NovelToon NovelToon
Semua Mengaku Keluarga, Tak Satupun Membela

Semua Mengaku Keluarga, Tak Satupun Membela

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:237
Nilai: 5
Nama Author: Nesakoto

Di antara suami dan keluarga, Maira terjebak dalam dilema yang tak pernah ia pilih. Sejak ibu, ayah tiri yang menganggur, dan adik tiri yang belum bekerja datang bukan sekadar bertamu, melainkan menetap, rumah tangganya perlahan retak. Dengan dalih bakti pada orang tua dan ancaman cap anak durhaka, Maira terpaksa mengalah. Sejak saat itu, konflik demi konflik bermunculan, batas dilanggar, kehangatan hilang—hingga celah itu dimanfaatkan oleh pihak ketiga. Apa yang dulu disebut rumah, kini menjadi awal kehancuran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEMANA SEMUA BELANJAANKU?

“Ada hal apa nih, Ibu Owner restoran terkemuka sampai mau mampir ke rumah aku yang cuma pegawai biasa di perusahaan?” Sindir Wenny sambil menyeringai jahil. Nada bicaranya jelas penuh candaan, tapi tetap membuat Maira mendelik sebal.

Tanpa basa-basi, Maira langsung melempar bantal yang sedari tadi ada di pangkuannya ke arah Wenny. “Mulutmu itu ya, Wen!”

Wenny terkekeh, menghindar sedikit lalu menangkap bantal itu. “Hehe, bercanda, Maira. Bercanda… Tapi serius, ada angin apa nih kamu tiba-tiba main ke sini? Biasanya susah banget nyari celah buat ketemu kamu. Restoran lah, rapat lah, buka cabang lah.”

Maira hanya tersenyum kecil. Tatapannya menunduk sebentar sebelum akhirnya beralih pada Wenny. “Aku lagi butuh temen curhat Wen..."

Wenny yang semula masih bercanda, langsung duduk lebih tegak. Wajahnya berubah serius, meskipun senyum hangat masih tersisa di ujung bibirnya.

“Sebentar… aku tebak dulu ya. Kalau masalahnya soal suami kamu, kayaknya kecil kemungkinan deh." Nada bicara Wenny tetap ringan, tapi penuh perhatian.

Maira mengangguk pelan, tersenyum hambar. Memang benar, ia hampir tak pernah menceritakan hal buruk tentang Farid kepada siapapun.

Dalam pandangannya, pria yang sudah menikahinya selama lima tahun itu adalah suami yang sangat baik. Satu-satunya kekurangannya hanyalah… jika sedang bertengkar, Farid akan memilih pergi ke rumah ibunya dan hanya akan pulang jika Maira yang menyusul. Tapi bahkan masalah itu pun tak pernah keluar dari mulutnya saat berbincang dengan siapapun termasuk sahabatnya—Wenny.

Wenny yang merupakan satu tempat kerja dengan Farid pun mengenal bagaimana pria itu. Meskipun keduanya berbeda divisi dan jabatan, Farid cukup dikenal sebagai pegawai yang disiplin, teladan, dan dipercaya untuk mendampingi bos dalam banyak urusan penting.

“Jangan-jangan ini soal keluarga kamu yang numpang tinggal?” Tebak Wenny yang memang sudah lama mengetahui mengenai masalah ini.

“Bukan, Wen.” Maira menggeleng lemah. Nada suaranya terdengar lebih dalam. “Ini tentang aku…” Lanjut Maira pelan.

Raut wajah Wenny langsung berubah serius. Ia bergeser mendekat, lalu menyentuh punggung tangan sahabatnya. “Maksud kamu apa, Mai?”

Maira menarik napas dalam. Sekuat tenaga ia menahan emosi yang sejak tadi mendesak dari dalam dadanya.

“Aku baru aja pulang dari dokter. Tadi aku periksa kandungan…” Suaranya nyaris bergetar.

“Terus? Gimana hasilnya?” Wenny membelalakkan mata. Ia tahu sahabatnya sejak zaman sekolah itu memang sudah menikah beberapa tahun namun masih belum diberi kepercayaan untuk mempunyai momongan.

Sekilas, Maira terlihat menahan napas. Tangannya merogoh tas dan mengeluarkan selembar kertas yang tadi dilipat rapi. Ia menyerahkannya ke Wenny, namun tak langsung menjawab.

Wenny membuka lembar hasil pemeriksaan itu, matanya menyapu cepat dari atas ke bawah. Lalu ia menoleh, menatap Maira dengan pelan dan penuh empati.

“PCOS?”

Maira mengangguk. Dan kali ini, air matanya tak bisa lagi dibendung. “Aku nggak tahu, Wen… harus gimana? Aku takut kalau harus cerita sama Mas Farid…” Suaranya parau.

Yang ia butuhkan saat ini memang bukan solusi. Bukan saran panjang lebar. Tapi seseorang yang bisa mendengarkan ceritanya.

Selama ini, tak ada tempat untuk Maira bercerita semenjak ayahnya berpulang. Ia memang masih memiliki seorang Ibu, namun hubungannya dengan ibunya pun tak dekat meski mereka sudah tinggal serumah.

Tapi Wenny… sahabat yang sudah lama mengenalnya itulah yang satu-satunya menjadi tempat ia merasa didengar tanpa dihakimi.

Wenny mendengar semua keluh kesah itu tanpa memotong. Ia membiarkan Maira melepas seluruh beban hatinya. Hingga akhirnya, saat Maira mulai tenang dan hanya terisak perlahan, Wenny menggenggam tangannya erat.

“Mai…” ucap Wenny lembut. “Aku yakin dari semua cerita kamu tentang Mas Farid selama ini, dia itu orang yang bisa nerima kamu sepenuhnya. Dia bukan tipe laki-laki yang cuma sayang kalau kamu sempurna. Kalau kamu sakit… dia pasti akan tetap berdiri di samping kamu.”

Maira hanya menatap Wenny, matanya masih basah. Tapi ada sebersit harapan di sana.

“Kamu dengar sendiri kan tadi kata dokter. Kamu masih bisa punya anak. Tapi sekarang kamu harus mulai lebih sayang sama tubuh kamu sendiri, Mai. Jaga pola makan, mulai olahraga teratur, dan yang paling penting… jangan stres. Itu penting banget buat kondisi kamu.”

Wenny menarik napas sejenak sebelum melanjutkan. “Kamu tahu kan kakakku? Dia udah nikah sepuluh tahun, Mai. Sepuluh tahun! Baru tahun ini dia dikasih kepercayaan buat hamil dan akhirnya melahirkan. Bayangin, kalau dia nyerah di tahun kelima atau keenam… dia nggak akan ngerasain jadi ibu kayak sekarang.”

Ucapan Wenny menancap dalam di hati Maira. Ia teringat dengan cerita sahabatnya itu tentang kakak perempuannya yang sempat divonis sulit hamil juga. Tapi kini setelah bertahun-tahun penuh penantian dan usaha, ia akhirnya menggendong anak pertamanya.

“Kamu nggak sendiri, Mai,” lanjut Wenny. “Dan kamu bukan gagal jadi perempuan cuma karena diagnosa ini."

Maira mengangguk pelan. Isak tangisnya mereda, digantikan dengan napas panjang dan perasaan yang perlahan lebih ringan. Wenny menepuk bahunya pelan, memberi pelukan yang ia butuhkan.

____

Langit mulai berubah jingga saat Maira memutuskan untuk kembali ke rumahnya di sore hari.

Meskipun tak sepenuhnya beban dipundaknya hilang, namun ia sudah merasa sedikit lega.

Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk menenangkan hatinya dulu, setelah itu mungkin dua atau tiga hari ke depan ia akan membicarakan hal ini dengan suaminya.

Begitu masuk ke dalam rumah, suasana hening menyambutnya. Semenjak Danu tak lagi tinggal bersamanya, Maira memang jarang melihat ibu dan bapak tirinya itu berada di rumah saat ia pulang di sore hari. Ia tak tahu ke mana mereka pergi. Ia juga tidak terlalu peduli untuk mencari tahu. Yang pasti untuk saat ini, rumah terasa lebih… seperti rumah.

Langkah Maira terhenti sejenak saat menoleh ke sekeliling ruang tamu. Rumah itu kini terasa berbeda. Bersih. Rapi. Meja di ruang tamu tak lagi dipenuhi bekas bungkus camilan dan puntung rokok.

Sofa terlihat rapi tanpa ada tumpukan baju Danu yang biasanya berserakan. Karpet bersih, dan lantai tak lagi terasa lengket karena bekas jejak kaki yang tak pernah dicuci. Seketika, suasana itu membuat hatinya sedikit lebih ringan.

Setelah mengganti pakaiannya dan mengikat rambut ke belakang, Maira berjalan perlahan ke arah dapur. Ia berencana untuk memasak sesuatu untuk makan malam—hal yang sudah lama sekali tidak ia lakukan.

Namun perasaan nyaman itu mendadak runtuh saat Maira membuka lemari penyimpan kebutuhan bulanan.

Maira mematung. Matanya menatap isi lemari itu dengan dahi berkerut. Tangannya perlahan menyusuri ruang-ruang kosong di rak. Ia mengingat jelas, awal bulan kemarin ia berbelanja cukup banyak: beberapa karung beras ukuran sedang, minyak goreng, gula, kopi, susu, bahkan mie instan untuk stok jaga-jaga.

Tapi kini?

Yang tersisa hanya satu kantong plastik berisi beberapa butir bawang putih, satu botol kecap manis yang tinggal seperempat, dan… rak paling bawah kosong. Tak ada beras. Bahkan sisa beras pun tak ada.

“Kemana semua belanjaanku?” Gumamnya pelan.

Tangannya mulai gemetar saat membuka kulkas, dan kali ini rasa terkejutnya makin besar. Sebagian bahan masak yang ia simpan pun tak ada. Telur yang ia ingat masih dua tray kini hanya tersisa empat butir. Bahkan botol saos dan mayones pun tak ada sama sekali.

“Apa-apaan ini…” Bisiknya pelan, namun rahangnya mulai mengencang.

Matanya perlahan menyipit. Semua ini… tidak mungkin hilang sendiri. Dan saat pikirannya mulai merangkai potongan-potongan kemungkinan, satu nama muncul paling jelas di benaknya.

Ibu.

Bahkan jika bukan Bu Susi langsung, bisa jadi Pak Bowo. Atau jangan-jangan mereka membawa semuanya untuk Danu?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!