknya.

"Swari! Ya Tuhan, Pradutha!" Ratri menjerit histeris, namun Swari tetap diam.

Tatapannya kosong, seolah jiwanya ikut pergi bersama raga yang terbujur kaku itu.

Navy dengan wajah tegang namun mencoba tegar dan berbicara dengan petugas polisi.

"Bagaimana kronologinya, Pak?"

"Satu truk pengangkut material mengalami rem blong di turunan tajam, menabrak tiga mobil di depannya. Mobil Dokter Pradutha yang paling parah karena terhimpit di antara truk dan pembatas jalan," jelas petugas itu pelan.

Disaat Navy sedang berbicara dengan petugas polisi.

Swari yang kelelahan menangis langsung jatuh pingsan.

"SWARI!" teriak Ratri.

Dokter Ratih memanggil perawat untuk membantunya membopong tubuh Swari yang tergeletak pingsan dengan air matanya yang mengalir.

1
Esti 523
lha ko bisa masuk rumah
kymlove...
sebagus ini kenapa sepi



kalau aku asal. konflik nya tidak menguras emosi udah pasti suka... semangat thor
my name is pho: terima kasih sudah mampir kak🥰
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Halo kaka aku mampir 🤗
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!